Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------



Ass ww
  
Atas permintaan Kanda Dutamardin dan mungkin juga bagi Dunsanak yg belum sempat 
baca, ini ambo forward tulisan tsb dari penulisnya langsung. 
   
  Tulisan ini ditulis diatas backgorund foto KA Wisata di Jembatan Anai. Foto 
ini sendiri dicetak penuh memenuhi 2 halaman, hal.12-13 koran tsb. Insya allah 
kita scan dan posting nanti WS.com. 
   
  Salah satu reply sms yg saya terima tadi siang sehubungan dg tulisan ini 
berbunyi sbb: "Walaupun KA Wisata kita masih sepotong-sepotong, tetapi tetap 
sangat menarik untuk dicoba. Krn alam kita memang sangat menggoda untuk itu". 
   
  Untuk diketahui, Yanti adalah wartawan Tempo Biro Sumbar, yang kebetulan juga 
Wakil Humas MPKAS di Padang. Terima kasih untuk Yanti atas tulisannya yg sangat 
touching. Thanks
   
  Wass,
  Nofrins
  
febri yanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Date: Sun, 21 Jan 2007 07:21:29 -0800 (PST)
From: febri yanti <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: tulisan ka
To: [EMAIL PROTECTED]

Liukan ‘Mak Itam’ di Lembah Anai

Bernostalgia dengan kereta wisata dari Padang ke
Lembah Anai


Tut....! Tut....! Peluit kereta api melengking keras
memecah keheningan pagi yang cerah pukul 08.30 WIB di
Stasiun Simpang Haru Padang akhir tahun lalu. Para
pencinta kereta api dengan tentengan kamera, handycam
dan ransel bergegas masuk ke gerbong dan duduk dengan
nyaman. 
‘Mak Itam’ begitu orang Minag menyebutkan, sudah
datang!

Lokomotif kereta berwarna merah dengan suara desis
mesinnya yang khas perlahan mulai bergerak menyeret
tiga gerbong serta satu loko bergigi menyusuri rel
meninggalkan stasiun yang sepi itu.

Pagi itu saya bersama rombongan pencinta kereta api
dari Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat dan
Indonesian Railway Preservation Society mencoba rute
Kereta Api Wisata dari Padang ke kawasan wisata Lembah
Anai yang eksotis itu. 

Ini juga untuk pertama kalinya rute ini digunakan
untuk wisata, sejak zaman Kolonial Belanda dulunya
hanya digunakan untuk rute kereta pengangkut batubara
dari Sawahlunto ke Padang. 

“Tak ada yang lebih indah dari hari ini, saya sangat
bahagia bisa melihat lagi kereta api lewat di Sumatera
Barat, tidak hanya menjadi besi tua,“ kata Chaidir
Nien Latif, 79 tahun, bekas pejabat PJKA (Perusahaan
Jawatan Kereta Api) yang kini menjadi “aktivis kereta
api”. 

Senyumnya tak henti mengembang. Semasa jadi pejabat
PJKA dulunya ia sukses menghidupkan loko uap di
Ambarawa. Obsesinya paling besar saat ini adalah
menghidupkan kembali kereta api di Sumatera Barat yang
telah mati suri sejak empat tahun lalu.

Bersama perantau Minang yang ada di Jakarta dan
Bandung, Chaidir Latif membentuk komunitas pencinta
kereta api yang dinamai Masyarakat Peduli Kereta Api
Sumatera Barat.

“Ranah Minang lebih indah dari tempat lain, bayangkan
di sini kita bisa berkeliling Danau Singkarak naik
kereta api, ke Lembah Anai dan Bukittinggi dengan
kereta api, sungguh luar biasa," ujarnya lagi. 

Dengan kecepatan hanya 40 kilometer per jam, setelah
keluar dari kota Padang, kereta api mulai melewati
pemandangan khas pedesaan. Burung-burung gelatik putih
tampak beterbangan di atas hijaunya hamparan sawah.
Kereta juga melewati ladang rambutan, durian, serta
barisan pohon kelapa di pinggir jalan. Wah, sungguh
menyejukkan mata. Rasanya kereta api wisata memang
lebih pas di Ranah Minang, karena pemandangan alam
yang indah terhampar sepanjang jalan.

Dua jam dari Padang, menjelang Stasius Kayutanam,
kereta melewati kompleks Ruang Pendidik INS Kayutanam
yang luas dengan pohon-pohon tuanya yang rindang. INS
(Indonesich Nederlandsche School) adalah sekolah
kreatif yang didirikan oleh Engku Moehammad Sjafei
pada 31 Oktober 1926 yang kini menjadi SMA Plus. Salah
satu murid INS adalah A. A. Navis, sastrawan nasional
yang terkenal dengan cerpennya “Robohnya Surau Kami”. 

Kereta api yang kami tumpangi kemudian berhenti di
Stasiun Kayu Tanam untuk ganti lokomotif. Lokomotifnya
diganti dengan loko bergigi yang dari tadi ditarik di
gerbong paling belakang. 

Lokomotif khusus untuk rel bergigi ini diperlukan
untuk rel yang menanjak tajam seperti melewati kawasan
Lembah Anai yang tinggi dan terjal sepanjang 33,8 Km
yang akan dilewati. 
Tak lama Lokomotif bergigi yang tetap di posisi
belakang gerbong mulai dihidupkan untuk mendorong
empat rangkaian gerbong ke Lembah Anai. Dengan
cengkeraman gigi besinya pada tengah bantalan rel,
perlahan kereta mulai bergerak mendaki melewati
tanjakan-tanjakan yang tinggi. Gesekan gigi besi
lokomotif dengan bantalan rel kereta membuat
getarannya lebih terasa.
Kereta akan melewati Lembah Anai yang terkenal dengan
bukit dan jurangnya yang terjal, serta air terjun dan
sungainya yang jernih. Menurut Rusli Amran dalam
bukunya Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, pada
tahun 1833 semasa Kolonial Belanda Gubernur Jenderal
Van den Bosch, sewaktu berkunjung ke Sumatera Barat
terpesona melihat alam Lembah Anai dengan Batang
(sungai) Anai yang berhasil menerobos Bukit Barisan. 
Van den Bosch orang pertama yang memerintahkan membuat
jalan raya mengikuti alur Batang Anai berikut jalur
kereta api. 

Jalur kereta api yang melewati Lembah Anai selesai
dibangun 1881. Jalur kereta api ini menghubungkan Emma
Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang
ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. Rel kereta ini
melewati Lembah Anai, Padang Panjang, tepian Danau
Singkarak dan terus ke Kota Sawahlunto. 

Kereta mulai masuk ke dalam hutan bukit barisan yang
masih rapat. Samping kiri kanan pemandangannya
bertukar dari sawah ke perdu dan pohon hutan tropis
yang khas. Udara juga mulai terasa dingin dalam
gerimis yang tipis. Kereta melaju perlahan di atas
jembatan plat baja sepanjang 50 meter. Cukup
mendebarkan melihat Batang Anai jauh di bawah. Namun
pemandangannya sungguh eksotis. Lembah, Batang Anai
yang kecil namun cantik, serta air terjunnya yang
mengucur deras dari dinding bukit yang terjal. 

Kereta berhenti di ujung jembatan di seberang air
terjun Lembah Anai yang amat cantik. Seperti yang
lain, saya langsung turun dan menikmati panorama
Lembah Anai. Tak lupa merendam tangan dan cuci muka di
air terjunnya. Duh, segarnya.

Lembah Anai dengan air terjunnya yang terkenal sudah
lama dijadikan kawasan wisata. Udaranya dingin dengan 
pohon-pohon yang menutupi Bukit Barisan yang tinggi di
sekelilingnya.

Air terjun Lembah Anai dan air Batang Anai di bawahnya
di antaranya berasal dari Gunung Singgalang yang
terletak di bagian utara dan anak-anak sungai dari
Gunung Merapi yang mengalir melalui Kota Padang
Panjang. Airnya mererobos Bukit Barisan yang menjadi
air terjun Lembah Anai persis di sebelah jalan raya . 

Batang Anai juga menampung hampir semua air yang
datang dari lereng bagian barat bukit barisan. Untuk
mencari jalan ke daratan rendah sebelum mencapai laut
bebas, Batang Anai memaksakan diri di celah-celah
bukit barisan dengan dinding yang terjal. 

Perjalanan wisata kereta api ini dilanjutkan ke
Stasiun Kereta Api Padang Panjang. Kereta melaju
melintasi jembatan Lembah Anai menyusuri tepian
sungai. Tak berapa lama, kereta melintasi jembatan
Silaing yang amat tinggi dan curam. 

Bayangkan saja, jembatan kereta api ini menghubungkan
antara puncak bukit ke bukit satunya lagi. Panjang
jembatannya 101 meter dengan ketinggian 50 meter, ini
membuat perjalanan serasa melayang di udara. Luar
biasa mendebarkan hati. 

Kereta berhenti di Stasiun Padang Panjang. Saat
kembali ke Kayu Tanam, kali ini loko bergigi tidak
lagi mendorong dari belakang, tetapi dengan gagah
melaju di depan menyeret sambil menahan gerbong
melintasi Lembah Anai. Tut... tut... tut....!
(Febrianti)



Ragam:
Tiga Pilihan Berwisata Kereta Api

Tertarik berwisata dengan kereta api di Ranah Minang?
Saat ini ada tiga pilihan. Pertama, wisata kereta api
ke Lembah Anai dengan lokomotif bergigi melintasi
panorama Lembah Anai yang sangat cantik.

Manajer Kereta Api Wisata PT KAI Sumatera Barat
Busrizal mengatakan, kereta api bisa disewa dari
Padang ke Padangpanjang yang melewati Lembah Anai
dengan tarif Rp10 juta per hari dengan kapasitas 190
orang.

Pilihan kedua, naik kereta api dari Padang ke pantai
Pariaman. Naik kereta api wisata adalah pilihan
terbaik jika Anda ingin berwisata ke Pariaman. Kereta
api ini hanya beroperasi setiap Minggu dengan tiket
pulang-pergi Rp25.000 untuk kelas eksekutif dan biasa
Rp15.000. Berangkat pukul 8.00 WIB dari Stasiun Kereta
Api Simpang Haru, Padang dan kembali lagi pukul 14.00
WIB dari Stasiun Pariaman.

Selain itu bisa juga menyewa kereta pada hari biasa
dengan tarif Rp5 juta dengan kapasitas 300 orang.
Kereta api ini kecepatannya hanya 20 km per jam,
sehingga jarak kurang dari 70 km ditempuh selama
hampir 2,5 jam. Meski begitu, pemandangan hamparan
sawah dan deretan kelapa menyejukkan mata dan membuat
kita rileks. 

Pilihan ketiga, naik kereta api ke Sawahlunto. Naik
dari Stasiun Muaro Kalaban yang hanya berjarak 5 km
dari Kota Sawahlunto. Sebenarnya ini bukan kereta api
beneran, cuma lori wisata yang ditarik mesin
mitsubishi L-300 di atas bekas rel kereta api. Tapi
cukup menarik untuk menelusuri jejak kereta api Zaman
Kolonial Belanda. Tiketnya amat murah, hanya Rp3.000.

Dengan lori wisata ini kita dibawa melewati terowongan
kereta api sepanjang 900 meter. Terowongan ini
dilengkapi dengan kamar-kamar kecil di kiri kanan.
Dulunya tempat orang atau pekerja tambang menghindar
jika kereta api lewat. Lori ini berhenti di Stasiun
Sawahlunto yang sekarang disulap menjadi Museum Kereta
Api Sawahlunto. 

Di museum ini dipajang benda-benda kereta api pada
masa lampau seperti gerbong-gerbong dan lokomotif
kereta api zaman lalu. Termasuk lampu sinyal dan
timbangan barang dan brankas zaman belanda dengan
kuncinya yang sebesar tangan.

Sejarah kereta api di Sumatera Barat memang dimulai
dari ditemukannya cadangan batubara di Sawahlunto
akhir abad-19 lalu. Belanda membangun jalur kereta api
dari Pelabuhan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk
Bayur) dari Padang ke Sawahlunto sepanjang 155,5 km. 

Tidak hanya ke Sawahlunto, beberapa jalur kereta api
juga dibangun sebagai sarana angkutan umum ke berbagai
kota di Sumatera Barat seperti Lubuk Alung--Pariaman
(20,9 km), Padang--Padangpanjang (68,3 km), dan 
Bukittinggi--Payakumbuh (33 km). Bahkan jalur kereta
api sampai ke Muara Padang. Totalnya ada 240 km jalur
kereta di Sumatera Barat. 

Menipisnya cadangan tambang batu bara pula yang
mengakhiri masa kejayaan kereta api di Sumatera Barat
sejak 2003. Sayang bila kini aset peninggalan Belanda
yang amat bersejarah ini dibiarkan menjadi besi tua,
seharusnya dilestarikan, seperti dikelola untuk kereta
api wisata. (Febrianti)








____________________________________________________________________________________
TV dinner still cooling? 
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
http://tv.yahoo.com/


 
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40?  Find a flick in no time
 with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke