Tolong dibaca aturan di footer dibawah --------------------------------------
Pariwisata memang solusi tepat untuk meningkatkan PAD dan perekonomian masyarakat Sumbar mengingat kita tidak mempunyai sumber daya alam yang layak seperti daerah lain. Di Bukittinggi setelah kunker selesai rombongan tersebut berbelanja, kalau nggak salah 1 org berbelanja oleh2 sekitar Rp. 2-3 jt mulai dari makanan sampai pakaian. Cuma sangat disayangkan sifat masyarakat yang tidak begitu menghargai tamu dari luar (tidak ramah/karengkang) mulai dari BIM sampai ke pasar (pusat perekonomian) untung saya membawa rombongan yang dikawal. Saya mengusulkan kepada Pemda agar perlu ditertibkan premanisme yang ada di Sumbar atau diberi kursus kepribadian kepada stakeholder yang terlibat dalam kepariwisataan mulai unsur dari bawah sampai ke atas. Nah apalagi yang kita tunggu!!! Pariwisata Sumbar menjadi salah satu PAD kita. hendri jhon" <[EMAIL PROTECTED]> Tanggapan: Saya orang Minangkabau yang secara administrasinegara bukan penduduk (warga) Sumbar, ikut serta dalam mailing list Minang ini karena masih percaya pada petuah moyang yang menyebutkan: nan baiak ditarimo jo mufakat, nan buruak ditulak jo etongan, bajalan samo mairiang, baiyua samo maisi. Lalu kalau bukan penduduk/warga/orang Sumbar, apa urusannya ikut-ikutan tidak menyetujui (ataupun mendukung) kebijaksanaan pembangunan di Sumbar?. Apapun yang dilakukan oleh pemerintah di Sumbar pasti akan mempengaruhi sifat, perilaku kamanakan kamanakan di kampuang (mereka ini, suatu saat akan datang masanya pindah menjadi orang Indonesia di daerah lainnya, dan orang lain itu akan menyebut mereka sebagai orang Minang atau orang Padang dan tidak disebut sebagai orang Sumbar. Lain halnya bila dia pindah ke Eropa atau Amerika, penduduk di sana tak akan menyebutnya sebagai orang Padang atau orang Minang, tapi mungkin menyebutnya sebagai orang Asia). Jika mengikuti petuah lainnya yang berbunyi rumpuik sahalai alah bamiliak, tanah sabingkah alah bapunyo, malu nan alun dibagi lai, maka saya masih memiliki rasa malu apabila kamanakan-kamanakan yang datang dari Sumbar tersebut bertingkah tidak sesuai dengan adat Minang yang diwariskan moyang kita (apa hal ini pernah dijumpai? Silakan tanya pada yang lainnya). Sebaliknya apabila orang Sumbar berprestasi, apakah saya ikut-ikutan bangga, jawabnya belum tentu!; tergantung dari situasi dan kondisinya! Contohnya begini: Saya ini atlet dari DKI atau dari Papua bertanding melawan atlet dari Sumbar bukan orang Minang pula (4 syaratnya disebut orang Minang), apakah saya akan bangga seandainya saya kalah bertanding!. Dalam mailing list terdahulu saya menyebutkan jenis-jenis pembangunan yang mungkin tidak akan mendapat dukungan dari orang Minang, yaitu bidang pariwisata dan bidang industri barang konsumtif. Kedua bidang tsb. membutuhkan jasa pelayan, buruh yang bersedia diperintah oleh bos dengan aturan ketat, dan hal semacam ini tidak sesuai dengan budaya orang Minangkabau. Jauh sebelumnya, pemerintah kolonial Belanda telah mengidentifikasi sifat semacam ini dan menuliskannya di dalam arsip-arsip peninggalan mereka. Perihal baik atau buruknya sifat semacam ini tidak usah kita bahas di sini. Pemerintah Sumatera Barat (kabupaten&provinsi) berupaya mempromosikan kedua bidang tersebut dengan mengeluarkan biaya besar (termasuk SDMnya) untuk mengikuti irama gendang pembangunan model pemerintah Pusat Indonesia. Kedua bidang tersebut dianggap mampu menyediakan/menampung tenaga kerja dan menghasilkan devisa secara instan. Rupanya yang dianggap tenaga kerja oleh pemerintah kita hanyalah orang-orang yang bersedia bekerja di sektor formal saja seperti menjadi buruh, kuli, pegawai, tkw atau pengasuh anak di rumah tangga wanita karir dst. Kegagalan manajemen pemerintah Soekarno dan Suharto selama ini, ialah mengabaikan sifat budaya lokal, seolah-olah sifat WNI keturunan cina yang pernah dimanjakan penjajah Belanda sama saja dengan orang Minang atau suku Minang sama saja dengan suku lainnya di Indonesia ini. Lalu dengan cara apa yang cocok untuk membangun Sumbar saat ini? Jawabannya sesuaikanlah dengan masalahnya serta sifat budayanya. Apesnya, kata budaya ini telah dikawinkan pula dengan kata seni dan pariwisata oleh pakar-pakar penguasa Indonesia yang berbudaya J! sehingga tehnologi dan (+ informasi) tidak termasuk urusan budaya oleh pemerintah kita. Tentang masalah besar yang ada, sudah saya tulis dan buatkan animasi sejelas-jelasnya berdasarkan kutipan data dari Unicef dan Unand di situs nagari.org. Secara budaya tak ada orang Minang yang mau disebut miskin, Rumah buruak ja-an sampai tampak dek urang maliang, Mambuhua ja-an badungkua, Mauleh ja-an mangasan, Paham ja-an sampai tajua, Budi ja-an sampai tagadai. Moyang kita telah mengingatkan perilaku maling yang sangat senang menyatroni rumah buruak. Bukankah rumah buruak dalam bentuk bencana alam, kemiskinan, kekacauan dsb. sengaja dipamerkan sehingga dijadikan lahan empuk untuk mengumpulkan dana/bantuan untuk selanjutnya dikorupsi dengan mudah. Pemerintah R.I. mengajar rakyatnya untuk berbondong-bondong bersedia didaftar menjadi miskin. Jaman sekarang ini, apapun yang disebut kemajuan (menurut awam memiliki banyak $ /materi) tak akan bisa diraih apabila tanpa pendidikan yang bermutu ! 1. Tak akan tercapai pendidikan bermutu apabila masalah gizi balita tidak diselesaikan. Biarpun sekolahnya bagus, tapi bila kerusakan otak telah terjadi ketika balita, maka hasil pendidikan yang diberikan tidak akan optimal. 2. Selanjutnya untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu diperlukan dana yang terencana. Koperasi atau kegotong-royongan adalah sifat dasar orang Minangkabau untuk menghimpun dana. 3. Lalu kalaulah padat betul penghuni kampuang dan susah hidup di nagari, silakan sebagian pergi merantau mancari penghidupan di negeri orang. 4. Bila sudah berhasil, kirimlah pitih ka kampuang atau kembali menetap di kampuang/pensiun. Bila gagal di rantau tentu malu kita mau pulang, lebih baik melebur saja di rantau. Bencmark pembangunan untuk masyarakat yang berbudaya Minang, kalau bisa ambo manyabuikkannyo ialah masyarakat nagari Koto Gadang atau masyarakat nagari Sulit Aie. Tinggal lagi bagaimana menambah hal-hal yang masih kurang pada kedua contoh komunitas tsb. Karena kota-kota besar kini tak lagi bersedia menerima pekerja informal, maka perantau dari kampuang haruslah memasuki bidang pekerjaan formal pula di negeri orang (bukan di kampuang sendiri!). Negara negara kaya di Arab, Australia, Eropa, USA, Canada masih sangat membutuhkan Tenaga Kerja Professional yang berkemampuan. Untuk itu perlu inovasi cara merantau baru yang cocok dengan budaya Minangkabau (TKI minang). Inilah yang seharusnya perlu dibantu oleh Pemda, bukan memfasilitasi KDI di kampuang agar banyak wisatawan yang mengunjungi SB dan berkembangnya industri rekaman orkes dangdut. Meningkatkan PAD bukanlah urusan masyarakat untuk memikirkannya. Seberapapun pendapatan/peningkatan PAD tak akan bermanfaat bagi rakyat, apabila dikelola oleh aparat yang tidak produktif apalagi koruptif. Ingat kasus wakil-wakil rakyat / DPRD periode yl. yang digaji dengan uang PAD. Secara budaya yang mengendalikan masyarakat hanya empat golongan di Minangkabau yaitu pangulu-pamangku adat, cadiak-pandai, alim-ulama, bundo-kanduang. Kalau diartikan secara harfiah apakah golongan-golongan tersebut telah didata dan difasilitasi oleh pemerintah saat ini. Saya belum melihat empat masalah ini digarap dengan serius oleh Pemda, malahan Pemda beserta kelompok pers Sumbar (FWP) melakukan studi hendak meniru pelaksanaan penyelenggaraan pariwisata ke Singapur. Saya sama sekali tidak mengatakan bidang-bidang pariwisata dan industri harus dilarang dilaksanakan di kampuang. Pemerintah seharusnya tidak menghabiskan dana serta energinya untuk mempromosikan usaha-usaha yang hanya akan menguntungkan sekelompok pemodal saja. Biarlah pekerjaan semacam itu diserahkan saja kepada urang panggaleh/swasta. Dan khusus untuk wartawan di Sumbar kapan anda akan membentuk Forum Wartawan Iptek atau Forum Wartawan Kesehatan untuk lebih memajukan lagi SDM urang awak di kampuang! Mana tahu nanti anda berkesempatan pula diajak gratis oleh Pemda ke Silicon Valley atau ke laboratorium rekayasa genetika di mana domba Dolly direkayasa. Untuk lebih jelasnya silakan mengklik, artikel-artikel yang jumlahnya lk. 30 judul di www.nagari.org/palanta.php Mari kito tetap dengan kesadaran menjadi orang Minangkabau nan manggunokan raso jo pareso, raso dibao naiak (ka utak suok), pareso dibao turun (dari utak kida). Maaf ambo mintakan kapado yang tidak sejalan dengan pandapek ambo iko. Abraham Ilyas (61.7 th.) Webmaster/admin www.nagari.org __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika: 1. Email ukuran besar dari >100KB. 2. Email dengan attachment. 3. Email dikirim untuk banyak penerima. ================================================

