LINTAS ALAM BERSEPEDA KE GUNUNG PAPANDAYAN - GARUT

Iqra , bacalah, perintah pertama yg diterima Nabi, tak
hanya membaca buku, namun juga membaca alam sekitar,
Alam terkembang jadi guru kata pepatah Minang, banyak
hal yg bisa kita pelajari dari alam sekitar, kehidupan
sehari hari kita, termasuk mengambil pelajaran dari
perjalanan yg kita lakukan.

Sebelum bulan Ramadhan, bersama rekan2 grup sepeda
gunung (mountain bike), kita mengadakan perjalanan ke
puncak gunung Papandayan , kabupaten Garut , Jawa
barat, salah satu gunung berapi yg masih aktif, dan
kawah nya, dapat didaki ke atas dengan kendaraan,
lewat jalan berbatu yang curam. Kita bisa masuk sampai
ke dalam kawah nya, seperti kawah gunung Bromo di Jawa
Timur.

Rute perjalanan bersepeda kita adalah ; Pangalengan –
kertasari – gunung papandayan – turun ke daerah
kabupaten Garut , bayongbong sampai finish di Tarogong
dekat kota Garut. Gunung Papandayan dan gunung Guntur
di sebelah nya,adalah pegunungan yg membatasi
kabupaten Bandung dan kabupaten Garut, jarak
perjalanan sekitar 60 km yg ditempuh selama 9 jam

Perjalanan dimulai sejak pagi hari yg indah dari 
Pangalengan , kota kecil berhawa sejuk di dataran
tinggi , 40 Km selatan Bandung. Daerah pertanian subur
dan penghasil susu, KPBS ( koperasi persusuan bandung
selatan) yg terkenal itu dan juga tempat asal mantan
juara dunia bulutangkis, Taufik Hidayat.

Selepas daerah pertanian, penghasil susu, kita mulai
berjalan melewati perkebunan teh ,PTPN VIII , yg
terdiri dari beberapa Afdeling ( kawasan kebun ) mulai
dari Kertamanah, malabar, santosa, talun, sedep, yang
gabungan semua kebun tsb begitu luas area nya sampai
ke lereng pegunungan.

Kebun teh malabar yg berada di kaki gunung Malabar ,
adalah kebun teh tertua di Indonesia, tempat pertama
kali nya orang Belanda dulu menanam teh di Indonesia,
hasil penelitian ahli botani Junghun, yg namanya
sampai saat ini dilestarikan utk nama tempat di dekat
sana. Kabarnya di sini lah dihasilkan salah satu daun
teh terbaik di Indonesia. Ada seorang teman ahli teh
bercerita, bahwa teh terbaik tsb , sebagian besar di
eksport , karena lebih menguntungkan. Teh kelas di
bawah nya barulah di pasarkan di Indonesia Teh yg
paling enak adalah yg berasal dari daun pucuk nya yg
masih muda segar, tambah ke bawah tambah murah harga
nya, bahkan ada juga yg diolah dari tangkai nya.

Perjalanan melewati perkebunan teh sungguh indah
alamnya, jalanan berliku menembus pebukitan dipagari
pohon2 mahoni dan cemara yg menjulang tinggi, mulai
dari tepian jalan terhampar kebun teh seluas mata
memandang , menutupi pebukitan yg berakhir di kaki
gunung yg menjulang tinggi di ujung nya , sungguh
menakjubkan , alam ciptaan Tuhan ini. 

Di area perkebunan tersebut masih banyak ditemui
bangunan2 peninggalan Belanda dulu yg masih kokoh
berdiri. Kompleks rumah tuan kebun, perkantoran lapang
olahraga, ( lap tenis - kolam renang ) dan pabrik
pengolahan teh tertata dg rapihnya ,berada di
pebukitan yg dikeliling taman dan halaman rumput yg
luas , di pagari pohon2 mahoni yg rindang , udaranya
pun sejuk. Saat daerah lain di Indonesia kekeringan
panas dan berdebu karena kemarau, disini air masih
terus mengalir, tumbuhan tetap segar menghijau dan
udara pun sejuk menghanyutkan .Fasilitas nya cukup
lengkap, dulu seorang insinyur Belanda lulusan TH (ITB
dulu ) sempat membuat pembangkit listrik dari kincir
air di sungai yg mengalir di sana. Bayangkan nyaman
tempat tersebut , fasilitas cukup dan harta melimpah.

Saya mulai bisa mengerti mengapa orang Belanda dulu
,rela pergi jauh datang ke sini, dan enggan untuk
pulang , bagi mereka tempat ini mungkin bagaikan
surga. Dan saya sendiri bisa menyaksikan memang indah
sekali alam nya dan nyaman untuk ditinggali.

Bayangkan dari hasil teh mereka bisa kaya raya, belum
lagi alam yg nyaman , fasilitas hidup yg lengkap,
ditambah lagi dengan cerita gosip jaman baheula,
dimana kalau mau tua kebun Belanda, bisa memilih gadis
kampung pemetik teh, sebagai gundiknya , bayangkan
betapa enaknya hidup, tuan kebun Onderneming Belanda
jaman itu. Harta melimpah, fasilitas cukup, tempat
tinggalnya nyaman, lingkungan tenang tak banyak
inlander / pribumi yg mengganggu, bahkan kalau mau
bisa punya banyak istri  .....

Di beberapa dataran tinggi yg dijadikan perkebunan
belanda, dulu akan banyak kita temui penduduk sana yg
wajahnya khas indo, walau berbicara dg bahasa sunda
halus.  Mereka adalah keturunan peranakan orang2
Belanda yg menikah dg wanita setempat.
Orang2 Belanda yg dulu merintis kebun teh tersebut,
banyak juga yg mengambil wanita setempat sebagai
istrinya , karena mungkin susah untuk mendapatkan
wanita Belanda pula yg perlu jarak jauh dan waktu yg
lama untuk bisa sampai ke sini dari Eropa sana.

Selain mengambil wanita setempat sebagai istri, tuan
kebun Belanda banyak punya gundik/ istri simpanan,
konon para tuan kebun yg sering bepergian memeriksa
kebun teh yg luas, juga sering main mata dg gadis
kampung yg menarik perhatian nya, dan biasanya orang
tua gadis bersangkutan rela saja, anak gadisnya jadi
istri simpanan tuan kebun Belanda, yg kaya dan tampan
menurut ukuran mereka, mereka berpikir sederhana,
setidaknya akan lahir anak keturunan yg berkulit
putih, hidung mancung, mata bulat dan tinggi,
keturunan Indo , istilah populer nya. Mungkin dari
sana lah berawal cerita burung mengenai “mojang
bandung” yg geulis ( gadis bandung yg cantik ).
Peranakan indo , antara tuan kebun belanda dg wanita
setempat pemetik teh. 
Nampaknya memang sudah lama, bagi sebagian orang ,
nilai moralitas tergadaikan demi ke dunia an.

Hamparan kebun teh tsb dan segalah fasilitas pendukung
nya yg saat ini dikelola oleh PTPN 8, adalah juga
kebun teh yg dulu dikelola oleh kolonial Belanda.
Setelah sekian puluh tahun berlalu harusnya kita bisa
bertambah kaya dan makmur dari hasil teh tersebut
Seandainya orang2 Belanda perintis kebun teh dulu ,
hidup kembali saat ini ,mungkin mereka tak habis pikir
mengapa Negara yg kaya dan indah ini , bisa bangkrut
terbelit hutang dan jadi Negara miskin ?

sebuah cerita yg hampir mirip dengan kejadian tutupnya
beberapa pabrik pupuk belakangan ini, karena tak
mendapat pasokan gas alam dari tempat sekitarnya , yg
mana produsen nya lebih memilih menjual gas alam nya
ke pembeli luar negeri.

Kita menjadi miskin di tengah alam yg kaya, bagaikan
kata pepatah "tikus mati di lumbung padi" .

Setelah sekitar 20 km perjalanan bersepeda melewati
kebun teh yg luas tsb, jalanan mulai berbatu2
mendekati kaki pegunungan di sekitar nyai. Lintasan
jalan ke arah lereng  gunung Papandayan mulai mendaki
dg jalan berbatu yang berkelok kelok dan makin
mengecil ,kayuhan sepeda pun terasa mulai berat,
sesekali didorong. Bentangan alam puncak gunung
Papandayan pun mulai terlihat jelas terbentang.

jalan mulai mendaki dan melelahkan, sehingga sekali
waktu kita pun terpaksa beristirahat. Dari ketinggian
, kita bisa  melihat jalur mengular jalan setapak yg
telah kita lewati, terbayang juga perjuangan dan
keletihan melewati pendakian tsb dan ada kepuasan
tersendiri bahwa perjuangan tsb telah terlewati dg
baik , dan jadi pelajaran berharga untuk melanjutkan
pendakian.Bila mendaki gunung merenung saat
beristirahat di ketinggian adalah sebuah moment yg
sangat berkesa.

Jalan mendaki tersebut, adalah bagaikan juga lintasan
perjalanan hidup ini, dimana sekali waktu kita perlu
berhenti sejenak, merenungi perjalanan hidup masa lalu
yg telah kita lewati , masa kanak2, muda, sekolah dari
SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, menikah dan seterusnya.
Suka dan duka masa lalu , bukan hanya sekedar
nostalgia , namun haruslah jadi pelajaran berharga,
masa lalu adalah asset berharga sebagai bekal
pelajaran untuk melangkah ke masa depan, tidak
mengulangi kesalahan di masa lalu, karena kata pepatah
hanya keledai yang bisa terjatuh ke lubang yg sama 

Dalam perjalanan ini, turut serta pula, rekan bisnis
kita dari Singapore, mr Wong , ia memang hobi
bersepeda pula , katanya di Singapura ia biasa
bersepeda ke daerah bukit Timah , namun ternyata itu
belum ada apa2 nya di bandingkan pegunungan di
Indonesia, seperti Gunung Papandayan ini. Kebetulan
saya sering beristirahat juga dengan nya. Di salah
satu pemberhentian di pinggir kebun teh di lereng
gunung , kita duduk bersebelahan , sambil sama2
memandang ke bawah, kita sempat ngobrol, ia
mengutarakan kekaguman nya , akan keindahan alam
Indonesia. Dari lereng gunung Papandayan, terlihat
jelas hamparan kebun teh yg menutupi sebagian besar ,
dataran tinggi Panggalengan Bandung selatan. Dataran
tinggi tsb , bertepikan gunung2 besar yg
mengelilinginya, sebuah lanskap alam yg indah, yg kaya
alam nya. 

Ia bercerita kalau di Singapura, tempat ia biasa main
alam terbuka antara lain ke bukit timah atau pulau
sentosa. Ia bilang bahwa sejauh jarak kita mulai
bersepeda tadi dari Pangalengan, sampai ke sini ,
lereng Gunung Papandayan perbatasan dg kab. Garut ,
sebenarnya hampir sama bila kita berjalan dari ujung
utara pantai Singapura dekat jembatan ke Johor Bahru ,
Malaysia sampai ke pantai selatan Singapura yg
berhadapan dengan pulau Batam. 
Bayangkan Singapura luasnya hampir sama dengan
sejengkal tanah yg baru sebagian dari luas Jawa Barat,
sungguh kecil dibandingkan Indonesia yg maha luas ini,
dengan kekayaan alam nya begitu melimpah.

Namun kalau kita bandingkan dari sisi kekayaan
ekonomi, malah berbanding terbalik, rasanya sungguh
tak masuk akal, dengan alam yg luas dan indah ini,
kita dianggap sebagai negara miskin yg hampir bangkrut
karena hutang, sedangkan Singapura yg kecil wilayahnya
, tapi bisa menjadi negara kaya.
Kecut juga hati ini, ketika duduk merenung berdua dg
orang Singapura tsb, apa yg salah dengan kita semua
bangsa Indonesia yg di anugerahi, negeri yg indah ,
luas dan kaya alam nya ini , namun terpuruk dalam
kemiskinan ?

Batas ujung kebun teh  bersinggungan dg tanah
pertanian dan tepian hutan alam yg masih asri, udara
pun mulai terasa dingin di terik panas siang hari tsb,
 perjalanan selama ini sudah terasa melelahkan, namun
jalur pendakian masih terus menantang kita , beberapa
teman ada yg sudah mulai putus asa, sebagian memilih
untuk naik mobil saja ( dalam rombongan ini , kita di
ikuti oleh mobil pick up sbg pendukung , yg nggak
kuat, naik mobil saja , kawah gunung Papandayan , bisa
dicapai pula dg kendaraan, ada jalur jalan berbatu ).
Saat2 spt itu bagi pendaki gunung adalah saat ujian
utk menguji komitmen kita mencapai tujuan , puncak
gunung , hanya sebagian kecil yg masih bisa bertahan
untuk terus berjalan melanjutkan “perjuangan”.
Ternyata mr Wong rekan kita dari Singapura tetap gigih
berjalan walau kepayahan , walau hanya berlatih di
bukit timah singapura yg tak ada apa2 nya dibanding
gunung besar ini , ia pantang menyerah. Kagum juga
melihatnya pada saat rekan2 kita bahkan yg sering naik
gunung pun, gampang menyerah. Akhirnya mulai bisa
mengerti juga saya mengapa orang singapura dan negara2
etnis cina lain nya, bisa lebih maju dan kaya
dibanding kita orang Melayu , antara lain karena
mereka, etnis china pada umumnya, tak seperti kita yg
gampang menyerah menghadapi tantangan  !

Saat2 menjelang puncak gunung , adalah saat2 yg
menentukan, karena pendakian makin berat, disinilah
mentalitas kita di uji, mereka yg tak kuat akhirnya
menyerah pulang. Pengalaman menunjukkan rekan2 yg
sering mendaki gunung, memiliki endurance spirit yg
kuat, kegigihan dan keuletan, terbukti mereka sukses
menapaki jenjang karier di kantor nya, atau berhasil
mengembangkan bisnisnya atau dalam menghadapi
tantangan2 hidup lain nya.

Menjelang puncak gunung, angin dingin pun mulai
bertiup kencang , mulai tampak hutan alam dengan
tumbuhan2 khas nya yg biasanya tak terlalu tinggi
pepohonan nya, sebuah bentangan alam yg mengagumkan.
Setelah perjuangan panjang yg melelahkan akhirnya
sampai pula lah kita ke tepi kawah gunung Papandayan .

Kawah gunung Papandayan bisa kita turuni sampai ke
dasar kawahnya, kita masuki kawah, melewati sebuah
celah besar yg bagaikan gerbang raksasa, lebar sekitar
20 meter dan ketinggian tebing kiri kanan nya sekitar
40 meter. Kita bersepeda bersama melewati gerbang tsb,
sedangkan mobil pick up pulang lagi, karena tak bisa
memasuki kawah tsb. Selepas gerbang kawah tsb,
terhampar pemandangan indah yg menakjubkan , kawah
gunung yg sangat besar , lembah besar, bagaikan kuali
raksasa dengan diamater sekitar 800 meter, kedalaman
sekitar 400 meter. Di gunung tsb ada 2 kawah besar yg
bersambut. Satu kawah, sudah tak aktif , di tengahnya
mengalir sungai kecil yg menjadi hulu sungai citiis yg
mengalir ke Garut, sedangkan kawah yg satu lagi lebih
besar, masih aktif mengepulkan asap berbau belerang,
beberapa tahun yg lalu kawah tersebut sempat meletus.

Di sepanjang pinggir kawah ada jalan menurun yg bisa
dilewati sepeda, menjelang dasar kawah jalur jalan
setapak sangat curam. Terlihat kecil sekali teman2
pesepeda yg sudah sampai ke dasar kawah . Di dasar
kawah mengalir air dingin yg jernih yg berasal dari
salah satu lubang mata air di salah satu sudut dasar
kawah, masya Allah , betapa anggun dan indah nya,
lanskap alam yg mengagumkan, sirnalah sudah kelelahan
kita selama ini saat mendaki, lama saya termenung di
dalam kawah tsb , betapa besar nya ciptaan Allah dan
betapa kecilnya kita manusia.
Kita mulai berjalan dari satu sisi kawah menuju tepi
kawah lain nya, melewati 2 lembah kawah besar yg
menyambung. Jarak total dari satu tepi ke tepi kawah
lainnya sekitar  1500 meter.

Jalur jalan menuju dasar kawah, sungguh curam dan
cukup berbahaya, ada sebuah jalur celah jalan pendek
yg cukup sempit di tepi jurang dalam, tak ada tumbuhan
semak tempat bergantung bila terjatuh, semuanya
bebatuan , sungguh mendebarkan juga. Saya melewati nya
dengan menuntun sepeda, cukup bergetar juga kaki ini, 
hampir saja terpeleset, tapi syukur terlewati juga
dengan selamat. Bayangkan kalau terpeleset saja
sedikit , tak ada tumbuhan semak untuk pegangan, saya
akan terjatuh ke jurang dalam yg penuh batuan di bawah
nya, sungguh mengerikan sekali. Jadi teringat juga
dengan kematian, seandainya saya mati di sini, rasanya
belum cukup bekal amal setelah meninggalkan dunia yg
fana ini. Sambil melanjutkan perjalanan, bersyukur
masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, masih
diberi kesempatan beramal, sebuah nikmat yg jarang
kita syukuri..

Sampai ke dasar kawah, saya meletakkan sepeda dan
menyiuk air dari sungai kecil di dasar kawah, sungguh
menyegarkan sekali, diminum pun jernih serasa air
mineral. Saat itu sudah sekitar jam 1.30 siang, masih
dalam waktu Zhuhur, teringat masih diberi waktu hidup
di dunia ini, selepas kejadian hampir terjatuh tadi, 
cepat2 lah saya memutuskan untuk sholat zhuhur saja di
dalam kawah tsb. Saya berwudhu dengan air dingin
tersebut dan sholat di atas bebatuan. Sungguh khusyu
dan nikmat , Sholat menemui Allah, di alam terbuka, di
tengah kebesaran ciptaan Allah, dimana diri ini terasa
sangat kecil. 

Kemudian kita melanjutkan perjalanan meniti dasar
kawah, selepas kawah pertama yg mengalir air di dalam
nya, kemudian kita akan melewati kawah kedua yg lebih
besar . Kawah kedua ini sangat berbeda dengan kawah yg
pertama kita lewati, karena masih aktif , terlihat
asap putih keluar dari beberapa lubang kepundan kecil,
bau belerang begitu menyengat, bebatuan nya tajam
berwarna putih. Kawah gunung berapi ini lah yg meletus
3 tahun lalu , dan masih terlihat batuan2 tajam tak
beraturan terserak dimana mana, bekas letusan yg lalu.

Kita agak hati2 melewatinya , melihat lingkungan
sekitar ini, saya membayangkan kira2 seperti apakah 
neraka itu? yg ada digambarkan bagaikan lembah dalam
yg dipenuhi api

Lembah kawah ini cukup dalam dengan dinding batu di
pinggir nya yg tinggi  di kiri kanan jalur yg kita
lewati , di beberapa tempat banyak mengepul asap2
putih, berbau belerang,  yg saat keluar mengeluarkan
bunyi yg berisik, seperti bunyi uap air panas dari
teko yg dimasak, namun ini lebih berisik lagi dan hawa
panas pun cukup terasa , kita berjalan di atas batuan2
tajam yg tak beraturan alurnya. Kondisi  seperti ini
pun cukup mengerikan, terbayang pula bilamana kawah
ini meletus, apakah jadi nya kita2 ini ?
Namun itu pun semua masih bencana besar di alam dunia
, apakah lagi di neraka kelak ?

Melewati jalur tsb mengingatkan diri ini akan neraka ,
masya Allah betapa dahsyatnya siksaan Allah kelak ,
berjanji diri ini , untuk secepatnya bertobat dari
kesalahan2 selama ini, menjauhkan diri dari dosa2 ,
dosa besar mapun dosa2 kecil, mumpung kita masih
diberi kesempatan hidup di dunia ini..

Setelah perjalanan yg cukup mendebarkan tsb, akhirnya
sampai pula lah kita ke bibir kawah yg mengarah ke
Garut ,dari kejauhan terbentang alam indah dataran
tinggi Garut yg sekeliling nya dibatasi gunung2 tinggi
pula.Di bawah kawah ada tempat istirahat, warung2 dan
terminal kendaraan menuju Garut, sebenarnya di sinilah
pintu gerbang menuju kawasan wisata kawah gunung
Papandayan yg dicapai melewati kota Garut, sekitar 100
Km dari Bandung.

Setelah makan minum di warung tsb , kita bersama
melanjutkan perjalanan ke kota Garut yg masih sekitar
35 Km lagi , memang terasa lelah, tapi jalan
selanjutnya , adalah jalan aspal mulus yg menurun.
Kita menyusuri jalan menurun yg berliku di depan nya
terhampar dataran tinggi Garut dengan gunung Cikuray
yg menjulang terbentang di belakangnya. Namun justru
di jalan mulus yg menurun ini lah beberapa rekan kita
mengalami kecelakaan ,terjatuh dari sepeda nya.
Mungkin karena cukup ngebut di turunan tsb, bagaikan
balas dendam setelah lelah menapaki jalur mendaki
sebelum mencapai kawah , beberapa rekan terlalu
bernafsu dan kurang hati2 , sehingga terjatuh.

Memang demikian pulalah dalam hidup ini,  banyak orang
yg malah “terjatuh” saat di uji dengan
kenikmatan/kesenangan  ( seperti jalan menurun tsb )
dan bisa kuat bertahan saat di uji dengan kesusahaan (
seperti beratnya pendakian). Pada saat menghadapi
kesusahan hidup, biasanya orang mulai merasa perlu
menghadap pada Allah akan pertolongan nya.

Namun pada saat berada dalam kesenangan hidup, saat
berkuasa, banyak uang , rasanya  segalapun bisa
dikuasai, bisa dibeli, melepaskan semua keinginannya,
harta, tahta & wanita pun bisa dikuasai. Bahkan ada
pepatah cina yg cukup ekstrim ; Kalau engkau punya
banyak uang, setan pun bisa kau beli. Ketika berada
dalam kesenangan orang serasa tak perlu dengan Tuhan.
Bukan nya bersyukur , malahan mereka menjauh dari
Tuhan 

Cukup jauh juga jalan menurun selepas kawah tsb, namun
dilalui dengan singkat walau tetap harus dengan kehati
hati an. Akhirnya bertemu lah kita dengan kota kecil
terdekat Cisurupan daerah Bayongbong Garut selatan,
cukup rame juga karena merupakan jalur jalan ke bagi
selatan Kabupaten Garut yg bisa sampai ke tepian
pantai pamengpeuk , samudra Hindia yg beberapa bulan
lalu, terhempas tsunami.
Dari Cisurupan kita melalui jalur jalan raya ke arah
utara, melewati daerah Samarang , pemandian air panas
Cipanas dan Tarogong. 

Sepanjang jalan raya tersebut kita disuguhi
pemandangan alam dataran tinggi Garut yg indah. Sawah2
dan kebun yg menghijau di sekeliling nya bertepikan
gunung2 yg menjulang tinggi di sekelilingnya ; gunung
Guntur, Cikuray dan Papandayan yg baru saja kita
lewati. Mungkin karena alam yg indah ini pulalah ,
sehingga banyak lahir seniman2 dari daerah ini ,
seperti artis2 kontemporer saat ini; “si Oneng”
bajuri, Mulan Ratu – buaya darat , sampai Gita KDI .
Disini pula berasal tokoh LSM anti korupsi, Teten
Masduki. Dari Garut pulalah banyak berasal para
pengusaha kecil yg banyak menyerbu kota2 besar spt
Bandung dan Jakarta. Tukang potong rambut dari
banyuresmi, tukang batu yg banyak bergelantungan
menyelesaikan gedung pencakar langit di Jakarta
kebanyakan berasal dari cibatu – Garut, dari sini
pulalah berasal dodol garut, makanan tradisional dan
banyak cerita2 menarik lainnya mengenai dataran tinggi
ini.Alam yg indah dan kaya sebenarnya bisa memberikan
inspirasi positif bagi orang2 nya, namun entah kenapa
sebagian orang malah menjadi malas karena nya.

Melihat lanskap alam yg indah ini, dataran tinggi yg
dikeliling pegunungan , baik di Garut maupun
pangalengan bandung selatan , mengingatkan saya , pada
tanah kelahiran , Bukittinggi yg juga berada di
dataran tinggi, dataran tinggi Agam , Sumatera Barat.
Kita perlu sekali kali menengok ke masa lalu,
mengenang tempat dimana kita berasal, orang2 yg turut
membesarkan kita dan janganlah lupa untuk berterima
kasih pada mereka.

Dataran tinggi nampaknya menjadi salah satu tempat
favorit, kolonial Belanda dulu, untuk melakukan
pengembangan kekuasaan nya dan pengembangan ekonomi
nya.Mungkin karena faktor sumber daya alam dan
keindahan alam nya , yg tak mereka dapatkan di Belanda
sana, negeri di bawah permukaan laut. Namun saya kira
mereka tak salah, karena memang daerah2 tersebut kaya
alam nya dan nyaman untuk ditempati , kolonial Belanda
telah membuktikan nya sendiri, tapi ternyata kita
tetap tak bisa belajar dari orang Belanda tsb, miskin
di alam yg kaya.

Perjalanan kita berakhir di sebuah rumah makan sunda
di daerah Tarogong Garut, selepas sholat Ashar , kita
menikmati masakan sunda yg terasa begitu nikmat dan
menyegarkan yg ditutup dengan minum es goyobod khas
Garut.

Kenikmatan hakiki didapat setelah melalui perjuangan
panjang dan ada hikmah yg berharga diraih, 
janganlah seperti keledai yg terjatuh ke lubang yg
sama, tak mengambil pelajaran dari kehidupan nya
Alam terkembang jadi guru.

Wassalam 

Hendra Messa

Dari tengah keheningan kebun teh, kerimbunan hutan
pinus
Pangalengan – Bandung selatan 

See the picture of this story at my blog ;
http://hdmessa.multiply.com/photos/album/8

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke