Tolong dibaca aturan di footer dibawah
--------------------------------------
Sukseskan Pulang Basamo Juni 2008


Berita dari  http://www.padangekspres.co.id/

Belasan Tertimbun di Kudugantiang
* Longsor Timbun Empat Rumah dan Mushala di
Padangpariaman 
Selasa, 09-Januari-2007, 

Padangpariaman, Belum selesai duka bulan lalu, akibat
longsor di Lembahgumanti Kabupaten Solok yang
menewaskan 18 warga, kali ini muncul lagi bencana.
Sekitar pukul 16.30 WIB, Senin (8/1) tanah longsor
kembali membawa korban, di Kolam Aia Janiah Talao,
Nagari Kudugantiang, Kecamatan Limo Koto Timur
Kabupaten Padangpariaman. 


Hingga tadi malam, belum ada kepastian data korban
yang meninggal. Tapi, masyarakat dan pemerintah
setempat memperkirakan belasan warga tertimbun oleh
longsoran bukit. 

"Yang jelas berdasarkan data sementara yang berhasil
dihimpun, jumlahnya (korban) diperkirakan mencapai 13
orang. Tapi, jumlah tersebut bisa saja lebih dari
itu," kata Bupati Padangpariaman Muslim Kasim, yang
langsung turun meninjau lokasi musibah longsor. Para
korban tersebut diperkirakan tertimbun di dalam empat
rumah, dan satu Mushala (Jabal Nur), yang dihantam
longsoran. 

Demi keselamatan warga, Muslim Kasim dalam kesempatan
itu juga menginstruksikan kepada warga yang tinggal di
sekitar sekitar lokasi longsor, untuk mengungsi. 

Hal itu dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya korban
jiwa berikutnya. Sebab, hingga tadi malam ketika
rombongan bupati meninjau lokasi, longsor susulan
masih terjadi. Parahnya, hingga tadi malam upaya
evakuasi dan penyelamatan korban yang tertimbun tidak
bisa dilakukan. 

Selain medan ke lokasi yang sangat berat, karena
berada di perbukitan, kawasan tersebut juga masih
sangat rawan longsor. 

Untuk menuju lokasi, sekitar 35 Km dari Kota Pariaman,
atau 100 Km dari Kota Padang ke arah utara, harus
melewati jalan tanah, dengan tanjakan cukup berbahaya.

"Karena itulah, untuk membantu memudahkan proses
pencarian korban kita telah memesan beberapa unit alat
berat, dan diharapkan besok upaya pencarian korban
telah bisa dilakukan," kata Bupati Muslim. 

Longsor di Kudugantiang ini cukup mengejutkan. Karena
dari malam sebelumnya hingga siang kemarin, hujan tak
lagi mengguyur daerah tersebut. 

Data sementara yang dihimpun koran ini di sekitar
lokasi, nama korban yang diduga tertimbun longsor di
antaranya, adalah Rindu (45), bersama istrinya bernama
Nurni (40) dan seorang anaknya bernama Hendra (14).
Korban lainnya adalah, Maniar (40) bersama anak
lelakinya berusia 3 tahun bernama Buyung. Selain itu
juga disebutkan korban berikutnya adalah Nida (30)
bersama anaknya Niko (11) Pahmi (5). Selanjutnya Tirau
(65), yang tak lain adalah orang tua dari Nida dan
Nurni. 

Sementara suami Nida bernama Anton (40) berhasil
selamat dari maut, karena saat kejadian dia tidak
berada di rumah. Begitu juga suami Maniar bernama
Pudin (40) juga selamat dari musibah, karena saat
bersamaan dia sedang berada di Pariaman. 

Longsor menimbun beberapa orang anak yang tengah
bermain di halaman Mushalla Jabal Nur yang berada di
sekitar lokasi, masing-masingnya bernama: Rahim (11)
Tomi (13) dan sepasang adik kakak bernama Firman (11)
dan Rozi (10). 

Pantauan koran ini di lokasi, terlihat masyarakat
begitu ramai. Tak heran, Kolam Aia Janiah Talao,
Nagari Kudugantiang Limo Koto Timur yang semula sepi
dan lengang itu tiba-tiba berubah dipenuhi manusia.
Namun sayang, masyarakat tak bisa berbuat apa-apa,
karena untuk mendekati lokasi longsor, sangat
berbahaya. Puluhan petugas dari Polresta Pariaman dan
Satpol PP Padangpariaman juga terlihat berjaga-jaga di
lokasi. 

Para petugas yang ditempatkan di beberapa ruas jalan
tidak jauh dari lokasi longsor, terpaksa melakukan
blokade terhadap para pengunjung yang bermasud ingin
meninjau lokasi. Hal itu semata-mata dimaksudkan demi
menjaga keselamatan para pengunjung. 

Tidak terkecuali para wartawan, baik wartawan media
cetak maupun elektronik yang memaksakan diri mendekati
lokasi musibah, tetap diingatkan petugas agar lebih
berhati-hati, terutama mengingat rawannya kondisi
lokasi yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan longsor
susulan. 

Suara Bergemuruh Masih Terdengar 

Di lokasi longsor, tadi malam terlihat begitu gelap,
karena minimnya penerangan di kawasan itu. Beberapa
kali, koran ini sempat mendengar suara gemuruh di
sekitar lokasi. Warga setempat, yang tinggal tak jauh
dari lokasi longsor, Bukhari (66) menyebutkan,
bersamaan terjadinya musibah longsor yang melanda
kawasan Kolam Aia Janiah Talao tersebut memang sempat
terdengar suara gemuruh layaknya suara gempa. Hanya
saja suara gemuruh tersebut tidak menimbulkan
goncangan terhadap bangunan. 

"Saat kejadian memang ada bunyi gempa, tapi setelah
dilihat ke luar ternyata rumah saya sama sekali tidak
bergoyang seperti gempa pada umumnya," kata Bukhari. 

Lelaki lanjut usia ini menyebutkan, bahwa dia sama
sekali tidak mengetahui bakal terjadinya musibah tidak
jauh dari rumahnya. Hanya saja, lanjutnya, siang
sebelum kejadian, beberapa warga memang ada yang
mendengar suara bergemuruh dari arah bukit tidak jauh
dari lokasi longsor. 

Sementara Marni (49), warga Kolam Aia Janiah Talao
Kudugantiang yang rumahnya hanya berjarak beberapa
meter dari lokasi longsor, mengaku, pada saat malam
sebelum kejadian, tepatnya sekitar pukul 20.00 WIB, ia
sempat mendengar suara aneh, yang berasal dari suara
Kubuang, sejenis burung malam dari atas pohon kelapa,
tidak jauh dari lokasi terjadinya musibah longsor. Dia
meyakini, suara burung tersebut merupakan pertanda
buruk. (*) 

** Satkorlak dan Warga Tak Bisa Berbuat Apa-apa 

Kejadian longsor di Kolam Aia Janiah Talao, Nagari
Kudu Gantiang, Kecamatan Limo Koto Timur, Kabupaten
Padangpariaman benar-benar menyedihkan. Bukan saja
karena banyaknya korban yang tertimbun, tapi lebih
karena masyarakat dan Tim Satkorlak tidak dapat
berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dan mengevakuasi
korban. 

Korban yang berada di dalam empat rumah yang tertimbun
tanah gembur setinggi 10 meter seakan-akan hanya bisa
menjadi "tontonan" sedih. Hingga tengah malam tadi,
belum satupun korban berhasil dievakuasi. Tim
Satkorlak belum bisa menggali tanah yang longsor,
karena kondisi tanah masih labil. Dua unit alat berat
pun baru tiba sekitar pukul 23.30 WIB dan sampai ke
lokasi yang berjarak sekitar 35 km dari Kota Pariaman
dan 100 km dari Kota Padang itu. 

Selain alat berat, Pemprov Sumbar juga sudah
menyiagakan petugas kesehatan, ambulance, kantong
mayat, dan sembako. Bupati menjamin santunan bagi
keluarga korban. 

Untuk mengantisipasi jatuhnya korban baru, Sekprov
Sumbar Yohanes Dahlan yang meninjau lokasi sekitar
pukul 23.00 WIB tadi malam sepakat dengan Bupati
Padangpariaman Muslim Kasim untuk menghentikan
pencarian korban. 

"Kita lakukan evakuasi mulai pagi besok (pagi ini,
red). Kita tidak ingin jatuh korban berikutnya. Kepada
keluarga korban, kita mohon bersabar," ujar Yohanes
yang datang bersama sejumlah unsur Muspida, termasuk
Anggota DPRD Dapil Padangpariaman Djonimar Boer dan
Endarmy. 

Sementara itu, dua kepala keluarga dua dari tiga rumah
yang tertimbun itu, Anton dan Fudin berhasil selamat
karena tengah bekerja saat peristiwa miris itu
terjadi. 

Anton bekerja sebagai tukang bangunan di Pantai
Gandoriah Kota Pariaman, sedangkan Fudin tengah
menjalan profesi memanjat pohon kelapa. Keduanya
mengaku beberapa hari ini tidak punya firasat akan
terjadi sesuatu. Namun, tanah yang beberapa hari lalu
diguyur hujan dan terban itu, mulai berguguran
sedikit-sedikit. 

Tapi kondisi itu tidak menghiraukan warga, termasuk
penghuni empat rumah lainnya yang selamat yang tinggal
tidak jauh dari lokasi longsor. Selain Anton dan
Fudin, juga turut selamat anak Fudin bernama Herman
yang pada pagi harinya diantar Fudin ke rumah eteknya
(bibi). 

Sedangkan anaknya Buyung, berusia lima tahun tertimbun
bersama Ibunya. Begitu juga dengan istri bersama kedua
anak Anton bernama Niko dan Fahmi. Ketiganya
tertimbun. "Kami berharap istri dan anak kami bisa
cepat ditemukan. Bagaimana pun kondisinya," harap
Anton. 

Namun Anton dan Fudin pasrah, kalau keluarga mereka
tak mungkin selamat lagi. Dari informasi yang dihimpun
di lokasi, rumah yang tertimbun empat rumah dan satu
mushala. Tiga berpenghuni, satu kosong. Di Mushalla
pun, tengah tidak ada orang. 


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
================================================

Kirim email ke