Akankah Kereta Api Bangkit Lagi ?
Dunia Kereta Api Kita Ketinggalan, Dibandingkan Afrika Selatan
Oleh: T.HASAN BASRI

PADA  bulan  Maret  lalu  saya  mendapat kesempatan mengunjungi Afrika
Selatan  atas  undangan putra saya yang bekerja di KBRI Afrika Selatan
di  Pretoria.  Saya berkesempatan melihat Museum Kereta Api negara itu
yang  dikenal dengan The National Railway Museum di Yohannesburg. Dari
museum  kereta  api  di Yohannesburg kita dapat membaca peta perkereta
apian di Afrika Selatan.

Museum ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat sejak jam 9.00-13.00.
Di  sini  terdapat  lebih dari 100 buah lokomotif uap, kraan uap untuk
mengangkat  alat-alat  berat,  mesin  giling uap, lokomotif diesel dan
lokomotif  listrik  bawah  tanah.  Museum juga menampung berbagai tipe
kereta penumpang, kereta kayu kuno dan besi, gerbong batu bara, kereta
barang  roda  empat dan berbagai macam bakal pelanting (rolling stock)
kuno.

Di  museum  ini  saya mendapat masukan baru, yakni panjang lintas atau
jaring-jaring  jalan  kereta  api  di Afsel pada tahun 2000'an semakin
bertambah  panjang.  Jika  pada tahun 1960 Afsel memiliki jaringan rel
kereta  api  sepanjang  24.000 kilometer, maka pada tahun 2005 menjadi
30.488 kilometer.

Dari jumlah panjang jaringan rel KA itu, sepanjang 15.265 kilometer di
antaranya sudah dielektrifikasi. Menilik pesatnya pembangunan jaringan
kereta   api  di  Afrika  Selatan,  saya  sempat  membayangkan  betapa
terpuruknya nasib angkutan kereta api di negeri sendiri.

Kalau  dahulu  panjang  jaring-jaring  kereta api di seluruh Indonesia
lebih  dari 8.000 kilometer, maka setelah tahun 1970'an justru semakin
berkurang,   sehingga   tak   lagi  mencapai  panjang  jaringan  4.000
kilometer.

Kembali  teringat ke masa perang dunia ke dua yang lalu, ketika Jepang
menjajah  Indonesia  walaupun  tidak  lama,  yakni  sekira  3,5 tahun,
kenyataannya  telah terjadi kegiatan perusakan dalam sebuah kereta api
di  tanah  air kita. Kereta api milik NIS (Nederland Andische Spoorweg
Matsahoppij) ini lebar spoor-ya 1.435 m, yakni ukuran yang sama dengan
yang  diterapkan di Belanda, atau lebih lebar dari ukuran spoor normal
di Indonesia kini. Spoor berukuran lebar ini dibongkar dan diangkat ke
Thailand  untuk  membangun  jalan  kereta  api  batu bara menuju Birma
(Myanmar, Burma). Yang diangkut oleh Jepang dari Indonesia ke Thailand
saat  itu  bukan  hanya  rel,  lokomotif  dan  kereta  serta  gerbong,
melainkan juga karyawan serta romusha (tenaga kerja paksa).

Ketika  itu,  Jepang  berperang  dengan sekutu dan banyak jatuh korban
manusia  hingga meninggal dunia. Mereka yang berhasil kembali ke tanah
air, benar-benar merupakan mukjizat dan karunia Ilahi.

Di Indonesia sendiri Jepang membangun jalan kereta api, seperti antara
Muaro  - Pekanbaru sepanjang 225 kilometer dalam waktu satu tahun, dan
di  Jawa  Barat  antara  Malingping  -  Bayah  (Saketi)  sepanjang (70
kilometer).  Relnya  diambil  dari  bongkaran jalan kereta api swasta,
sehingga  begitu  Jepang  kalah  perang, semuanya tak dapat beroperasi
lagi.  Selanjutnya  kereta  api  kuno  dioperasikan  pada  masa perang
kemerdekaan  dan  jalan raya lumpuh total. Bensin tidak ada, sedangkan
kereta api dijalankan dengan uap air yang dipanaskan oleh kayu bakar.

Setelah  penyerahan  kedaulatan  RI  pada  tahun  1950,  terjadi  lagi
perpindahan  pegawai  kereta  api  dari  Indonesia,  terutama kalangan
Belanda  totok dan Indo Belanda. Umumnya ke Negeri Belanda dan bekerja
di sana pada kereta api setempat.

Tentu  saja  DKA (Djawatan Kereta Api) ketika itu kalang-kabut mengisi
kekosongan  pegawai.  Belum  lagi  muncul  masalah  intern DKA, antara
mereka  yang bekerja pada Belanda atau koperetor dan yang tidak, yakni
yang  setia  kepada  Republik Indonesia. Masalah intern DKA ini secara
berangsur-angsur  mereda,  karena  Pemerintah Republik Indonesia tidak
membedakan antara kedua golongan tersebut.

Pada  tahun  1951,  pemerintah  mengundang  seorang  ahli ekonomi dari
Jerman,  Dr.  Hjalmar  Schacht,  mantan  menteri keuangan rezim Hitler
(Nazi  Jerman).  Ia  berjasa  kepada negaranya, yakni berhasil menekan
inflasi   di   negeri  sendiri.  Ketika  ia  datang  ke  Indonesia  ia
menyarankan usulan sebagai berikut :

"Politik  lalu  lintas  seharusnya tidak mulai dengan perluasan sistem
kereta  api,  tetapi  dengan  pembuatan jalan perhubungan (jalan raya)
yang  besar-besar. Seluruh pembuatan jalan raya dapat dilakukan dengan
alat-alat  dan  tenaga-tenaga dalam negeri, sedangkan jalan kereta api
mulai  dari  relnya,  melalui  lokomotif  dan  kereta-keretanya hingga
sistem sinyalnya yang sulit itu harus didatangkan seluruhnya dari luar
negeri dengan devisa yang mahal."

Dr.  Hjalmar  Schacht  berpegangan  pada  anggapan, setelah jalan raya
dibuka,     masyarakat    dengan    sendirinya    akan    mendatangkan
kendaraan-kendaraan   (bus,  truk,  dan  lain-lain),  sehingga  timbul
persaingan di bidang transportasi darat ini.

Ternyata  keadaan  tersebut  berlangsung  lama  sehingga,  jalan  raya
semakin  penuh  sesak  dan  bahan  bakar  meningkat  kebutuhannya. Hal
tersebut  mulai  dirasakan  setelah produksi minyak dalam negeri tidak
lagi  mencukupi,  sehingga  Indonesia mulai mengimpor bahan bakar dari
luar negeri.

Akhir-akhir  ini  berbagai  gagasan telah muncul seperti diversifikasi
bahan  bakar.  Malahan  telah  santer  dianjurkan, agar khalayak ramai
menggunakan  alat  transportasi  kereta  api,  untuk meringankan beban
jalan  raya.  Sayang  sekali  telah  terjadi  penciutan panjang lintas
kereta  api,  sehingga untuk membangun kembali jaringan lengkap kereta
api  di  Indonesia kini dibutuhkan biaya tambahan, disamping menunjang
operasi kereta api pada jalur-jalur utama.

Kereta  api  dapat  dioperasikan  dengan  menggunakan  bahan bakar air
(lokomotif  uap),  listrik, diesel, dan magnet, seandainya minyak bumi
(fossil oil) semakin berkurang.

Sebuah kenyataan yang mengharukan ialah, jalur-jalur yang "sudah mati"
(tidak   ada  lagi  operasi  kereta  api)  dibiarkan  terlantar  tanpa
penjagaan,  sehingga  pada saat diperlukan kelak, sudah dikuasai pihak
lain.  Banyak  rel  yang sudah ditutup oleh jalan raya dan rumah-rumah
yang  dihuni  oleh swasta. Kalau semula diserobot oleh khalayak ramai,
maka belakangan ini sudah dikelola oleh pengusaha-pengusaha swasta.

Sementara  di  museum  kereta  api  di  Afrika Selatan terlihat banyak
sekali  lokomotif  uap  di  spoor  simpang  yang khusus dipajang untuk
tontonan  kepada  pengunjung.  Jumlahnya ratusan, sehingga tak mungkin
dikunjungi  sekaligus  semua  benda pamer tersebut. Lokomotif uap yang
sudah  direhabilitasi  dan  di  cat  seperti baru kembali, ditempatkan
dekat pintu gerbang. Yang belum diperbaiki penempatannya agak jauh.

Pemeliharaan  dilakukan  oleh  para  mantan  pegawai  kereta  api dari
railway  enthosiasts (pencinta kereta api) secara sukarela. Dilapangan
terlihat  beberapa  pekerja kulit hitam yang bekerja di bawah petunjuk
para  ahli  kulit  putih.  Dari  pengumuman  yang  terbaca  pada pintu
gerbang,  mereka  mencari  dana  dari  menjalankan kereta api kuno dan
dihela  oleh lokomotif uap. Pemasaran dilakukan oleh hotel-hotel besar
yang  menelefon  ke  rumah-rumah  dimana  terdapat  para  peminat yang
menyukai tour atau perjalanan wisata.

Perjalanan  kereta  api  sedemikian  rupa diatur, agar selalu menarik,
seperti     ke     tambang-tambang     emas     dan     intan.    Pada
pemberhentian-pemberhentian    tertentu    kepada    para    penumpang
diperlihatkan   jejak   peninggalan   masa   lalu,  seperti  cara-cara
penambangan untuk pengolahan emas atau berlian.

Jalur  yang  kini  dipergunakan  untuk  tur  wisata "Kereta Api Kuno",
dulunya  dipakai  oleh industri pertambangan emas serta intan permata,
untuk  angkutan  buruh  tambang dan bahan baku ke pabrik-pabrik tempat
pengolahan.

Kembali  kepada pesan Dr. Hjalmar Schacht, menurut hemat penulis pesan
itu  hanya  untuk  mengatasi krisis transportasi, sehabis perang dunia
kedua  saja.  Hal  itu  dituangkan  dalam buku putih untuk pembangunan
ekonomi  Indonesia  pascaperang Dunia II dan tampaknya saran itu telah
merugikan perkembangan angkutan kereta api Indonesia.

Namun, pada kenyataannya saran temporer Dr. Schacht itu oleh sementara
kalangan pejabat dianggap relevan untuk selamanya.

Untuk  lintas  kereta  api  yang  kini  tersisa  dan kurang dari 4.000
kilometer  di  Indonesia,  dengan  jumlah  karyawan yang menyusut dari
80.000  orang  menjadi  hanya sekira 30.000 pegawai, telah menimbulkan
berbagai  masalah yang jarang terjadi sebelumnya, seperti tabrakan KA,
KA anjlok dan kerusakan di sana- sini.

Sejak  tahun 1969 Deutsche Bundesbahn Consultant (dari Jerman) memberi
bantuan  konsultasi selama 10 tahun. Usulannya antara lain, ialah agar
angkutan   kereta  api  Indonesia  dibantu  dan  ditingkatkan  kinerja
perusahaannya,   baik   oleh   pemerintah   mau   pun   pihak  swasta.
Kenyataannya,  pemerintah sudah lebih memperhatikan pengembangan jalan
raya  dan  moda  angkutan bus selain angkutan umum (angkot) oleh pihak
swasta.

Seandainya  Dr.  Hjalmar  Schacht  kembali ke Indonesia, tentu ia akan
menyarankan  hal  yang  lain  lagi,  yakni kereta api perlu dihidupkan
lagi,  karena  mobilitas  penduduk makin tinggi, jalan raya yang sudah
jenuh  dan  padat,  sedangkan  banyak  sektor  industri dan masyarakat
memerlukan  angkutan  massal  seperti kereta api. Ditambah pula dengan
makin  langka  serta  melangitnya  harga BBM, maka kereta api mendesak
dioperasikan  lagi, karena moda transportasi massal ini memang dikenal
luas hemat energi dan diantara jenisnya, bahkan dapat dijalankan hanya
dengan bahan bakar air yang dipanaskan oleh batu bara saja.

Semoga  perkeretaapian  kita semakin cerah di masa depan. Selamat hari
jadi ke-60 kereta api Indonesia pada tanggal 28 September.***

Penulis, adalah pensiunan karyawan PJKA


Pikiran Rakyat, Sabtu 22 Oktober 2005




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke