Tolong dibaca aturan di footer dibawah --------------------------------------
Membangun India Inc Lewat Akuisisi Global Sri Hartati Samhadi Siapa yang tak kenal Infosys, Winpro, dan Tata Consultancy Services? Beberapa tahun lalu, mereka lebih banyak dikenal sebagai jago kandang. Nama mereka menjadi besar dan mendunia sejalan dengan bangkitnya India sebagai kekuatan industri teknologi informasi global. Itu di sektor IT. Di farmasi, ada nama-nama seperti Ranbaxy, Dr Reddy’s, Wockhardt, Cipla, Nicholas Piramal, Lupin Laboratories, Sun Pharmaceutical Industries, dan masih banyak lagi. Di industri otomotif ada Hindustan Motors, Tata Motors, Mahindra & Mahindra, Bajaj Auto, Bharat Forge, dan seterusnya. Mereka ini bersama sederet panjang pemain besar di sektor industri lain membuat barisan rapat sebagai ujung tombak penting India Incorporation dewasa ini. Mereka membuktikan bukan hanya tangguh dalam persaingan di pasar domestik, tetapi juga di pasar global. Melalui serangkaian akuisisi agresif terhadap perusahaan-perusahaan di berbagai benua, termasuk di negara-negara maju, terutama AS dan Inggris, konglomerat-konglomerat ini terus merangsek ke atas di jajaran pemain-pemain besar dunia. Termasuk di industri teknologi tinggi dan industri berbasis pengetahuan (knowledge-based) lain yang dulu menjadi monopoli negara-negara maju. Mereka menjadi pesaing kuat para pemain lama dari negara-negara maju yang tak mampu bertahan kompetitif dalam persaingan global. Di antara kelompok-kelompok usaha besar India, yang tergolong paling agresif melakukan langkah akuisisi atau merger di arena internasional adalah Tata, Ambani, dan Essar. Ekspansi dan internasionaliasi (going global), seperti kata Vice President Transformation TCS PS Viswanathan dan Senior General Manager Corporate Communication Pradipta Bagchi dalam wawancara dengan Kompas di markas Tata Consultancy Services (TCS) di Andhery, Bombay, Juni lalu, sudah menjadi bagian penting dari strategi global Tata. Jumlah perusahaan India yang investasi keluar terus bertambah menyusul sukses akuisisi anak perusahaan Tata Group, Tata Tea, atas perusahaan teh Inggris, Tetley Tea, senilai 430 juta dollar AS tahun 2001, yang menjadikan Tata Tea sebagai perusahaan teh terbesar kedua dunia. Selama periode 2001-2003 sudah terjadi akuisisi terhadap 120 perusahaan di luar negeri dengan nilai total transaksi 1,6 miliar dollar AS oleh perusahaan-perusahaan India. Dalam delapan bulan pertama 2005, menurut data KPMG, terjadi lagi akuisisi terhadap 62 perusahaan asing dengan nilai transaksi 1,7 miliar dollar AS. Fokus tujuan investasi keluar perusahaan- perusahaan India ini terutama adalah Amerika Serikat, Rusia, Mauritius, Inggris, dan Sudan. AS menjadi tujuan investasi paling menarik bagi korporasi India, menyerap sekitar seperempat dari total investasi India dalam sepuluh tahun terakhir, disusul Inggris dan British Virgin Island. Banjir dollar Menurut Sekretaris Regional Kamar Dagang India-Amerika di Chennai, DV Venkatagiri, ada beberapa faktor yang memicu demam akuisisi oleh perusahaan India. Pertama, membanjirnya valuta asing di dalam negeri sebagai akibat kebijakan liberalisasi ekonomi yang ditempuh pemerintah sejak 1991 (License Raj), yang memungkinkan korporasi India melakukan mobilitas keluar. Sumber suplai dollar ini antara lain peningkatan cadangan devisa India, dari tak sampai 1 miliar dollar AS pada tahun 1991 menjadi 156 miliar dollar AS pada Juli 2006. Kedua, berbagai hambatan regulasi yang semula menjadi penghalang bagi korporasi India untuk berkiprah di luar (selain ekspor) juga sudah dicabut. Pada Januari 2005, misalnya, pemerintah mencabut batasan investasi ke luar negeri sebesar 100 juta dollar AS yang sebelumnya diberlakukan pada perusahaan lokal. Begitu juga, larangan bagi perbankan untuk membiayai akuisisi ekuitas di luar negeri juga dicabut oleh Bank Sentral (Reserve Bank of India/RBI). Alasan lain adalah adanya perubahan besar cara pandang (mindset) kalangan korporasi India sendiri. Karena terus dihadapkan pada kondisi persaingan yang semakin sengit, mereka juga semakin matang dan percaya diri. Menurut S Majumder dari JETRO New Delhi, motif korporasi India untuk going global berbeda dengan China. Perusahaan-perusahaan China sangat agresif melakukan merger dan akuisisi perusahaan asing, lebih untuk memantapkan citra merek (brand image) produk manufakturnya dan memenuhi kebutuhan akan sumber daya alam dan mineral yang sangat besar di dalam negerinya. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan India lebih untuk merebut pangsa pasar industri berbasis pengetahuan (knowledge-based industries) yang lebih besar secara global. Ini pula motif utama di balik akuisisi Wipro terhadap perusahaan IT dari AS, Nerve Wire Inc, dan akuisisi Supersolution Corporation (juga dari AS) oleh i-flex Solutions. Ambisi menjadi perusahaan multinasional (MNCs) dan merebut pangsa pasar lebih besar di pasar industri berbasis pengetahuan antara lain ditunjukkan oleh banyaknya perusahaan India (sekitar 170 perusahaan saat ini), yang sudah mendirikan kantor pemasaran atau pusat riset di AS. Di Singapura, lebih dari 450 perusahaan teknologi yang ada di sana adalah perusahaan asal India. Di sektor farmasi, fenomena going global antara lain ditunjukkan akuisisi oleh Ranbaxy (perusahaan farmasi nomor satu India) terhadap perusahaan farmasi Rumania, Terapia, dan akuisisi Dr.Reddys (perusahaan farmasi kedua terbesar India) terhadap perusahaan farmasi Jerman, Betapharm. Fenomena going global industri farmasi India juga ditandai oleh meningkatnya pengajuan aplikasi izin untuk menjual obat-obatan dalam bentuk curah di pasar AS oleh perusahaan-perusahaan farmasi India kepada Food and Drug Administration (FDA). Selama 1998-2003, dari semua aplikasi yang masuk ke FDA, aplikasi oleh perusahaan farmasi India meningkat dari 1,8 persen menjadi 6,2 persen. Sejauh ini, menurut laporan Assocham, akuisisi terbesar oleh perusahaan India masih terfokus pada sektor IT. Sekitar 17 persen dari total nilai akuisisi yang terjadi pada delapan bulan pertama 2005 adalah di sektor IT. Disusul akuisisi di sektor perbankan dan asuransi 13 persen; farmasi 13 persen; barang konsumsi cepat berubah (FMCG) 8 persen; mesin dan telekomunikasi 4 persen; rekayasa, logam, otomotif, dan tekstil masing-masing 3 persen; kertas 2 persen; infrastruktur, hotel, pengepakan dan kimia masing-masing 1 persen. Selain mewujudkan ambisi menjadi MNCs, investasi keluar juga menjadi sarana untuk menggenjot ekspor dan membangun brand image domestik seperti dilakukan perusahaan-perusahaan Korsel Hyundai, LG, Samsung, dan lain-lain. Investasi keluar oleh perusahaan India meningkat dari hanya 600 juta dollar AS pada tahun 1995/1996 menjadi 7 miliar dollar AS pada tahun 2004/2005. Akuisisi di kalangan perusahaan IT, menurut Venkatagiri, di antaranya adalah akuisisi Flex oleh Castek Software, akuisisi Stay Top Inc oleh Goldstone Technology Ltd, dan vMokhsa oleh Helios. Di bidang perbankan dan jasa keuangan di antaranya akuisisi ICICI Bank terhadap Investitsionno Kreditny Bank dari Rusia, akuisisi SBI terhadap Mauritius Bank dan merger Bank of Punjab dengan Centurion Bank. Di bidang asuransi akuisisi terbesar dilakukan oleh CLSA Merchant Bankers terhadap 4,9 persen kepemilikan saham perusahaan Inggris, Standar Life, di HDFC seharga 1.018 crore rupee (10,180 miliar rupee atau setara dollar AS). Di sektor farmasi, akuisisi dengan nilai terbesar dilakukan oleh Matrix Laboratories terhadap 22 persen saham Docpharma dari Belgia senilai 623 juta dollar AS. Akuisisi di sektor lain adalah akuisisi perusahaan suku cadang mobil dari AS, Amtec Precision Products Inc oleh UCAL Fuels senilai 28 juta dollar AS, dan akuisisi sebuah pabrik bubur kertas Kanada oleh Aditya Vikram Birla Group. Itu belum menyebut akuisisi oleh warga keturunan India yang sudah tidak lagi tinggal di India. Termasuk akuisisi (hostile takeover) oleh Lakshmi N Mittal terhadap perusahaan baja terbesar Eropa, Arcellor, awal 2006, yang menjadikan Mittal Steel sebagai industri baja terbesar dunia. Seperti tungku raksasa yang menggelegak, India terus mencetak calon-calon perusahaan multinasional baru yang kiprahnya menjadi tonggak yang kian melapangkan jalan bagi India menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Sumber: Kompas.com Muhammad Syahreza PT. NOK Indonesia Plant Engineering Dept. Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135 Fax. : 021-898 0764 e-mail : [EMAIL PROTECTED] "voorprong van het achterlijkheid." Orang bisa melompat maju tanpa perlu mengikuti irama pengalaman yang dialami orang lain tapi dengan belajar meniru menggunakan kemajuan teknologi Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah berubah? Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah? Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang terkecil dan dimulai saat ini juga -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

