Tolong dibaca aturan di footer dibawah --------------------------------------
Wak Raso, Oom JD lai masih aktif disiko, kok iyo berita ko tentang Oon JD, moga-moga capek sehaik omm... ===================== http://www.indopos. co.id/index. php?act=detail_ c&id=258058 Jumat, 24 Nov 2006, Kesaksian Korban Musibah Ledakan Pipa Gas Pertamina Berenang di Lumpur, Delapan Jam Bertahan di Pohon Musibah ledakan pipa gas Pertamina yang bersumber di bawah tanggul lumpur Lapindo sangat dahsyat. Inilah kesaksian beberapa korban yang selamat. FATHUR ROZI-DIAN W., Sidoarjo Sekitar pukul 20.00, langit di atas Porong sudah gelap. Sejumlah alat berat tampak terburu-buru keluar dari lokasi pusat semburan lumpur Lapindo. Mesin ekskavator dan back hoe itu terdengar menderu-deru. Mereka seperti berpacu dengan waktu karena sudah tak mampu mengendalikan luapan lumpur di tanggul utama. Tak lama kemudian, lumpur mulai masuk dan memenuhi ruas tol Porong-Gempol. Para pekerja pun berlarian sambil berteriak-teriak. "Bahaya! Bahaya! Lari!" ujar mereka bersahut-sahutan. Suasana mencekam. Hanya berselang lima menit kemudian, terdengar ledakan sangat keras disertai semburan lidah api yang tinggi. Kondisi semakin kacau. Lumpur panas tiba-tiba mengalir lebih kencang. Terjadinya ledakan -belakangan diketahui berasal dari pipa gas Pertamina- di bawah tanggul tersebut menyebabkan tanggul penahan lumpur di pond Siring jebol. Lumpur pun mengalir dari dua titik yang berjarak sekitar 50 meter. Selain itu, di titik semburan api kemudian menyembur lumpur segar setinggi sekitar empat meter. Kejadian itu bertahan hingga sekitar satu menit. "Semula saya kira ada semburan baru," kata Cipto, anggota Unit Desain dan Supervisi Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Pria 51 tahun itu merupakan salah seorang di antara tiga anggota timnas yang berhasil selamat dari insiden tersebut. Sebelum ledakan terjadi, dia naik ke atas tanggul untuk menyelamatkan diri dari luberan lumpur yang terus memenuhi badan jalan. Dia tak menyangka, justru di tanggul tersebut beberapa saat kemudian, terjadi ledakan yang jauh lebih dahsyat. "Saat itu, tanggul terasa bergerak," ungkapnya. Namun, Cipto terus berlari menjauh dari pusat semburan ke arah barat menuju Desa Siring. Selang beberapa waktu kemudian, terjadi ledakan tepat di belakangnya. Hanya berjarak sekitar 10 meter. "Saya sempat terjatuh, lantas merayap di tebing tanggul bagian dalam pond Siring," jelasnya. Saat berdiri kembali dan melanjutkan berlari, punggungnya terasa sangat panas. Namun, Cipto terus berlari hingga akhirnya sampai di Desa Siring. Dia selamat. Saat berhenti tersebut, dia baru teringat dua rekannya yang lain, Pulung dan John Dachtar. "Saya sempat melihat Pulung masih mengambil gambar. Tapi, setelah saya teriyaki, dia pun ikut lari menjauh," katanya. Menurut Cipto, kali terakhir sebelum berhasil menyelamatkan diri, dia melihat John Dachtar di dalam mobil. "Saat itu saya tidak yakin dia bisa selamat," ungkapnya. Cipto beranggapan, rekannya itu telah terjebak di antara dua titik aliran lumpur dari tanggul. Namun, keberuntungan ternyata masih berpihak pada John. Saat ditemui Jawa Pos di RSUD Sidoarjo, lelaki asal Bandung itu mengakui bahwa mobil yang dia naiki hanyut terbawa banjir lumpur ke arah utara menuju pond A. "Saya berusaha tenang saat mobil yang saya naiki tiba-tiba jalan sendiri," kisahnya. Saat itu, menurut dia, ketinggian lumpur sekitar 2 meter. Namun, setelah melihat beberapa pohon di sisi tol, dia memutuskan segera keluar dari mobil. "Saya lalu berenang 20 meter," ungkapnya. Beruntung, lumpur belum panas sehingga dia bisa mencapai pohon dan memanjat sampai atas. Setelah beberapa waktu, dia mengira ada tanggul tak jauh dari pohon tempat dia mengamankan diri. "Saya turun kembali untuk mencapainya, " tuturnya. Namun, ternyata lumpur di bawahnya panas karena campuran lumpur dari pusat semburan sudah lebih banyak. "Itu yang membuat kaki saya seperti terbakar," jelasnya. Dia pun mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas pohon. Setelah bantuan penyelamatan datang, posisi John akhirnya diketahui. Namun, dia tetap sulit diselamatkan karena lokasinya sulit dijangkau. Perahu karet yang berusaha mendekat akhirnya mengurungkan niatnya karena khawatir leleh. Sempat ada niat untuk mengevakuasi pria 51 tahun itu dengan helikopter. "Tapi, itu baru bisa dilakukan pagi, kalau dipaksakan malam terlalu berbahaya," jelas petugas penyelamat saat itu. Setelah berjam-jam di atas pohon, sekitar pukul 04.00 beberapa warga sekitar berhasil menolongnya dengan menggunakan beberapa ban bekas. Namun, dia harus dirawat karena menderita beberapa luka bakar di kaki dan tangannya. Berbeda dengan Cipto dan John Dachtar, Stefanus Prasetyo, 52, karyawan PT Jasa Marga, tidak seberuntung mereka. Setelah sehari dinyatakan hilang, Stefanus ditemukan tewas tadi malam, pukul 20.30. Jenazahnya tersangkut pada sebuah pohon di pond A Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin. Saat ditemukan, tubuh pria berpostur tinggi itu mengenakan jaket kulit dan seragam biru tenggelam dalam genangan lumpur. Padahal, sore sebelum terjadi ledakan, Stefanus bersama Kepala PT Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol Subakti Syukur mendampingi pejabat dari Mabes TNI-AD untuk melihat bencana lumpur Lapindo. Waktu itu, Stefanus menepuk pundak salah seorang wartawan dan mengucapkan salam dengan nada akrab. "Good bye my friend. Jalan tol sudah tidak dapat dipakai lagi," katanya. Tak pernah ada yang menduga ucapan itu adalah salam terakhir almarhum. Selama terjadi tragedi lumpur, Stefanus dikenal sangat rajin turun ke lapangan. Dengan jabatannya sebagai Kasubbag Pelayanan Lalu Lintas Jalan Tol, peran dia begitu penting. Nyaris setiap waktu dia berada di jalan tol dengan mobil station yang kemarin juga tenggelam di dalam lumpur. Subakti Syukur, atasan Stefanus, tampak begitu gugup dengan nasib salah seorang anak buahnya itu. Hingga Kamis dini hari, Subakti masih ingin melihat Stefanus diselamatkan dari lokasi lumpur. Jeritan minta tolong di tengah malam juga sempat dikira suara Stefanus. (*) Berita nan samo di : http://www.suaramer deka.com/ cybernews/ harian/0611/ 23/nas28. htm -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

