Kiriman dari teman
Bagaimana dengan kinerja kita???

Rabu, 13 September 2006 06:18:38 
Catatan Perjalanan
Dongeng dari Jepang
Oleh Yuli Setyo Indartono

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu 
kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti 
sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian 
di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada 
nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak 
dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan 
fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di 
Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira 
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang 
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor 
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut 
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang 
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan 
mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. 
Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para 
pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, 
dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang 
kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu 
ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya 
bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang 
bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari 
pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari 
dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama 
seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola 
serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan 
perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, 
bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan 
berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di 
internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; 
kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan 
profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan 
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan 
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau 
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas 
Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan 
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan 
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama 
anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, 
pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau 
tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" 
dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan 
kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan 
meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar 
berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari 
pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya 
melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior 
saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di 
Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain 
hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang 
kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk 
orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di 
Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya 
diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan 
bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang 
sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah 
seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat 
tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak 
tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut 
akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen 
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. 
Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah 
yang saya jumpai di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami 
sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 
10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami 
bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah 
kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya 
telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan 
kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula 
berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya 
sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak 
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, 
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk 
meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam 
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas 
lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya 
bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun 
dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. 
Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru 
tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, 
menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di 
Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda 
akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya 
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda 
melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di 
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya 
jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar 
pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - 
versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol 
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah 
mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada 
permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang 
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, 
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi 
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali 
memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami 
mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya 
dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan 
kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap 
jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka 
mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan 
dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, 
bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu 
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang 
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen 
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima 
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan 
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem 
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang 
dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. 
Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal 
ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-
beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan 
karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau 
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur 
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali 
melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, 
petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang 
tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan 
pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini 
adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah 
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua 
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket 
menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk 
sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas 
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan 
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada 
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang 
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah 
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah 
petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka 
berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; 
justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan 
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko 
elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer 
yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas 
yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli. 

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe 
demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah 
dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan 
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) 
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. 
Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di 
Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di 
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila 
saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa 
benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe 
dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang 
tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip 
dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau 
mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada 
diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara 
dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, 
kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. 
Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih 
pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - 
kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot 
dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata 
melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu 
melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang 
akan bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini 
hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah 
negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. 
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah 
Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah 
pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk 
terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di 
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, 
dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan 
kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah 
anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. 
Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada 
situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas 
kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. 
Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, 
sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki 
diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita 
keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang 
senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai 
kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di 
depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya 
tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater 
ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar 
di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan 
dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, 
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat 
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di 
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan 
sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak 
memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta 
antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. 
Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas 
kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta 
dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak 
menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi 
terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik 
di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara 
karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" 
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang 
di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu 
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda 
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan 
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, 
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir 
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota 
ini.

Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih 
mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya 
belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan 
(gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat 
perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa 
pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. 
Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari 
biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya 
akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun 
menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. Berstatuskan 
mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih 
kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang 
dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos 
berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya 
bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke 
rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang 
menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa 
pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang 
berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang 
mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter 
dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta 
prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan 
yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah 
sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah 
sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi 
pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan 
bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari 
dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan 
keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa 
melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari 
Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru 
datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono. Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and 
Technology, Kobe University, Japan. Peneliti Istecs dan Ketua 
Teknologi Energi INDENI www.indeni.org. E-mail: [EMAIL PROTECTED]

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke