Tarimo kasih pak Jumardi,
Ambo manulih lewat web dan mereply langsung, tanyato jatuhno ka
Japri, kiniko ambo kirim lai ka palanta.
Bilo ado dusanak lain nan masuk ka japri, makosuik ambo iyo ka
palanta sebagai sharing pandapek ka urang banyak, jadi tolong
forwardkan, tarimo kasih.
Wassalamu'alaykum wr.wb
Arnoldison
Friday, September 1, 2006, 5:06:09 AM, you wrote:
J> Ambo satuju jo tulisan sanak Arnold....100%, tp baa mangko dikirim lewat
J> japri ? Klo lwt japri kan awak baduo sen nan bisa baco nyo ? Sanak pasti lah
J> tahu substansinyo, krn yg nulis. Ambo pun tau juolah sangenek2.
J> Sabananyokan ambo ingin "lempar bola" ttg masalah korupsiko, yg kebetulan
J> alah sanak Arnold buka duluan. Tapi tarimo kasi lah.
J> Wass,
J> J.st.Ch
Assalamu'alaykum wr.wb
Manuruik pandapek ambo, urang (koruptor) dalam kisah ini tamasuak
nan baruntuang, inyo langsung dapek teguran dari Allah S.W.T.,
langsung dipaliekkan akibat perbuatanno itu, inyo mandapek hidayah
hinggo tau kekhilafan perbuatannyo itu untuak dapek diperbaiki,
dibari kesempatan selagi nyo masih hiduik.
Lain lagi nan urang nan dipadiakan sajo oleh Allah, babuek apo sajo
indak dapek teguran dari Allah, samo jo seorang anak diacuahkan, ka
malarek nyo atau kan calako ndak ado diberi petunjuk jo kasih sayang
dari urang tuanyo.
Masalah sosial memiliki time response yang panjang tidak
memperlihatkan hasil seketika, tidak seperti perubatan-perbuatan
yang berkaitan dengan hukum alam. seperti misalkan terbalik dalam
memasang kabel listrik mengakibatkan terjadi hubungan pendek lalu
terbakar, kesalahan bisa langsung terlihat jelas seketika.
Tetapi bagaimana dengan kesalahan mendidik anak ? Hasilnya mungkin
baru bisa dilihat puluhan tahun kemudian. Kesalahan membina generasi
sekarang mungkin baru akan terlihat akibatnya pada generasi
berikutnya.
Bukankah kehidupana kita sekarang ini juga dampak dari hasil tanaman
dari generasi-generasi sebelumnya.
Karena memiliki proses jawaban yang panjang maka bisa kemungkinan
seorang yang kelihatan bergelimang dengan kezaliman, melakuan
perbuatan-perbuatan tercela, seolah-olah tidak mendapakatkan hukuman
yang setimpal, koruptor yang lolos dari jeratan hukum, para
penjahat yang masih leluasa melakukan kejahatannya terbebas dari
kejaran aparat, dll.
Oleh karena itu agama menanamkan kepada para penganutnya tentang
adanya hari akhir, hari pembalasan, hari perhitungan, hari keadilan
dimana tidak seorang yang bisa menolong yang lainnya, mulut-mulut
terkunci, tidak ada seorang yang dilampaui hak-haknya, tidak
perbuatan baik yanag tidak dibalas dan tidak ada perbuatan dosa yang
tidak terdeteksi pasti mendapat ganjarannya.
Kepercayaan pada hari akhir mutlak diperlukan terhadap suatu tatanan
masyarakat yang ingin menciptakan masyarakat madani, sehingga
tumbuh dalam mental masyarakat perasaan ihsan, tidak ada pencuri
yang takut berbuat hanya karena takut ketahuan polisi, tidak ada
koruptor yang tidak melakukan korupsi memang karena tidak ada
kesempatan.
Setiap agama samawi memastikan adanya hari kebangkitan tersebut, dan
tema sentral dalam setiap ajarannya.
Wassalamu'alaykum wr.wb
Arnoldison
--
Best regards,
Arnoldison mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================