Tolong dibaca aturan di footer dibawah --------------------------------------
Ass Wr Wb bapak Suheimi yth Setelah membaca cerita bapak, hanifah teringat kejadian tahun 2000 yang lalu. Awal September 2000, kawan bercerita dikampus tentang ibu kosnya yang ketipu Rp 10 juta, dengan cara penipuan yang serupa dengan yang bapak alami. Lalu kawan tersebut menyarankan untuk memberitau keluarga kalau ada anak atau keponakan atau saudara yang kuliah di Bandung. Karena ada dua orang keponakan hanifah yang kuliah di Bandung, lalu hanifah menelpon uni yang merantau di Payakumbuh dan menceritakan cara penipuan gaya Bandung tersebut, lalu meminta uni untuk hati-hati. Akhir September 2000, tengah malam uni mendapat telpon dari Bandung yang memberitahukan anaknya yang laki-laki (Aan) kecelakaan dan harus menjalani operasi. Waktu itu uni sendirian dirumah, suaminya lagi berada di Padang. Lalu dengan percaya diri yang tinggi, uni bentak-bentak orang yang menelpon tersebut. Besok paginya uni dapat telpon lagi dari Bandung, kali ini Aan juga ikut nelpon dan memberitau kalau Aan lagi dirawat dan harus menjalani operasi. Tulang di bahunya patah dalam kecelakaan tunggal di jalanan Bandung malam hari. Entahlah entah siapa yang membawa Aan ke rumah sakit. Uni langsung memberitau kakak yang di Jakarta. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Wass Hanifah Damanhuri suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tolong dibaca aturan di footer dibawah -------------------------------------- TANGAN TUHAN DI DETIK DETIK MENENTUKAN Oleh : Dr.H.K.Suheimi Telepon berdering di pagi itu mengejutkan. Pak, ada telepon dari Dr. Asep Gunawan dari Bandung, ada berita penting. Gagang telepon itu rasa mau jatuh sewaktu saya mendengar Dr. Asep Gunawan memberi tahu bahwa dia dokter yang bertugas di IGD (Instalasi Gawat Darurat), berkata begini, Apakah Dr. Suheimi punya anak yang namanya Irdhan?. Memang kenapa? kata saya tersentak. Jangan terkejut Pak, katanya dari balik telepon. Irdhan pagi ini dapat kecelakaan dan sedang kami tangani. Bagaimana keadaan anak saya?. Sabar Pak, anak bapak sudah kami tangani, dia sekarang dalam keadaan koma, dia mengalami perdarahan intrakranial. Sebagaimana layaknya seorang dokter memberi penjelasan. Hati orang tua mana yang tak tersentak dapat berita buruk itu. Irdhan yang klatanya hari ini ke Bandung untuk menerima ijazah, dia lulus dan ditempatkan di KOSTRAD tiba-tiba mengalami kecelakaan?. Dari baik telepon Dr. Asep Gunawan bicara dengan jelas sekali : Kami mohon izin Bapak untuk melakukan operasi, disamping perdarahan otak kakinya cedera, fraktur terbuka patah tiga. Dengan jantung rasakan copot tentu saya izinkan untuk operasi, saya minta tolong pada Dr.Asep Gunawan. tolonglah anak saya, lakukanlah operasi secepatnya, segala resiko saya tanggung. Dengan tenang Dr. Asep Gunawan menanyakan apakah saya punya famili di Bandung yang bisa dihubungi segera untuk bisa menandatangani perjanjian operasi. Lalu saya jawab, suara saya lewat telepon inilah jaminannya, pokoknya tolonglah anak saya segera. Ya kami akan tolong anak Bapak secepat mungkin, tapi karena keadaan anak Bapak demikian gawat Bapak tentu tahu akibatnya. Saya ini dokter, mengerti semuanya dan segala resikonya, tolonglah segera Pak Asep, pinta saya. Baiklah Pak Suheimi, untuk operasi ini alatnya kebetulan hanya ada di Apotik Kimia Farma Jakarta. Team kita sudah memesan alat itu, tapi jawaban petugas apotik alat dan obatnya bisa segera dikirim asal administrasinya diselesaikan lebih dulu. Untuk itu silakan Bapak telepon apotik Kimia Farma dengan nomor telepon dan Hpnya sbb. Tanyakan disana ada Dr. Hidayat. Langsung saya telepon HP yang diberikannya. Dari balik telepon ada jawaban : Oh ya benar saya Dr. Hidayat, memang tadi ada permintaan ke apotik kami atas nama Dr. Asep Gunawan meminta segera alat dan obat yang diperlukan. Semua itu telah ada ditangan saya, tapi petugas keuangan meminta diselesaikan urusannya. Bagaimana menurut Pak Suheimi? Atau adakah famili Bapak di Jakarta?. Ada anak saya Ihsan dan ini nomor Hpnya kata saya sambil memberikan nomor HP Ihsan. Ihsan pun saya beri tahu tentang kecelakaan adiknya Irdhan. Ya Pa kata Ihsan dari balik Hpnya. Ihsan juga baru dapat berita dari Dr. asep Gunawan di Bandung, tapi uang Ihsan ada Rp.7.500.000,-. Segera Ihsan transfer lewat ATM. Sementara itu Dr. Hidayat saya telepon lagi. Tolonglah Dr. Hidayat sesegeranya bawa alat dan obat itu , saya segera ke jakarta dan membawa uang yang diminta. Tapi jika apotik ini punya rekening bank, saya bisa transfer. Lantas Dr. Hidayat bertanya, lewat bank mana Pak Suheimi bisa mengirim dengan cepat?. Saya katakan lewat Bank Danamon. Baiklah kata Dr. Hidayat. Bapak bisa kirimkan ke Bank Danamon cabang Prapatan Jakarta atas nama Ari Gunawan No Agak lega perasaan saya karena bisa membeli alat dan obat, tentu anak saya bisa segera dioperasi. Kemudian Dr. Hidayat menyebut harga alat dan obat itu Rp.21.750.000,-. Ndak apa-apa kata saya. Dalam 10 menit saya akan sampai di Bank Danamon. Saya HP lagi Ihsan, rupanya dia sedang di ruang ATM, dia sedang mentransfer uang Rp.7.500.000,-, akan menekan OK. Hpnya berdering dapat telepon dari saya. Biarlah papa saja yang mentransfer semuanya Rp.21.750.000,-. Uang Ihsan bisa digunakan untuk yang lain. Sekarang secepatnya Ihsan pergi ke Bnadung, lihat adikmu. Ihsan ndak jadi menekan OK, tapi ditekannya CANCEL, batal uang tak jadi dikirim. Bertubi-tubi telepon datang, istri saya stress bukan manusia\in. semua baju-baju dikemasi, semua sanak famili di telepon. Tiket segera di beli, kami akan berangkat ke Bandung. Telepon datang lagi, Maaf ini Dr.Suheimi?. Tidak, kata istri saya, Ini istrinya. Buk, saya AKBP Sutrisno, saya polisi yang menangani kasus kecelakaan anak ibu, Irdhan, tapi saya mau bicara dengan Dr. Suheimi. Katakanlah pada saya, saya ibunya Irdhan, saya juga dokter, kata istri saya terisak. Bisa ibu sabar dan tenang? Agar saya bisa menjelaskan peristiwanya. Katakanlah, kata istri saya, Apakah anak kami masih hidup?. Anak ibu masih hidup, tapi keadaannya gawat dan sudah saya antar ke RS Hasan Sadikin, sedangkan temannya mati di tempat. Yang menabrak anak ibu sudah ditangan saya, dia seorang Cina. Jadi ibu tolong hubungi Dr. Asep gunawan di Bandung. Istri saya menggigil dan bertambah stress atas penjelasan pak polisi dan segera menyuruh saya ke Bank. Oh betapa ringannya badan ini, betapa hampanya hidup ini, betapa pahitnya cobaan ini. Anak yang hari ini menerima ijazah, hari ini akan dilantik lalu dapat kecelakaan?. Memang sejak pagi saya sudah HP Irdhan, tapi Hpnya tak hidup. Mungkin ketika saya menghubunginya, mungkin ketika itu tabrakan terjadi. Terbayang wajahnya, terbayang semua kenangan bersamanya, sekilas etrbayang saat-saat dia lahir ke Bumi ini. Terbayang ketika dia ikut Paskibraka, terbayang ketika potretnya sedang mengembangkan bendera pusaka diabadikan dalam uang Rp.50.000,-. Terbayang ketika dia lulus latihan Candradimuka di lembah Tidar. Terbayang ketika dengan gagahnya dia berpakaian komando. Terbayang ketika dia ditempa di hutan belantara, menangkap dan memakan ular. Terbayang ketika dia dengan senjata lengkap harus menyeberang berenang dari Cilacap ke Pulau Nusa Kambangan, sambil menarik temannya yang hampir tenggelam lemas kehabisan tenaga. Satu demi satu wajahnya terukir dan melintas lagi. Bayangan itu pudar ketika di jalan itu saya di klakson mobil karena saya hampir menabrak sebuah kijang yang tiba-tiba berbelok. Di belakang stir air mata saya berlinang, menetes membasahi pipi tak terasakan. Saya hapus air yang membikin kabur penglihatan itu, saya tabahkan hati ini. Kenapa harus dia, kenapa anak yang telah ditempa dan dogodok sedemikian rupa harus pergi karena kecelakaan? Kenapa harus dia, kenapa ya Allah?. Pahit getir telah ditempuhnya, kenapa harus berakhir seperti ini? Ya Allah, izinkan aku bertemu dengan anakku walau hanya sekejap. Jangan ambil nyawanya. Anak saya yang terkasih. Ya Allah, tolong selamatkan jiwa anak saya. Saya ayahnya, izinkan aku menciumnya dalam keadaan hidup. Saya bayangkan dia yang sedang dalam keadaan koma. Anakku, kenapa ayah tak bisa berbuat apa-apa disaat engkau membutuhkan bantuanku. Aku akan datang, aku akan terbang, tunggu ayahmu nak kata saya sambil menghapus air mata yang meleleh. Dengan tulus saya berdoa dan meminta, dan akhirnya semua urusan diserahkan pada Illahi. Ketika saya sampai di pekarangan Bank Danamon untuk mentransfer uang 23,5 juta.. Sebelum turun dari mobil, saya ingin tahu bagaimana keadaan Irdhan, apakah dia masih bisa ditolong atau kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya minta informasi ke Bandung menanyakan telepon RS Hasan Sadikin dan IGD. Begitu petugas IGD saya tanya, Saya Dr. Suheimi dari Padang kepingin tahu bagaimana keadaaan anak saya Irdhan yang dapat kecelakaan pagi tadi. Lalu petugas IGD menjawab, Apakah bapak disuruh transfer uang?. Rupanya uang ini memang diperlukan, kata saya dalam hati. Bergegas saya jawab, belum Pak, tapi saya sekarang di pekarangan Bank Danamon dan segera akan saya transfer. kalau belum jangan kirim dulu pak. Bapak sabar, mungkin ini suatu penipuan, sebentar akan saya lihat nama-nama pasien yang ada di IGD. Betapa terperangahnya saya ketika dari gagang telepon itu saya dengar dengan jelas petugas itu berkata, Tidak pak, tidak ada yang namanya irdhan, ini hanya suatu tipuan dan telah banyak orang yang kena tipu semacam ini. Tidak lama kemudian, telepon saya berdering lagi. Dr. Suheimi, ini dari Dr. Hidayat, saya sudah berada di lapangan udara, obat-obat dan alat-alat sudah ditangan saya. Tapi apakah uang sudah bapak transfer?. Saya jawab, Sudah, untuk menggodanya. Belum ada Pak, belum ada buktinya, apakah anak bapak mau segera ditolong?. Lalu saya hardik dia, bajingan kamu. Mendengar kata bajingan itu telepon diputus dan sejak itu dia tidak pernah menelepon lagi. Saya langsung sujud syukur, jadi anakku Irdhan tak mengalami apa-apa. Pada hari ini sebetulnya dia sedang dilantik, ada wejangan dari Jenderal dan ada pembagian ijazah sehingga sejak pagi HPnya dimatikan. Ketika siang saya dapat telepon dari Irdhan dengan ceria dia berkata baru dapat ijazah dan penempatan di KOSTRAD. Kebetulan hanya dia seorang yang berasal dari Sumatera Barat. Esok Irdhan mau pulang, katanya sambil tertawa ceria. Saya senyum, terbesit keinginan di hati saya menceritakan peristiwa yang menimpa kami itu. Tapi biarlah, besok dia akan datang. Besok dia kan kucium, akan saya pagut dan akan saya curahkan segenap kasih sayang saya padanya. Akan saya ceritakan semuanya padanya. Akan saya kadukan padanya bahwa saya hampir saja tertipu. Saya sadar dan saya bersyukur, di detik-detik penting tangan Tuhan menolong. Siapakah yang menggerakkan semua itu. Kenapa pada detik yang menentukan di saat Ihsan mau menekan tombol OK, lalu datang telepon saya untuk membatalkan? Kenapa disaat saya akan transfer di Bank Danamon, lalu Tuhan itu seakan berbisik. tanya dulu ke RS Hasan Sadikin. Saya tidak mengerti, saya tidak habis mengerti. Tangan-tangan Tuhan selalu diberikannya pada hambanya yang memohon dan berdoa. Menjadikan saya lebih dekat dan lebih dekat lagi dengan Khalik yang mengatur semesta alam ini. Hanya karena pertolongan Allahlah drama satu babak ini berakhir dengan Happy Ending. Untuk semua itu ingin saya petikkan sebuah firman suci Nya dalam Al-Quran : Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. 1:5) Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : Bilakah datangnya pertolongan Allah?. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214) Untuk informasi lebih lanjut dapat mengklik atau mengunjungi website dibawah ini --------------------------------- Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

