Mudah-mudahan mamak Z Chaniago sato mambaco dan merenungi tulisan dibawah gon. 
Panunjang diskusi kami nan kapatang. 
   
   
  Salam 
   
  Hanifah

"M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Republika , Jumat, 14 Juli 2006

Bagaimana dengan SDM Sumbar????
Kalau Sekolah tidak lagi Fun 

Ia memilih Singapura. Kendati pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru
(SPMB) 2003 lalu, Arfika Nurhudatiana (21 tahun) diterima di jurusan
teknik informatika Institut Teknologi Bandung (ITB).

Arfika sulit menampik beasiswa lebih dari 5.000 dolar Singapura per
tahun dari Sembawang Coorporation, sebuah perusahaan Singapura. Meski
kelak ia harus teken kontrak 'ikatan dinas' selama tiga tahun dengan
negeri jiran ini.

Di Singapura, Arfika menempuh studi di jurusan teknik komputer Nanyang
Technological University (NTU) Singapura. Dan tahulah ia betapa
kontrasnya sistem pendidikan di negeri jiran ini dengan di Indo
--begitu mahasiswa NTU menyebut Indonesia.

Di NTU, atau universitas Singapura pada umumnya, kata dia, belajar
jauh lebih menyenangkan: tak melulu dijejali teori muluk-muluk, tapi
lebih banyak praktiknya. Mahasiswa lebih getol mengerjakan proyek di
lapangan ketimbang berjam-jam duduk mendengarkan dosen: bertemu banyak
orang, melakukan apa yang mereka mau, dan setelah itu presentasi.
''Lebih banyak experience practical-nya. Ini membuat enggak boring,
tapi fun banget,'' terang dia.

Di Indonesia, mahasiswa dibebani mata pelajaran segudang, kadang
banyak yang tak perlu, dan amat teoritis. Tak heran lulus S-1 bisa
rata-rata 5 tahun. ''Itu saja sudah bikin fun belajarnya hilang,''
kata Arfika.

Soal profesionalitas dosen, kata Arfika, juga ada perbedaan amat
besar. Di NTU, terang Arfika, dosen benar-benar helpful. Tak heran,
mahasiswa senang sekali bertemu sang dosen. ''Mereka menganggap kita
sebagai partner, bukan guru dan murid,'' terangnya.

Mendekati waktu ujian, dosen menyediakan waktu dua jam sehari di
kantornya. Mahasiswa bisa masuk kapan saja untuk bertanya. Di sini,
lanjut Arfika, sidang skripsi bukan ajang 'pembantaian' . Proyek tugas
akhir ini diartikan sebagai kerja bareng mahasiswa dan dosen, kemudian
sang mahasiswa persentasi.

Kalau ada proyek riset, sang dosen tak ragu melibatkan mahasiswanya.
Mereka juga membantu mahasiswa melakukan funding untuk S2 atau S3.
''Di Singapura berlaku sistem meritokrasi. Silakan belajar, usaha,
siapa pun yang belajar dan bekerja dengan baik, maka dapat pekerjaan
bagus. Enggak ada KKN,'' terang dia.

Arfika mengaku berminat kembali ke Indonesia untuk menjadi staf
pengajar, tapi dengan catatan. ''Kita lihat dulu bagaimana kondisinya.
Kalau sistem pendidikannya tidak terlalu kondusif, ya mau gimana,
bisa-bisa semua ilmu yang didapat di Singapura percuma,'' selorohnya.

Menurut dia, orang Indonesia punya benih kecerdasan di atas rata-rata.
Buktinya, ''Di NTU, orang Indonesia selalu masuk top 20 persen dari
angkatannya. Malah tak sedikit yang masuk top lima persen, dan
langsung diberi dana besar untuk mengerjakan proyek. Di setiap
fakultas di NTU selalu ada orang Indonesia yang top lima persen,''
kata dia. n imy


                        
---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small 
Business.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke