Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
----------------------------------------




----- 

Berapa banyak binatang yang (tidak) sanggup membawa rezekinya sendiri. Allahlah 
yang memberi rezekinya, juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha 
Mengetahui." (QS al-Ankabuut [29]: 60) 
Ada manusia yang setiap hari menumpahkan tenaga, pikiran, dan hatinya hanya 
untuk berikhtiar. Namun ada juga manusia yang begitu yakin dengan jaminan dari 
Allah. Sementara itu , yang paling beruntung adalah orang yang ikhtiar lahirnya 
dengan akal lalu disempurnakan dengan tawakal . Dan inilah yang membuat dirinya 
menuai jaminan dunia dan akhirat dari Allah Azza wa Jalla.

Allah berfirman dalam surat Al Ankabut 60 : Wa ka ayyim min daabbatil laa 
tahmilu rizqahallaahu yarzuquhaa wa iyyaakum wa huwas samii'ul ?aliim. ?Artinya 
: Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus ) rejeki nya 
sendiri. Allah-lah Yang Memberi Rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha 
Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sebenarnya, dalam berikhtiar itu harusnya kita berbahagia. Sebab ternyata ada 
juga orang yang sibuk ikhtiar tapi tidak bahagia. Penyebabnya tak lebih karena 
orang ini bergantung hanya dengan ikhtiarnya sendiri. Padahal, ikhtiar itu 
bukan untuk kita gantungi. Ia merupakan amal shalih kita. Kita disuruh ikhtiar 
justru agar mempunyai amal.

Pada dasarnya seluruh makhluk sudah dijamin rezekinya oleh Allah. Yang tidak 
dijamin adalah ganjaran . Ganjaran atau pahala harus kita cari, tetapi rezeki 
sudah menjadi jaminan-Nya. Oleh karena itu Imam Ibnu Aththaillah, penulis kitab 
Hikam, mengatakan, "Jangan risaukan apa yang sudah dijanjikan Allah kepada kita 
tapi risaukanlah kalau kita lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang dibebankan 
terhadap kita". Maka, kalau kita kemudian masih merasa resah dan gelisah dalam 
hidup ini jangan-jangan itu ciri kita masih bergantung kepada ikhtiar. Padahal 
jikalau kita ingin bahagia dalam mencari nafkah atau rezeki, sempurnakanlah 
ikhtiar sambil menyempurnakan pula tawakal pada-Nya.

Allah Mahatahu kebutuhan kita melebihi apa yang benar-benar kita butuhkan. 
Maka, berbahagialah orang yang tidak pernah bergantung pada amal ikhtiarnya. 
Tubuh bersimbah keringat berkuah keringat, tapi hati seratus persen bertawakal 
kepada Allah SWT.

Sungguh luar biasa pentingnya bagi kita untuk menjaga diri dari apapun yang 
membuat kita tidak melaksanakan kewajiban kita. Sederhananya begini, ada 
seorang majikan menyuruh hamba sahayanya untuk menimba, tidak mungkin majikan 
ini lupa memberi makan kepada hamba sahayanya. Karena kalau lupa maka hamba 
sahayanya ini tidak akan bisa bekerja. Semakin bagus kerjanya, akan dicukupi 
pakaiannya atau kebutuhan lainnya. Lalu, bagaimana mungkin Allah yang 
memerintahkan kita ibadah dan kalau kita beribadah saja tidak diberi kecukupan? 

Itu yang memberi rezeki Contoh lagi. Kita diperintahkan untuk shalat dan shalat 
itu harus menutupi aurat. Pasti kita akan dicukupi rezeki menutup aurat sebab 
yang menyuruh menutup aurat adalah Allah. Allah memerintahkan kita untuk 
bersedekah, lalu bagaimana mungkin kita bisa sedekah kalau kita tidak diberi 
rezeki sementara adalah Allah.


Kita pasti diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, 
bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak diberi makan. Jadi, andai saja 
kita tahu kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka insya Allah, Allah 
tidak akan menyia-nyiakannya. 

Dalam hal ini, kewajiban kita yang pertama adalah ber-husnudzan (berbaik 
sangka) bahwa Allah adalah Maha Penjamin rezeki. Karena Allah berfirman dalam 
Hadis qudsi: " Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku." 

Yang kedua. Ikhtiar di jalan yang Allah sukai itu baik. Kalau Allah menyuruh 
kita jujur, jujur saja, mengapa enggan? Mungkin kita pernah mendengar ungkapan 
ini: "Cari rezeki tidak jujur saja susah, apalagi kalau jujur." Maka tak 
mungkin Allah yang menyuruh kita jujur, terus Allah tidak memberinya.Kita 
disuruh membayar zakat, bayarkan saja. Toh, uangnya juga milik Allah.

Kalau Dia mau mangambilnya kembali kita tak bisa menolak. Kita tidak mau bayar 
zakat, misalnya, tiba-tiba mobilnya tabrakan atau rumahnya kebakaran atau 
usahanya bangkrut; kita juga tak bisa berbuat banyak. Atau kita diberi penyakit 
oleh Allah dan harus operasi. Tak mungkin kita tidak mau berobat karena mau 
tidak mau pasti keluar uang juga. Pasti, uang itu akan keluar. Maka daripada 
dipaksa oleh Allah agar uang keluar, lebih baik tunaikan segera zakatnya. 

Nah, begitulah kurang lebih hakikat ikhtiar dan rezeki kita. Yang utama 
tunaikan kewajiban kita lebih dahulu maka rezeki insya Allah akan terpenuhi. 
Wallahu a`lam. dr/mns/mqp

AA. Gym



--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.344 / Virus Database: 268.16.8/621 - Release Date: 1/9/2007
Sukseskan Pulang Basamo Urang Awak se dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke