Tolong dibaca aturan di footer dibawah --------------------------------------
Perjalanan Mendidik Bangsa Lain DAHONO FITRIANTO Sudah terlalu lama bangsa Indonesia terpuruk dalam kerendahdirian dan ketidakpercayaan diri di hadapan bangsa-bangsa lain. Padahal pada saat bersamaan, banyak orang di luar negeri sedang belajar dari orang-orang Indonesia tentang hal-hal yang tidak pernah mereka mengerti. Saat ini, tidak sedikit orang Indonesia yang bekerja sebagai dosen dan peneliti di universitas dan institusi pendidikan di negara yang jauh lebih maju. Saat kondisi Tanah Air belum memungkinkan untuk pengembangan ilmu yang mereka miliki. Para dosen itu mengajari bangsa lain mulai dari cara melafalkan huruf r sampai bagaimana membuat radar masa depan. Dan jangan bayangkan para pengajar dari Indonesia itu menduduki posisi yang lebih rendah dan berprestasi lebih buruk dibandingkan kolega-koleganya dari negara tempat dia berada sekarang. Simak pengalaman Josaphat Tetuko Sri Sumantyo (34), pemegang gelar PhD di bidang penginderaan jarak jauh (inderaja/remote sensing). Pria yang akrab dipanggil Josh atau Tetuko ini kini menduduki posisi associate professor atau satu tingkat di bawah profesor penuh di Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang. Tidak itu saja, karena prestasi dan keuletannya, Tetuko dipercaya mendirikan dan mengepalai Microwave Remote Sensing Laboratory di lingkungan Universitas Chiba. Perjalanan putra seorang instruktur Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU ini dimulai saat lulus dari SMA 1 Solo. Tetuko lolos seleksi Science and Technology Manpower Development Program (STMDP), program beasiswa studi ke luar negeri di bawah Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Tahun 1990, ia dikirim untuk belajar teknik elektro dan komputer di Universitas Kanazawa, Jepang. "Saya menyelesaikan gelar S-1 dan S-2 di \nsana," ujarnya Setelah meraih gelar master dan bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI AD, tahun 2000 ia kembali ke Jepang untuk menyelesaikan program doktor di Universitas Chiba. Saat menyelesaikan program doktoralnya inilah, pihak Universitas Chiba melihat potensi Tetuko dan menawarkan posisi dosen (lecturer). Tahun 2002, Tetuko resmi menjadi pegawai negeri di Chiba. "Tahun 2005 lalu, saya diangkat menjadi associate professor. Padahal umumnya seseorang baru diangkat ke level itu pada usia lebih dari 45 tahun," papar Tetuko yang sedang mengembangkan sistem radar masa depan di Jepang. Berbeda dengan Tetuko, perjalanan Hamam Supriyadi (38) menjadi dosen di Universitas Thammasat, Thailand, diawali dengan basa-basi. Suatu hari pada tahun 1997, Hamam yang waktu itu menjabat sebagai salah satu dosen di Jurusan Sastra Nusantara, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sedang ngobrol dengan dosen dari Universitas Ramkhamhaeng, Thailand, yang sedang belajar Bahasa Indonesia di UGM. "Karena kehabisan bahan pembicaraan, saya kemudian iseng menanyakan apakah ada kesempatan bagi saya untuk belajar bahasa Thai di universitasnya. Eh, ternyata dia malah antusias dan mengatakan bahwa di tempatnya juga sedang membutuhkan pengajar Bahasa Indonesia," kenang Hamam. Setelah itu, Thailand menjadi bagian dari jalan hidup yang harus ditempuh Hamam. Tanpa kesulitan apa pun, Hamam diizinkan dekan berangkat ke Thailand selama dua tahun. Sepulang dari Thailand, Hamam ditantang apakah siap mengajar bahasa Thai di UGM. "Saya menjawab belum siap karena belum punya ijazah di bidang itu. Akhirnya, pihak universitas mengirim saya untuk sekolah lagi di Universitas Thammasat, Bangkok," tuturnya. Kebetulan, saat itu Universitas Thammasat sedang bersiap membuka \njurusan baru, yakni Studi Asia Tenggara, dan membutuhkan dosen Bahasa Indonesia. "Saya langsung menyerahkan CV (curriculum vitae) dan rekomendasi dari KBRI, dan mereka langsung cocok dengan saya," kata Hamam. Sejak saat itulah Hamam mulai mengajar sambil menyelesaikan studi S-2-nya di bidang Linguistik Thai. "Pagi belajar, sore mengajar. Susahnya mengajar di sini, orang Thailand tidak bisa melafalkan huruf r mati, jadi saya harus mengajari mereka mengucapkan bunyi r," ungkapnya. Tawaran menjadi pengajar saat menyelesaikan studi S-3 juga diterima Dewi Candraningrum (31). Di Universitas Muenster, Jerman, tempat ia menyelesaikan studi doktoralnya, Dewi berkenalan dengan para profesor spesialis Indonesia. "Dari mereka tawaran itu datang, dan sekarang aku mengajar Bahasa Indonesia 1 di Institut fuer Ethnologie Universitaet Muenster. Kontrak ini diperpanjang sampai dua semester depan," tuturnya. Kegiatan menjadi dosen di Universitas Thammasat itu masih diteruskan Hamam meski ia telah lulus dan saat ini sedang menyelesaikan program doktor di Institute of Language and Culture for Rural Development, Universitas Mahidol, Thailand. "Selain untuk mengasah ilmu dan memperluas jaringan, saya juga butuh penghasilan tambahan untuk biaya hidup di sini, karena pihak UGM tidak membiayai penuh seluruh kebutuhan selama sekolah," ujar Hamam. Saat ini, penghasilan yang didapat dari mengajar Bahasa Indonesia dari mulai tingkat beginner hingga advanced selama sembilan jam seminggu dapat dikatakan lebih dari cukup untuk memenuhi biaya hidup di Bangkok yang mencapai 15.000 baht (sekitar Rp 3,75 juta) per bulan. Bisa beli rumah Bicara soal penghasilan sebagai dosen di luar negeri memang jangan dibandingkan dengan penghasilan dosen di dalam negeri. Tetuko mengatakan, fasilitas hidup yang ia terima sebagai associate professor di Chiba sudah lengkap, mulai dari tempat tinggal hingga kendaraan. Saat ditanya mengenai gaji, Tetuko hanya menyebut besarnya kira-kira \nsama atau bahkan lebih sedikit dibanding gaji pejabat tinggi di \nIndonesia. "Pokoknya saya sudah sampai pada taraf budget free. Sudah \nterbebas dari segala masalah finansial sehingga bisa fokus pada riset \nsaja," paparnya. Arief Budiman (65), yang mantan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, mengatakan, gajinya di Universitas Melbourne, Australia, cukup untuk membeli rumah di Melbourne seharga 180.000 dollar Australia (sekitar Rp 1,26 miliar) dan menyekolahkan dua anaknya, Adrian dan Santi Kusumasari, ke Amerika Serikat. "Tetapi beli rumah itu juga dicicil kok. Sekarang sih sudah lunas, tetapi untuk DP saja dulu ya sampai menjual rumah di Jakarta dan pinjam-pinjam ke bank," ujar peraih penghargaan Achmad Bakrie Awards 2006 untuk kategori Pemikiran Sosial. Perjalanan Arief hingga ke Melbourne sebenarnya diawali dari peristiwa yang menyakitkan. Tahun 1994, karena keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa yang menentang Presiden Soeharto, ia dipecat dari UKSW. Setelah itu pun melamar ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Ternyata Universitas Melbourne membalas lamaran saya pada 1997. Waktu itu ada tiga kandidat yang diwawancara untuk mengisi posisi profesor, dan saya lolos," kenang Arief. Saat ini sudah hampir 10 tahun Arief mengajar di Melbourne. Ada tiga mata kuliah yang ia ajarkan, yakni Bahasa Indonesia, Indonesian Political Economy, dan Islam and The State in Indonesia. Sama-sama mengajar di Australia, perjalanan yang ditempuh Firdaus (54) lebih panjang dan rumit. Lulusan Jurusan Bahasa Inggris IKIP Negeri Surabaya tersebut kini menjadi satu di antara segelintir dosen perempuan senior (level Lecturer C) di Universitas Flinders, Adelaide. Arief Budiman (65), yang mantan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, mengatakan, gajinya di Universitas Melbourne, Australia, cukup untuk membeli rumah di Melbourne seharga 180.000 dollar Australia (sekitar Rp 1,26 miliar) dan menyekolahkan dua anaknya, Adrian dan Santi Kusumasari, ke Amerika Serikat. "Tetapi beli rumah itu juga dicicil kok. Sekarang sih sudah lunas, tetapi untuk DP saja dulu ya sampai menjual rumah di Jakarta dan pinjam-pinjam ke bank," ujar peraih penghargaan Achmad Bakrie Awards 2006 untuk kategori Pemikiran Sosial. Perjalanan Arief hingga ke Melbourne sebenarnya diawali dari peristiwa yang menyakitkan. Tahun 1994, karena keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa yang menentang Presiden Soeharto, ia dipecat dari UKSW. Setelah itu pun melamar ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. "Ternyata Universitas Melbourne membalas lamaran saya pada 1997. Waktu itu ada tiga kandidat yang diwawancara untuk mengisi posisi profesor, dan saya lolos," kenang Arief. Saat ini sudah hampir 10 tahun Arief mengajar di Melbourne. Ada tiga mata kuliah yang ia ajarkan, yakni Bahasa Indonesia, Indonesian Political Economy, dan Islam and The State in Indonesia. Sama-sama mengajar di Australia, perjalanan yang ditempuh Firdaus (54) lebih panjang dan rumit. Lulusan Jurusan Bahasa Inggris IKIP Negeri Surabaya tersebut kini menjadi satu di antara segelintir dosen perempuan senior (level Lecturer C) di Universitas Flinders, Adelaide. Sejak melamar sebagai pengajar Bahasa Indonesia di Flinders pada 1989, butuh waktu tiga tahun sebelum Firdaus akhirnya diangkat sebagai dosen \ntetap. "Proses pengangkatannya cukup lama, harus melalui proses lamaran dan pembuktian kerja. Saat ini jumlah dosen wanita di sini tidak sampai 30 persen dari total jumlah dosen Lecturer C, karena sulitnya tantangan yang harus dihadapi oleh seorang wanita karir akademik," paparnya. Menurut Firdaus, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Australia Indonesia Association ini, fasilitas yang diberikan kepada dosen di sana cukup memadai, mulai dari ruangan tersendiri yang dilengkapi meja, kursi, filing cabinet, rak buku, AC, komputer, telepon, dan tentu saja akses internet. Seluruh keperluan administrasi juga terpenuhi, di luar gaji yang berkisar mulai dari 50.000 dollar Australia (Rp 350 juta) hingga 100.000 dollar Australia (Rp 700 juta) per tahun. Jadi siapa bilang tenaga kerja Indonesia itu harus diidentikkan dengan pembantu rumah tangga yang selalu tersia-sia itu..? Muhammad Syahreza PT. NOK Indonesia Plant Engineering Dept. Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135 Fax. : 021-898 0764 e-mail : [EMAIL PROTECTED] "voorprong van het achterlijkheid." Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah? Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil dan dimulai saat ini juga -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

