Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Menanam Kebaikan

oleh : kresno aji


Alkisah, di suatu kerajaan, sang raja merasa masygul. Ia merasa
hatinya gundah. Semenjak ia melanjutkan tugas dan tanggung jawab
ayahandanya untuk memerintah dan mengatur agar seluruh rakyat dapat
hidup aman, tenteram & sentosa, ia telah berusaha sebaik-baiknya
tetapi akhir-akhir ini ia merasa jenuh.

Semua bebannya yang ditanggungnya dirasakan demikian berat, dan
hidup menjadi rutinitas tiada akhir dan membosankan. Sehingga ia
memutuskan untuk berlibur, menikmati hidup bukan sebagai raja
melainkan sebagai rakyat jelata, sekaligus untuk melihat-lihat dari
dekat hasil jerih payahnya selama ini.

Sepanjang masa liburnya, raja sebenarnya cukup terhibur melihat
kemajuan kerajaannya. Ia dapat melihat bahwa rakyatnya hidup
berkecukupan, pemerintahan berjalan dengan cukup baik, walaupun ada
hal2 yang masih bisa ia sempurnakan. Tetapi, entah mengapa, semakin
ia nikmati liburannya, rasanya semakin malas ia untuk kembali ke
istana.

Suatu hari, ia singgah di suatu daerah dan entah kenapa, ia tertarik
kepada seorang pemuda yang sedang menanam pohon. Pemuda itu bertubuh
kekar & kuat, tetapi ketika bekerja, ia tampak lemas dan tak
bersemangat.

Setelah mengucap salam, sang raja bertanya kepada sang pemuda. "Hai
kawan, engkau tampak lelah, apakah engkau sakit ? Siapakah yang
memaksamu untuk tetap bekerja dalam kondisi sakit ?"

"Saya tidak sakit tuan, hanya saya tidak menyukai pekerjaan ini"
jawab sang pemuda. "Aku membantu ayahku untuk menanam tiga ratus
pohon zaitun. Jikalau bukan karena ayahku, aku tak akan
melakukannya. Bayangkan, tiga ratus pohon zaitun? Belum juga seratus
pohon, aku sudah tak ingin melakukannya lagi" keluh sang pemuda.

"Dimana ayahmu? Mungkin aku bisa bicara dengannya..". "Beliau ada di
belakang bukit ini" ujar sang pemuda sambil menggerakkan tangannya
menunjukkan arah.

Raja segera bergegas ke belakang bukit, tetapi sesampainya ia
disana, ia tertegun. Dilihatnya, pohon yang telah ditanam jauh lebih
banyak dari sang pemuda padahal sang ayah ternyata sudah renta, Dan
ia bekerja penuh semangat.

Kagum, raja menghampirinya. Seraya mengucap salam, raja
bertanya "Wahai orang tua, engkau demikian bersemangat sekali. Apa
yang engkau tanam?"

"Saya sedang menanam pohon zaitun" jawab sang kakek.

"Sebanyakini? Untuk apa? Lagipula, bukankah pohon zaitun baru
berbuah 6-7 tahun kemudian ? Melihat usia kakek, mungkin kakek tidak
bisa lagi mengunyah dan menikmati buahnya, lantas apa untungnya?"
Raja semakin heran.

"Tuan mengajukan pertanyaan yang sama seperti anak saya" ujar sang
kakek sambil menghela napas. "Tuan mungkin telah berjumpa dengan
anak saya, ia anak yang baik, walau ia tak mengerti sepenuhnya
alasan saya, tapi ia tetap membantu karena tak ingin saya
mengerjakan semuanya sendirian".

"Tuan, saya memang tidak berniat untuk merasakan manfaat dari pohon
yang saya tanam ini. Saat pohon ini berbuah, belum tentu saya masih
hidup. Saya menanam pohon-pohon ini, karena buah zaitun yang selama
ini saya nikmati juga berasal dari pohon yang ditanam oleh orang
sebelum saya. Saya ingin membalas kebaikan mereka dengan menanam
kebaikan yang sama. Membayangkan buah zaitun yang berlimpah yang
bisa dinikmati banyak keluarga, pohon yang hijau & rindang yang
memberikan naungan dari terik dan hujan, minyak zaitun yang memberi
manfaat, semua itu membuat saya bersemangat untuk menanam pohon
sebanyak yang saya bisa".

Raja tercenung mendengar jawaban sang kakek. Ia tak hanya melihat
ketulusan dan kebaikan hati sang kakek, ia juga melihat perbedaan
motivasi yang menggerakkan sang pemuda dan ayahnya itu. Sementara
sang pemuda melihat pekerjaan tsb sebagai beban yang harus
ditanggungnya, ayahnya terdorong oleh gambaran indah dari hasil yang
akan dicapainya.

Diakuinya, ia juga melakukan hal yang serupa dengan sang pemuda.
Walau ia berusaha memerintah dengan sebaik-baiknya, itu semua
dilakukan untuk menghormati kebesaran ayahnya, raja terdahulu dan
agar warisan ayahnya tetap terjaga dengan baik. Itu semua adalah
beban yang harus ditanggungnya sebagai penerus tahta.

Tapi, kini ia bisa melihat bahwa semuanya terserah dirinya, apakah
ia memilih melihatnya sebagai beban, atau fokus pada gambaran indah
yang bisa dicapainya.

Raja tersenyum dan berkata "Wahai orang tua, ketahuilah bahwa aku
sebenarnya adalah Rajamu. Kebaikanmu telah mengajarkan aku. Sebagai
ungkapan rasa terima kasihku, terimalah hadiah dariku" lantas ia
memberikan sekantung uang dirham kepada sang kakek.

Dengan hormat, kakek itu menerima hadiah tersebut, tersenyum dan
berkata, "Wahai Tuan Raja, tadi engkau bertanya "apa untungnya".
Lihatlah, belum juga selesai hamba menanam, walau bukan buah dari
pohon yg saya tanam, Allah telah memberi rizki satu kantung uang
melalui tangan Paduka".

Raja kembali tertegun, ia memang tidak percaya apa yang
disebut "kebetulan", karena kebetulan hanya mungkin timbul dari
ketidakteraturan murni (pure chaos), sementara pengalamannya
mengajarkan bahwa problem paling kusut pun memiliki pola-pola
keteraturan yang memungkinkannya untuk diuraikan.

Bukanlah kebetulan kalau hari ini ia bertemu orang tua istimewa itu,
dan bukanlah kebetulan pula jika kebaikannya diganjar sepundi uang
melalui perantaraan
dirinya. a lantas memeluk kakek itu. "Terima kasih atas pengajaran
tuan" ujarnya.

Hari itu juga raja kembali ke istana, langkahnya ringan dan hatinya
senang. Tekadnya makin mantap, untuk segera menanam kebaikan-demi
kebaikan.

Moral of the Story :
Adalah keputusanmu, pilihanmu sendiri, apakah hidup untuk menanggung
beban, atau mengejar tujuan. Kebaikan yang engkau terima saat ini,
bisa jadi adalah buah dari kebaikan orang-orang sebelum kamu. Jika
engkau berbuat baik, Allah akan membalasnya - walau bukan dalam
bentuk kebaikan yang sama - bahkan ketika engkau belum menyelesaikan
perbuatan baikmu.

"voorprong van het achterlijkheid."
Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami
orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi

Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah
berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah?

Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas

Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal
yang terkecil dan dimulai saat ini juga
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke