SEMINGGU DI RANAH BAKO (6)
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu Ditaruihanlo stek lai. Nan
kaanam.
Wassalaamu'alaikum, Lembang Alam
6. Maninjau
Hari panas ketika mereka berangkat meninggalkan Puncak Lawang. Mobil mereka
berjalan menurun menuju Matur, kembali di antara kebun-kebun tebu.
’Aku sudah mendapatkan jawaban tentang pantun gula Lawang tadi dari etek.
Barusan aku menelpon etek di rumah,’ Pohan mengawali pembicaraan mereka.
’Oh ya? Apa kata etek?’
’Bukan lumpang sagu, tapi lompong sagu. Lompong sejenis makanan yang dibuat
dari tepung sagu dengan sedikit santan dan diberi gula Lawang lalu dikukus.
Bentuk lompong yang sudah dikukus itu seperti agar tapi lebih keras
dibandingkan agar. Dimakan dengan parutan kelapa muda. Jadi lagumu tadi adalah,
lompong sagu bagulo Lawang, di tangah-tangah karambia mudo, sadang katuju
diambiak urang, awak juo malapeh hao. Begitu ceritanya,’ Pohan menjelaskan.
’Sadang katuju apa maksudnya?’ tanya Aswin.
’Sedang disukai. Lebih kurang maksudnya, seseorang pemuda yang sedang naksir
kepada seoarng wanita atau anak gadis. Dia sedang sangat menyukai gadis itu,
tapi tiba-tiba datang orang lain yang mendapatkan gadis tersebut jadi jodohnya.
Si pemuda yang tadi jadi gagal dan kecewa. Disebut malapeh hao. Artinya tidak
mendapat apa-apa.’
’Wah, apa ayah dulu pernah ’malapeh hao’ ya?’ tanya Aswin tertawa.
’Kenapa kamu bertanya begitu?’
’Ayah senang benar menyanyikan lagu itu,’ jawab Aswin.
’Ah, itukan hanya nyanyian. Tapi ya, nggak tahu juga. Apa Mak Dang dulu pernah
dikecewakan...he..he...’
Tidak terasa mereka sudah sampai kembali di Matur. Di simpang Matur berbelok ke
kanan menuju Embun Pagi. Mobil berjalan dengan mantap di jalan yang mulus.
Dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di Embun Pagi.
’Dari sini kita juga bisa melihat pemandangan ke arah Danau Maninjau. Tapi
sebenarnya yang paling indah memang di Puncak Lawang tadi. Mari kita berhenti
sebentar biar kamu bisa membandingkan,’ ajak Pohan.
Mobil Kijang itu dibelokkan Pohan ke pelataran parkir yang luas. Mereka turun
dari mobil, berjalan ke arah sebuah bangunan panjang beratap tanpa dinding
tempat banyak orang sedang mengamati panorama ke bawah. Di sini juga tersedia
teropong untuk melihat ke arah kampung-kampung di pinggir danau di bawah sana.
Di pelataran ini juga ada beberapa buah kedai penjual sovenir dan kedai-kedai
kopi. Semua kedai-kedai itu terlihat rapi dan bersih. Para pedagang sovenir
merayu setiap orang yang lalu lalang di depan kedai mereka untuk berbelanja.
Aswin menggunakan sebuah teropong itu untuk melihat ke arah danau.
’Rupanya ada banyak jet coaster dibawah sana. Tadi aku tidak melihatnya dari
puncak,’ ujar Aswin.
’Ya, memang ada. Ada juga speed boat untuk keliling danau. Mau mencobanya
nanti?’
’Tentu,’ jawab Aswin, sambil meneropong ke sekeliling danau.
’Mari kita mampir ke kedai kopi itu. Aku haus,’ usul Pohan
’Ya, aku juga,’ jawab Aswin, segera melepas teropong yang sedang dipakainya.
Banyak orang duduk di kedai kopi itu. Di dinding ada sebuah papan bertuliskan
jenis makanan dan minuman yang tersedia di kedai itu. Umumnya makanan-makanan
ringan yang khas dari Minang. Ada lemang tapai, ampiang badadiah, ketan dan
goreng pisang. Dan ternyata juga ada tertulis lompong sagu.
’Wah, kita berjodoh dengan lompong sagu. Lihat, disini tersedia. Aku mau
mencobanya. Kamu tertarik?’ tanya Pohan.
’Boleh juga, untuk sekedar ingin tahu. Sebenarnya aku ingin juga mencoba amping
dadih. Dan aku mau pesan secangkir kopi,’ kata Aswin.
’Atau pesan kedua-duanya,’ usul Pohan.
‘Tidak ternikmati nanti. Biar amping dadih di tempat lain saja.’
Keduanya menikmati lompong sagu bagulo Lawang, di tangah-tangah karambia mudo.
‘Not bad,’ ucap Aswin tersenyum.
Jam dua belas lebih mereka melanjutkan perjalanan ke Maninjau. Mulailah
sekarang melalui kelok empat puluh empat yang ditandai dengan nomor mundur
sejak dari atas.
‘Waaaw, ini benar-benar hebat. Kelok empat puluh empat, kita mulai dengan nomor
empat puluh empat. Menakjubkan,’ Aswin berceloteh.
Kelok demi kelok itu mereka lalui dengan santai. Di bahagian tengah kelok demi
kelok itu, Pohan menunjuk ke arah monyet-monyet yang banyak sekali di pinggir
jalan. Monyet-monyet itu berkeliaran tanpa rasa takut. Mereka bahkan melihat ke
arah mobil. Mungkin berharap ada sesuatu yang akan dilemparkan orang dari mobil.
’Kita tidak usah berhenti disini. Di samping jalan agak sempit, bisa
menghalangi jalan orang, monyet-monyet itu juga agresif dan nakal-nakal,’ kata
Pohan.
’OK,’ jawab Aswin singkat. Kali ini sambil dia memotret kawanan monyet itu.
Akhirnya mereka menyelesaikan semua kelokan dan sampai di Maninjau. Langsung
menuju dermaga tempat terdapat banyak perahu cepat (speed boat) dan sepeda
motor air (jet coaster) sewaan.
Ada bangunan dengan loket tempat menyewa speed boat ataupun jet sky di dermaga
itu. Ada juga peralatan untuk ski air. Masing-masing bisa disewa minimum satu
jam. Ditempat ini pengunjung juga bisa menyewa pakaian berenang baik untuk
laki-laki maupun perempuan. Mata Aswin menangkap sebuah papan pengumuman yang
menyebutkan bahwa laki-laki maupun perempuan yang akan beraktifitas di danau
harus menggunakan pakaian renang yang sopan. Bikini tidak diperbolehkan.
Mereka menyewa dua buah jet coaster. Dan juga celana berenang (celana pendek
berwarna-warni sebatas lutut). Kepada mereka juga diberikan baju pelampung
serta masing-masing sebuah locker berikut kuncinya, tempat menyimpan pakaian
mereka. Locker itu terletak di dalam sebuah ruangan terpisah yang dijaga
keamanannya dengan dua kunci pengaman. Satu kunci dipegang petugas. Kunci
locker dapat dikalungkan dileher.
Sebelum mengendarai jet coaster terlebih dahulu diberitahu bagaimana cara
menyelamatkan diri dalam keadaan darurat. Seandainya mesinnya mati, mereka
diminta agar tetap berada di tempat dan mengibarkan bendera merah yang
disediakan sebagai tanda memohon bantuan.
Kedua anak muda tadi mulai mengharungi danau. Mereka memacu coaster itu ke arah
utara. Di danau cukup ramai dengan orang yang sedang menggunakan alat yang
sama. Di depan terlihat dua buah speed boat masing-masing menarik seorang
wanita yang sedang bermain ski air. Mereka mengendarai coaster sejajar dengan
kecepatan yang sama pada jarak sekitar sepuluh meter, mengiringkan pemain ski
itu dari jarak kira-kira seratus meter. Suara riuh mesin coaster tidak
memungkinkan mereka berbicara satu sama lain dalam jarak sejauh itu. Akhirnya
mereka bosan juga menguntit pemain ski yang entah siapa itu. Pohan memacu
coaster sedikit cepat lalu memberi isyarat untuk berputar balik. Aswin faham
yang dia maksud dan mengikuti gerakan Pohan. Sekarang mereka menuju ke arah
selatan danau. Ada dua orang lain lebih ke tengah memacu coaster mereka lebih
cepat. Gelombang air yang mereka tinggalkan menyebabkan coaster Pohan dan Aswin
terangguk-angguk. Tapi mereka dapat menguasai alat itu dengan baik. Mengendarai
jet coaster ternyata mengasyikkan. Tapi setelah lebih kurang satu setengah jam
berputar-putar di danau mereka jadi kecapekan. Aswin memberi isyarat agar
segera menepi. Keduanya lalu kembali ke dermaga, mengakhiri permainan itu.
Sudah hampir jam setengah tiga siang ketika mereka meninggalkan dermaga. Perut
mereka terasa lapar. Sekarang mereka mengendarai mobil ke arah Lubuk Basung,
menuju ke sebuah restoran di tepi danau.
’Kita kan belum shalat. Apa kita tidak shalat dulu?’ tanya Aswin.
’Kamu belum lapar?’ Pohan balik bertanya.
’Tentu saja lapar. Tapi kalau ditunda sepuluh menit tidak apa-apa,’ jawab Aswin.
’Baik. Kalau begitu kita shalat dulu di mesjid di depan itu,’ ujar Pohan pula.
Mesjid itu terletak sedikit lebih jauh dari restoran. Ada kira-kira dua ratus
meter jaraknya. Mesjid yang megah dan bersih. Sejuk suasana di dalamnya. Waktu
mereka masuk mereka dapati ada beberapa orang yang sedang shalat berjamah.
Mungkin juga para wisatawan seperti mereka. Mereka ikut berjamaah.
Sesudah shalat baru kembali ke restoran. Restoran yang terletak persis di
pinggir danau. Juga sangat bersih dengan pelayan-pelayan berpakaian rapi dan
banyak senyum. Mereka makan dengan palai rinuak dan ikan bakar. Nikmat sekali
dan mereka makan bertambuh-tambuh. Disamping mereka memang sudah kelaparan.
Sesudah kedinginan bermain di danau.
’Enak sekali. Palai rinuak dan ikan bakar ini enak sekali,’ komentar Aswin
spontan.
’Ya. Ini produk danau ini,’ Pohan menjelaskan.
’Banyak ikan rupanya di danau ini,’ kata Aswin.
’Kelihatannya begitu. Disamping ada pula ikan yang memang dipelihara penduduk
dalam keramba,’ jawab Pohan.
’Apa itu keramba?’
’Jaring besar yang diletakkan dalam danau, seperti yang diluar itu. Di
dalamnya di pelihara ikan,’ kata Pohan sambil menunjuk ke arah keramba yang
terlihat di luar jendela.
’Tapi tentu bukan ikan rinuak,’ ungkap Aswin.
’Bukan. Ikan yang bisa dibesarkan. Kalau rinuak berkembang biak sendiri dalam
danau. Tidak dibudidayakan,’ jawab Pohan pula.
’Oh ya.... Jangan lupa membawa oleh-oleh palai rinuak untuk nenek. Tadi kita
sudah berjanji,’ kata Aswin.
’Tentu saja,’ jawab pohan.
Mereka bersantai-santai sebentar lagi sesudah makan, sebelum berangkat dari
tepi danau Maninjau. Sekarang mereka akan ke Bukit Tinggi.
*****
_________________________________________________________________
Live Search: New search found
http://get.live.com/search/overviewSukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment, tidak dianjurkan.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================