Ternyata sudah ada tulisan terkait masalah ini (lihat di akhir e-mail ini).
Sepertinya memang masih perlu penelitian lebih lanjut.

-- 
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

---------------------------------------

https://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/09/opini/2939669.htm

 *Pupuk WSF, Pupuk Ajaib "Republik Mimpi"? *

*Iswandi Anas*

Akhir-akhir ini berbagai pihak disibukkan oleh "temuan" water stimulating
feed oleh Raden Umar Hasan Saputra. Temuan WSF yang juga dikenal sebagai
Nutrisi Saputra ini didukung penuh oleh Bapak Ir Ciputra dan Prof Dr Ir Roy
Sembel.

Berbagai pihak juga disibukkan oleh temuan ini antara lain para petani di
berbagai daerah, beberapa perkebunan besar, para peneliti pertanian dan
perguruan tinggi. Bahkan, Presiden Yudhoyono pun meluangkan waktu menerima
Saputra dan Ciputra, Rabu (6/9), dan menyebut Saputra layak dinominasikan
untuk memenangi hadiah Nobel!

Tentu semua pihak "seharusnya" menerima "temuan" yang spektakuler ini dengan
sukacita dan bangga bila hal ini benar dan telah dibuktikan secara ilmiah.
Kontroversi impor beras, kegagalan panen di berbagai daerah, kelangkaan
pupuk, dan persoalan pertanian lainnya tentu akan teratasi dengan temuan WSF
ini. Namun kenyataannya, temuan ini sendiri amat kontroversial.

*Nutrisi esensial*

Seperti diuraikan oleh Saputra, WSF adalah teknologi pembentukan nutrisi
esensial berupa tepung dan cairan. Tepung sebagai sumber N, P, K, Ca , Mg,
dan trace mineral, sedangkan cairan adalah sebagai precursor nutrisi
esensial yang bahan bakunya dari tepung jagung. Namun, penemunya tak
bersedia menjelaskan lebih lanjut tentang WSF ini karena alasan paten.
Temuan ini, menurut Saputra, sudah dipatenkan di sembilan negara. Negara
mana saja, tidak dijelaskan oleh yang bersangkutan.

Prof Sembel yang didampingi Saputra menjelaskan manfaat WSF sebagai berikut:
1. Meningkatkan produksi padi sekitar dua kali lipat (4 ton menjadi 8-9 ton
per ha), 2. Menurunkan jumlah pupuk dan pestisida sampai 50 persen atau
lebih, 3. Memperpendek umur panen 10-15 hari, 4. Menurunkan biaya produksi
padi sebesar 30 persen, 5. Penghematan air karena tanaman padi cukup diairi
sekali 15 hari, 6. Biaya pengangkutan pupuk berkurang, 7. Meningkatkan
kualitas beras (beras patah turun dari 10-20 persen menjadi 5 persen), 8.
Rendemen dari padi menjadi beras meningkat dari 62 persen menjadi 75 persen.


Lebih menarik lagi, menurut Prof Sembel, WSF dapat digunakan untuk tanaman
apa saja bukan hanya untuk padi. Dengan demikian, pupuk ini "benar-benar
menakjubkan". Namun, sayangnya, data ilmiah mengenai hal ini tidak ada.

Ir Ciputra meminta IPB melalui Wakil Rektor IV IPB Dr Asep Saefuddin
memberikan masukan terhadap demplot penggunaan WSF untuk tanaman padi yang
dilaksanakan oleh PT WSF International di Desa Panyirapan, Kecamatan Baros,
Kabupaten Serang, dan di Desa Jati baru, Kecamatan Jatisari, Kabupaten
Karawang. Kunjungan dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2006.

Setelah melakukan peninjauan ke kedua demplot PT WSF tersebut dan
mendengarkan penjelasan dari penemunya, kesimpulan kami dari IPB adalah
"mungkin" pupuk WSF dapat meningkatkan produksi padi. Secara visual, tanaman
padi yang "diberi perlakuan" pupuk WSF "lebih baik" tumbuhnya. Namun, data
penelitian tertulis, yang dilakukan menurut kaidah penelitian yang benar
tidak tersedia.

Di kedua lokasi demplot tersebut, "perlakuan kontrol" tidak ada sehingga
pengaruh penggunaan pupuk WSF tidak bisa dibandingkan tanpa penggunaan WSF.
Demikian pula ulangan perlakuan tidak ada. Semua hal ini adalah mutlak harus
ada untuk penelitian ilmiah. Di lain pihak penanaman padi di kedua lokasi
ini baru untuk pertama kali, tetapi data mengenai peningkatan produksi,
peningkatan rendemen, pengurangan beras patah sudah diperoleh.

Berdasarkan hal ini, sesuai dengan permintaan Ir Ciputra kepada Wakil Rektor
IPB Bidang Kerja Sama, IPB diminta untuk membantu melakukan pengujian pupuk
WSF secara ilmiah. Hal ini untuk menjawab apakah betul pupuk WSF ini secara
ilmiah benar-benar dapat meningkatkan produksi padi.

*Harus bersabar*

Tentu semua pihak akan sangat berbahagia dan berbangga dengan temuan anak
bangsa ini bila pupuk WSF ini benar-benar dapat meningkatkan produksi padi.
Untuk menjawab berbagai macam pertanyaan dan memastikan apakah pupuk WSF ini
benar-benar dapat meningkatkan produksi padi, dan menghilangkan
keragu-raguan bahkan cemoohan, tiada jalan lain yang dapat dilakukan
produsen dan pendukung WSF adalah melakukan penelitian secara ilmiah yang
memenuhi persyaratan multilokasi sehingga kesimpulan yang diambil dapat
dipertanggungjawabkan.

Setelah itu baru pupuk WSF ini dianjurkan kepada petani. Lembaga yang
berkompeten melakukan penelitian ini tentunya perguruan tinggi dan lembaga
penelitian pertanian yang memenuhi syarat baik dari sumber daya manusianya
maupun dari sarana pendukungnya seperti laboratorium dan peralatan.

Memang hal ini akan memakan waktu paling tak sekitar empat bulan dan
memerlukan biaya yang memadai, tetapi mau tidak mau hal ini mutlak harus
dilakukan.

Lebih baik kita bersabar dari pada kita mencelakakan banyak pihak terutama
petani yang sudah sangat menderita saat ini. Bila tidak demikian, maka
persoalan, kontroversi dan keragu- raguan bahkan tuduhan "penipuan" dapat
saja dilayangkan kepada produsen dan pendukung pupuk WSF ini.

Mudah-mudahan hal ini dapat memberikan penjelasan mengenai kontroversi pupuk
WSF dan mencari jalan keluar yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan ini, demi kita semua. Bila betul WSF dapat meningkatkan
produksi padi, bukan penemunya saja yang gembira, tetapi semua anak bangsa
akan berbangga, tetapi hal sebaliknya juga bisa terjadi. Bila pupuk ini tak
sesuai dengan claim yang selalu didengung-dengungkan oleh penemu dan
pendukungnya, maka makian, umpatan, bahkan lebih dari itu akan terjadi.

Semoga kita mau bersabar dan berpikir serta mengambil keputusan berdasarkan
kaidah ilmiah. Kita tidak hidup dalam Republik Mimpi seperti yang
ditayangkan di televisi. Mari kita semua berpikir dan bertindak dengan
menggunakan nalar dan akal sehat kita.

*Iswandi Anas* *Guru Besar Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor *
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke