Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Nan ka ampek. Sudahko istirahaik dulu sabanta. ado karajo lain

Wassalamu'alaikum

Lembang Alam

4.      Tiba Di Rumah Bako


Udara Padang Panjang di tengah malam sangat dingin. Kedua anak muda itu 
merasakan dinginnya udara malam. Untung mereka sudah mengenakan jaket, sekedar 
menahan hawa dingin. Tetap saja masih terasa dingin. Mereka kembali meneruskan 
perjalanan. Kali ini menuju kampung Koto Gadang. Untuk beristirahat. Jam dua 
belas malam mereka sampai di rumah orang tua Pohan. Sebuah rumah kayu tapi 
bukan rumah bergonjong ataupun rumah bergaya tradisional, melainkan rumah jaman 
sekarang dengan serambi di luar, ada ruangan tamu, ruang makan, dapur dan 
kamar-kamar tidur.

Di rumah ini ada etek Rasuna, etek atau adik dari ibunya Pohan, yang memang 
tinggal di kampung, bersama ibunya atau neneknya Pohan. Ibu Pohan tinggal di 
Jakarta. Pohan sedang menjajagi kemungkinan untuk membuka usaha di kampung. 
Rumah ayah Aswin tiga buah rumah ke samping. Rumah itu  sebuah rumah adat 
beratap gonjong. Terkunci, tidak ada yang menempati. Ayah Aswin satu kaum 
sepersukuan dengan keluarga  ibu Pohan, yang kalau dilihat di ranji, pertemuan 
nenek perempuan mereka bertemu di empat generasi di atas. Namun secara adat 
Minagkabau, mereka itu se saudara, sepayung, sekaum, sepenghulu, tidak boleh 
kawin mengawini dalam satu kaum seperti ini. Maka rumah ini masih rumah bako 
bagi Aswin. Keluarga ayah Aswin semuanya di rantau yang terpencar di seluruh 
dunia. Di antara lima buah rumah kaum, hanya rumah ini saja yang ditempati. 
Yang lainnya kosong.

Etek Rasuna yang membukakan pintu. Meski dia sudah tertidur sebelumnya tapi dia 
sudah dihubungi Pohan sejak tadi siang bahwa mereka mungkin larut malam baru 
akan sampai di rumah. Waktu mereka sampai, etek Rasuna menyambutnya dengan 
gembira, dengan kehangatan persaudaraan yang tidak dibuat-buat. Meski mereka 
belum pernah bertemu sebelumnya. Etek Rasuna tahu betul posisinya sebagai 
’bako’, tahu betul bagaimana menjamu anak pisang. Apa lagi yang datang dari 
rantau di balik bumi. 

Dan etek Rasuna sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Tidak repot-repot, 
karena nasi toh dari magic jar, dan gulai-gulai cukup dipanaskan sebentar di 
micro wave. Pokoknya beres semua.

Mereka makan tengah malam sambil berbincang-bincang. Aswin, meski sudah 
terlihat kecapekan berusaha tetap semangat,  menikmati sambutan kekeluargaan 
yang sangat elok itu. Panjang cerita mereka. Ke barat ke timur. Ke hujung ke 
puhun. Tidak terasa sudah sampai jam dua.

’Sudah sangat larut, sebaiknya beristirahat sekarang. Bukankah besok akan pergi 
meraun lagi?’ etek Rasuna mengingatkan.

’Iya. Sudah waktunya kita istirahat. Kamar kita yang di depan itu. Kopermu 
belum dibawa naik. Mari kita ambil ke mobil,’ Pohan menambahkan.

Aswin setuju. Dia memang sudah kecapekan. Meski menurut waktu LA saat ini baru 
jam sebelas siang. Tapi perjalanan panjang hari ini sudah lebih dari cukup 
untuk membuatnya kelelahan.

                                        ****

Jam tubuh Aswin masih awut-awutan. Dia terbangun jam setengah lima. Hanya 
sesudah tidur sekitar dua jam saja. Karena sayup-sayup terdengar suara orang 
mengaji yang entah dari mana datangnya. Suara orang mengaji dengan pengeras 
suara.  Di dipan yang satunya Pohan sedang mendengkur, pulas dalam tidurnya. 
Tentu dia juga kecapekan. Meski  berusaha untuk meneruskan tidur tapi matanya 
sudah tidak bisa dipejamkan lagi.

Setelah beberapa saat berbaring sambil mendengar suara orang mengaji Aswin 
bangkit, ingin pergi ke kamar kecil. Sekembali dari kamar kecil dia dapati 
Pohan sudah terbangun dan sedang mengucek-ngucek matanya.

’Kamu nggak tidur?’ tanya Pohan.

’Aku sudah tidak bisa tidur sejak terbangun seperempat jam yang lalu,’ jawab 
Aswin.

’Apa mau pergi shalat subuh ke mesjid? Sebentar lagi azan subuh,’ Pohan 
mengusul.

’Mau,’ jawab Aswin pendek.

’Kalau begitu aku pergi berwudhu sebentar.’

Mereka pergi ke mesjid yang tidak jauh dari rumah. Di tengah dinginnya cuaca 
subuh. Tubuh mereka cukup ditutupi dengan jaket. 

Pulang dari shalat, Aswin baru menyadari banyak sekali anjing berkeliaran di 
kampung ini. Beberapa ekor heboh menyalak. Entah menyalak siapa.

’Kenapa begitu banyak anjing? Anjing siapa itu semua?’ tanya Aswin.
’Anjing orang kampung sini. Ada di antaranya anjing untuk berburu,’ jawab Pohan.

’Oh yaa. Aku ingat. Untuk berburu babi. Kamu pernah pergi berburu babi?’

’Belum pernah. Kenapa? Kamu tertarik untuk pergi?’

’Kemana? Pergi berburu ke bawah ngarai Sianok?’

’Oo bukan. Para pemburu pergi ke hutan-hutan di kaki gunung Singgalang, ke 
daerah Matur, atau ke kaki gunung Marapi, bahkan ke tempat yang lebih jauh 
lagi. Mereka pergi dalam rombongan besar. Masing-masing membawa anjing. Ya, 
anjing-anjing kampung seperti ini,’ Pohan menjelaskan.

’Mungkin menarik juga untuk dicoba. Tapi kita tidak punya anjing. Dimana bisa 
kita beli?’

’He..he... Anjing tidak boleh diperjualbelikan. Itu binatang haram. Tapi boleh 
diminta anaknya lalu dipelihara. Dan dilatih untuk jadi anjing pemburu.’

’Wah, hopeless kalau begitu. Kalau begitu kamu  cari anak anjing dari sekarang, 
kamu pelihara. Nanti kalau dia sudah besar dan kalau aku datang berkunjung lagi 
kita pergi berburu babi.’

Pohan tertawa mendengarnya. 

Mereka sudah sampai kembali di rumah. Etek Rasuna sudah bangun dan sudah 
selesai shalat subuh. Begitu juga nenek Rafiah. Nenek Rafiah terheran-heran 
mengetahui kedua cucunya baru kembali dari mesjid. Nenek tua yang sudah berumur 
83 tahun itu masih sehat. Dan Aswin cukup surprise ketika nenek itu menyapa dan 
melawan dia berbicara dalam bahasa Inggeris yang fasih.

’Nek, Aswin bisa berbahasa Indonesia. Dari kemarin kami hanya berbahasa 
Indonesia saja. Kenapa nenek berbahasa Inggeris?’ tanya Pohan.

’Ano ndak pandai babahaso awak, enek ndak pandai babahaso Indonesia,’ kata 
nenek sambil terkekeh.

Mereka semua tertawa mendengarnya.

’Aswin! Kamu mau minum apa? Apa kamu mau mencoba minum teh telur? Etek mau 
membuatkan teh telur untuk Pohan,’ etek Rasuna menanyai Aswin.

’Ya...ya.. Saya mau. Atau... boleh tidak kopi telur?’ tanya Aswin.

‘Boleh. Kamu sudah pernah minum kopi telur rupanya. Oh ya saya baru ingat. Kopi 
telur kesukaan ambo Muncak.’
Mereka sarapan pagi bersama-sama sambil bercerita lagi. Tambah ramai dari tadi 
malam karena nenek Rafiah tidak mau kalah ikut dalam obrolan itu. Sarapan pagi 
dengan ketan dan goreng pisang raja. 

’Berdaso benar,’ kata Aswin.

Semua yang mendengar tertawa.

’Tahu kamu kata-kata ’berdaso’ segala,’ ucap etek Rasuna.

’Ya tahu.. Itu kata-kata favorit ayah,’ jawab Aswin.

’Kamaa kapai ariko?’ tanya nenek yang memang tidak mau berbahasa Indonesia.

’Ka Maninjau. Enek ka sato pai?’ jawab Pohan dan balik bertanya.

’Antilah. Jatuh enek di sinan biko. Panek kalian mauruih. Bao pulang palai 
rinuak biko, mak!’ kata nenek.

’Jadih nek,’ jawab Aswin.

’Jam berapa kita berangkat?’ tanya Aswin.

’Bagaimana kalau jam sembilan? Kalau kepagian Puncak Lawang sering berkabut. 
Kita tidak bisa melihat apa-apa,’ jawab Pohan.

’Aku mengikut saja. Jam sembilan? OK.’

’Ke Puncak Lawang, ke Maninjau terus ke Lubuk Basung ke Tiku?’ tanya etek.

’Kita lihat nanti. Tapi bagusnya tidak usah. Kan kamu belum melihat Bukit 
Tinggi? Lebih baik kita ke Bukit Tinggi nanti sore,’ usul Pohan.

’Ada yang menarik di Lubuk Basung dan Tiku?’ tanya Aswin.

’Tidak seberapa menarik. Maksud etek kita jalan melingkar sesudah itu ke Lubuk 
Basung, ke Tiku terus ke Pariaman. Nah disini sebenarnya ada tempat yang 
menarik di pinggir pantai. Dari sana ke luar ke Sicincin ke jalan yang kita 
lalui kemarin,’ Pohan menerangkan.

’Mungkin menarik juga,’ Aswin ragu-ragu.

’Jangan khawatir. Ada program itu di hari ke empat nanti. Kita nanti pergi ke 
Padang melalui jalan itu.’

’Bagus sekali kalau begitu. Ah, biarlah aku sekarang menurut saja. Aku yakin 
Pohan sudah merencanakan ini sebaik-baiknya,’ ujar Aswin.

’Jangan khawatir. Pokoknya beres,’ jawab Pohan.

Mereka masih melanjutkan obrolan panjang menjelang jam sembilan.

                        
                                                *****


_________________________________________________________________
Try Live.com: where your online world comes together - with news, sports, 
weather, and much more.
http://www.live.com/getstarted
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke