Kanda ________________________________
From: suheimi ksuheimi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, September 06, 2006 11:43 AM To: Elthaf (elthaf) Subject: RE: Belaian Nan Lembut Hari jumat lalusaya bersama istri dr Zurtias ke sma I mengantarkan sumbangan bea siswa dari angkatan 65... sebanyak 11 orh siswa menerima dg sukacita dan senang krn sangat buth. ternyata sma kita dpt juara 1, sehingga Gubernur memberikan hadiah 300 Jt yg digunakan utk LAN, hingga sebentar lagi tiap lokal sdh ada komputer dg fasilataaas internet, saya bangga. Kami di kenalkan juga pada murid2 akselerasi.. ada yg belum lagi berusia 12 tahun. spt anak sd saja tapi pintar. Hadir do SMA ini mengingatkan saya akan kenangan lalu ketika 6 bulan saya pernah tercatat sebagai murid sma I kmd pindah ke SMA 2 Padang... bersama ini saya tuliskan kenangan semasa SMA memang masa yg terindah itu adalah masa-masa di sma. serta kasih yg paling indah itu kasih di SMA G U R U Dr.H.K.Suheimi Ruangan besar di hotel Pangeran terasa sempit, sewaktu acara reuni Akbar di gelar. Sekali ini Alumni SMA II se Indonesia berkumpul dan bernostalgia dalam malam kenangan semalam di Ranah Minang dalam acara "Bapisah bukannyo bacarai". Saya bersua kembali dengan teman-teman lama yang dulunya banyak kakobeh dan banyak cincong serta nakal-nakal, sekarang mereka sudah jadi orang besar. Ada yang sudah jadi laksamana teman saya Sudirman, ada yang sudah jadi Anggorta DPR pusat, Dasril Datuk Labuan. Ada yang jadi pengusaha sukses, seperti pak zairin, ada yang jadi Bankir DIrut BPD Suharman. Ada yang jadi Pendidik dalam kompu ter Herman Nawas dan zerni Melmusi. Ah banyak lagi. Tapi malam itu yang sangat berkesan adalah saya ketemu dengan guru-guru yang saya hormati dan saya kagumi serta saya jadikan panutan, seperti Pak Jauhari Kahar, pak Syafei, pak Ashar, Pak Yusri, Pak Wilmar, Buk Nursi, Buk Yang , Buk Net, Buk Syamsuir yatim, ah banyak malam itu yang hadir hampir seratus guru-guru SMA II. Dan setiap kali saya bertemu dengan guru, saya selalu terin- gat akan pertanyaan Kaisar Hirohito, sewaktu Hirosima dan Nagasa- ki di musnahkan oleh Bom Atom, ratusan ribu manusia jadi korban. Hanya satu saja pertanyaan Kaisar Hirohito saat itu ialah : "Apakah Guru masih ada yang hidup?". Hirohito tidak menanyakan yang lain, tapi hanya menanyakan guru. Begitu di ketahui bahwa Guru masih ada yang hidup, beliaupun tersenyum. "Dengan adanya guru kita bisa kembali membangun Jepang mebangkitkannya dari ke runtuhan dan kehancuran". Memang Kaisar Hirohito tidak salah, dugaannya tidak meleset. Selagi ada guru bangsa bisa bangun dan bangkit kembali. Gurulah yang mendidik, mengajar sehingga mengha- silkan bangsa yang besar. Di tangan gurulah terletak segala kemungkinan ke berhasilan seseorang. Maka di Jepang dan di negara manapun, penghormatan pada guru selalu dan senantiasa di utama- kan. Dalam salah satu sumpah dokterpun di sebutkan "Saya akan berikan penghormatan yang setinggi-tingginya pada guru saya". Makanya boleh ada ungkapn bekas pejabat, bekas istri, bekas mertua, tapi tak pernah orang menyebut "beliau adalah bekas guru saya. tidak ada istilah mantan atau bekas untuk pak dan bu guru. Maka dimanapun beliau berada walaupun guru TK, Buk Kate sampai saat ini saya selalu berkata beliau adalah guru saya, bukan mantan guru saya. Karena gurulah saya yang dulu nakal, sebagaimana banyak teman-teman saya yang dulu nakal sekarang jadi orang penting dan berpangkat. Karena gurulah kami bisa jadi begini. Karena gurulah saya bisa menulis dan mengarang. Karena gurulah saya bisa jadi ahli kebidanan dan penyakit kandungan. "Jasamu guru takkan perah kami lupakan". Maka di malam itu saya ingin melantunkan sebuah lagu, tapi saya malu karena suara saya tak merdu dan lagu yang banyak hafal dan masih hafal justru lagu- lagu ketika saya duduk di TK. Kalau lagu kanak-kanak yang di senandungkan di sebuah pertemuan di hotel jangan-jangan jadi cimeeh. Saya simpan keinginan untuk berlagu dan saya simpan bait- bait lagu itu. Tapi bait demi baitnya berisi ajaran yang dalam. Maka lagu yang ndak jadi saya senandungkan itu saya kirimkan untuk guru-guru saya dimanapun beliau berada; Oh ibu dan ayah selamat pagi Kupergi belajar sampaikan nanti Selamat belajar nak, penuh semangat Rajinlah selalu tentu kau dapat Hormati gurumu sayangi teman Tandanya engkau murid yang budiman. Murid budiman adalah murid yang menghormati guru dan me nyayangi teman. Saya ingin menjadi murid yang Budiman, saya ingin berbakti. Maka saya harus menghormati guru dan menyayangi teman. Nah di malam ini berkumpul guru dan teman-teman saya. Betapa indahnya malam ini 12 Maret yang tak mungkin saya lupakan. Kami bergembira, kami berdendang, kami berjoget dangdut. Pak Bas yang dulu guru olah raga senyum-senyum dan bahagia sekali, saya dekati beliau "Kenapa bapak ndak mau berlagu dan menari?", "bapak sakit" kata beliau, "Pergi ke hotel inipun sajapun bapak di gotong" ulas beliau dengan linangan air mata di pipi, air mata bahagia melihat anak muridnya banyak yang sukses dan berhasil. Saya ingat ketika dulu pak Bas inilah yang bersama-sama mengerahkan kami membongkar tunggul-tunggul kelapa di pekarangan SMA II, beliau menyuruh tapi beliau juga mengerjakan. Beliau ikut membongkar dan mengangkat tunggul-tunggul. Dan bersama beliau kami membuat lapangan bola kaki di belakang SMA II. Namun sekarang beliau sudah mulai tremor, penyakit merenggut beliau dari guru olah raga yang paling gesit dan paling gagah, sekarang jauh berbeda. Kami kenang malam bapisah bukannyo bacarai, disini kami berkumpul dan berdedang. Bergembira, larut bersama nostalgia masa lalu dan larut bersamamu guru. Hati kami sangat dekat dengan guru-guru, saya ingin tahu apa rahasia kesuksesan buk guru. "Hanya satu" kata buk guru menjelas kan "Saya selalu memperhatikan dan mencurahkan rasa sayang pada semua murid". "Rasa sayang yang tulus dan ihklas" tegas buk guru lagi. Memang rasa sayang yang tulus dan ikhlas inilah yang selalu terpancar dari wajah guru-guru kami, bila berdiri di hadapan murid-muridnya. Rasa sayangnyalah yang menyebabkan anak-anak lebih terbuka dan menceritrakan segala rahasianya pada buk guru. Itu pulalah yang menyebabkan anak-anak mengadu kepada guru. Dan sangat banyak rahasia anak-anak yang di pendam buk guru, buk guru seakan-akan tahu persoalan kami sampai yang sekecil-kecilnya. Jadi Guru bukan saja sebagai pengajar, tapi beliau lebih lagi sebagai pendidik. Pendidik yang dilandasi rasa kasih dan sayang yang tulus. Semua itulah yang menyebabkan hati anak-anak terpaut pada guru-gurnya,sehingga apapun yang disampaika beliau langsung melekat di hati anak-anak, karena sang guru menyampaikan dengan perasaan dan hati yang ikhlas.Kalau buk Gur yang bercetra,enak di dengar, mudah di pahami dan cepat di mengerti dan lama lupanya. Dalam upaya menolong mengatasi problema orang, dalam diri guru timbul kobaran semangat yang mengasyikan. Dan pada kalbunya terasa arus cinta bergetar. Kasih dan sayangnya pada anak-anak, sudah menguasai gerak-gerik dirinya. Dan bahkan telah menguasai jiwanya ! Lantas kewajiban sudah berubah menjadi sesuatu yang menyenangkannya. Bahkan lebih dari itu, lebih agung lagi. Kewaji- ban sudah menjadi perasaan hidup dan watak pribadinya. Disinilah letak beda antara cinta dan kewajiban. Kewajiban, adakalanya dilakukan dengan rasa terpaksa dan pahit.Tapi kalau karena cinta, jalan dan rintangan yang bagaimana pun sulitnya, akan dihadapi dengan penuh rasa riang dan gembira. Cintanya pada muridnya merupakan landasan kukuh dari mana karya-karyanya muncul. Bila keadaan memaksanya bersikap marah, maka marahnya itu pun tidak keluar dari lingkaran cintanya itu juga, sehingga murid merasakan itu bukan marah tapi teguran dan ajaran untuk kebaikan murid-muridnya juga. Banyak guru-guru saya yang kecil badannya, kecil rumahnya, kecil kekayaannya dan kecil ekonominya, tapi bagi saya betapun kecilnya beliau, namun beliau adalah guru saya, dari gurulah banyak saya belajar, dari tangannyalah banyak saya peroleh ilmu. Dan saya rasakan sendiri dari dialah berkembang dan tumbuhnya saya, tumbuh pemikiran dan tumbuh rasa sosial dan bisa sedikit ber oragnisasi karena bimbingan beliau. Saya kenang beliau dan panjatkan doa untuk semua guru-guru saya. Kiranya semua amal dan jasanya menjadi amel saleh dan ibadah yang suci. DAn saya bisik- kan pada guru-guru saya. Amal yang tak pernah habis dan terkikis walaupun jasad sudah hancur luluh, ialah Ilmu yang bermanfaat yang diajarkan. Dan semua guru sewaktu berdiri di depan kelas selalu mengajarkan yang bermanfaat. Oh alangkah indahnya bila sang guru setiap kali masuk kelas membaca Bismillah, sehingga semua yang di ucapkannya langsung jadi ibadah suci. Untuk itu saya teringat akansebuah Firamn suci_Nya dalam Al Qur'an Surat Al Isra' Ayat 24 : " Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :"Wahai Tuhanku kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". Hotel Pangeran 12 Maret 1995 ________________________________ Get your email and more, right on the new Yahoo.com <http://us.rd.yahoo.com/evt=42973/*http://www.yahoo.com/preview> -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

