Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

http://irmaja.blogdrive.com/archive/199.html
Cerita Yang Menyentuh....
Saturday, October 14, 2006 @ 08:23 pm
Satu per satu anakku, setelah menikah, pergi meninggalkanku. Sementara aku, 
sejak suamiku meninggal tiga bulan lalu, tetap tinggal di rumah besar kami di 
Tebet bersama dua orang perempuan yang sudah 22 tahun bekerja padaku, seorang 
sopir sekaligus tukang kebun, serta seorang keponakan suamiku yang kedua 
orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. 
Suamiku sudah menyiapkan rumah untuk anak-anak kami, yang disewakannya kepada 
orang-orang. Setelah mereka menikah barulah ia memberikan kunci rumah-rumah 
itu. Ia membelinya saat memiliki jabatan tinggi di sebuah departemen dan 
memperoleh 'uang lain-lain' dari orang-orang yang mengharapkan langkahnya tidak 
terhalang sebutir kerikil pun.
Ia melakukannya karena ingin anak-anaknya mengenang dia sebagai ayah yang 
bertanggung jawab. Suamiku meninggal akibat gagal jantung setelah 12 tahun 
pensiun. Seharisebelumnya ia sempat berbicara kepadaku, telah merasa lengkap 
menjadi ayah karena melihat semua kejadian terhadap anak-anaknya: lahir, besar, 
bersekolah, menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, bekerja, menikah, 
tinggal di rumah-rumah yang diberikannya, dan memiliki anak.
Ia dimakamkan di sebuah pemakaman luas sesuai yang pernah ia pesankan. Hingga 
kini aku merasa ia masih ada di dalam rumah kami. Menjelang jam tujuh pagi, 
lima sore, sembilan malam, aku masih selalu pergi ke dapur, membuatkan 
secangkir teh manis untuknya. Anakku yang nomor satu rupanya mendapat cerita 
ini dari keponakan suamiku yang tinggal bersamaku. Maka tadi sore ia datang dan 
meminta aku tinggal di rumah besarnya di Ciputat.
Berkali-kali aku menolak, tentu karena aku merasa kasihan pada mendiang 
suamiku, tapi ia tetap berkeras seperti ayahnya. Ia mengatakan akan lebih mudah 
baginya untuk memantau dan mengurusku jika aku tinggal bersamanya.
"Di kamar besar yang lain Mama bisa meletakkan semua buku milik Mama. Kalau 
tetap di sini Mama akan terus bersedih. Biarlah rumah ini Suci yang menjaga dan 
mengurusnya bersama Mbak Tar, Mbak Mi, dan Bang Ali." Akhirnya aku menyetujui 
saja.
Malam hari aku sering menangis mengingat suamiku. Sementara anak-anakku, selama 
dua bulan aku di sini, tidak pernah ada yang datang. Dan anakku yang nomor satu 
jarang sekali bertemu denganku. Ia pergi pagi ketika aku masih mengaji di 
kamar, dan pulang begitu malam ketika aku sudah tertidur. 
Dalam seminggu mungkin aku hanya bertemu dengannya dua atau tiga kali. Bahkan 
bisa tidak sama sekali. Aku sering mengingat masa ketika mereka kecil. Waktu 
itu setiap hari aku bisa bertemu mereka. Lalu ketika mereka masuk perguruan 
tinggi dan bekerja, aku pun mulai jarang bertemu. Lalu ketika mereka menikah 
dan tinggal di rumah-rumah yang diberikan suamiku, memiliki anak dan sibuk 
dengan istri atau suaminya, aku sudah tidak  banyak berharap mereka akan mudah 
kutemui.
Sekarang apa yang aku dapat? Sebuah senyuman dan sapaan setiap pagi hari pun 
tidak. Terlebih kata terima kasih atas jerih-payahku melahirkan, mendidik, 
membesarkan, dan menyenangkan mereka. Aku tidak bermaksud meminta balasan.  
Tetapi bagaimanapun menurutku mereka seharusnya tahu diri dan tahu 
berterimakasih. Padahal sejak mereka kecil aku dan suamiku selalu mengajarkan 
untuk tidak melupakan kebaikan seseorang.
Anakku yang nomor satu, hari ini memutuskan mengirimku ke sebuah panti jompo, 
setelah istri dan ketiga anaknya sering mengeluhkan aku yang selalu menangis 
tengah malam ketika aku teringat suamiku, karena katanya mengganggu tidur 
mereka. Dua minggu lalu ia mengundang adik-adiknya datang. Ketika semua 
berkumpul, kecuali anakku yang nomor empat yang tinggal di Australia, ia 
memberitahukan keinginannya.
"Lagipula Mama tidak mungkin kita biarkan kembali ke Tebet. Terlalu banyak 
kenangan tentang Papa di sana yang bisa membuat Mama sedih." Dua bulan lagi 
umurku 68 tahun. Setelah satu tahun aku di tinggal sini, hanya Lebaran lalu 
saja anak-anakku datang. Sementara si Tar, si Mi, si Ali, serta keponakan 
suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku, hampir setiap akhir pekan 
menjengukku. 
Hari itu semua anakku datang bersama suami, istri, dan anak-anak mereka. Hanya 
yang nomor empat tidak datang, karena katanya uang jutaan rupiah untuk membeli 
tiket pesawat bagi tiga orang ke Jakarta lebih baik disimpannya di bank. Ia 
hanya mengirim kartu Lebaran disertai tulisan dan tanda tangannya.
Sedangkan cucu pertamaku memilih pergi ke rumah kekasihnya. Katanya karena ia 
segan. Ingat, segan. Segan bertemu neneknya. Padahal dahulu aku yang sering 
membersihkan kotorannya dan mengganti popok bila ia datang ke rumahku bersama 
orangtuanya. Lalu hingga kini tidak pernah lagi mereka datang.
Hanya anakku yang nomor satu yang selalu mengirim ini dan itu kepadaku, 
biasanya berupa buku-buku terbaru psikologi, filsafat, sejarah, sastra, agama, 
sosial, seni, budaya, tentu saja, melalui sopirnya.
Setiap pukul 04.30 aku bangun, mandi dengan air hangat yang keluar dari 
pancuran di bath-tub, sholat subuh, dan mengaji. Di sini kami seperti di rumah 
sendiri. Bangun jam berapa saja kami berkeinginan. Sarapan dan makan pun bebas 
memilih. Anak-anak telah membayar sangat tinggi untuk menitipkanku di sini. Aku 
jadi teringat masa ketika indekos ketika aku belajar psikologi. 
Hanya kini aku tidak tinggal bersama gadis-gadis cantik dan tidak untuk 
menuntut ilmu apa-apa. Hanya menunggu ajal.
Tepat pukul 06.00 kami yang sudah bangun dianjurkan berkumpul di halaman depan 
untuk berolahraga. Cukup tiga puluh menit sekadar untuk  meregangkan otot-otot 
tua kami. Setelah itu kami diminta untuk membersihkan diri,mandi pagi lagi 
kalau mau. Pukul 08.00 biasanya kami akan berkumpul di ruang makan untuk 
sarapan. Mereka yang bangun terlambat dan tidak  ingin berolahraga dan tidak 
ingin sarapan di ruang makan, bisa meminta petugas mengantarkan sarapannya ke 
kamar.
Setelah itu hingga pukul 16.00 kami dipersilakan melakukan kegiatan apa saja 
sesuai keinginan: merajut, melukis, menulis surat untuk anak-anak kami, bermain 
catur, berkebun, membaca, menonton TV, mendengar radio, berbincang-bincang 
dengan teman-teman lain, atau tidur siang. Dan setiap pukul 16.30 kami biasanya 
akan duduk-duduk di teras panti sambil menikmati secangkir teh manis dan 
kue-kue kecil. 
Setelah itu kami diminta untuk mandi sore. Pukul 19.00 kami kembali berkumpul 
di ruang makan. Malam ini aku menikmati segelas air teh manis hangat, nasi 
putih, perkedel kentang, dan semur ikan bandeng dengan kuah  kental kesukaanku. 
Hari ini tepat tiga tahun aku masuk panti.
Aku, karena sejak muda mempunyai kegemaran membaca, setiap hari selalu hanya 
membaca. Apa saja aku baca. Majalah berita, koran pagi, tabloid perempuan, dan 
majalah perempuan yang dilanggani panti, tidak pernah kulewatkan, juga 
buku-buku di perpustakaan. Selama lima tahun di sini, aku sudah membaca semua 
buku yang ada di sana, dan tentu saja puluhan lainnya kiriman anakku yang nomor 
satu.
Hari ini aku membaca sebuah buku filsafat. Sudah dua hari aku membacanya, dan 
tampaknya hari ini pun belum akan selesai. Padahal ketika muda dahulu satu buku 
tebal kubaca hanya dalam waktu satu hari, dan buku sedang cukup setengah hari 
saja. Setelah tua aku menjadi mudah letih dan mengantuk
Kemarin aku sulit sekali meneruskan buku itu. Aku tiba-tiba saja kembali 
memikirkan suamiku dan juga umurku yang sudah semakin tua. Aku tahu aku tidak 
akan lama lagi di sini. Teman-teman sebayaku semasa di perguruan tinggi, sudah 
banyak yang tiada.
Dulu aku memiliki ratusan buku yang kubeli sejak umurku belasan tahun. Sebelum 
tinggal di sini, aku ingat jumlahnya sekitar 524 buah. Tersimpan rapi di 
perpustakaan pribadi di rumahku. Aku percaya anakku yang nomor tujuh akan 
menjaga buku-buku itu. Kebetulan ia mempunyai kegemaran yang sama denganku, 
meski sebenarnya keenam anakku yang lain, serta suamiku, juga memiliki 
kegemaran yang sama. Hanya saja karena ia yang paling banyak menghabiskan waktu 
bersamaku maka aku percaya ia akan menjaganya. Ketika masih tinggal bersamaku 
hampir setiap awal bulan ia menemaniku pergi ke toko  buku, membeli buku-buku 
kegemaranku. Kebetulan aku paling  menyukai buku psikologi, karena ilmu itulah 
yang mampu membuatku tertarik masuk kesebuah fakultas hingga menyelesaikannya.
Tetapi sudah sepuluh tahun ini aku tidak melakukannya. Meski berkeinginan, 
namun semuanya kini hanya ada di dalam angan-angan dan kenangan-kenanganku .
Untunglah anakku yang nomor satu selalu mengirimkan buku-buku kegemaranku 
terbaru. Jadi aku tidak terlalu mengharapkan buku-buku di perpustakaan panti 
yang hanya beberapa puluh saja. Ketika minggu kedua tinggal di sini pernah 
kutanyakan kepada petugas, mereka hanya menjawab, "Uang panti tidak cukup,  
Nyonya."
"Bukankah anak-anak kami sudah membayar sangat tinggi untuk menitipkan kami di 
sini? Jadi bagaimana mungkin tidak cukup?" 
"Saya hanya petugas, Nyonya. Urusan uang ketua yayasan yang mengatur. Lagipula 
Bapak pernah mengatakan orang-orang tua di sini tidak terlalu suka membaca."
"Begitu? Bagaimana dia tahu?" 
"Bapak memang jarang datang ke sini, Nyonya. Maklumlah usaha Bapak tidak hanya 
panti ini."
"Saya punya banyak buku di rumah. Boleh saya menyumbangkannya? "
"Dengan senang hati, Nyonya. Dengan senang hati." 
Tetapi ternyata anakku yang nomor tujuh tidak memperbolehkannya. Di telepon ia 
mengatakan buku-buku itu terlalu berharga karena ada yang sudah berumur puluhan 
tahun dan sudah tidak beredar di pasaran. Ketika kukatakan buku-buku itu akan 
lebih berharga jika dibaca orang lain, ia tetap tidak memperbolehkannya. 
Katanya karena ia membaca pula buku-buku itu. "Lagipula anggaplah sebagai 
warisan yang Mama berikan untukku." 
Anak-anakku, mereka tidak pernah puas hanya menerima. Dua hari lalu umurku 79 
tahun. Aku tahu tidak akan lama lagi di sini. Hingga malam, ketujuh anakku 
tidak ada satu pun datang atau sekedar menelepon. Hanya datang si Tar, si Mi, 
si Ali, serta keponakan suamiku yang pernah delapan tahun tinggal bersamaku.
Baru hari ini anakku yang nomor satu mengirim kado berisi selimut tebal dan 
kartu ucapan buatan pabrik. Kado itu diantar seorang sopirnya. Ingat, sopir. 
Dia tidak bisa datang, kata sopirnya, karena sibuk bekerja. Ingat, sibuk. 
Sekali lagi ingat, sibuk. Padahal dahulu ketika masih tinggal bersamaku, aku 
selalu menyiapkan masakan istimewa buatanku di hari ulang tahun mereka dan  
merayakannya bersama-sama.
Bila tahu akan seperti ini, demi Tuhan, aku tidak bersedia melahirkan mereka. 
Dan aku tahu, suamiku, pasti menyesal telah menghidupi mereka.


 
____________________________________________________________________________________
Sponsored Link

Mortgage rates near 39yr lows. 
$510k for $1,698/mo. Calculate new payment! 
www.LowerMyBills.com/lre

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke