Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Jepang Pun Belajar dari India 

Sri Hartati Samhadi

Jika Anda berkunjung ke India, ada satu hal yang
langsung berkesan dan terasa membedakan India dengan
negara-negara lain. Suasana jalanannya.

Mobil-mobil lokal dengan model yang sudah lama sekali
menghilang di bagian dunia lain masih merajai jalanan.
Bukan saja di perkotaan, tetapi juga di wilayah
pinggiran.

Pemandangan itu sangat kontras dengan suasana di
kota-kota besar di negara Asia lain seperti Indonesia,
di mana mobil-mobil merek terbaru dunia sudah
berseliweran hanya beberapa waktu setelah diluncurkan,
termasuk jenis-jenis yang limited edition.

Di kota-kota besar India, mobil Ambassador, mobil
pertama yang diproduksi di India oleh Hindustan Motors
sejak 1957, dengan model, teknologi, dan interior yang
sudah sangat ketinggalan zaman, masih lalu lalang di
jalan, bahkan mendominasi jalanan. Umumnya untuk
taksi, dengan cat suram hitam dengan kombinasi merah
dan kuning.

Selain taksi, mobil Ambassador juga banyak dipakai
sebagai mobil dinas pejabat, termasuk Perdana Menteri
(PM) Manmohan Singh (juga PM-PM sebelumnya sejak India
merdeka tahun 1947) dan para menteri. Bedanya hanya
pada cat yang putih krem dan kelasnya. Armada
Ambassador yang dimiliki pemerintah sekarang ini lebih
dari 5.000 unit.

Namun, pemandangan Ambassador di jalanan ini mungkin
akan segera berakhir dan tak akan lagi bisa ditemui
beberapa puluh tahun lagi. Secara perlahan, keberadaan
mobil-mobil itu mulai tergusur oleh mobil-mobil mewah,
baik buatan produsen lokal, maupun Jepang, Korea,
bahkan Eropa, dan AS. Jumlahnya memang masih bisa
dihitung jari, namun semakin mengukuhkan kehadirannya,
terutama di pusat kota-kota besar yang menjadi
konsentrasi modal asing seperti Bangalore, Mumbai,
Delhi, dan Chennai.

Hal ini terutama karena pertumbuhan pesat ekonomi dan
industri otomotif di dalam negeri. Industri otomotif
dewasa ini mulai bangkit menjadi industri paling
berkembang dan kompetitif di India setelah teknologi
informasi (IT) dan farmasi.

Jika di industri IT hampir semua perusahaan dalam
jajaran Fortune 500 sudah menancapkan kaki di Sillicon
Valley-nya India, hal serupa juga terjadi di sektor
industri otomotif.

Apabila hingga tahun 1982 baru ada tiga pabrikan
Hindustan Motors, Premier Automobiles, dan Standard
Motors dewasa ini total terdapat 12 pabrikan kendaraan
penumpang, lima pabrikan kendaraan serba guna (MUVs),
9 pabrikan kendaraan niaga, 12 pabrikan kendaraan roda
dua, 4 pabrikan kendaraan roda tiga, 14 pabrikan
traktor, dan 5 pabrikan mesin.

Liberalisasi pasar tahun 1991 melalui License Raj dan
liberalisasi tahun 2002 yang antara lain ditandai oleh
diizinkannya penanaman modal asing 100 persen dan
dihapuskannya tarif impor, membuat industri mobil
India kian berkembang pesat dan kompetitif.

Hampir semua produsen mobil terkemuka dunia sudah
membangun fasilitas produksi di India dan menjadikan
negara itu sebagai pusat produksi mereka untuk
memenuhi pasar lokal maupun ekspor. Total investasi di
sektor ini sudah mencapai 50.000 crore rupee (setara
11,218 miliar dollar AS).

Raksasa mobil Jepang Suzuki Motor Corporation sudah
menetapkan target ambisius mengekspor 40 persen dari
total produksinya atau 400.000 kendaraan pada tahun
2010 dari pabrik-pabriknya yang ada di India.

Hyundai Motor Company tak mau kalah, dengan target 50
persen ekspor atau 300.000 kendaraan juga dari India.
Hyundai menargetkan sudah menyalip Suzuki dalam tiga
tahun ke depan.

Dari pabriknya di India, Hyundai, seperti dikatakan
Vice President Sales and Marketing Hyundai Motor India
Arvind Saxena dikutip Society of Indian Automobile
Manufacturers (SIAM), sudah mengekspor ke lebih dari
60 negara, termasuk Eropa, Afrika, Timteng, Amerika
Latin, dan Asia.

Mereka juga membidik pasar Australia dan Selandia
Baru. Hyundai yang investasinya di India sudah
mencapai 911 juta dollar AS merencanakan investasi 40
juta dollar lagi untuk mendirikan pusat riset dan
pengembangan di Hyderabad atau Chennai

Maruti Udyog sebagai market leader (55,8 persen) yang
memproduksi mobil Alto, WagonR, Zen, dan swift sudah
menjadi pemasok mobil-mobil kecil Alto ke Perancis,
Inggris, dan Belgia di bawah merek Suzuki sejak lama.
Perusahaan yang sebagian besar kepemilikan sahamnya
berada di tangan Suzuki Motor Corporation ini
menargetkan peningkatan produksi menjadi 1 juta unit
pada 2010, dari 630.000 unit per tahun sekarang ini.

Perusahaan itu kini sedang membangun fasilitas
produksi kedua dan ketiganya setelah Gurgaon untuk
mendukung target ini.

Ekspansi di India ini bagian dari strategi global
Suzuki produsen keempat terbesar Jepang setelah Toyota
Motor, Honda Motor, dan Nissan Motor yang menargetkan
produksi global 3 juta unit tahun 2009, 1,24 juta di
antaranya produksi di Jepang dan 1,76 juta lainnya
produksi di luar negeri.

Toyota sendiri mengonsentrasikan diri menggarap segmen
pasar mobil kecil. Sementara Honda sudah mengungkapkan
rencana investasi 30 miliar rupee (setara 672,9 juta
dollar AS).

Produsen-produsen besar mobil AS tak mau ketinggalan
kereta dalam eforia ini. General Motors yang
merencanakan memindahkan semua aktivitas produksinya
ke luar negeri dan menutup pabrik di tanah air juga
merencanakan menggelontorkan investasi 12,5 miliar
rupee (setara 280 juta dollar AS) di Negara Bagian
Maharashtra dengan sasaran meningkatkan produksi
menjadi dua kali lipat di India.

Industri mobil lokal juga tak mau kalah. Liberalisasi
memaksa mereka berbenah diri melalui inovasi-inovasi
produk baru dan perbaikan pelayanan. Dalam penjualan
domestik, perusahaan seperti Tata Motors dan Mahindra
& Mahindra bahkan bisa mengalahkan pesaing seperti
Toyota, Honda, Hyundai, dan lainnya.

Dalam daftar The Most Respected Companies versi The
Business World, bukan nama-nama besar dunia yang ada
di posisi atas, tetapi justru produsen lokal, yakni
tata Motors (1), Mahindra & Mahindra (2), dan Bajaj
Auto (4). Posisi ketiga dan kelima baru Maruti Udyog
dan Hero Honda. Bigboys asal AS seperti GM atau Ford
bahkan tak bisa bicara banyak di India.

Mengapa perusahaan-perusahaan lokal mampu meredupkan
pamor bigboys global seperti Honda, Suzuki, Toyota,
Hyundai, General Motor, Ford, atau yang lain?
Alasannya, karena produsen lokal ternyata juga mampu
mengembangkan desain dan rekayasa model mobil mereka
sendiri.

Gebrakan bukan hanya di dalam negeri. Di pasar luar
negeri, Tata, Mahindra & Mahindra, dan Bajaj Auto juga
sibuk menggarap global business franchise mereka dan
mengubah strategi ekspor menjadi strategi bisnis
internasional.

Hal ini dilakukan dengan mengakuisisi atau masuk ke
pasar yang belum banyak digarap oleh perusahaan mobil
besar negara-negara maju, tidak hanya di Asia, tetapi
juga Afrika, Rusia, dan negara-negara bekas Uni Soviet
(CIS) dan Amerika Latin.

Dengan kapasitas produksi sekitar 10 juta unit per
tahun sejak 1993 (lebih dari 150 model dan varian),
India dewasa ini adalah pabrikan kendaraan roda dua
terbesar kedua di dunia, pabrikan kendaraan niaga
kelima terbesar dunia, dan produsen terbesar traktor
dunia, produsen keempat terbesar kendaraan penumpang
di Asia, dan pasar terbesar kendaraan roda tiga dunia.

Otomotif India juga semakin mendapat pengakuan di
pasar global. Tahun lalu, ekspor total semua produsen
mobil dari India mencapai 1.170.193 mobil. Ekspor dua
produsen mobil terbesar, Suzuki dan Hyundai, saja akan
mencapai 700.000 unit tahun 2010.

Jika pasar ekspor mobil India sebelumnya hanya
negara-negara tetangganya seperti Sri Lanka, Pakistan,
Banglades, Nepal, Bhutan, atau Afrika timur dan
selatan, kini mereka juga mengincar pasar lain,
termasuk Eropa, terutama untuk segmen mobil kecil.

Di pasar dalam negeri, India juga mencatat peningkatan
angka penjualan mobil sebesar 22,4 persen dan
penjualan sepeda 25 persen, september lalu saja.
Hampir semua produsen mencatat kenaikan angka
penjualan dan hampir semua produsen berproduksi pada
tingkat utilisasi 100 persen. Beberapa seperti Maruti
bahkan di atas 100 persen. Turnover industri ini
melonjak dari 423 miliar rupee tahun 1999-2000 menjadi
836 miliar rupee tahun 2004-2005.

Dengan efek pengganda (multiplier effects) dan kaitan
ke depan dan ke belakangnya (forward and backward
linkage)-nya yang panjang, industri otomotif memainkan
peran sangat vital sebagai lokomotif pertumbuhan
ekonomi. Sumbangan ke PDB meningkat dari 2,77 persen
tahun 1992-1993 menjadi 4 persen tahun 2003-2004.

Industri otomotif juga mempekerjakan langsung 450.0000
pekerja dan menciptakan lapangan kerja tak langsung 10
juta. Produksi mengalami pertumbuhan di atas 15 persen
per tahun dalam tiga tahun terakhir dan ekspor tumbuh
56-66 persen.

PricewaterhouseCoopers dalam Global Automotive
Financial Review memperkirakan, pasar mobil penumpang
domestik di India akan tumbuh 51 persen hingga 2010,
dari 750.000 kendaraan tahun 2000 menjadi 1,9 juta
tahun 2010. Prediksi optimistis bahkan meningkat dua
kali lipat dalam 3-4 tahun.

Perusahaan konsultasi AS, Keystone, yang merupakan
anak perusahaan LaSalle Consulting Associates,
memperkirakan India sudah akan menjadi pasar otomotif
terbesar ketiga di dunia pada 2030, setelah China dan
AS, dengan volume penjualan di China diperkirakan 62
juta unit, AS 23 unit, dan India 20 juta unit (dengan
pertumbuhan 6 persen per tahun, dari yang hanya 1 juta
tahun 2004).

China diproyeksikan menjadi pasar kendaraan motor
terbesar menyalip AS dan India, serta Jepang pada
2007. Waktu itu, rasio kepemilikan mobil di
negara-negara maju diperkirakan di atas 600 mobil per
1.000 orang, sementara di China dan India
masing-masing 14 dan 8 kendaraan per 1.000 orang. Ini
artinya, pasar masih bisa terus tumbuh. Dalam 25 tahun
ke depan, angka ini diperkirakan meningkat menjadi 380
dan sekitar 140 mobil per 1.000 orang.

Peningkatan ini sejalan dengan meningkatnya daya beli
masyarakat dan warga kelas menengah India, selain juga
beberapa faktor lain seperti perekonomian yang lebih
stabil, meningkatnya urbanisasi, meningkatnya
kecenderungan kepemilikan mobil kedua di perkotaan,
dan masih rendahnya rasio kepemilikan mobil di India
saat Ini (6 per 1.000 mobil), ekspansi fasilitas
pembiayaan untuk pembelian mobil dengan suku bunga
yang juga relatif lebih rendah.

Sebagian konsumen yang kini baru mampu menjangkau
kendaraan roda dua akan berpindah ke roda empat. Saat
ini, kendaraan roda dua masih menyumbang 77 persen
dari produksi industri otomotif India. Dalam empat
tahun ke depan, produksi mobil diperkirakan meningkat
lebih dari dua kali lipat menjadi 3 juta unit
dibandingkan sekarang, dengan investasi yang akan
digelontorkan perusahaan- perusahaan mobil mencapai
120 miliar rupee (setara 2,7 miliar dollar AS).

Entah hanya pujian basa-basi untuk India atau
peringatan serius untuk industri otomotif Jepang,
pimpinan Toyota Motor Corp Okuda Hiroshi, dalam sebuah
forum di New Delhi, November 2005, pernah mengatakan,
perusahaan otomotif India dan China kemungkinan akan
segera mengambil alih/menggusur posisi Jepang karena
mereka semakin fokus pada kualitas.

Perusahaan-perusahaan Thailand dan India terus
mengejar. Kekhawatiran saya, Jepang akan segera
disalip, ujar Okuda Hiroshi yang juga ketua Nippon
Keidanren, pelobi korporasi Jepang di forum
internasional.

Pengakuan terhadap India juga disampaikan Chairman dan
CEO Suzuki Motor Corporation Osamu Suzuki. Sukses
Maruti menguasai pasar domestik mendorong Osamu datang
ke India untuk mempelajari trik para dealer India
dalam menjual mobil.

Ia sengaja membawa serta 2.400 dealer Suzukinya dari
Jepang untuk berguru. Sepanjang 2005, 300 dealer
Maruti di India sukses menjual 516.000 unit mobil,
sementara 3.500 dealer Suzuki di Jepang hanya mampu
menjual 700.000 unit mobil.

Menurut Okuda, perusahaan-perusahaan Jepang sekarang
ini tak lagi fokus pada perbaikan kualitas, padahal
pesaing termasuk dari India terus mengejar.

Ia mencontohkan, dalam beberapa tahun terakhir tidak
ada satu pun perusahaan Jepang yang berhasil
memenangkan penghargaan Deming yang diberikan oleh
Deming Committee of Union of Japanese Scientist and
Engineers. Penghargaan itu terus dimenangi oleh
perusahaan-perusahaan otomotif India, seperti TVS
Motor Co dan Rane TRW Steering System Ltd.

Menurut Okuda Hiroshi, selama ini Toyota bisa menjadi
produsen mobil paling menguntungkan di dunia karena
kemampuan memproduksi mobil dengan biaya rendah.
Belakangan, India muncul sebagai pusat manufaktur
murah untuk kendaraan dan komponen kendaraan. DHL
dalam tinjauan pasar awal tahun ini juga meyakini,
tidak lama lagi sektor otomotif India bakal menjadi
pesaing bagi Jerman, Korsel, dan Jepang.

Benarkah India sudah sedekat itu untuk menjadi pesaing
Jepang, Jerman, dan Korsel? Industri otomotif lokal
India melihat ini sebagai suatu tantangan yang layak
dijawab dengan kerja keras, dan dengan kepercayaan
diri India yang semakin kuat, hal itu bukan sesuatu
yang tidak mungkin, sebagaimana mereka buktikan di IT
dan farmasi.

Sumber :
Kompas.com

Muhammad Syahreza
PT. NOK Indonesia
Plant Engineering Dept.
Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135
Fax. : 021-898 0764
e-mail : [EMAIL PROTECTED]

"voorprong van het achterlijkheid."
Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami
orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi

Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah
berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah?

Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas

Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal
yang terkecil dan dimulai saat ini juga
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke