Assalamu'allaykum wr.wb

 Sekedar maingekkan bahayo kristenisasi supayo  tidak menjangkiti nagari
 awak, kristenisasi dinagari minang marupakan suatu kredit point tersendiri
 bagi orang kristen, kemampuan mengkristenkan urang minang menjadi
 tolak ukur bagi kristenisasi daerah lainnya


 Wassalamu'alaykum wr.wb

 Arnoldison


 Membongkar Dusta Pendeta Rudy Muhamad Nurdin
 Oleh : Fakta 04 Sep 2006 - 7:39 pm

 Majalah Tabligh Vol. 04/No. 01/Rabi’ul Awal 1427 H/April 2006 M
 Alih-alih membagikan kabar suka-cita Injil, Pendeta Rudy Muhamamd Nurdin
 mengemas penginjilan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Semangat
 misionarisnya meledak-ledak untuk “menjala” kaum muslimin agar mau “terima
 Yesus” menjadi penganut Kristiani. Tetapi, ilmu dan wawasannya yang sangat
 dangkal tak sanggup mengimbangi semangatnya. Akibatnya, gerakannya zigzag,
 kacau dan tak terarah.

 Dengan slogan Injili “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,”
 Pendeta RM Nurdin menyebarkan doktrin kekristenan melalui belasan buku
 berkedok Islam. Salah satu buku yang judul dan sampulnya sangat islami,
 adalah “Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an.” Pada cover depan, judul
 buku  ini ditulis pula dalam bahasa Arab “Al-Ayatul-Muhimmah Fil-Qur’an,”
 sementara pada cover belakang diberi label “Untuk Kalangan Sendiri,”
 supaya  terkesan bahwa buku itu adalah bacaan internal umat Kristiani. Ternyata
 label “Untuk Kalangan Sendiri” ini justru dilanggar sendiri oleh Pendeta
 Nurdin.

 Terbukti, pada halaman 10 ditulisnya bahwa bukunya disampaikan kepada
 semua  pembaca yang beriman –termasuk umat Islam:

 “...Buku ini untuk kusampaikan kepada kaka-kakakku, familiku dan semua
 saudara-saudaraku dan semua pembaca yang beriman” (baris ke-6 dari
 bawah).

 Statemen ini dipertegas pada halaman 45, menuangkan harapan agar buku ini
 dibaca oleh semua umat Islam: “Semoga semua umat Islam membaca buku-bukuku
 dan selamat Akhirat Surga...” (baris ke-4 dari bawah).

 Sikap plin-plan pendeta ini semakin diungkap sendiri oleh media Kristen.
 Dalam wawancara di tabloid Kristen, Pendeta Nurdin mengaku terus-terang
 bahwa sebenarnya buku tersebut memang untuk menohok iman umat Islam:
 “Jadi, bukunya bukan untuk kalangan sendiri? Betul sekali. Tetapi, saya
 tulis ‘Untuk Kalangan Sendiri’ untuk menghindari hal-hal yang tak
 diinginkan
 Kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati…. Kemudian saya
 tulis buku Keselamatan di dalam Islam supaya mereka dapat mengetahui Injil
 melalui buku-buku saya. Sebagian isinya tulisan Arab. Tentu saja saya
 harus  memahami tentang Islam terlebih dahulu. Saya juga punya Alkitab 
berbahasa
 Arab…” (baca wawancara: Supaya Mereka Dapat Mengetahui Injil Melalui
 Buku-Buku Saya).

 Muhamad Nurdin memang pendeta supermunafik. Meski telah melakukan tipuan
 yang berarti kebohongan, tapi dia tidak merasa berdosa sedikit pun. Malah
 dia mengeluarkan himbauan kepada umat Kristen agar turut serta membantunya
 dalam pengedaran buku-buku yang ditulisnya kepada kaum muslimin. Dan yang
 lebih memprihatinkan lagi, Pendeta yang tinggal di kawasan Slipi, Jakarta
 Barat ini menjustifikasi tipuan dan kemunafikannya dengan ayat-ayat
 Alkitab.
 Nurdin berkilah bahwa penginjilannya itu sesuai dengan ajaran Alkitab:
 “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya
 aku  memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum
 Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat,
 sekalipun  aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat
 memenangkan  mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (I Korintus 9: 20).

 Ayat Bibel ini disimpulkan oleh Pendeta Nurdin bahwa untuk menghadapi
 orang   Yahudi, harus pura-pura seperti Yahudi. Menghadapi kaum Muslim, harus
 berpura-pura seperti orang Islam. Maka untuk menjala umat Islam harus
 memakai Al-Qur’an.

 Ulah misi Pendeta Nurdin ini jelas berbahaya bagi kerukunan umat beragama,
 karena bisa mengoyak keharmonisan hubungan Kristen dan Islam.

 Pendeta yang Mengaku bernama lengkap Pendeta Rudy Muhamad Nurdin yang
 tinggal di kawasan Grogol, Jakarta Barat ini memang memiliki semangat
 misionari (penginjilan, Kristenisasi) yang sangat tinggi, terutama kepada
 umat Islam.

Dia berusaha memasukkan doktrin Kristen dan pendangkalan akidah kepada
 umat  Islam. Maka Pendeta yang menjabat sebagai Wakil Gembala Gereja Kristen
 Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun, Jakarta Timur ini menulis belasan
 buku berwajah Islam. Wajah Islam dalam buku-buku Pendeta Nurdin ini hanya
 kedok belaka. Demikian pula label “Untuk Kalangan Sendiri” yang
 dicantumkan  pada cover 4 semua bukunya. Semua itu hanya tipuan, karena dalam
 wawancaranya dengan Hatorangan, Pendeta mengaku bahwa sebenarnya buku-buku
 itu semuanya diperuntukkan untuk umat Islam. (baca wawancara: Supaya
 Mereka  Dapat Mengetahui Injil Melalui Buku-Buku Saya).

 Belasan buku penginjilan berkedok Islam tulisan Pendeta Nurdin itu adalah:

 Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an (Al-Aayatul Muhmitatu fil-Qur’an) 84
 halaman, Keselamatan di dalam Islam (61 halaman),

 Selamat Natal Menurut Al-Qur’an (28 halaman),
 Kebenaran Yang Benar (Ash-Shodiqul Masduuq) 107 halaman,
 Kebenaran yang Menyelamatkan (Ash-Shodiiqul Muslim) 79 halaman,
 Isa Alaihi Salam dalam Al-Qur’an yang Benar (‘Isa ‘Alaihissalam
 fil-Qur’an) 84 halaman,

 Keselamatan untuk Akhir Hayat (Salamatul Akhirotul Khoyat) 62 halaman,

 Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar)
 93  halaman,

 Rahasia Allah Yang Paling Besar (As-Sirrullahi Al-Akbar) 77 halaman,

 Waspadalah UFO Berbahaya (99 halaman),

 Bila Terjadi Kiamat Aku Selamat (86 halaman),

 Ya Allah Ya Ruh Ulqudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat (76 halaman),

 Waspadalah!! ! “….” Itu Selalu Ada (28 halmaan),

  Hampir Saya Musnah dan Terungkaplah Sebuah Misteri Dunia (96 halaman),

 Bila Terjadi Perang Nuklir Aku Selamat,

 Wahyu Tentang Neraka,


 Wahyu Keselamatan Allah, dll.

 Dengan belasan judul buku itu, Nurdin pun ditokohkan di gereja sebagai
 “Pendeta Pakar Islamologi.” Maka Pendeta Nurdin dipercaya sebagai
 islamologi
 di Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Jakarta. Sedangkan di Lembaga Alkitab
 Indonesia (LAI), Nurdin tercatat sebagai Anggota Kelompok Kerja WASAI.

 Bila dikaji, hampir semua isi buku Pendeta Nurdin tidak bisa
dipertanggungjawabk an. Selalu ada kesalahan ilmiah, bahkan penghujatan
 kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya isi buku yang salah, bahkan dari
 judul
 bukunya pun rata-rata mengalami kesalahan yang sangat fatal.

Buku Kebenaran Yang Menyelamatkan misalnya, pada cover depan judul ini
 ditulis pula dengan kalimat bahasa Arab “Ash-Shodiiqul Muslim.” Judul ini
 tentu salah dan artinya sangat jauh meleset, karena “Ash-Shodiiqul Muslim”
 bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “Teman yang beragama
 Islam.”

 Kesalahan judul buku dalam transliterasi Indonesia–Arab ini membuktikan
 bahwa Pendeta Nurdin bukanlah pakar Islamologi, tapi awam Islamologi. Kita
 pun merasa heran dan prihatin kepada umat Kristiani di Indonesia yang
 menjadikannya sebagai pahlawan penginjilan. Karena pada hakikatnya semua
 ajaran penginjilan, perbandingan agama dan Islamologi yang dipersembahkan
 Pendeta Nurdin kepada gereja itu penuh kebohongan dan kekeliruan. Bahkan
 bila dibiarkan, sepak-terjang Pendeta Nurdin itu mencederai dan merobek
 kerukunan umat beragama. Sebab dalam buku-bukunya, Pendeta Nurdin banyak
 terdapat pemelesetan ayat, penghujatan Nabi, pelecehan Islam dan
 kebohongan  sejarah.

 Beberapa poin yang bisa memicu amarah umat dalam buku-buku Pendeta Nurdin
 antara lain: Nabi Muhammad Belajar Alkitab (Bibel) Sampai Hafal; Nabi
 Menikahi Wanita Kristen dengan Tatacara Kristen, dan Mendapat Kado Alkitab
 (Bibel); Nabi Muhammad Beribadah Kristen selama 15 tahun; Nabi Muhammad
 Adalah Pencetus Agama Pantekosta dan Kharismatik; dan Nabi Muhammad
 disamakan dengan Pendeta Nurdin dan Lia Aminuddin (Lia Eden)

 Komentar tentang agama lain adalah isu yang paling sensitif dalam hubungan
 antarumat beragama, lebih sensitif daripada kulit telur, dan lebih bahaya
 ledakannya daripada bom. Karena bila tersulut, akan mudah meledak dan
 berdampak pada rusaknya hubungan sesama manusia beragama yang terlibat.

 Penghujatan kepada Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Pendeta Nurdin dari
 Indonesia dan Jyllands Posten dari Denmark telah melakukan pencederaan
 terhadap agama Islam. Dan, jembatan yang selama ini dibangun untuk
 menjalin  kerukunan antarumat beragama pun menjadi berantakan, lantaran 
akar-akar
 permasalahan selalu ditanam oleh manusia-manusia jahil yang ditokohkan
 sebagai ahli agama oleh pihak tertentu. Contoh konkretnya adalah Pendeta
 Rudy Muhamad Nurdin, sang pemecah-belah bangsa. mag, mai, eros, qohar

 Sebuah Upaya Pemurtadan Yang Terang Benderang



 Suber : Swaramuslim. net



__._,_.___ 




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke