Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------

Sidang palanta Yth:
  Bagi yang berkeinginan nonton masih bisa.
  kalau mau informasi tambahan kontak Edi Utama 0811660108
   
  Pentas Musik Talago Buni, 
  Spirit Musik Tradisi Minang 
  Kompas, Jumat, 08 Desember 2006
   
  Musik tradisi saluang, rabab, bansi, sarunai, dan gandang tasa, serta gandang 
tambua sudah menjadi hal yang biasa di ranah Minangkabau, Sumatera Barat. Kaba 
yang didendangkan dengan iringan salah satu musik itu, dipastikan bisa memukau 
dan menggelitik wilayah estetika pendengarnya. Namun, bagaimana kalau instrumen 
musik itu digabung dan saling "derdialog", bersinergi satu sama lain?
   
  "Sentuhannya begitu mendalam. Memukau. Ada kekuatan musikal baru. Inilah 
spirit musik tradisi Minang, yang diramu dalam komposisi-komposisi indah, 
menarik, yang selalu dipertahankan Talago Buni," kata Musra Katik Darizal, 
seniman tradisi terkemuka Sumatera Barat, seusai pertunjukan, Selasa (5/12) 
malam, di Gedung FBSS Universitas Negeri Padang. 
   
  Talago Buni memang baru untuk pertama kali tampil di hadapan publiknya 
sendiri, di Kota Padang. Padahal, tujuh tahun lalu, tahun 1999, ketika tampil 
dalam berbagai festival musik internasional di Jerman, kelompok musik 
kontemporer Minangkabau yang dipimpin budayawan Edy Utama ini memukau banyak 
peserta dan pengunjung festival. CD mereka yang dibuat dan diproduksi seniman 
Jerman, ketika itu habis terjual. 
  Dari tujuh komposisi yang ditampilkan, setidaknya ada empat komposisi yang 
tak henti-hentinya mendapat aplaus penonton justru ketika pertunjukan masih 
berlangsung. Padahal, sedari awal sudah diingatkan agar aplaus diberikan seusai 
pertunjukan suatu komposisi. 
   
  "Ternyata penonton tak sabaran memberikan pujian dengan tepukan tangan itu," 
ujar Sekretaris Dewan Kesenian Sumatera Barat Nasrul Azwar. 
   
  Dalam komposisi Pupuik Lambok karya Susandra Jaya, misalnya, lagu-lagu indang 
digarap dengan sentuhan melodi-melodi alat tiup sanunai dan pupuik. Bahkan, 
penggarap juga menjelajahi berbagai melodi melalui sarunai dan pupuik (alat 
tiup yang sudah dimodifikasi) yang digabungkan dengan kecapi dan biola serta 
gendang jin.
   
  Setelah hanyut dalam kemerduan, komposisi Ratok Pasisie karya Rafiloza mulai 
menusuk relung hati. Ciri khas genre musik ini adalah membawakan kaba atau 
cerita sambil didendangkan dalam beberapa melodi dendang Sikambang yang 
bernuansa sedih atau pilu (ratok). Komposisi ini digarap dengan menggunakan 
rebab dan biola sebagai instrumen utama dan rebana kecil (rapa’i) sebagai 
pengayaan. 
  Bersumber pada tradisi 
   
  Talago Buni cukup cerdik menyiasati penampilan. Di bagian- bagian akhir, 
ditampilkan komposisi dengan tempo tinggi dan energik. Lihatlah, misalnya, 
Basiginyang karya Asril Muchtar. Komposisi ini bersumber dari spirit rutmikal 
gandang tambua Pariaman yang dinamis dan energik. Berbagai karakter pola ritme, 
baik yang bersumber dari tradisi maupun yang diolah sendiri, ditata apik dengan 
memunculkan spirit dinamis dan energik. Juga ditingkahi suara gendang dan vokal 
sentimental. 
   
  Klimaksnya pada Ginyang Karamolai karya M Halim. Komposisi ini menggarap 
unsur-unsur eksplorasi ritme dari bunyi nonmusikal beberapa pasang tangkelek 
(sandal kayu/bakiak), yang dimainkan dengan berbagai pola ritme yang berbeda, 
lalu diperkuat dengan beberapa gendang, canang, dan sarunai. Agar tidak 
terkesan terlalu ritmik, penggarap menghadirkan dendang Indang Ramolai dan 
Sikudarang Rabab Piaman. 
  Menurut Edy Utama, dari 20 lebih komposisi musik Talago Buni umumnya 
terinspirasi oleh spirit repertoar musik tradisi yang berkembang di daerah 
pesisir Minangkabau, yang memiliki karakter musikal yang unik dan beragam. 
   
  "Spirit musik tradisi Minang dan khususnya pada kekuatan musikal, terkandung 
sumber yang sangat potensial untuk digarap menjadi karya-karya musik baru," 
jelasnya. 
  Kelompok musik kontemporer Talago Buni, ketika setahun berdiri, telah tampil 
di berbagai festival musik internasional. Tahun 1999 mereka tampil di Breminale 
Festival di Bremen, Jerman; Orangeria di Koln, Jerman; Magdeburg Universiteit, 
Jerman; Expo Cafe Festival, Hannover, Jerman; Rossini in Wildbad, Bad Wilbad, 
Jerman. 
  Mereka juga tampil pada Sacred Rhytim, Millenium Percussion Festival di Bali 
(2000); JakArt Festival, International Arts Cultural and Educational Festival, 
Jakarta (2002); Bali World Music Festival di Bali 2002; dan menggelar 
pertunjukan di Bentara Budaya Jakarta (2003). Festival Ala Carte, JakArts 
Festival, Arts Cultural and Educational Festival di Bandung-Bali tahun 2004, 
dan International Word Music Festival di Riau (2006). 
   
  Seusai pentas di Padang, Talago Buni tampil di Surabaya (7 Desember), 
Semarang (9/12), Yogyakarta (11/12), dan Jakarta (15/12). (YURNALDI

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke