ass ww Para dunsanak sapalanta
Ambo alah labiah 10 hari menawarka ka para dunsanak nan tertarik memberikan sumbangan pikairannyo ka Konsep PERDA NAGARI dan minta urang dapua sebagai penyalur pandapek anggota melis Waktunya makin sampik juo Konsep Perda ini menurut ambo sangat penting Pak Syaf mangecekkan dima tampek atau peran urang rantau Ya kalau indak dibahas indak diusulkan dima kadimasauaknyo Mambaco sajo rasonyo paralu Ambo yakin banyak yang alun mambaconyo Di melis ko banyakahli hukum banyak LSM Kebijakan Publik dll yang diparalukan di pembangunan Nagari Ambo dikirimi berkasnyo Jadi ambo paralu mentik ulang Ambo indak akan mentik ulang kalau hanyo surang sajo nan tertarik Tarimo kasih Ch N Latief Dt Bandaro 78 ----- Original Message ---- From: Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, September 23, 2006 1:40:12 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Siap Pertanggungjawabkan Gelar * SBY: Hadapi Globalisasi, Pegang Teguh Adat Minang Siap Pertanggungjawabkan Gelar * SBY: Hadapi Globalisasi, Pegang Teguh Adat Minang, Padang Ekpres OnLine, Sabtu, 23-September-2006 Tanahdatar, Padek—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono, Jumat (22/9) pagi kemarin, dianugerahi gelar Sangsako Adat dari dari Kerapatan Adat Nagari (KAN) Tanjung Alam Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanahdatar. Untuk SBY dianugerahi gelar Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, sedangkan Ny Ani Yudhoyono diberi gelar Puan Puti Ambun Suri. Sebelum dilewakan di Istano Basa Pagaruyung, berlangsung prosesi penganugerahan gelar Sangsako Adat dari KAN Tanjung Alam, bertempat di Balai-balai Adat Kanagarian Tanjung Alam Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanahdatar. Pasangan ini disambut antusias masyarakat dan lembaga adat yang ada di kenagarian itu dan masyarakat dari sejumlah daerah di Sumbar dan daerah lainnya di Indonesia, termasuk para perantau asal Kenagarian Tanjung Alam. Saat melewati karpet merah, akan menuju ruangan Istano Pagaruyung, SBY-Ani dengan memakai baju kebesaran raja berwarna biru dilengkapi salempang, keris, saluak, dan tongkat berjalan diapit Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi Datuk Rajo Nan Sati dan Bupati Tanahdatar Sadiq Pasadiqoe. Mereka bersama rombongan lainnya disambut tari piring dan Siriah Carano. Dalam prosesi malewakan gala sangsako itu, SBY memberikan rasa terimakasih, hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya baik bagi KAN Kanagarian Tanjung Alam, Pewaris Kerajaan Pagaruyung dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) yang telah memberikan gelar kepadanya bersama isteri. Dengan anugerah gelar itu, ke depan dia bersama istrinya akan mendalami dan belajar lebih banyak lagi dari hakekat dan makna yang terkandung dalam adat Minangkabau. Anugerah itu juga menjadi dorongan baginya mengemban tugas bangsa dan negara. "Saya tidak akan berjanji apapun, meskipun saya telah mengemban amanah di negeri ini. Kecuali, insya Allah gelar yang telah diberikan kepada saya dan istri, akan kami junjung tinggi dan pertanggungjawabkan dengan penuh penghormatan. Rasanya makin tegar hati dan pikiran saya ketika saya mendapatkan keakraban dan jalinan persahabatan serta kebersamaan yang sangat mulia hari ini," ucap SBY. Hadir pada kesempatan itu Ketua BPK Yang Dipatuan Tuanku Rajo Pinayungan Nan Sati Anwar Nasution, Mensos Bachtiar Chamsyah, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Mendagri M Ma'aruf dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) lainnya, serta Wakil DPD RI Irman Gusman dan Zairin Kasim, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Wali Nagari Tanjung Alam Lukman Bahri Dt Rajo Bagogo, bupati dan walikota, muspida serta pejabat dari berbagai daerah di Tanah Air. Di sisi lain, SBY mengaku sudah lama menaruh hormat, penghargaan, dan pengakuan atas luhurnya adat Minangkabau. Kehidupan di wilayah Ranahminang sangat religius, dan kehidupan antarsesama manusia banyak sekali yang bisa dijadikan contoh. Banyak pula hal lainnya, falsafah, nilai dan perilaku yang bersumber dari adat budaya minang yang dapat diterapkan di banyak tempat untuk menghadapi berbagai tantangan. "Kehidupan yang egaliter dan penuh dengan suasana permusyawaratan dan pemufakatan serta menjadi cikal bakal bagi berkembangnya demokrasi di Tanah Air bersemi di Ranah Minang ini. Masyarakat Minang juga erat dan dekat dengan lingkungannya," ungkap SBY. SBY menilai, gaya adaptasi masyarakat Minang sangat tinggi sebagaimana pepatah "Di mana Bumi Dipijak, Di sana Langit Dijinjing". Hal itu sangat dalam maknanya. Putra-putri minang telah berhasil menjadi tokoh-tokoh diberbagai profesi, baik di Sumbar dan tanah air maupun internasional. "Karena mereka punya kemampuan yang tinggi dan pandai respons perkembangan zaman serta menyesuaikan dengan tantangan dan dinamika zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar, norma-norma keagamaan maupun adat dan kebudayaan. Ini jawaban yang tepat di era globalisasi saat ini," puji SBY. Meskipun dunia makin mengglobal, tapi kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan dan wawasan nasional harus dipegang teguh. Dengan kedua modal itu (kearifan lokal dan wawasan nasional) diyakininya perjuangan ditingkat global Indonesia akan mampu menang. "Tampil terhormat menuju masa depannya yang lebih baik," kata SBY. Sandang Filosofi ABS SBK Sementara itu Ketua Umum LKAAM Sumbar Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie dan Pewaris Kerajaan Pagaruyung M Taufik Tauf Tuanku Mudo Mahkota Alam menyatakan, pemberian gelar kepada SBY dan Ani Yudhoyono sudah melalui proses panjang dan pertimbangan selama dua tahun. "Sandanglah gelar ini ke mana pun bapak dan ibu pergi sesuai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Gelar yang dianugerahi itu merupakan gelar yang indah," ungkap Kamardi. Gelar sangsako itu diberikan bagi orang yang telah menanamkan budi dan memberikan jasa. Gelar itu untuk pribadi, dan tidak bisa diturunkan kepada anak kemenakan, karena sifatnya tidak turun temurun seperti gelar Sako Adat untuk Datuk atau Panghulu di Minangkabau. "Yang bersangkutan ada meninggalkan goresan jasanya terhadap adat dan budaya minangkabau," ujarnya. Pergaulan SBY dengan orang Minang, tambah Datuk Simulie, terjalin begitu luas dalam berbagai aspek sebelum SBY menjadi Presiden. Pewaris Kerajaan Pagaruyung M Taufik Tauf Tuanku Mudo Mahkota Alam mengatakan, pihaknya sudah melakukan musyawarah antara daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Kerabat, Basa Ampek Balai, Langgam Nan Tujuah, Sapih Bala dan Kudung Karatan, beserta seluruh ninik mamak nan batujuh dan ninik mamak di Pagaruyung sudah disepakati secara bulat gelar yang diberikan ke SBY-Ani Yudhoyono. Yang Dipertuan, terang Taufik, adalah panggilan kepada seorang raja, Maha Raja adalah Raja dari sekalian raja, Pamuncak adalah sesuatu yang tinggi atau tertinggi, dan Sari Alam adalah Sri dari kata kata sandang dan alam. Jadi, Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam adalah Raja yang tertinggi di alam nusantara. Sedangkan Puan Puti Ambun Suri, merupakan gelar kebangsaan atau kehormatan yang berarti seorang permaisuri yang mempunyai hati yang lembut dan mnyejukkan. "Ini juga bukti kecintaan dan hormat rakyat kepada pemimpin sehingga rakyat memberikan penghargaan dalam bentuk gelar kehormatan bagi pemimpinnya. Bapak pemimpin kita ini juga memperhatikan dan mencintai rakyatnya. Menghargai adat dan tradisi kebudayaan di daerah-daerah," ulasnya. Revisi UU Agraria SBY, tambah Kamardi juga mengakui eksistensi adat Minangkabau. Dibuktikan dengan meminta departemen terkait agar menyiapkan RUU Perlindungan terhadap Hak-hak Masyarakat Hukum Adat. "Semoga RUU ini menjelma dalam waktu dekat ini," harapnya. Pada kesempatan itu, Kamardi juga menyatakan tanah ulayat harus utuh diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut adat, tanah adalah milik komunal yang mahal tidak dapat dibeli, dan murah tidak dapat diminta-minta. "LKAAM Sumbar meminta supaya UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Pokok Agraria direvisi, karena (dalam UU itu) tanah ulayat setelah dijadikan HGU (Hak Guna Usaha, red) 30 tahun jatuh menjadi tanah pemerintah sehingga habislah tanah ulayat itu," terangnya. Sambut SBY Jadi Mamak Berbagai kalangan masyarakat Minang di Jakarta, Yogyakarta dan Bandung menyambut positif keikhlasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu berkenan menerima Anugerah penghargaan Sang Sako Adat masing-masing Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam untuk Presiden SBY dan Puan Puti Ambun Suri bagi Ibu Negara Ani Yudhoyono. "Dengan berkenannya Presiden dan Ibu menerima penghargaan tersebut, setidaknya peristiwa ini akan dapat memperkaya khasanah keteladanan masyarakat Minang di mana pun mereka berada," aku Rildo Ananda Anwar, di Jakarta, Jumat (22/9). Dijelaskannya, keputusan bagi seorang Presiden yang sudah dengan ikhlas menerima gelar kehormatan masyarakat Minang itu sesungguhnya juga membawa berbagai konsekuensi yang terkait dengan kultur masyarakat Minang. "Jika seseorang sudah kita sepakati untuk jadi Mamak, maka akan menjadi sesuatu yang kontradiktif apabila masyarakat Minang tidak mengindahkan, memelihara dan menjaga pituahnya," ucap Rildo Ananda Anwar, yang berasal dari Solok Selatan itu. Sementara Anggota DPR RI asal Sumbar, Nizar Dahlan menegaskan, dengan telah diterimanya anugerah Sang Sako Adat Minang oleh Presiden SBY dan Ibu, kejadian ini hendaknya dapat lebih mempertinggi komitmen kita untuk memberikan kontribusi yang terbaik bagi Bangsa Indonesia. "Kita tidak boleh hanya merasa puas dan bangga dengan nama-nama besar dari Sumbar yang telah memberi warna perjalanan Bangsa Indonesia di masa lalu. Saat ini dan ke depan Indonesia membutuhkan putra-putri terbaik Minang agar dapat secara bersama-sama mensejahterakan negeri ini," pesan Nizar. Sebagai orang Minang, sambung Nizar, pernyataan Presiden SBY yang merasa pulang ke kampung sendiri tatkala berada di Sumbar hendaknya dapat memicu masyarakat Minang untuk menggalang kekuatan membangun Minangkabau sesuai dengan kapasitas dan kompetensi masing-masing. Sementara H Gunanda, salah seorang profesional yang saat ini meniti karier di salah satu BUMN di Kota Bandung kepada koran ini menyatakan kesediaan Presiden SBY dan Ibu Negara untuk menerima Anugerah dimaksud hendaknya mampu mempercepat proses pemulihan diri masyarakat Minang diberbagai sektor kehidupan sosial kemasyarakatan. "Presiden dan Ibu Negara secara ikhlas sudah menjadi Mamak dan Bundo Kanduang masyarakat Minang. Momen ini hendaknya dapat kita jadikan sebagai suatu media untuk mengembalikan kepercayaan diri sebagai bahagian dari anak bangsa," kata Gunanda. (fas/esg) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem ========================================================= -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

