Kpd sanak di Ranaunet, ma'af diquote kasadono baliak untuak
      konsumsi anak-anak Lambau, dan banuanet.
 
 
 Wa'alaikum salam wr wb
 
 Tarimo kasih Lembang.
   Anak2 nan naiak kuretapi du biasono ado "tando" :
   Bajuno balubang-lubang dek baro dari mak itam.
 
 Wass
 'mak Ban
 ~~~~~~~~~
 
 
> > -----Original Message-----
> > From: Muhammad Dafiq Saib
> 
> > Subject: [EMAIL PROTECTED] Keretapi, riwayatmu dulu
> >
> > Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
> >
> > Cerita di tengah maraknya nostalgia perkeretapian
> > nagari awak tempo dulu.
> >
> > Wassalamu'alaikum,
> >
> > Lembang Alam
> >
> > KERETAPI, RIWAYATMU DULU
> >
> > Saya mempunyai dua kenangan yang tidak mungkin
> > dilupakan dari keretapi ‘nagari awak’ tempo dulu
> > (sampai tahun 1970an). Lengkingan cuitnya dan bau
> > asapnya. Bunyi lengkingan keretapi sekaligus menjadi
> > tanda waktu bagi kami ketika itu. Mak-mak saya (yang
> > manapun) biasa membangunkan kami di pagi hari dengan
> > kata-kata, ‘Bangunlah lagi Buyuang, keretapi sudah ke
> > ujung.’ Agak perlu beberapa kalimat untuk menerangkan
> > makna kalimat ini.
> >
> > Lintasan keretapi arah (ke dekat kampung kami yaitu)
> > ke Baso agak khas, karena jalur ini dijalani secara
> > khusus pada waktu itu. Sekurang-kurangnya ada empat
> > kali keretapi bolak balik sehari secara teratur sejak
> > subuh jam lima pagi, seterusnya jam sembilan pagi, jam
> > satu siang dan jam lima sore melalui jalur ini. Saya
> > tidak yakin ada lintasan yang dilalui dengan ‘sangat’
> > teratur seperti jalur Bukit Tinggi – Baso ini di
> > tempat lain di Sumatera Barat.
> >
> > Baso terletak sebelas kilometer arah ke timur dari
> > Bukit Tinggi. Lebih jauh ke timur, kereta itu bisa
> > pergi sampai ke Paya Kumbuh. Ada kereta dari Paya
> > Kumbuh yang terus ke Padang sekali sehari, menempuh
> > jarak 124 km sehari suntuk, dan kereta yang ke Padang
> > itu baru akan kembali keesokan harinya ke Paya Kumbuh.
> >
> > Waktu keretapi jam lima dari Bukit Tinggi sampai di
> > Tanjung Alam (4 ½ km dari Bukit Tinggi) lengkingan
> > atau cuitnya terdengar sampai ke kampung kami yang
> > jarak lurusnya sekitar 2 ½ km. Waktu saat itu
> > menunjukkan lebih kurang jam setengah enam. Arah ke
> > Baso atau arah ke timur dalam bahasa di kampung kami
> > disebut arah ke ujung. Itulah yang dimaksud mak-mak
> > kami ketika membangunkan kami dengan mengatakan
> > keretapi sudah ke ujung.
> >
> > Bangun ketika suara keretapi terdengar di Tanjung Alam
> > sangat pas dan mencukupi untuk mendapatkan keretapi
> > itu nanti ketika dia kembali ke Bukit Tinggi.
> > Mencukupi untuk bangun terus mandi tidak lupa
> > menggosok gigi, shalat subuh (terlambat) sarapan, dan
> > seterusnya berjalan kaki 1 ½ km ke Biaro, dimana ada
> > stoplat tempat membeli karcis. Keretapi akan sampai di
> > stoplat ini kira-kira jam enam seperempat membawa kami
> > untuk sampai di Bukit Tinggi jam tujuh kurang
> > seperempat dan tidak terlambat di sekolah yang dimulai
> > pukul tujuh.
> >
> > Jadwal keretapi yang waktu itu dicemooh karena
> > mempunyai jam karet, sebenarnya lumayan teratur
> > kecuali pada hari Sabtu dan Rabu, hari pasar di Bukit
> > Tinggi. Entah dengan cara apa para pedagang merayu
> > petugas keretapi ketika itu yang membuat jadwal kereta
> > pada hari-hari itu menjadi jadwal sangat telat. Kalau
> > kami bisa sampai jam delapan di sekolah di Bukit
> > Tinggi setiap hari Rabu atau Sabtu, itu namanya sudah
> > sangat beruntung. Muatan keretapi di kedua hari itu,
> > khususnya yang pagi dari arah Baso dan yang siang
> > menuju Baso, na’utzubillah padatnya. Pernah saya
> > mengalami hanya kebagian satu kaki yang menyentuh
> > tangga kereta dan satu tangan berpegangan entah dimana
> > saja, saking berselingkit-pingkitnya.
> >
> > Pada hari-hari khusus itu, keretapi akan ‘ngetem’ di
> > Baso lebih lama, menunggu ‘urang panggaleh’.  Tidak
> > lupa pula masinis meninggalkan masing-masing sebuah
> > atau dua buah wagon yang kami sebut ‘daresi’ di Biaro
> > dan di Tanjung Alam. Kalau hari-hari biasa jam enam
> > kurang kereta itu sudah menuju ke Bukit Tinggi, maka
> > di hari Rabu dan Sabtu, jam tujuh lebih, lokomotif itu
> > mendengus-dengus saking beratnya beban di tanjakan
> > menjelang Biaro. Bebannya bertambah berat karena harus
> > mendorong pula dua daresi ekstra yang ditinggal
> > sebelumnya di Biaro, mendengus dengan tenaga ekstra
> > mendaki di jembatan Batang Air Katik. Susah payahnya
> > lokomotif menarik dan sekaligus mendorong di pendakian
> > itu, yang menyebabkan para penumpang ikut sesak
> > nafasnya, yang lalu melahirkan buah pemeo, ‘keretapi
> > nan mandaki, manga angok awak nan sasak.’
> >
> > Sesampai di stasiun Tanjung Alam yang mempunyai rel
> > kereta ganda untuk langsir, susunan daresi di atur
> > kembali dengan lokomotif kembali diletakkan paling
> > depan. Maka dari Tanjung Alam ke Bukit Tinggi,
> > lokomotif perkasa itu menarik rangkaian gerbong di
> > jalan yang relatif lebih rata dengan cuitan panjang
> > penuh kemenangan menjelang Bukit Tinggi.
> >
> > Urut-urutan tempat kereta itu berhenti dari Baso
> > adalah Koto Hilalang (2 km dari Baso, disini kereta
> > kadang-kadang saja berhenti), lalu Biaro yang ada
> > stoplatnya, kemudian Tanjung Alam, seterusnya Aur
> > Tajungkang destinasi sebagian besar penumpang yang
> > menuju baik Pasar Atas maupun Pasar Bawah, atau siswa
> > SMA I Bukit Tinggi serta murid sekolah lainnya.
> > Perjalanan keretapi itu berakhir di stasiun gadang
> > Bukit Tinggi yang berjarak satu kilometer dari Aur
> > Tajungkang.
> >
> > Benarkah jadwal kereta itu teratur di luar hari Sabtu
> > dan Rabu? Ternyata ungkapan ini tidak terlalu tepat.
> > Cukup sering lokomotif kereta yang asapnya terlihat
> > tetap mengebul-ngebul di stasiun gadang (kelihatan
> > dari stoplat Aur Tajungkang), ternyata sedang
> > mengalami perbaikan cukup serius. Tidak ada yang dapat
> > dilakukan oleh calon penumpang selain menunggu dengan
> > sabar sampai perbaikan itu selesai. Tidak susah
> > memahami kalau lok-lok itu sering rusak, karena
> > umumnya memang sudah lumayan sepuh. Sebagian besar
> > dari lokomotif yang beroperasi sampai awal tahun
> > tujuhpuluhan itu adalah buatan awal abad ke dua puluh
> > dengan tahun pembuatan 1903, 1905, 1911. Hanya dengan
> > keahlian khusus tenaga-tenaga ahli mesin ketika itu
> > sajalah lok-lok itu tetap mampu berjalan.
> >
> > Masa-masa ketika keretapi berjalan lancar sampai awal
> > tahun tujuhpuluhan itu merupakan masa-masa indah
> > masyarakat Baso dan sekitarnya karena mereka
> > benar-benar mendapatkan subsidi nyata untuk alat
> > transport keretapi. Bagaimana tidak, karena usaha
> > perkeretapian kala itu sesungguhnya sangat tidak
> > menguntungkan baik dari jumlah penumpang / pemasukan
> > dari penjualan karcis. Kecuali pagi dan menjelang
> > siang untuk jurusan Baso – Bukit Tinggi, siang dan
> > sore jurusan sebaliknya di hari-hari Sabtu dan Rabu,
> > keretapi itu sangat sedikit membawa penumpang. Sekali
> > jalan sekurang-kurangnya dibawa empat buah wagon atau
> > daresi dengan kapasitas 160 sampai 200 tempat duduk.
> > Tidak pernah sampai seperduanya yang terisi, namun
> > kereta itu tetap dengan setia dijalankan empat kali
> > sehari. Belum lagi dikarenakan penumpang yang enggan
> > membeli karcis alias membayar langsung ke kondektur di
> > atas kereta. Membayar seperti ini boleh suka-suka,
> > seikhlas kondektur, yang pasti lebih murah dari harga
> > karcis. Kondektur-kondektur itu menyukai cara
> > pembayaran seperti ini. Di hari Rabu dan Sabtu,
> > kantong celana mereka menggelembung dan tangan mereka
> > terkembang menggenggam uang receh yang dibayarkan para
> > penumpang yang malas membeli karcis di stoplat itu.
> > Sekali-sekali diadakan petugas polisi kereta api
> > (PUKA) untuk menakut-nakuti penumpang, tapi ini hanya
> > hangat-hangat tahi ayam.
> >
> > Benar-benar sebuah keajaiban bahwa dengan kondisi
> > manajerial yang ambur-adul itu perkeretapian di Bukit
> > Tinggi – Baso itu bisa bertahan bertahun-tahun.
> > Meskipun bahan bakar batu bara dapat mereka ambil
> > gratis di Sawah Lunto, namun onderdil lokomotif tua
> > tentunya tidak mungkin diperoleh secara gratis.
> >
> > Sayapun sempat menikmati jasa keretapi itu ketika saya
> > bersekolah di SMA III Birugo tahun 1969. Naik dari
> > Biaro, turun di stasiun gadang untuk seterusnya
> > berjalan kaki ke Birugo. Karena saya duduk di kelas
> > tiga, dan tidak mungkin secara teratur terlambat dua
> > kali seminggu akhirnya saya terpaksa menyewa kamar di
> > Birugo.
> >
> > Kalau jurusan Bukit Tinggi Baso dijalani empat kali
> > sehari, jurusan Paya Kumbuh – Padang dijalani sekali
> > sehari. Di sekitar tahun 1963 perkeretapian Sumatera
> > Barat menerima ‘sumbangan’ sebagai pampasan perang
> > dari Jepang berupa beberapa wagon dan lokomotif baru
> > yang digunakan sebagai angkutan keretapi khusus.
> > Diantaranya adalah keretapi Paya Kumbuh - Padang yang
> > dijuluki dengan nama keretapi Ganefo, karena tahun
> > 1963 adalah tahun dilangsungkannya sekali-sekalinya
> > sukan Ganefo di Jakarta. Keretapi Ganefo pulang dan
> > pergi Paya Kumbuh – Padang di hari yang sama, untuk
> > dibandingkan dengan keretapi regular yang hanya mampu
> > berjalan satu kali pergi saja. Kalau keretapi regular
> > pernah saya tumpangi dari Bukit Tinggi ke Padang
> > maupun dari Padang ke Bukit Tinggi masing-masing
> > sekali, maka keretapi Ganefo tidak pernah saya coba.
> > Soalnya keretapi ekspres ini tidak berhenti di stoplat
> > Biaro, dekat kampung saya.
> >
> > Naik keretapi dari Bukit Tinggi ke Padang yang
> > berhabis hari itu dikarenakan seringnya kereta
> > berhenti di stoplat-stoplat kecil. Akibatnya ya itu
> > tadi, untuk menempuh jarak 91km Bukit Tinggi – Padang
> > (harusnya panjang rel kereta lebih pendek lagi dari
> > itu), diperlukan waktu antara tujuh sampai delapan
> > jam. Berangkat jam tujuh pagi dari Bukit Tinggi baru
> > akan sampai di Padang antara jam dua dan jam tiga
> > sore. Tidak mungkin lagi kereta yang sama
> > diberangkatkan kembali ke Bukit Tinggi, kecuali kalau
> > mau sampai di Bukit Tinggi tepat tengah malam.
> > Bandingkan dengan bus yang memerlukan waktu maksimum
> > dua setengah jam untuk menempuh jarak yang sama.
> >
> > Kalau Bukit Tinggi punya stasiun gadang, stasiun yang
> > lebih besar lagi terdapat di Padang Panjang dan di
> > Padang (pusat keretapi Sumatera Barat). Padang Panjang
> > merupakan perlintasan keretapi Solok dan Sawah Lunto
> > yang juga akan ke Padang. Keretapi Sawah Lunto –
> > Padang pengangkut batu bara dari tambang Ombilin
> > bahkan bertahan sampai awal tahun 2000an.
> >
> > Saya tidak tahu kapan terakhir kali keretapi Baso –
> > Bukit Tinggi berjalan. Ketika saya pulang kampung yang
> > pertama kali tahun 1974 (sejak saya meninggalkan
> > kampung pertengahan tahun 1970), keretapi di Bukit
> > Tinggi sudah tidak ada. Waktu saya berangkat, kereta
> > itu masih ada. Sejak keretapi tidak lagi berjalan itu,
> > secara berangsur-angsur tapi pasti, jalan keretapi
> > ‘diasak urang lalu’. Ada yang ditimbuni, bahkan ada
> > yang dibongkar relnya. Stasiun atau stoplatnya sudah
> > berubah menjadi lepau, kedai atau toko yang entah
> > dengan cara bagaimana digunakan oleh mereka yang
> > menempatinya.
> >
> > Sebingkah kenangan tentang perkeretapian di kampung
> > kita, ke masa ketika keretapi di masukkan kedalam bait
> > pantun lagu Minang;
> >
> > Mamakiak kureta Padang
> > Manyauik kureta Solok
> > Taragak badan nak pulang
> > Baju lah sasak dek panumbok
> >
> >
> >                     *****
> >
> >
> >
> >
> > St. Lembang Alam
> >
> >
> >
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> > http://mail.yahoo.com
> >
> > --------------------------------------------------------------
> > Website: http://www.rantaunet.org
> > =========================================================
> > * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan
konfigurasi
> > keanggotaan,
> > silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
> > * Posting dan membaca email lewat web di
> > http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
> > dengan tetap harus terdaftar di sini.
> > --------------------------------------------------------------
> > UNTUK DIPERHATIKAN:
> > - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
> > - Besar posting maksimum 100 KB
> > - Mengirim attachment ditolak oleh sistem
> > =========================================================


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke