Tolong dibaca aturan pada footer dibawah
-------------------------------------------



PEMIKIRAN BARAT TERHADAP ISLAM SEBUAH ANALISA

Bagian 5

Sementara di Ukraina kita bisa melihat pengalaman lain yang dilakukan oleh 
"Ikatan Organisasi-organisasi Sosial di Ukraina" (al-raid), ini adalah lembaga 
paling menonjol di Ukraina yang juga melakukan kampanye penyuluhan (pengenalan) 
tentang Nabi Muhammad saw, melalui pembagian kaset-kaset, buku-buku, 
kepingan-kepingan CD serta penyelenggaraan program-program dialog, diskusi, 
seminar dan kunjungan. Al-Raid memiliki situs khusus dengan bahasa Rusia 
tentang Islam yaitu (www.Islamuna.net). 
Kampanye di Amerika dan Ukraina sudah mulai dilakukan setelah adanya banyak 
kontak yang dilakukan banyak non muslim yang ingin tahu tentang sikap kaum 
muslimin terhadap krisis karikatur pelecehan Nabi.

Sementara itu di Jeddah ada inisiatif lain yang dideklarasikan penerbit dan 
percetakan "Darul Bayyinah" dengan membagikan ribuan buku-buku dai kondang dari 
Afrika Selatan, mendiang Ahmad Dedat. Buku pertama dibagikan di Denmark dan 
Norwegia, di mana krisis pelecehan Nabi terjadi, yaitu buku "al-Qur'an adalah 
Mu'jizat Abadi Muhammad". Setelah itu Darul Bayyinah akan menterjemahkan buku 
tersebut dan membagikan dua buku lain karya Syaikh Ahmad Deedat.

Semua inisiatif ini berangkat dari kesadaran para tokoh Islam bahwa pelecehan 
terhadap agama kita jangan hanya diakhiri dengan permintaan maaf. Namun kita 
harus bergerak memperkenalkan dan memaparkan kepada mereka tentang hakikat 
agama yang lurus ini. Itulah yang dilakukan oleh sebagian kalangan, setelah 
pelecehan yang dilakukan oleh Paus Benedictus XVI terhadap Islam dan Rasulnya, 
salah satunya Rabithah Alam Islamy di Riyadh memutuskan untuk mengadakan aksi 
pengenalan Nabi Muhammad saw sebagai nabi pembawa rahmat, hal ini bisa kita 
lihat dalam situsnya: www.mercyprophet.com 

Pelecehan terhadap sesuatu yang Sakral: Kehancuran Berfikir dan Etika

Respon media Eropa di dalam memberikan alasan justifikasi pembenaran karikatur 
pelecehan terhadap Nabi tersebut tidak lain hanya sekadar simbol kebebasan 
berekspresi.

Koran Perancis, Frances Siwar mengatakan: "Itu adalah haknya menggambarkan 
tuhan dengan cara karikatur yang menyindir." Sedang Koran Jerman Dei Filt 
mengatakan: "Itu adalah haknya melakukan pelecehan sesuatu yang sakral."

Dilihat dari pernyataan kedua Koran itu, maka bisa disimpulkan bahwa ada 
perbedaan mendasar dalam melihat sesuatu yang sakral dalam agama dalam 
peradaban sekuler barat.

Seorang pemikir Prancis, Arick Gofra, melihat bahwa hegemoni filsafat nihilisme 
-yang muncul setelah masa dominasi gereja di Eropa- merupakan salah satu akar 
pemikiran lain yang digunakan untuk melecehkan Islam. Dalam pandangannya, 
filsafat Barat sekuler membuka ruang untuk melakukan penghinaan terhadap 
nilai-nilai agama dan moral, apapun agama tersebut. Bagi sebagian orang Barat, 
agama adalah sekadar realitas sosial tidak berbeda dengan realitas lainnya. 
Bagi masyarakat Eropa, tidak ada yang namanya sistem tata nilai dan etika. 
Karena itu, segala sesuatu yang disakralkan menjadi sasaran untuk diragukan dan 
dilecehkan.

Seorang pemikir Maroko Thayyib Buizat melihat bahwa pelecehan terhadap agama 
secara logika tidak terjadi kecuali pada saat-saat degradasi dan penurunan 
kesadaran berfikir. Maka dengan merujuk kepada sejarah filsafat Barat sejak 
masa Yunani, kita melihat bahwa kemunculan pemikiran ateis yang bertentangan 
dengan agama terjadi pasa saat-saat kemunduran filsafat bukan pada saat-saat 
perkembangan dan keemasannya.

Manakala Socrates, Plato dan Aristoteles mengibaratkan nilai kesadaran filsafat 
Yunani, maka itu adalah saat keimanan dan keyakinan bagi peradaban Yunani kuno. 
Agama tidak mendapatkan serangan kecuali pada saat-saat maraknya 
pertanyaan-pertanyaan ateis yang menyudutkan. Pada masa-masa filsafat Barat 
modern berjaya, yaitu pada abad ke-17, agama bisa mengubah dan mewarnai 
pemikiran para filosof Eropa terkemuka.

Namun pada abad ke-18 terjadi kampanye cara berfikir yang bertentangan dengan 
agama di dalam budaya intelektual Eropa. Tetapi realitasnya menunjukan bahwa 
abad itu adalah yang paling sedikit memberikan kontribusinya dalam peradaban 
filsafat Barat bila dibandingkan dengan abad ke-17. Karena sebagian besar 
filsafatnya hanya berkisar tentang politik seperti hubungan sosial. Bahkan 
mayoritas pendapat dan penemuan pada abad ke-18 hanya penemuan yang 
diulang-ulang dari sebelumnya.

Sebagian pengkritik agama menggunakan pemikiran filsafat tidak sesuai dengan 
makna yang dimaksud oleh ahli filsafat sebelumnya, seperti Augest Konet 
misalnya, ia tidak memperdulikan kesesuaian makna dan universalitas filsafat 
itu sendiri. Hal ini mungkin terjadi karena cara berfikir intelektual Eropa 
pada masa Augest Konet, pada abad ke-19 didasarkan kepada lintas idiologi dan 
agama yang melampaui stereotype pemikiran, agama dan filsafat itu sendiri. 
Tujuan utama mereka adalah untuk menghilangkan teori ilmiah empiris dan 
menjadikannya mengungguli teori lainnya. Namun mimpi para kritikus agama tidak 
berhasil karena pendapat mereka bertentangan dengan hakikat entitas dan fitrah 
manusia dan fitrah keagamaannya.

Di antara catatan yang diberikan para ahli antropologi dan juga para pengkaji 
sejarah agama-agama adalah bahwa ideologi dan keyakinan beragama agama adalah 
masalah fitrah yang melekat pada manusia. Walaupun Augest Konet berupaya 
membuktikannya dengan memberikan teori tiga periodesasi manusia mulai dari 
kehidupan agama menuju kehidupan filsafat kemudian menuju kehidupan ilmiah. 
Hanya saja teorinya ini tidak memiliki bukti sejarah.

Fase dan rentang waktu intelektual yang dijalani Augest Konet pada abad ke-19 
tidak mampu menghilangkan dan menghapus kebutuhan manusia akan ideologi dan 
agama, bahkan orang Kristen sekalipun. Dan anehnya, sebagaimana yang terjadi 
pada Augest Konet sendiri pada akhir hidupnya terpaksa mengakui filsafatnya 
sebagai "agama baru".

Pada akhirnya kita saksikan sendiri dia menegaskan kebutuhan akan agama sebagai 
kebutuhan asasi di dalam entitas manusia. Oleh karena itu, kecenderungan kepada 
hal yang sakral dan penyembahan, sebagaimana pengakuan Konet, adalah masalah 
yang menjadi bagian dari tabiat manusia yang tetap harus dipenuhi. Dan di dalam 
bukunya "Harmoni Politik Kemapanan", Konet menegaskan bahwa nasib perjalanan 
manusia adalah menjadi lebih agamis. Bahkan dalam ungkapannya tentang Islam 
kita dapati dia menulis ungkapan kekaguman dengan terang-terangan. (bersambung)
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >100KB.
2. Email dengan attachment.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke