Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Republika, Selasa, 05 Desember 2006

http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19

Selanjutnya mari kita ikuti tesis-tesis El Fadl tentang kutub umat Islam 
kontemporer yang saling berhadapan. Pertama, kekuatan Islam puritan 
(sebutan lain dari fundamentalis), dan kedua, Islam moderat yang 
merupakan mayoritas mutlak dari sekitar 1,3 miliar umat Islam di muka 
bumi. Ada sebuah pertanyaan kunci yang dihadapkan kepada kedua kutub 
ini: Siapa yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan atas nama 
agama? Jawaban pertanyaan ini ternyata lebih sulit dari apa yang 
dibayangkan oleh sementara orang. Kedua kutub umat itu memberikan 
jawaban yang sungguh berbeda.

Dalam penilaian El Fadl, kaum puritan akan mengatakan bahwa itu adalah 
sebuah pertanyaan yang salah, sebab, “Bagaimana seseorang dapat 
membedakan antara sebuah agama dan tanggung jawab terhadapnya. Kaum 
puritan akan mengatakan bahwa agama tidak diwakili oleh apa pun selain 
teks dan ritualnya, dan para pengikut yang tulus akan membaca teks dan 
melaksanakan ritual.”

Sebaliknya golongan moderat akan mengatakan, “Posisi kaum puritan tidak 
saja naif, tetapi penuh masalah. Apa yang membuat suatu agama melebihi 
teks dan ritual, dan apa yang berlaku karena teks dan ritual bukanlah 
sebuah perwujudan penuh dari Ketuhanan. Tuhan dan kemauan Tuhan terlalu 
mulia dan luas untuk dapat dinyatakan oleh teks dan ritual. Tanggung 
jawab terhadap apa yang dilakukan manusia atas nama Tuhan mesti jatuh 
atas pundak umat manusia.” (Hlm 276).

Kedua kutub itu, “Sama-sama ingin sepenuhnya terikat dengan Tuhan. 
Keduanya tidak ingin menjalani hidupnya di bumi tanpa petunjuk Tuhan. 
Tetapi, apa yang membedakan puritan dan moderat cukup lebar --terutama 
yang bertalian dengan masalah amanah dan aksesibilitas (apa yang dapat 
diraih). Kaum moderat yakin bahwa Tuhan memberi kepercayaan kepada 
manusia dengan kekuatan nalar dan kemampuan membedakan antara baik dan 
buruk. Tetapi, amanah yang ditempatkan pada diri manusia itu begitu 
dahsyat --demikian dahsyatnya sehingga manusia dan hanya manusia saja 
yang bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Inilah yang pada 
gilirannya membenarkan tanggung jawab di Hari Akhir.

Amanah yang diletakkan pada diri manusia tidak hanya untuk menjalankan 
atau melaksanakan seperangkat perintah yang diberikan Tuhan kepada 
manusia. Tetapi, Tuhan menyediakan untuk manusia arahan dan tujuan, dan 
terpulanglah kepada manusia untuk menemukan hukum-hukum yang perlu dan 
layak.” (Ibid)

Di mana posisi kaum puritan? “Sebaliknya, kaum puritan tidak percaya 
bahwa amanah yang ditempatkan pada manusia demikian lebar dan kabur. 
Tuhan memberikan hukum kepada manusia, yang sebagian besar keadaannya 
bersifat khas dan rinci, dan memercayai mereka untuk melaksanakannya. 
Maka, anugerah Tuhan yang benar kepada manusia bukanlah kemampuan 
menalar tetapi kekuatan untuk memahami dan menaati. Tidaklah 
mengherankan kemudian, kaum puritan diyakinkan bahwa Tuhan mengurus 
masalah-masalah kecil urusan manusia dengan memberikan hukum-hukum 
konkret dan khas yang mengatur banyak dari apa yang dikatakan dan 
diperbuat manusia.”

Di mana pula posisi kaum moderat dalam masalah ini? “Kaum moderat 
memercayai sebaliknya: Sebagian besar masalah yang menyangkut persoalan 
manusia terserah kepada kebijaksanaan manusia yang dengannya mereka 
berbuat yang terbaik sejauh yang mungkin asal mereka mengamati garis 
pedoman moral yang umum.” (Ibid).

Masih ada beberapa perbedaan pendekatan dan pemahaman Islam antara dua 
kekuatan itu yang terekam dalam kesimpulan karya El Fadl yang tidak akan 
dibeberkan di sini.

El Fadl tidak menutup kemungkinan adanya pendekatan yang ketiga, tetapi 
memerlukan kajian tersendiri. Sekarang yang sedang berhadapan adalah dua 
kutub di atas. Pertanyaannya adalah: Mana di antara keduanya yang mesti 
diperkuat untuk mencapai tujuan Islam berupa rahmat bagi semua? Jelas El 
Fadl memilih jalan moderat, sebab hanya jalan inilah yang dapat membawa 
umat Islam mencapai tujuannya melalui cara-cara yang beradab, damai, dan 
manusiawi, tetapi tetap berpegang kepada prinsip yang diyakini, tidak 
boleh terombang-ambing dalam tarikan gelombang modernitas yang sekuler 
dan tidak adil.

Akhirnya, karya-karya El Fadl kini sedang serius dibicarakan di kalangan 
intelektual muda NU dan Muhammadiyah untuk dipakai sebagai salah satu 
rujukan penting dalam upaya memahami peta Islam kontemporer, baik global 
maupun yang bertalian dengan arus gerakan Islam di Indonesia. El Fadl 
telah memperkaya literatur Islam kontemporer dengan cara yang sangat 
bertanggung jawab.



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke