-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of chaidir
latief
Sent: Wednesday, October 11, 2006 1:14 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Produktivitas Padi Harus Delapan Ton Per
Hektar

sdr Rasyid Taufik yangbaik
 Kalau saya boleh usul.Berbuat batepapun kecilnya  Itu yang diperlukan
sekarang  
_________---------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------
----------

Batua sakali Mamak.

Setiap perubahan kearah yang baik harus kita syukuri betapapun kecilnya.
Bahkan kita juga harus bersyukur dengan kondisi apa adanya seperti
sekarang ini. Karena kita melihat berbagai kesulitan disekitar kita,
selain ancaman bencana alam banyak pula ancaman lain seperti PHK dan
berbagai kesenjangan sosial lain .

Dalam hal iko ambo bukan appriori atau pesimis terhadap sesuatu
kemajuan. Tapi sekadar mengingatkan/menggambarkan kemungkinan lain yang
bisa datang. Karano lah merupakan suatu kelaziman adonyo semacam
Plus-Delta sesuatu usaha ,adakah usaha tsb cukup competitive sarato
kemungkinan ado efek lainnyo.

Kalau soal keberhasilan peningkatan produksi gabah  kito lah maliek
sajak jaman Bimas/Inmas saisuak ,baitu juo usaho Balai Penelian
Pertanian di Sukamandi atau Philipina untuak  level internasional nan
salalu bausaho mancari bibit padi terbaik . Antaro lain,hasianyo dari
bibit PB sampai IR nan  lah samo kito nikmati salamoko. 

Tapi mungkin ado efek lain sasudah kito mendapat keberhasilan itu ? 
Itulah nan ambo ingin kito mempertimbangkannyo.

Bak pituah mamak juo : 
Indak basuluah batang pisang lai doh, tapi lah basuluah mato ari.
Mancaliak contoh ka nan elok ,mancaliak tuah ka nan manang.

Dalam mencapai Swa-Sembada Pangan nan dulu langkok jo Sapta Usaha Tani
nyo, penggunaan berbagai pupuk kimia telah merusak unsur hara lahan
pertanian kita. 
Pupuak Urea/ TSP dll dosisnya makin lama makin meningkat yang diperlukan
untuk setiap tanaman. Begitu juga insectisida sajak jaman endrin jo DDT
dulu, kini semakin canggih dan terbukti telah ikut memusnahkan biota
lain.

Selain itu aplikasi bio-genetika untuk tanaman atau hewan peliharaan.
Walau terbukti secara ekonomis sangat bagus prospeknya, tapi masih belum
dipastikan keamanan penggunaannya dimasa datang. Kalau sekarang masih
belum ada efeknya bagi kita, bagaimana dengan anak-cucu kita 20-50 tahun
lagi. Contoh lain misanyo Sterilisasi pria dalam ber-KB, kalau dulu
menjadi salah satu pilihan. Kini tidak lagi, karano diyakini ado yang
kurang elok.

Kapatang ko ado pulo pro-kontra soal susu kedele. Mungkin juo kedele nan
ado ditampek urang tu, bahkan nan banyak masuak ka nagari kito kini,
Bibitnyo lah tamasuak produk bio-genetika pulo.  Indak samo jo nan
banyak ditanam urang dikampuang awak .
Kanapo inyo bisa manjua kedele tu sabana murah ??

Mungkin kita sering dikejutkan dengan kuasa Allah yang menciptakan bayi
dengan berbagai kelainan seperti yang banyak diberitakan mass-media.
Maaf bukan kito ingin menyepelekan mereka.  Karano kalau kita lihat
kondisi sosial ayah-bunda dari si bayi, umumnya mereka terdiri dari kaum
urban / rakyat badarai, yang makan asal kanyang atau paruik barisi sajo,
tanpa mempertimbangkan komposisi zat makanan yang dikonsumsinya. Mereka
tidak tahu, apakah diantara yang dikonsumsi itu ada zat yang tidak layak
untuk kesehatan . Atau bisa juga diakibatkan oleh lemahnya daya beli
mereka. 
Tapi kalau anak yang autis, keceknyo bukan karano asupan gizi tapi
mungkin dek apaknyo lah ba -umua.

 
 Untuak itu kini ado usaho: Back to Nature guna menghindari kesalahan
kito maso daulu,usaho pemulihan lahan iko bukan sabanta waktunyo. 
Sahinggo yang namonyo pertanian  dengan menggunakan unsur organic cukup
menjadi pilihan , walau itu harus ditebus dengan cost yang lebih tinggi.

Disampiang itu nampaknyo kito harus meningkatkan daya saing petani itu
sendiri.
Kenapa kalau ada gejolak harga karena supply yang terbatas , yang
mengakibatkan  kran import gula atau beras dibuka, ada demo petani. 

Apakah aksi ini murni untuk memperjuangkan nasib petani, atau pelaku
bisnis tertentu yang terusik kemapanan nya ?
Sementara cukup banyak petani yang tidak mampu lagi membeli pupuk dan
insectisida. Dilain pihak sejumlah  pupuk bersubsidi jatuh ketangan yang
tidak berhak.

Memang dinegara maju proteksi untuk petani ini lumayan baik. Tapi itu
telah diimbangi dengan tingginya daya beli masyarakat secara
keseluruhan. Petani di Japang dengan lahan dibawah 1000 meter bisa hidup
dengan sangat layak. Walau harago bareh memang maha, tapi masih dibali
urang. Indak ado antrian beras RASKIN doh. Kalau di awak baa ?

Disitulah kito bisa maliek walau produksi meningkat, Swa-Sembada pangan
tercapai. Harga beras tidak melonjak. 
Tapi apakah kesejahteraan petani bisa meningkat ??

Sakali lai, modernisasi itu perlu dan kita butuhkan untuk melanjutkan
kehidupan didunia yang fana ini. 
Tapi kalau yang berhubungan dengan "Kampuang Tangah" atau berhubungan
langsung dengan fisik kita. Sebaiknya kita pertimbangkan lebih mendalam
sebelum menerimanya.

Kalau untuk kasus diatas, seperti saya tulis kemaren mungkin harus
diteliti juga. Siapa saja yang akan menikmati peningkatan produksi
pangan ini. Kita akan sangat bersyukur kalau memang petani yang
menikmatinya. Petani disini yang kita utamakan adalah petani penggarap,
bukan petani berdasi. 

Tapi kalau sebagian besar sudah harus menutupi biaya pupuk dan ongkos
produksi lain, dengan apa mau kita bayar keringat mereka.

Jan sampai, pai ampok - Pulang aban. Malapeh hao kito jadinyo--


Wassalam

St R.A



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke