Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------



Sekedar tambahan info.
   
  Artikel yang dikirim sanak Syahreza ini ada foto2nya. Tadinya saya baca di 
Fajar tanggal 19, tapi sekarang web nya ga ketemu.
   
  Kalau ada sanak yang berminat, tentunya sanak Syahreza bersedia mengirimkan 
melalui japri, atau bisa juga ambil di 
http://windageulis.multiply.com/tag/rupa-rupa

"M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------



Adam Air Tidak Meledak di Udara

Oleh: 

Canny Watae 
warga biasa tinggal di Makassar

Saya tergerak untuk beranalisis mengingat semua analisis yang
terpublikasi sejak kasus Adam Air ini terjadi belum ada yang menyertakan
detil geografis, dalam artian mencocokkan informasi-informasi koordinat
Lintang dan Bujur dengan kondisi alam yang mendekati riil di lapangan.
Juga, belum ada yang berusaha memasukkan kesaksian-kesaksian warga
secara runut. Saya masih percaya kalau warga pedesaan kita cukup jujur.
Orang-orang yang kelewat pintar saja yang salah mengambil kesimpulan
dari kesaksian mereka.

Penemuan Tail Horizontal Stabilizer oleh nelayan Bakri di pantai
Mallusetasi Kab. Barru memang penemuan yang sangat penting. Tetapi,
sejauh ini belum ada yang berteriak "Eureka!", seperti yang dilakukan
Archimedes beberapa ribu tahun yang lalu ketika menemukan hukum berat
jenis benda. Bagi saya, yang iseng-iseng "mencari " pesawat nahas
dengan nomor penerbangan KI-574 via layar komputer, temuan Pak Bakri
memacu urat spontan saya berteriak Eureka! 

Cross-wind 74 knot (130 km/jam) yang menimpa KI-574 seperti yang
disampaikan Menhub Hatta Radjasa (Fajar, 5/1), plus kecepatan jelajah
pesawat (Cruising Speed) 600-700 km/jam menghasilkan resultan gaya
yang cukup besar. Jika arah KI-574 adalah jam 12, maka Cross-wind ini
datang dari arah jam 3 (menuju jam 9). Terjadi resultan sebesar antara
akar kuadrat dari 600 kuadrat plus 130 kuadrat ( 613 km/jam) dan 700
kuadrat plus 130 kuadrat ( 712 km/jam) dengan arah vektor sekitar jam
11. Arah pesawat bergeser. Fakta menunjukkan pesawat bergeser, Kokpit
Adam Air KI-574 sempat meminta ATC Makassar memandunya karena pesawat
berubah arah akibat dorongan angin. Dari posisi heading timur-laut,
bergeser ke utara. Kemudian oleh ATC Makassar pesawat diminta kembali ke
heading semula. Ketika pilot kembali heading timur laut dari posisi
heading utara, pesawat bukan lagi kena cross-wind melainkan
parallel-wind arah berlawanan. Arah vektor kecepatan pesawat nyaris
berlawanan dengan arah angin. Resultan kecepatan pesawat terhadap angin
adalah minimal 600 + 130 = 730 km/jam, dan maksimal 700 + 130 = 830
km/jam! Pengecekan saya pada alamat web

http://uk.flyasiana.com/travelplanner/travelplanner_aircrafts.asp
menunjukkan bahwa kecepatan jelajah maksimum B737-400 adalah 790 km/jam!
My God,.... besar kemungkinan gerak relatif KI-574 terhadap angin lebih
besar dari pada kecepatan maksimum yang diizinkan.

Tail Horizontal Stabilizer bisa saja menjadi komponen yang paling
bekerja keras ketika KI-574 mencapai kecepatan jelajah maksimumnya. Apa
tah lagi kondisi udara yang ditembus tidak karu-karuan. Mengapa Tail
Horizontal Stabilizer kanan yang lepas? Karena dia-lah yang mengalami
masa papar cross-wind hingga parallel-wind terlama. Angin cross
sebelumnya datang dari arah kanan. Komponen ini terpental ke arah kiri,
ke arah badan pesawat, yang memungkinkan badan pesawat sobek lalu
berlubang. Perbedaan tekanan antara kabin dan atmosfer pada ketinggian
di atas 30.000 kaki menimbulkan efek hisap yang sangat kuat. Tatakan
meja, sandaran jok, life-vest (pelampung), fiber penutup bagasi kabin,
isi bagasi kabin, tas, bungkusan makanan, video-monitor di kabin
penumpang, semuanya tersedot keluar. Fakta menunjukkan barang-barang
tersebut sudah ditemukan para nelayan di perairan Barru dan Pangkep.
Penumpang saya perkirakan sedang memakai seat-belt karena sedari awal
cuaca jelek. Tidak ada penumpang yang tersedot ke atmosfer! Bakalan
tidak ada pula jenazah yang ditemukan di perairan yang membentang
sepanjang jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang, Parepare, Barru, Pangep,
Maros, dan Makassar). Fakta menunjukkan belum ada jenazah dari Adam Air
KI-574 yang ditemukan di perairan ini.

Karena kebocoran kabin, pilot berusaha menurunkan ketinggian pesawat
sesegera mungkin. Demi penumpang, ia berusaha terbang pada ketinggian
yang memungkinkan penumpang bernapas tanpa alat bantu. Penurunan
ketinggian yang mendadak ini menimbulkan efek sentakan pada bodi
pesawat, mungkin mencapai minus 3G yang memicu trigger ELBA. Penurunan
ketinggian ini juga membuat KI-574 tidak bisa terpantau radar. Fakta
menunjukkan KI-574 hilang dari pantauan radar ATC Makassar. 

Dalam kondisi terbang rendah, sekitar 8000 kaki atau di bawahnya,
pesawat terus berusaha mengarah ke Manado (timur-laut). Pesawat
melintasi perairan Pinrang/Polewali?Majene, lalu daratan Enrekang,
kemudian sampai di atas Tana Toraja. Fakta menunjukkan Saul Palulungan
(57 tahun) mendengar suara pesawat (Fajar, 5/1). Di Tana Toraja pilot
melakukan manuver tajam ke kiri. Di kiri pesawat ada Bandara Pongtiku,
kawasan Rante Tayo, kurang lebih 10 Km dari Makale. Sementara di kanan
pesawat adalah Bulu (Gunung) Rante Kombala dan Bulu Rante Mario. Dalam
keadaan kehilangan Tail Horizontal Stabilizer (belakangan juga beberapa
bagian sayap kanan yang ditemukan di perairan Pinrang, mungkin Aileron
yang bertanggung jawab pada gaya angkat pesawat), manuver pesawat sangat
berat dan menimbulkan hentakan. Hentakan ini men-trig aktivasi sinyal
ELBA. Fakta menunjukkan RCC Singapura sempat menangkap sinyal ELBA pada
lokasi ini (Fajar, 3/1).

Usaha mendarat darurat di Bandara Pongtiku gagal. Pesawat susah
dikendalikan untuk manuver-manuver halus mengingat salah satu Tail
Stabilizer Horizontal, belakangan juga sayap kanan, rusak. Ces-pleng,
Bandara Pongtiku berada di daerah perbukitan sebagaimana lazimnya kontur
Tana Toraja. 

Pilot memutuskan untuk lurus, sebab pada arah lurus ini ada bandara
Tampa Padang , Mamuju, Sulawesi Barat.

Dalam lintasan menuju Bandara Tampa Padang, KI-574 harus bermanuver
melewati pegunungan, termasuk kawasan Matangnga. Banyak kesaksian warga
yang menyatakan mendengar suara gemuruh dan ledakan sepanjang lintasan
Toraja - Mamuju ini. Termasuk di antaranya Abu Haris yang kemudian
di-cap berbohong. Padahal, ia sendiri tidak pernah menyatakan ada
pesawat jatuh. Pernyataannya adalah "ada suara pesawat".

Di lepas pantai Mamuju, nelayan Baharuddin bersaksi pada Danlantamal VI
Makassar bahwa ia melihat pesawat berbadan biru laut melintas dari arah
bandara Tampa Padang. Fakta menunjukkan bahwa warna pesawat Adam Air
KI-574 bukanlah Oranye seperti lazimnya dalam display-display promosi
Adam Air. Warnanya putih (Fajar, foto headline, 12/1). Warna biru laut
yang dilihat Baharuddin sangat mungkin akibat pantulan air laut. Pesawat
lagi-lagi tak berhasil mendarat di bandara alternatif. Tepat di atas
kepala Baharuddin, pesawat belok kiri ke arah daratan Sulawesi. Jika
kita memperhatikan peta rupa bumi, tampak bahwa daratan Sulawesi di
depan KI-574 adalah pegunungan. Masuk akal ketika Baharuddin mengatakan
pesawat kembali ke arah laut. Pesawat menghindari tabrakan dengan
gunung. Pilot memilih ditching (mendarat di laut).

Posisi deteksi sonar KRI Fatahillah adalah 02.35.18 LS, 118.48.36 BT.
Jarak antara Saksi Baharuddin dan posisi Sonar ini kurang lebih 12,5 KM.
Artinya dengan asumsi tinggi mata saksi dari permukaan laut 2m, maka
posisi di mana KRI Fatahillah mendeteksi adanya logam bulat, sudah tidak
terjangkau lagi oleh Baharuddin. Posisi itu tertutup garis horizon jika
dipandang dari tempat saksi berdiri. Saksi sendiri mengaku tidak melihat
apakah pesawat tersebut jatuh atau tidak. Yang ada hanya terdengarnya
suara gemuruh dan bunyi ledakan. Karena kecepatan suara adalah 340
m/detik, maka ledakan itu terjadi 12.500 / 340 = 37 detik sebelumnya.
Antara posisi Saksi dan saat pesawat berbalik arah ke laut jaraknya 3
nm, dan dari posisi balik arah ini ke Sonar KRI Fatahillah 10 nm. Total
lintasan pesawat dari Saksi hingga Sonar adalah 13 nm atau 25 km. Waktu
tempuh jarak 25 km itu oleh pesawat dengan kecepatan 700 km/jam adalah
25/700 jam = 0,036 jam atau 128,5 detik. Jadi antara pesawat melintasi
posisi saksi hingga saksi mendengar ledakan adalah 128,5 + 37 = 165,5
detik. Antara 2 hingga 3 menit. Persis seperti kesaksian Baharuddin pada
Danlantamal VI Makassar. Secara ilmiah-matematis kesaksian Baharuddin
bisa dipertanggungjawabkan. 

Pesawat, menurut saya, ditching di lepas pantai Mamuju. Pilot Revri A.
Widodo dan Co-Pilot Yoga berusaha maksimal. Namun, tanpa Tail Stabilizer
Horizontal dan sayap kanan yang rusak, ditching tidak mulus. Pesawat
turun ke laut dengan sudut elevasi yang cukup besar. Mungkin saja 45
derajat. 

Kesimpulan:
1. Adam Air KI-574 jatuh di perairan Mamuju di sekitar lokasi
deteksi sonar KRI Fatahillah. 
2. Adam Air KI-574 tidak meledak di udara 
3. Semua penumpang dan awak pesawat masih berada di badan pesawat,
di dasar laut.

Prediksi:
1. Serpihan Adam Air KI-574 berada di sekitar lintasan. Yang jatuh
di laut akan terbawa arus ke pantai mulai dari lepas pantai Pinrang,
Parepare, Barru, Pangkep, Maros, hingga Makassar termasuk pulau-pulau
Spermonde (Pantai Barat Jazirah Sulawesi Selatan). Di darat di kawasan
Pinrang, Enrekang, Toraja, Matangnga, dan Mamuju). 
2. Tidak akan ada jenazah penumpang yang ditemukan terdampar di
pantai barat Jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang, Parepare, Barru,
Pangkep, Maros, dan Makassar). 
3. Serpihan dari dalam kabin penumpang semuanya berdimensi kecil,
tidak melebihi besar lubang sobekan pada badan pesawat.

Satu hal perlu saya tambahkan. Pilot Revri dan Co-Pilot Yoga orang
hebat. Dalam kondisi pesawat susah untuk dikendalikan, mereka masih
sanggup mencari lokasi pendaratan yang aman bagi penumpangnya. 

Semoga Tuhan Menyertai Kita Semua, dan Keluarga Korban Tabah. Amien.

Canny Watae
Warga Makassar
[EMAIL PROTECTED]


Dukungan Gambar:


1. Lost Contact Point.


2. Pesawat Manuver ke Arah Bandara Pongtiku, Toraja. Di sebelah kanan
ada Bulu Rantekombala dan Bulu Rantemario. Akibat manuver tajam timbul
hentakan keras yang memicu pancaran ELBA yang terlacak oleh RCC
Singapura.


3. Bandara Pongtiku sulit untuk tercapai, pesawat lurus ke Bandara
Tampa Padang, Mamuju.


4. Manuver pesawat di sekitar bandara Tampa Padang, disaksikan oleh
Nelayan Baharuddin.


5. Tinjauan lintasan secara keseluruhan sejak hilang kontak hingga
mendarat di laut.


Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================


  
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke