PolkamUpdated: Selasa, 29 Agustus 2006 15:42:00 WIB
 
  
TEROPONG
Hatta - Syahrir : Dari Ranah Minang Hingga ke Bandaneira


Reporter : Asep Syafulloh dan Ahmad Baehaqi
Juru Kamera : Iwan Agung, Joni Suryadi 
indosiar.com,  Sumatera  Barat  -  Melacak jejak para pejuang tidaklah
mudah, apalagi sebagian jejak-jejak itu sudah hilang ditelan jaman.

Muhammad  Hatta  dan  Sutan  Sjahrir masih meninggalkan jejak itu. Dua
arsitek  republik  ini  lahir  di  Sumatera Barat. Pemerintah kolonial
membuangnya  ke  Bandaneira,  Maluku  Tengah.  Kedua tempat itu adalah
jejak mereka.

Bukit  Tinggi  adalah kota yang terletak di kaki Gunung Singgalang dan
dikelilingi  perbukitan,  sehingga  iklim  di  kota  ini terasa sejuk.
Ratusan  ribu  wisatawan  setiap  tahun  berkunjung  ke kota ini untuk
melihat keindahan panorama alam.

Dan  inilah Ngarai Sihanouk. Jurang yang dalamnya ratusan meter seolah
menjadi  magnet  yang menarik ribuan wisatawan untuk melihat keajabian
alam.  Jurang  ini  sangat  panjang dan membelah Kota Bukit Tinggi dan
Koto Gadang.

Daya  pikat  alam  dan  kekayaan budaya Minang adalah harta yang tidak
ternilai  bagi  daerah  ini.  Bila  alam  memberikan banyak kemurahan,
sejarah   juga  memberikan  catatan  sendiri  bagi  kota  ini.  Banyak
peninggalan  kolonial  Belanda dan Jepang yang masih membekas di Bukit
Tinggi.

Gua  Jepang  ini  panjangnya  sekitar seribu empat ratus meter. Jepang
membangunnya  untuk  tempat  bersembunyi,  selama berbulan-bulan tanpa
kekurangan bahan makanan.

Masyarakat  Minangkabau  sangat  agamis.  Islam  memberikan  sumbangan
besar,  bagi  perilaku  dan  adat  istiadat masyarakat Minang di sini.
Surau  tidak  saja  sebagai tempat untuk menimba pelajaran agama namun
juga pelajaran budaya dan sosial.

Masyarakat Minang juga sangat egaliter, yakni lebih meletakan tanggung
jawab  pada  kebersamaan,  atau  dari  kaum  kepada  nagari.  Sehingga
lahirlah  budaya  malu.  Bila  seseorang  pulang ke kampung halamannya
tidak membawa sesuatu yang berharga buat nagarinya.

Tidak  mengejutkan, bila pendidikan menjadi tolak ukur bagi masyarakat
Minang untuk menunjukan derajat mereka di mata masyarakatnya.

Bisa  jadi karena budaya malu dan agamis ini, banyak tokoh - tokoh dan
pejuang  nasional lahir di tanah Minang. Sebut saja Muhammad Hatta dan
Sutan  Sjahrir.  Kendati  kedua  tokoh  ini  hidup di abad ke sembilan
belas,  namun  mereka sudah bisa merasakan pendidikan tinggi yang saat
itu hanya bisa dinikmati kaum kulit putih.

Peninggalan  Hatta  dan  Sjahrir di tanah Minang akan banyak bercerita
masa  kecil  kedua  tokoh  ini,  sebelum  tumbuh  menjadi arsitek yang
membangun negeri ini.

Inilah  rumah, Muhammad Hatta, yang terletak di Jalan Soekarno – Hatta
di  Bukit  Tinggi. Seratus empat tahun yang lalu Hatta tinggal di sini
bersama keluarga dan kerabatnya.

Sepintas  lalu,  agak  sulit  mempercayai  rumah  ini banyak menyimpan
kenangan  masa  kecil  wakil  presiden  pertama Kita, karena tidak ada
bedanya  dengan  rumah  lain  di  sekitarnya.  Namun  rumah  ini  bisa
menceritakan   Hatta   kecil  pada  masa  itu.  Di  rumah  ini,  Hatta
menghabiskan waktunya hingga usia sebelas tahun.

Muhammad  Hatta  lahir dengan nama Muhammad Athar. Kedua orang tuanya,
HM  Djamil  dan  Saleha  saat  itu  cukup  disegani, dan dari keluarga
berada, sehingga Hatta bisa menikmati hidup yang layak.

Di  kamar  ini, Hatta dilahirkan pada tanggal dua belas Agustus seribu
sembilan  ratus  kosong dua. Kedua orang tuanya hanya bisa membesarkan
Hatta  hingga usia beberapa bulan, karena ayahnya meninggal dunia, dan
Saleha, ibunya lalu menikah kembali.

Kakeknya  lah  yang selanjutnya membesarkan Hatta hingga dewasa. Hatta
tumbuh menjadi anak berdisiplin tinggi dan cerdas.

Saat  kesekolah  ia  menggunakan  bendinya  ini yang setia setiap saat
mengantarnya ke sekolah. Namun peninggalan Hatta rupanya tidak sebesar
dan seharum namanya.

Rumah  Hatta  sepintas  tidak  berbeda dengan rumah lainnya di sekitar
Jalan Sukarno Hatta in. Bahkan kondisinya terkesan tidak terawat.

Wisatawan  pun tidak banyak yang datang, bahkan ada sebagian yang sama
sekali  tidak mengenal sosok Hatta.Sebagian bangunan peninggalan Hatta
di sini sudah sulit dikenali, karena telah berubah fungs.

Gedung  ini  dahulunya  adalah  sekolah  Hatta,  yakni  Europe Largere
School.  Hatta  menamatkan  pendidikan  dasarnya  selama enam tahun di
sini.

Ia  termasuk  anak  yang  beruntung,  karena sekolah diperuntukan bagi
warga  keturunan  kulit  putih.  Pemerintah  kolonial  saat itu memang
sangat menghormati kakek Hatta yang cukup terpandang saat itu.

Tahun  seribu  sembilan ratus enam belas, Hatta melanjutkan pendidikan
menengahnya,  atau  Mulo  di Padang. Sekolah itu kini bernama SMP Satu
Padang.  Selama  tiga tahun hatta menimba ilmu di sekolah ini. Ruangan
kelas Hatta masih dibiarkan seperti aslinya.

Lain  nasib yang dialami Sutan Sjahrir. Mantan Perdana Menteri RI yang
Pertama. Jejak Sjahrir di tanah Minang seolah lenyap ditelan bumi.

Dari  catatan sejarah, Sjahir, lahir di Padang Panjang pada lima Maret
seribu  sembilan  ratus  kosong  sembilan.  Namun  peninggalan Sjahrir
semasa kecil sulit ditemukan di sini.

Jejak yang masih bisa di lacak, adalah mengunjungi rumah adik tirinya,
Rohana  Kudus di Kampung Labuh Gadang di Koto Padang. Namun, tidak ada
satupun  orang  yang  bisa ditemui. Kabarnya rumah ini sejak lama sepi
ditinggal penghuniny.

Tetangga  dekat  Rohana,  Yasrin,  pegawai  pos  dan giro yang berusia
delapan  puluh empat tahun ini, juga tidak banyak membant. Begitu pula
dengan rumah kedua orang tua Sjahrir di Kampung Piliang, masih di Koto
Gadang. Rumah besar ini kosong dan tidak terawat.

Jejak  Sjahrir  sudah  sulit  ditemukan  di tanah kelahiranya. Sejarah
hanya  mencatat,  ia  lahir Tanah Minang ini dan tahun seribu sembilan
ratus enam puluh enam, tutup usia di dalam tahanan di Zurich – Swiss.

Hatta   dan   Sjahrir,  adalah  dua  tokoh  besar  yang  lebih  banyak
menghabiskan  waktunya  di  perantaua.  Hanya  sedikit jejak mereka di
tanah   kelahirannya.   Namun   sebaliknya,di  pembuangan,  Digul  dan
Bandaneira  yang ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran mereka,
jejak Hatta dan Sjarir sangat membekas.

Banda  terletak di Maluku Tengah yang terdiri dari sebelas pulau. Tiga
diantara  tidak  berpenghuni. Banda adalah pulau kecil dengan penduduk
sekitar  23  ribu  jiwa.  Namun  sejak  abad  ke-16,  nama Banda sudah
terdengar seantero dunia, karena memasok rempah-rempah, seperti pala.

Rempah-rempah   ini  yang  mengundang  para  pedagang  dari  Portugis,
Spanyol,  Belanda  dan  Inggris  datang ke pulau ini. Suasana kolonial
kami  rasakan  di  kota  kecil ini. Mengingatkan situasi sekitar tahun
1900'an.

Portugis  membangun  Bandaneira  sekitar abad ke enam belas. Ini masih
terlihat  dari  sejumlah  bangunan  di sini yang ber arsitektur Eropa.
Jejak-jejak  peninggalan  kolinial  di kota ini terlihat dari bangunan
benteng.

Benteng  Belgica  ini adalah peninggalan Portugis yang berada di Pulau
Neira.  Belgica  berbentuk  segi  lima ini, sudah berdiri kokoh, sejak
tahun seribu enam ratus sebelas. Banyak jalan rahasia di dalam benteng
ini.  Seperti  sumur ini, yang terhubung langsung dengan pelabuhan dan
benteng Nassau di tepi pantai.

Bangunan  tua  lainnya  yang  menjadi saksi sejarah adalah gereja yang
dibangun  sekitar  tahun  seribu  delapan  ratus tujuh puluh lima oleh
Inggris, Portugis dan Belanda.

Namun  Bandaniera  juga  menyimpan  sejarah  hitam  perjuangan bangsa.
Pemerintah  kolonial  Belanda, menjadikannya sebagai tempat pembuangan
para pejuang.

Di  sini,  Mohammad  Hatta,  Sutan  Sjahrir  dan  sejumlah  tokoh lain
menghabiskan  waktunya  bertahun-tahun dalam pembuangan. Bagi Mohhamad
Hatta Bandaneira adalah kota yang tidak pernah ia lupaka. Di rumah ini
selama tujuh tahun Hatta menghabiskan waktunya.

Pemerintah  Kolonial  membawa Hatta dari Digul Papua pada tahun seribu
sembilan  ratus  tiga puluh sembilan dan membawanya ke Jawa pada tahun
seribu sembilan ratus empat puluh dua.

Rumah  Hatta  ini  seolah  masih  bisa  bercerita  banya.  Di sini, ia
mengajari anak-anak Banda, membaca, menulis dan berhitung dalam bahasa
Belanda.  Berbeda dengan Digul, di sini Hatta sedikit leluasa. Ia bisa
bergaul bebas dengan masyarakat sekitar.

Rumah  Hatta  ini masih terawat dengan baik setelah dipugar pemerintah
beberapa  tahun  terakhir.Kenangan  pahit  juga dialami Sutan Sjahrir.
Bandaneira  telah  membunuh pemikiran-pemikirannya, namun juga menjadi
tempat  yang  banyak  memberikan  kenangan  manis bagi Perdana Menteri
Pertama Indonesia ini.

Rumah yang didiami Sjahrir masih bertahan seperti dahulu. Jendela yang
berukuran   besar,   tiang   penyangga  rumah  berbentuk  bulat  serta
langit-langit yang tinggi. Ini adalah ciri khas arsitektur Eropa.

Di  dalam  Kami  menemukan  peninggalan  Sjahrir. Dia ternyata pecinta
musik.  Gramaphone ini menjadi alat yang setia menemani Sjahrir selama
bertahun   -tahun  di  sini.  Sulit  mempercayainya,  Bandaneira  yang
terletak  jauh  di  belahan  timur Indonesia menyimpan banyak kenangan
masa lalu.

Bagaikan buku kusam yang menyimpan banyak catatan sejarah para pejuang
kita.  Kami tidak berlebihan untuk mengatakan, bahwa tanpa Bandaneira,
sejarah bangsa Indonesia menjadi tidak lengkap. (Sup)


Sumber: http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=54379
 

--------------------------------------------------------------------------------

© Copyright 2005 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI
www.indosiar.com  




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke