Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Mendurhakai Anak
Jumat, 08 Juli 05 - oleh : ghodiy
<http://www.usahamulia.net/?pilih=pesan&id=11> 

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim 

[ usahamulia.net ] Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia
bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan
melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan
memberitahukan pengaduan bapaknya. 

Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, "Wahai Amirul Mukminin,
bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?" 

"Ya, tentu," jawab Umar tegas. 

Anak itu bertanya lagi, "Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?" 

"Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur'an
kepadanya," jawab Umar menunjukkan. 

Anak itu berkata mantap, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum
pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang
bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku
Ju'al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun
dari al-Kitab (al-Qur'an)." 

Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, "Engkau telah datang
kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya
sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum
dia berbuat buruk kepadamu." 

Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk
banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita
bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah
kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak
kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang
kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka. 

Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai
orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. 

Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat
berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun
kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa
bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita
ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami
pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak. Pendidikan yang kita jalankan
pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan
kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran
mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi
anak, ketika anak itu sendiri belum lahir. 

Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya.
Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu
dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan
menggemaskan). Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya
kepada istri saya, "Anak pertama, Bu?" 

"Bukan," jawab istri saya, "Ada kakaknya, cuma nggak ikut." 

"Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?" tanya ibu itu segera. 

"Baru empat. Ini anak yang keempat," jawab saya ikut menimpali. 

"Empat???" tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget
sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, "Yang
paling besar sudah kelas berapa?" 

"TK A. Nol kecil," jawab istri saya. 

Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak,
"Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya
sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak
terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya." 

Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan
betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.
Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak
hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga
sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat
orangtuanya terhibur. 

Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran
sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga
ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.
Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah
terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap
anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan
harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun
diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau
sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika
anaknya sudah memiliki anak. Ketika anaknya sudah menjadi orangtua. 

Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir
tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan
kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam.
Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan.
Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia
penyebabnya. 

Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja
buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya
menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu
asing di rumahnya sendiri. 

Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan.
Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar
sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah
nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik
dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun
sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke
rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak
lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia
mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua. 

Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah
kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki
kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang
kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma
satu yang mereka tidak punya: perasaan. 

Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata
haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat,
"Ngapain kamu pulang?" 

Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera
mengajak anak itu kembali ke Jogja. Tak ada airmata yang melepas. Tak ada
rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah. Yang
ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik
oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap
sangat kasar. 

Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan
perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah
dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa
perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab
di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali
menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka. 

Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan
orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih
memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki
kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan
yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada
hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi
harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta'ala. Hilangnya kesabaran
menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah
adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub).
Kita membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan
kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran
dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak. 

Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak
setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap
anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang
karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak. 

Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo'akan anak. Sekarang banyak
orangtua meminta anak berdo'a untuk kesuksesan karier orang tuanya.

Arief Eko Isdiyanto

Sarijaya Permana Sekuritas

Information Technology Dept.

E-mail: <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED]


"voorprong van het achterlijkheid."
Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami
orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi

Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah
berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah?

Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas

Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal
yang terkecil dan dimulai saat ini juga
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke