six sigma di pemerintahan..., sudah pasti ini gagasan bagus. sedikit perlu pencermatan lbh dalam adalah bhw six sigma ini adalah sebuah rfantai evolusi manajemen. ada rantai2 lain sebelum dan sesudahnya. sebelumnya mungkin secara umum dapat kita sebut "standirisasi, konsistensi, keterukuran dan kendali". ada banyak intrumen dalam hal ini mulai dari ISO sampai pada standar2 sendiri. six sigma advance dari langkah2 sebelumnya. sebelum sampai pada six sigma, sebuah budaya yg mapan ttg aspek2 diatas perlu ada dulu. kalo tidak akan sulit bicara six sigma.
Tapi skrg ini percaturan di lapisan terataspun sudah melangkah ke rantai selanjutnya setelah generasi six sigma ini. sebutlah bbrp konsep dan instrumen yg segenerasi dg sixsigma spt, BSC, GCG dll.Menyadari betapa konsep dan instrumen yg ada sudah cukup membuat mapan "pengelolaan" yg bertujuan efisien dan efektif, maka nilai baru perlu diluncurkan diluar frame yg kita pahami sebelumnya. sehingga lahirlah jargon baru pengelolaan yg melahirkan nilai spirituil. jadi bukan hanya berdasarkan spirituil namun benar2 bisa mendeliver nilai spirituil. jadi pesan nya cuma satu bahw yg diperlukan saat ini hanyalah segera memulai.lepas dari ketertinggalan, berdiam diri tanpa segera memulai hanya akan membuat gap yg semakin besar. salam, --- In [EMAIL PROTECTED], "M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > SECARA KONSEP PASTI BISA > > Karena six sigma merupakan sarana dan kerangka > berpikir yang membantu mencari root causes (akar > permasalahan) secara sistematis menggunakan data.Jadi > bisa digunakan dimanapun: swasta, LSM, pemerintahan, > manufaktur, jasa,hotel,dll > > Yang jadi kendala,mungkin adalah komitmen/dukungan > dari atasan di pemerintahan maupun di tempat kerja > kita (tapi jangan khawatir...krn di perusahaan besar > internasional pun masalah seperti ini sering muncul > :)) > > Kendala kedua kemungkinan karena di pemerintahan > jarang dibikin pengukuran suatu proses. Jika ada > pengukuran, ini adalah awal yg baik utk improvement. > Kalau boleh kita ambil contoh yang asal aja, misalnya ada > laporan bahwa untuk mengurus ijin investasi baru di > Indonesia secara rata-rata diperlukan waktu 30 hari. > Nah, jika sudah ada data seperti ini perlu dilakukan > validasi apakah cara pengukurannya sudah standar dan > konsisten.Jika sudah yakin bahwa pengukuran sudah > benar, perlu kita lakukan benchmarking...berapa lama > utk proses yang sama dilakukan di China, Singapore, > Thailand, dan Vietnam? Jika mereka lebih cepat, > berarti kita perlu lakukan perbaikan. > > Dari sini kita perlu lakukan analisa proses (dari > pertama kali orang mengurus sampai ia mendapat ijin) > apa saja step2nya. Lalu kita lihat dimana terjadi lead > time yang panjang, banyak kerja ulang,dsb-nya. Ini > adalah contoh kasus sederhana yang bisa diimprove > dengan konsep lean/six sigma. > > Contoh lain, misalnya ada indikasi banyak kesalahan > (inaccuracy) dalam pengisian formulir pajak. Jika ada > pengukuran, bahwa tingkat akurasinya hanya 60% (ini > misalnya, lho) maka ini sudah ada indikasi kita > lakukan perbaikan (misalnya Dirjen Pajak, pemerintah, > DPR inginnya jadi 99% akurat). Jika kita sudah > validasi pengukuran ini sudah benar, dari sini bisa > kita lakukan pengumpulan data di seluruh indonesia. > Apakah bisa dilihat ada daerah yang lebih bagus > dibanding yang lain dalam hal akurasi? Apakah ada tren > dari tahun ke tahun (misalnya, Jakarta dari tahun > 2000-2006 selalu jelek akurasinya. Atau misalnya > Yogyakarta mengalami peningkatan dari tahun ke tahun > dalam hal akuras). Dari sini kita lakukan analisa > lebih dalam lagi..apakah ada perbedaan proses antara > daerah yg bagus dan yang jelek? perbedaan pendidikan > pegawai? perbedaan peraturan, dll. dari hasil analisa > kita lakukan perbaikan. Dan selanjutnya. > > Poin yang ingin kita kemukakan adalah bahwa Six Sigma > ataupun Lean merupakan "kendaraan" yang membawa kita > ke solusi. Seperti kendaraan, kalau dibawa di jalan > mulus (seperti di multinational company) itu akan bisa > diimplementasi dengan efektif. kalau di jalan semi > aspal dan berlumpur, ya mungkin agak > tersendat-sendat...tapi pasti akan membawa kita ke > solusi. > > Sekali lagi kasus diatas hanya contoh asal yang sangat > simpel...mungkin kalau ada contoh kasus yang lebih > real dari teman2 akan membantu kita mendiskusikan. > Oleh karena itu, mari kita ajak teman-teman di > pemerintaha untuk melakukan suatu exercise. Jika ada > yang punya proses/kasus yang ingin diimprove..bisa > disharing di milis ini, lalu kita diskusikan > bersama-sama. Jadi semacam real case study, dimana > konsep yang digunakan untuk menganalisa adalah six > sigma dan lean. Jika ada yang bisa membawakan contoh > kasus, that'd be interesting....(nama > institusi/orang/daerah yang terkait bisa disamarkan > untuk menjaga kerahasiaan). > > Muhammad Syahreza > PT. NOK Indonesia > Plant Engineering Dept. > Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135 > Fax. : 021-898 0764 > e-mail : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

