Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------



Ass, ww
  Bapak Gubernur, serta warga palanta Yth. 
  Dunia pariwisata prospektif jika punya alam nan elok, infrastruktur yg 
memadai, SDM yg profesional, serta nilai-2 sosial yg kondusif, --- warga 
palanta semua sepakat. Dan kemudian bermuara kepada kapabilitas & kinerja sang 
pemimpin untuk me-sinergikan semua faktor itu, seperti yg di kemukakan sdr 
Rinaldo J Azis (Dirut AWI).     
   
  ".......'IMAM' harus kerja keras untuk menyiapkan semuanya (klu perlu sewa 
kunsultan profesional)..dst," (seperti dibawah) 
   
  Kita setuju, kita sepakat,... tapi mengingat kompleksitas masalah, sebagai 
padanan, nampaknya,...  Sumbar perlu tokoh sekaliber Ahmadinejad (Pres Iran, 
kini),...Bisakah pak Gubernur ...?
   
  AHMADINEJAD
  ( Mengenal pemimpin negara lain ....)
  
AHMADINEJAD 
  (Dari Buku  "Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia",  terbitan 
Himah Teladan, kelompok Mizan). 
   
  Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, 
periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki 
populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. 
Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara,  tentu sudah merupakan 
prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para 
mullah. Sementara, Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir 
birokrasinya pun kurang dari 10 tahun. 
  Beliau tinggal di gang buntu, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana 
dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk 
dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah 
merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas 
kaki tukang sapu jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan 
penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai 
walikota Depok saja, umpamanya? 
  Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab.  Warga 
Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu 
sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan 
turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor 
dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat 
mejadi lebih nyaman untuk ditinggali. "Saya bangga bisa menyapu jalanan di 
Teheran." Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. 
   
  Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau 
bahkan aliran kepercayaan baru. Sejak hari pertama menjabat ia langsung 
mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi 
laki-laki dan perempuan, menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang 
hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi 
orang miskin setiap pekan, dan... menjadikan rumah dinas walikota sebagai 
museum publik!  Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan 
Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang 
pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang 
sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga menunjukkan 
dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar 
dapat menerima warga kota yang ingin mengadu. 
  Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran 
adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi 
dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran 
begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari 
berbagai belahan dunia dengan judul "Only in ..." . salah satunya dari Teheran 
dengan judul "Only in Teheran" dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa 
bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara 
dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopot 
lampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik 
yang sangat efektif. 
  Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis 
pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550, walikota yang masuk 
nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad. Tapi itu baru 
awal cerita. Pada tanggal 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh 
dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan 
ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana 
mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena 
yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan 
dengannya? Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang 
bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, 
Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, 
popularitas Ahmadinejad paling buncit. 
  Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk 
menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak 
foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai walikota ia 
menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak 
mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru 
menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk 
berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat. 
  Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, Nama Ahmadinejad menyodok ke 
tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di 
atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi. Rafsanjani tetap menjadi 
favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin 
politiknya. 
  Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu 
dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir 
balik olehnya. 
  Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal 
dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos 
kekuasaan di Iran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari 
elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, 
dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. 
Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan 
kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, 
Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah 
dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk 
dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata. Seorang 
'satria piningit' yang mewujud dalam sosok nyata. Sebagaimana mentornya, ia 
tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh 
karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah memiliki 'kepribadian
 ganda', di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola 
kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh 
kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. 
  Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang 
revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan 
dan drama pada dunia. Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang 
tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, untuk 
mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah 
memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan., mencerminkan 
kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. 
  Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan menggunakan dananya untuk 
membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa 'uang minyak ke 
piring-piring orang miskin' dengan program "Reza Love Fund" (Reza adalah Imam 
ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program 
bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli 
rumah. 
  Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif. 
Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan 
jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab,:"Orang 
cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan 
memakai jilbab yang baik. Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan 
perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai." 
  Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah 
penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada 
salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan 
penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia 
menjawab,:"Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi 
pelayan rakyat." Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah 
rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak 
mahluk. ***
   
  "Memang tidak mudah, tapi begitulah harapan rakyat kepada seorang pemimpin.
   
  Wass,
  Asadi Rasyid (75)
  
Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Maaf, taicia ciek... Rasanya ini masukkan yg cukup penting dari Dirut PT 
Aerowisata ini bagi pariwisata Sumbar...!

Salam,
Nofrins

"Rinaldo J. Aziz" wrote:
Date: Thu, 11 Jan 2007 19:50:22 +0700
Subject: Re: [SMA 1 Bkt Jaya] Re: [EMAIL PROTECTED] Pulang Basamo 2008...!" - 
Bicara dg Statistik...

Ass ww

Nof, kelihatannya komentar dan jawaban yg disampaikan sanak Kurnia Chalik itu 
sangat pas dan lugas. 

Saya ingin menambah dan mengulangi sedikit bhw bisnis pariwisata itu adalah 
'hospitality bisniss' ...bisnis yg ngurusin orang mau senang2...berarti terkait 
dg jasa.... Key Succes Factor (KSF) perusahaan jasa seperti kita ketahui adalah 
PELAYANAN + KEPERCAYAAN.

Jadi..selama urusan pelayanan masih seperti cerita Sdr Kurnia (sayapun 
kebetulan juga punya segepok pengalaman yg menyakitkan dalam beberapa tahun 
terakhir) maka kalkulasi rupiah yg akan diterima masyarakat apabila setiap 
wisatawan membelanjakan sekian rupiah...dst,dst akan hanya tinggal mimpi .

Fyi, PT Aerowisata (tempat kami bekerja) sejak 12 tahun terakhir sudah menjadi 
investor di Sumbar dalam bentuk pendirian hotel bintang 4 (dikota Padang). 
Walaupun share kami kecil, tp kami mendapat laporan setiap triwulan ttg 
perkembangan hotel, ..hasilnya?..maaf, iyolah badarah darah.
Kami juga pernah memanage hotel bbrp tahun di BTinggi hasilnya juga tidak 
sesuai harapan.Salah satu penyebabnya adalah karena tamu yg datang tidak sesuai 
prediksi dan target market..

Bulan puasa yg lalu saya ada meeting di Medan dan bertemu dg para pelanggan 
kami diantaranya General Manager MAS dan Silk Air. Saya tanya kenapa route mrk 
ke Pdg ditutup?
Jawabannya; penumpang kurang !, lho,.. dulu menggebu dan ramai sekali? sampai2 
partner kami di Sumbar ingin memperluas fasilitas hotel untuk antisipasi turis2 
ini.?.
.
Akhirnya mrk buka kartu.bhw ternyata pelancong yg selama ini datang dari negara 
mereka tidak mampu berperan sebagai 'remarketer' Sumbar, artinya dimata mrk 
Sumbar belum punya 'selling point' ..persis seperti analisa Sdr Kurnia.

Kesimpulannya adalah bhw untuk mensukseskan pariwisata tidak bisa mengandalkan 
keindahan dan kekayaan alam semata, tapi harus didukung oleh infra strutur dan 
SDM pelaku pariwisata (termasuk masyarakat) yg solid.

Kalau situasinya masih seperti sekarang (wlpn diakui ada perbaikan), percayalah 
bhw investor akan berfikir berulang kali untuk menanamkan modal disini..Masih 
ingat lapangan golf Anai? Walapun terbaik di Sumbar, tp lapangan tsb masih jauh 
dari kwalitas yg diinginkan para golfer dari manapun, kenapa? karena pengelola 
tidak mampu memeliharanya sesuai standart, lho?..karena jumlah yang main hanya 
segelintir! Dari seorang yg dekat dg pengelola/pemilik mengakui bhw mrk gagal 
krn yg datang tidak sesuai dg target market semula (para turis) jadi jangankan 
bicara Return On Investment , untuk memelihara saja tidak lagi sanggup...So..? 

....'IMAM' harus kerja keras untuk menyiapkan semuanya (klu perlu sewa 
kunsultan profesional)..dan , tidak usah mencontoh Bali, krn Bali pun kalau 
Pemdanya tidak membuat terobosan2 yang baru, tidak punya visi mk saya punya 
analisa bhw dalam belasan tahun yad Bali hanya akan dikunjungi oleh turis2 
kelas 3 didunia, karena tidak ada lagi kenyamanan . semrawut, padat dan 
macet...walaupun attitude manusianya masih baik.

Oki, yuuk, kita dorong IMAM untuk mempersiapkan dg lebih matang dan punya nilai 
jual.. sehingga investor yakin bhw Sumbar benar2 punya prospek dalam bid 
pariwisata ini.

Mohon maaf, apbl kurang berkenan.

Wass 

Rinaldo (73)

----- Original Message ----- 
From: Yulnofrins Napilus 
To: Membangun Minangkabau nan Bergengsi 
Sent: Wednesday, January 10, 2007 8:13 PM

Kalau memang betul angka2 kunjungan wisatawan ke Sumbar ini sktr 1 juta orang, 
dg asumsi skl datang 1 orang wisatawan spent uang di Sumbar Rp. 2jt, berarti 
uang masuk ke Sumbar pertahun sudah sktr Rp.2 triliun dari wisata...!!! Bener 
gak angka ini...???

Pertanyaannya, dg angka segini besar, mengapa Investor masih "pikir-pikir" 
masuk ke Sumbar terlepas dr mslh tanah ulayat. Kedua, mengapa Pemda Sumbar 
sendiri masih kurang berani meningkatkan fasilitas sarana piknik umum? Sekian 
banyak Danau, Pantai dan Pulau2 Cantik berpasir putih, tak satupun Jet Ski, 
Para Sailing, dll. yang nongol di Sumbar. Pd hal ini jg merupakan daya tarik 
lain selain alam dan budaya utk org datang berkunjung. Sekian banyak obyek 
wisata, tak satupun yg terpelihara dg baik. Satu-satunya saat ini yg melihat 
peluang ini dan sangat getol pariwisata adalah Walikota Sawahlunto. 
Mudah-mudahan menular ke yang lain.

Sepanjang pengetahuan ambo, industri pariwisata adalah BISNIS RAKSASA kalau 
tahu cara mengelolanya. Ada komentar? Thanks.

Salam,
Nofrins


 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke