-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of wa2n
Sent: 24 Oktober 2006 12:06
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [tangandiatas] Etos Bisnis Kaum Muslim
 

Etos Bisnis Kaum Muslim

*Dwitri Waluyo*
/[*Mukaddimah*, //Gatra Edisi Khusus Beredar Senin, 16 Oktober 2006]/

"Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu 
rezeki" (H.R. Ahmad).

Orang Islam malas dan miskin. Tuduhan yang menyakitkan. Sayangnya, 
begitulah kenyataan yang ada. Dalam kurun 1.000 tahun terakhir, di 
banyak bidang percaturan --politik, budaya, dan terutama ekonomi-- kaum 
muslim jauh tertinggal dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain di 
dunia.

Lihatlah fakta-fakta berikut. Dari 56 negara mayoritas muslim, 
masing-masing memiliki rata-rata 10 universitas, yang berarti total 
lebih kurang 600 universitas, untuk 1,4 milyar penduduknya. Bandingkan 
dengan India yang memiliki 8.407 universitas. Sementara Amerika Serikat 
punya 5.758 universitas.

Dari 1,4 milyar warga muslim hanya menghasilkan delapan peraih Hadiah 
Nobel, dua di antaranya untuk bidang fisika. Sementara bangsa Yahudi, 
yang jumlahnya hanya 14 juta jiwa, ternyata mampu meraih 167 Nobel. 
Untuk mereka yang layak disebut ilmuwan pun, kaum muslim hanya punya 
kurang lebih 300.000 orang. Artinya, kaum muslim hanya memiliki 230 
ilmuwan per satu juta warganya.

Sementara Amerika memiliki 1,1 juta ilmuwan (4.099 per satu juta) dan 
Jepang punya 70.000 (5.095 per satu juta). Untuk lingkup lebih sempit, 
yakni di negeri Nusantara ini, keadaannya tidak jauh berbeda. Sampai 
tahun 2000-an, kaum muslim Indonesia termasuk dalam kelompok marjinal. 
Terutama dalam percaturan ekonomi dan bisnis nasional.

Fakta yang jelas memprihatinkan. Padahal, Clifford Geertz meyakini, para

santri (muslim) Indonesia bakal menjadi elite pengusaha Indonesia di 
masa depan. Kesimpulan ini diambil setelah antropolog dari Amerika 
Serikat itu melakukan penelitian mendalam di kalangan santri reformis 
Jawa pada 1950-an.

Geertz menemukan bahwa /entrepreneurship/ (jiwa kewirausahaan) mereka 
sangat tinggi. Terlihat memang bahwa di beberapa enklave bisnis 
(Laweyan, Pekajangan, Ceper, Juwiring, dan lain-lain) di Jawa, para 
santri bisa "jumawa". Merekalah sang juragan. Etos bisnis yang mereka 
tampilkan jauh melampaui kelompok mana pun, termasuk kalangan Tionghoa. 
Berbagai industri, antara lain tenun dan batik, ada dalam genggaman 
tangan mereka. Tidak ada yang menyangka mereka bakal mudah tersungkur, 
sebagaimana diramalkan Geertz.

Tapi kita tahu kemudian, teori Geertz bahwa mereka akan menjadi pemain 
terdepan dalam bisnis nasional ternyata meleset. Setidaknya, kita bisa 
saksikan bisnis kaum santri itu begitu mudah bergelimpangan. Tumbang. 
Jangankan untuk bermain dalam skala nasional, apalagi merambah pasar 
internasional. Untuk taraf persaingan lokal pun mereka tak mampu.

Adakah Geertz keliru menarik kesimpulan? Di mana salahnya? Baiklah, kita

tidak usah mencari kambing hitam. Bagaimanapun, potensi santri (kaum 
muslim) untuk bangkit dari keterpurukan tetap ada. Islam mengajarkan 
pemeluknya agar berwirausaha. "Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasulnya, 
dan orang beriman akan melihat pekerjaanmu" (Q.S. 9:105).

Nabi Muhammad SAW dan sebagian besar sahabat adalah para pedagang dan 
/entrepreneur/ mancanegara. Tidak berlebihan karenanya bila dikatakan 
bahwa etos /entrepreneurship/ sudah melekat dan inheren dengan diri umat

Islam. Bukankah Islam adalah agama kaum pedagang, lahir di kota dagang, 
dan disebarkan ke seluruh dunia oleh kaum pedagang?

Dalam konteks sejarah dunia, etos bisnis umat Islam memang mengungguli 
etos bisnis bangsa mana pun di dunia ini. Peter L. Bernstein (/The Power

of Gold/, John Wiley and Sons, 2000) secara eksplisit mengakui kehebatan

bisnis pedagang muslim.

Dan kita tahu, sejarah penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia, 
sampai abad ke-13 M, pun dilakukan oleh para pedagang muslim. Hal itu 
menjadi bukti lain bahwa etos bisnis (dagang) kaum muslim sangat tinggi,

yang menyeruak hingga mancanegara.

Termasuk keberadaan Islam di Indonesia. Adalah para pedagang yang 
membawa dan menyebarkannya. Selain ilmu agama, mereka juga mewariskan 
keahlian berdagang ke masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat
pesisir.

Terbukti kemudian, daerah-daerah yang penyebaran Islamnya kuat memiliki 
etos bisnis yang kuat pula. Lihatlah suku Minangkabau, Banjar, 
orang-orang Pidie, Bugis, atau Gorontalo. Mereka orang-orang yang 
memiliki jiwa dagang yang gigih dan puritan secara etik, hemat, dan 
sederhana.

Sejarah mencatat, sejumlah nama muslim beken sebagai pengusaha tangguh. 
Di zaman Hindia Belanda tercatat nama Abdul Ghany Aziz, Agus Dasaad, 
Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soetan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji 
Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.

Di awal masa kemerdekaan pun ada sejumlah nama muslim yang sempat 
melesat. Mereka yang diikutkan dalam apa yang dikenal dengan sebutan 
Program Benteng (1949-1959) juga mampu menunjukkan sikap dan kualitas 
kewirausahaan yang tangguh. Meski, dalam perkembangan berikutnya, posisi

mereka dalam percaturan bisnis skala nasional tergerus oleh 
kekuatan-kekuatan yang lain.

Hingga ada suatu masa ketika posisi para pengusaha muslim amat sangat 
memprihatinkan. Mereka yang bergerak di bidang pertenunan, batik, dan 
lainnya mengalami kemunduran amat drastis. Mereka tidak mampu lagi 
bersaing dalam proses perekonomian bangsa yang mengarah pada
kapitalisme.

Memasuki tahun 2000-an, titik terang bagi bisnis kaum muslim mulai 
terlihat. Di masa ini, muncul apa yang disebut sebagai gerakan ekonomi 
syariah. Yakni ditandai dengan kehadiran lembaga-lembaga keuangan yang 
dikelola secara Islami. Hasil gerakan ekonomi syariah itu memang tidak 
serta-merta terlihat.

Hanya saja, adanya keberpihakan ini bisa dijadikan momentum untuk 
mendorong atau merekonstruksi kembali tumbuhnya jiwa kewirausahaan umat 
Islam Indonesia. Bagaimanapun, maju atau tidaknya ekonomi kaum muslim 
tentu bergantung pada mereka sendiri.

/Gatra/ edisi khusus kali ini disiapkan dengan semangat optimistis dan 
kejujuran hati. Bahwa di tengah carut-marut ekonomi dan bisnis nasional,

sejumlah kalangan dengan etos kerja tinggi terus mencoba peruntungan. 
Kaum muslim ikut ambil peran penting di sana.

Kami mencoba memotret segala aktivitas bisnis kalangan muslim. Baik 
mereka yang bergerak secara individu maupun lewat organisasi yang 
terhitung rapi. Terbukti nanti bahwa mereka tidak pernah berhenti
berkarya.

Untuk sementara waktu, mereka memang masih ada di taraf bisnis kelas 
lokal. Tapi tidak sedikit pula dari para wirausahawan muslim itu yang 
mulai mengintip bisnis tingkat nasional hingga internasional. Satu hal 
yang tidak boleh dilewatkan, para /entrepreneur/ muslim itu bekerja 
dengan hati. Apa yang mereka peroleh mereka dedikasikan untuk 
kemaslahatan umat.

Tentu saja, cerita edisi khusus kali ini bukan sekadar catatan dan 
pengantar bacaan di musim libur Lebaran. Kami berharap, ini akan menjadi

pijakan bagi kaum muslim untuk melangkah lebih baik lagi. Selamat Idul 
Fitri 1427 H. Mohon maaf lahir dan batin.

*Dwitri Waluyo*
[*Mukaddimah*, /Gatra/ Edisi Khusus Beredar Senin, 16 Oktober 2006]
 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke