Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Paangek-an saluang parawisata Ranah Minang, iko ado carito nan sadang bakarang. 
Kok diizinkan Allah di taruihan manulihno dalam sapakan ko. Sarupo iko labiah 
kurang angan-angan ambo tantang parawisata di nagari awak tu nanti insya Allah.

Silahkan....

Wassalamu'alaikum

Lembang Alam

(disiko sautuahno dulu, indak masuak ka blog dulu do)

SEMINGGU DI RANAH BAKO

1.      Tiba

Pesawat Cathay Pacific itu mulai menurun untuk segera mendarat. Pramugari 
memberitahukan bahwa dalam waktu beberapa saat lagi ‘kita’ segera akan mendarat 
di Bandara Internasinal Minangkabau di Ranah Minang. Sesudah sebuah penerbangan 
selama 3 jam nonstop dari Hongkong. Waktu saat itu menunjukkan jam 2 siang. 
Cuaca lumayan cerah. Pesawat semakin merendah dan berputar untuk mendekati 
landasan dari arah selatan. Pada saat itu Aswin yang duduk di dekat jendela 
melihat enam buah pesawat sedang parkir di bawah sana, di hadapan bangunan 
bandara beratap gonjong seperti yang sudah sering dilihatnya di foto maupun di 
internet. Dadanya berdebar-debar. Hampir sampai. Ke ranah yang selalu 
diceritakan ayahnya. Sampai seolah-olah dia kenal benar dengan negeri bakonya 
ini, meski belum pernah sekalipun dia berkunjung kesini.

Pesawat itu akhirnya menjejak bumi. Bumi Ranah Minang tanah pusako. Ketika 
pesawat sudah mendarat sempurna dan sedang bergerak menuju belalai untuk 
menurunkan penumpang, pramugari kembali menyampaikan pemberitahuan. ‘Selamat 
datang di Minangkabau International Airport di Ranah Minangkabau……Welcome to 
Minangkabau International Airport of Motherland country……’  dan seterusnya. 
‘Akhirnya….., at last…’ desah Aswin. Sampai juga dia disini. Penumpang di 
sebelah, temannya berdiskusi sejak berangkat dari Kai Tak Hongkong  tadi pagi, 
tersenyum melihat Aswin yang kelihatan sangat ‘excited’. 

‘Jadi, kamu akan langsung ke Bukit Tinggi, heih?’  tanya Stephan Quok tetangga 
duduknya itu dengan bahasa Inggeris beraksen China.

‘Yup,’ jawab Aswin pendek

‘OK, enjoy your visit,’ tambahnya.

‘Same to you,’ jawab Aswin.

Mereka mulai bergerak keluar dari badan pesawat Boeing 777 itu. Melalui belalai 
dan berjalan masuk ke dalam bangunan bandara. Turun melalui tangga berjalan 
terus menuju loket imigrasi. Petugas imigrasi menyapa ramah dalam bahasa 
Inggeris waktu Aswin menyodorkan pasport United States nya. Aswin menjawab 
dalam bahasa Indonesia. Petugas itu tersenyum ramah.

Aswin terus berjalan ke tempat mengambil bagasi. Bagasinya belum sampai, ban 
berjalan di bawah monitor tv dengan nomor penerbangan mereka, masih diam belum 
bergerak. Aswin mematut-matut ruangan bandara ini. Banyak sekali orang yang 
baru sampai rupanya. Dua buah ban berjalan sedang berputar dikerumuni oleh 
manusia yang sedang mencari bagasi mereka. Penumpang bukan orang Indonesia dan 
orang Indonesia hampir sama banyak. Yang bukan Indonesia kebanyakan bertampang 
Cina atau Jepang, disamping banyak juga yang bertampang Eropah. Dan beberapa 
orang Arab. Sebahagian dari mereka tentulah orang yang tadi sepesawat dengannya.

Tiba-tiba matanya menangkap baliho foto besar dengan sosok seorang ibu setengah 
baya, berbaju adat Minang berwarna merah, dengan tengkuluk tanduk berwarna 
kuning emas, tapi pakai jilbab, tersenyum manis. Dibawahnya tertulis 
besar-besar seolah-olah kata-kata ’Bundo Kanduang’ itu; ’Selamat datang di 
Ranah Bundo, Tanah Minangkabau. Kami sambut anda dengan sirih di cerana, 
sebagai ungkapan putih hati. Silahkan menikmati panorama-panorama indah negeri 
ini dan keramahtamahan anak kemenakan Orang Minangkabau. Silahkan menikmati 
masakan Minang yang sudah anda kenal di tempat anda, sekarang langsung di 
negeri asalnya. Semoga kunjungan anda berkesan. Namun perlu kami sampaikan 
pula, iman dan adat anak negeri ini melarang keras perzinaan, perjudian, 
minuman alkohol dan obat-obat terlarang. Pelanggaran terhadap ketentuan 
tersebut berat hukumannya. Mohon anda mengambil perhatian sungguh-sungguh 
tentang itu.’

Aswin menatap tulisan itu. Ada beberap baliho ’Bundo Kanduang’ dengan tulisan 
dalam beberapa bahasa, Inggeris, Jepang, China dan Arab. Stephan Quok datang 
menghampiri Aswin dan berucap.

’Ungkapan selamat datang yang jujur namun kasar, heih? Bagaimana pendapatmu?’

’Ya, jujur. Tapi menurutku tidak kasar. Melainkan sangat transparan dan tegas,’ 
jawab Aswin.

’Rupanya kamu langsung jadi pembela tanah leluhurmu. Look at that. Not even 
alcohol. Can you imagine that? For a tourist destination in this planet? 
C’mon..’ cerocosnya.

Aswin tersenyum. Malas meladeni orang tersebut.

Ban berjalan di hadapan mereka mulai bergerak. Aswin menunggu beberapa menit 
lagi sampai akhirnya bagasinya muncul. Dia menarik koper besar itu menuju ke 
arah luar, melalui tempat pemeriksaan bea cukai. Petugas bea cukai bertanya 
ramah, kalau ada sesuatu yang perlu dilaporkan dan Aswin menjawab tidak ada. 
Dia diizinkan untuk terus dan berlalu di depan petugas lain dengan seekor 
anjing pelacak yang diam saja. Petugas inipun tersenyum ramah kepadanya. Aswin 
mencari-cari Pohan, yang berjanji menjemput. Tidak ada kelihatan. Tiba-tiba 
matanya melihat kantor penukaran uang. Dia lalu menghampirinya. Seorang wanita 
muda berpakaian adat Minang menyapanya dengan ramah dari balik loket. Aswin 
mengeluarkan dua lembar uang seratus dollar minta ditukar dengan rupiah.

’Oh, bapak baru datang?’ sapanya agak keheranan. ’Saya pikir tadinya mau 
menukarkan rupiahnya kembali dengan mata uang lain. Begini pak. Rate kami agak 
rendah dibandingkan dengan rate di kota. Kalau bapak akan ke Bukit Tinggi atau 
ke Padang, mungkin lebih baik bapak tukar uangnya nanti disana. Mungkin cukup 
satu lembar saja yang bapak tukar disini seandainya bapak memerlukan untuk 
ongkos taksi,’ wanita muda itu menjelaskan.

’Baik kalau begitu,’ jawab Aswin. Matanya menangkap beberapa buah stiker 
bertuliskan ’Amanah, Jujur, Amanah, Jujur!’ cukup besar tulisannya, tertempel 
di dinding samping kantor penukaran uang itu.

Wanita itu menyerahkan tukaran uang rupiah berikut stroke penukarannya.

’Kalau saya tukar dikota berapa persen bedanya?’ tanya Aswin.

’Dua sampai tiga persen, pak. Dan tidak dikenakan pajak seperti disini,’ jawab 
wanita itu pula.

’Tidak apa-apa,’ kata Aswin. ’Terima kasih banyak.’

’Terima kasih kembali pak. Semoga kunjungannya menyenangkan. Selamat jalan,’ 
ucap wanita muda itu tetap tersenyum.

Terkagum-kagum Aswin atas kejujuran wanita muda ini. Dan dari tadi dia 
perhatikan betapa petugas-petugas disini sangat ramah. Sejak dari imigrasi, bea 
cukai, portir yang tadi menawarkan troley dan petugas money changer ini. Apakah 
kebetulan dia bertemu orang-orang ramah semua? Tidak seperti yang diingatkan 
ayahnya agar berhati-hati dan sabar karena orang-orang disini banyak yang 
kasar.  Sudah empat orang, belum ada satupun yang kasar. 

Tiba-tiba Pohan muncul dan menepuk pundak Aswin. Aswin kaget, tapi gembira 
begitu melihat Pohan. Mereka belum pernah bertemu dan saling mengenal hanya 
melalui miling list di internet. Ternyata Pohan satu kampung dengan ayah Aswin, 
di Koto Gadang.

’Siap berangkat?’ tanya Pohan.

’Ya. Saya pikir ada halangan apa sampai kamu belum kelihatan,’ kata Aswin.

’Tidak, saya sudah di sini sejak setengah jam yang lalu. Persis saat pesawatmu 
mendarat. Karena kamu belum keluar saya mencoba bertanya ke bagian informasi 
apakah penumpang Cathay Pacific sudah pada keluar. Mereka bilang belum. Saya 
tinggal ke kamar kecil sebentar. Rupanya sat itu kamu keluar. Saya sudah 
menduga, pasti kamu langsung mencari money changer. Ok, mari kita jalan sedikit 
ke sana, ke tempat parkir,’ ujar Pohan.

Mereka berjalan menuju tempat parkir.

’Bersih sekali airport ini. Tapi saya perhatikan banyak sekali tulisan 
peringatan-peringatan,’ ujar Aswin.

’Ya, lumayanlah. Dan memang kebersihan itu adalah bahagian dari iman. Kamu juga 
akan jumpai banyak tulisan tentang ungkapan ini,’ kata Pohan.

Mereka sudah sampai di mobil Pohan. Sebuah Toyota Kijang. Pohan membuka pintu 
belakang mobil itu dan Aswin meletakkan kopernya disitu. Lalu kedua orang muda 
itu naik ke mobil.

’Mari kita berangkat ,’ ajak Pohan sambil menghidupkan mesin.

’Tidak ngantuk? Berapa jam kamu di pesawat?’ tanya Pohan.

’Tidak. Kami sampai di Hongkong jam dua belas malam dan saya bisa tidur nyenyak 
di hotel. Tadi jam delapan pagi baru berangkat meninggalkan hotel. Saya cukup 
istirahat,’ jawab Aswin.

’Saya sudah menyusun acara untukmu. Nanti kita bahas sambil jalan,’ ujar Pohan 
pula.

                                        
                                        *****


_________________________________________________________________
Try Live.com: where your online world comes together - with news, sports, 
weather, and much more.
http://www.live.com/getstarted
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
3. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke