http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=265440&kat_id=3 Kamis, 21 September 2006
Sang Jenderal Pemimpin Kudeta Dalam dua tahun, Jenderal Sonthi Boonyaratglin, mencatat dua sejarah penting bagi Thailand. Tahun lalu, dia terpilih menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Kerajaan. Dia menjadi Muslim pertama yang menduduki posisi tersebut. Selama ini, jabatan panglima angkatan bersenjata selalu diduduki oleh jenderal beragama Budha. Tahun ini, dia memimpin kudeta tidak berdarah untuk melengserkan PM Thailand, Thaksin Shinawatra. Keinginan Sonthi untuk menurunkan Thaksin bukanlah muncul secara tiba-tiba. Sejak dilantik, dia memang kerap berseberangan pandangan dengan Thaksin. Saat posisi Thaksin kritis di awal tahun ini, akibat kebijakannya menjual 49 persen saham Shin Corp kepada Temasek Holdings dari Singapura, Sonthi sudah mengisyaratkan keinginannya agar Thaksin mundur. Menurut Sonthi waktu itu, krisis politik yang dipicu kebijakan Thaksin ini membuat prihatin Raja Bhumibol Adulyadej. Shonti yang lahir di Pathumthani, 2 Oktober 1946, memang dikenal dekat dengan Raja Bhumibol. Dia kerap disebut sebagai juru bicara tidak resmi Raja. Langkah-langkahnya pun mendapat banyak dukungan dari Raja yang telah memimpin Thailand selama 60 tahun itu. Termasuk kudeta yang dilakukannya kali inipun tidak mendapat tentangan dari Raja Bhumibol. Shonti pun mengakui dirinya loyal sepenuhnya kepada Raja. ''Sebagai tentara Raja, saya akan membantu dia mengusir kekhawatiran (atas krisis politik di Thailand)," ungkap dia. Selain itu, kata Shonti, tentara Thailand akan sepenuhnya menuruti apa yang diperintahkan Raja. Riwayat Shonti dalam kehidupan militer bisa dibilang cukup panjang. Dia pernah terlibat perang Vietnam dan membela pasukan Amerika Serikat (AS). Untuk memperdalam ilmu kemiliteran, dia juga belajar di Akademi Militer Chulachomklao. Dia lulus dari akademi ini pada 1969. Setelah itu, kariernya di militer Thailand terus menanjak. Dia sempat mengomandani beberap pasukan, termasuk di antaranya pasukan khusus perdamaian Thailand. Dia juga pernah menjadi komando perang khusus, salah satu pasukan antigerilya paling elite di Thailand yang bermarkas di Lop Buri. Sebelum menjadi panglima angkatan bersenjata menggantikan Jenderal Prawit Wongsuwan, dia memimpin angkatan darat Thailand. Saat menjadi kepala staf angkatan darat, Shonti berkunjung ke Jakarta dan bertemu Menhan, Juwono Sudarsono. Begitu terpilih menjadi panglima angkatan bersenjata, komunitas Muslim di wilayah selatan Thailand diperhatikannya lebih serius. Sebelum itu, dia telah banyak mencurahkan pikirannya untuk penyelesaian Thailand selatan. Penanganan kawasan Muslim ini juga menjadi titik yang membuatnya berbeda pandangan dengan Thaksin. Selama ini, Thaksin senang sekali menggunakan pendekatan operasi militer untuk menekan komunitas Muslim di wilayah tersebut. Peristiwa Tak Bai yang membuat 87 Muslim meninggal pada Oktober 2004, menjadi buktinya. Shonti tak setuju dengan cara itu. Bangkok Post menulis, dia menolak pendekatan operasi militer yang selama ini diberlakukan di Thailand selatan. Shonti lebih senang untuk menggunakan pendekatan yang lebih lunak dan manusiawi dalam mengatasi ketegangan yang telah menewaskan sekitar 1.400 orang itu. ''Kami sudah mengirim pasukan yang cukup banyak ke wilayah selatan, tapi kami ingin hasil yang lebih nyata,'' ungkap dia seperti dikutip Islamonline. Hingga tahun lalu, sudah lebih dari 30 ribu tentara ditempatkan di Thailand selatan, namun ketegangan terus saja terjadi. Selain karena latar belakangnya sebagai Muslim, kondisi tersebut juga mendorongnya melakukan pendekatan yang dalam menangani kawasan Muslim itu. Dia ingin sekali menjadikan tentara Thailand bisa manunggal dengan warga Muslim di selatan. ''Saya akan dorong Angkatan Bersenjata Thailand menjadi tentara milik rakyat, dan menjadi tentara yang dicintai rakyatnya,'' tutur dia. Untuk mewujudkan keinginan itu, dia pun mulai membuka pintu bagi dialog dengan para tokoh Muslim di Thailand selatan. Dia meminta pasukannya segera menemukan pemimpin gerakan di Thailand selatan untuk diajaknya berdialog. Pattani United Liberation Organisation (PULO) dalam pernyataan resminya pun menerima tawaran itu dan siap berdialog dengan militer Thailand. ''PULO berpendapat bahwa masalah Thailand selatan dapat dipecahkan melalui negosiasi dan komitmen pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini,'' ujar kepala urusan luar negeri PULO, Kasturi Mahkota, dalam pernyataan pers yang dikutip The Nation. 'Dialog' tak langsung ini berlangsung awal September 2006. Namun, Pemerintah Thailand yang saat itu dipimpin Thaksin tidak sependapat dengan gagasan ini. Perundingan damai Pemerintah Thailand dengan para tokoh di selatan pun belum terlaksana. Menurut pendapat analis dari Bangkok's Chulalongkorn University, Panitan Wattanayagorn, Shonti memang sosok yang tepat untuk mengatasi ketegangan di wilayah selatan. Pengetahuannya tentang Islam, kata dia, akan sangat membantu tentara membuat operasi yang lebih beragam dalam mengambil hati dan pikiran Muslim di Thailand selatan. Namun, dia meyakini Shonti terpilih memimpin tentara Thailand bukan karena agamanya, melainkan karena pengalamannya sangat panjang dalam dunia militer. irf ( ) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

