Buat nambah-nambah info, dari blognya http://naskahkuno.blogspot.com

Naskah-naskah Keagamaan di Minangkabau
Oman Fathurahman

Saya beruntung memiliki kawan-kawan baik di Minangkabau yang sejak
tahun 1999 sangat sabar dan tulus mengajak saya berkeliling ke
surau-surau yang memang banyak tersebar di wilayah ini.

Bang Yusuf, Almarhum Da Yusriwal, Bu Yetti, Ni Zuriati, Pramono, dan
Bahrein adalah beberapa nama saja yang bisa saya sebut. Kawan Minang
lainnya, Da Suryadi, yang produktiv menulis dan betah di Leiden, juga
sering "memasok" pengetahuan saya tentang budaya Minangkabau…Di mata
saya, mereka ini adalah "pahlawan-pahlawan" yang konsisten dengan
misinya untuk menyelamatkan khazanah naskah Minangkabau...

Dari pengalaman berkeliling ke surau-surau itu saya jadi tahu, betapa
Minangkabau menyimpan khazanah naskah keagamaan yang luar biasa besar:
tasawuf, fikih, nahwu sharaf, dan tafsir adalah beberapa kategori
naskah yang sering dijumpai…ini tentunya menggambarkan tradisi dan
wacana intelektual yang pernah terjadi di wilayah ini pada masa-masa
sebelumnya…Pada gilirannya, keberadaan naskah-naskah Minangkabau ini
turut memperkaya khazanah naskah Nusantara secara keseluruhan.

Sayang, seperti halnya terjadi di wilayah lain, naskah-naskah tersebut
sering kali tidak terawat dengan baik, bahkan tidak jarang disimpan
sebagai "barang rongsokan" belaka…

Di Minangkabau, tradisi penulisan dan kemudian persebaran
naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan terjadi secara terus
menerus, seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan
persebaran Islam. Dan, karena Islam yang berkembang sejak awal
bercorak tasawuf, maka naskah-naskah keagamaan yang muncul pun
kebanyakan mengandung pembahasan tentang tasawuf, baik yang diamalkan
oleh para penganut tarekat Syattariyyah maupun Naqshabandiyyah.

Uniknya, di Minangkabau, perkembangan dan persebaran Islam yang
bercorak tarekat ini terjadi secara sistematis melalui surau-surau.
Jadi, tidak mengherankan jika sejauh menyangkut telaah atas berbagai
hal yang berkaitan dengan Islam periode awal di Minangkabau ini, peran
surau menjadi sangat penting, termasuk ketika masuk pada pembahasan
tentang tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaannya.
Dalam hal ini, surau di Minangkabau dapat dianggap sebagai semacam
"skriptorium" naskah, tempat di mana aktivitas penulisan dan
penyalinan naskah-naskah keagamaan berlangsung.

Sungguh, pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau
di Minangkabau ini sangat mempermudah upaya penelusuran keberadaan
naskah-naskah tersebut, karena surau sendiri sampai kini masih banyak
dijumpai, kendati kondisi dan fungsinya tidak seperti pada awal
perkembangannya sebagai center of excellence keilmuan Islam.

Akan tetapi, dalam kenyataannya, upaya untuk mengetahui keberadaan
naskah-naskah keagamaan tersebut, dan apalagi membaca serta
memanfaatkannya, seringkali menemui hambatan, baik karena
naskah-naskahnya yang dikeramatkan sehingga tidak dapat diakses oleh
sembarang orang, maupun karena naskah-naskah tersebut telah rusak
dimakan usia.

Berbeda dengan apa yang terjadi di wilayah lain di Indonesia, tradisi
penulisan naskah-naskah keagamaan di Minangkabau ini tampaknya masih
terus berlangsung hingga kini, kendati dengan intensitas yang berbeda
dengan kondisi ketika mesin cetak belum berkembang. Sejumlah naskah
Syattariyyah periode akhir abad ke-20 yang saya jumpai merupakan salah
satu bukti betapa tradisi tersebut masih terus berlangsung seiring
dengan masih mengakar dan terus berkembangnya Islam tarekat, khususnya
tarekat Syattariyyah dan Naqshabandiyyah di wilayah ini.

Mempertimbangkan persebaran tarekat-tarekat di Minangkabau yang
demikian intensif, serta memperhatikan fungsi naskah-naskah keagamaan
sebagai media untuk mentransmisikan berbagai ajaran tarekat tersebut,
dan juga berdasarkan pengalaman saya sendiri ketika melakukan
"petualangan" di lapangan, tidak berlebihan jika diasumsikan bahwa
naskah-naskah keagamaan di Minangkabau ini terdapat dalam jumlah
besar.

Tentu saja, upaya identifikasi dan inventarisasi atas naskah-naskah
yang berkaitan dengan masyarakat Minangkabau ini bukan tidak pernah
dilakukan, terutama berkaitan dengan naskah-naskah Minangkabau yang
berada di luar negeri, khususnya Belanda.

Sejumlah katalog juga pernah ditulis, kendati tidak dikhususkan pada
naskah-naskah keagamaan saja, melainkan juga naskah-naskah lainnya,
seperti sastra, hikayat, adat istiadat, dan lain-lain. van Ronkel
(1921) misalnya, mencatat tidak kurang dari 257 naskah dengan 87 judul
tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Kemudian, Teuku Iskandar
(1999), juga mencantumkan kembali naskah-naskah Minangkabau yang
pernah dicatat oleh van Ronkel dengan beberapa tambahan koleksi
terbaru. Dan yang paling mutakhir, sebuah Katalog Naskah Minangkabau
yang disusun oleh M. Yusuf dkk (2006) mendeskripsikan tidak kurang
dari 200 an naskah keagamaan yang kebanyakan disimpan oleh masyarakat
di Minangkabau.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan, daerah-daerah
yang menjadi basis keberadaan naskah-naskah keagamaan di Minangkabau
antara lain adalah Kampung Lb. Gunung Gadut 50 Kota, Taram 50 Kota,
Batipuh Padang Panjang, Bingkudu IV Angkat Canduang Agam, Tiakar
Payakumbuh, Kuranji Padang, Pariangan Batusangkar, Pauh IX Padang, dan
Kurai Tigo Baleh Bukittinggi.

Di samping itu, khusus berkaitan dengan naskah keagamaan di
surau-surau, ada beberapa suaru yang sangat potensial menyimpan
khazanah naskah dalam jumlah besar, antara lain: surau Bintungan
Tinggi nan Sabaris Pariaman, surau Tigo Jorong desa Kudu Ganting Barat
kec. V Koto Kampung Dalam Pariaman, surau Tandikat Pariaman, surau
Padang Japang Kanagarian VII Koto Tagalo kec. Guguak Limapuluh Koto,
surau Balingka kec. IV Koto Agam, serta surau Batang Kabung dan surau
Paseban di Koto Tangah Padang.

Saya sendiri yakin bahwa di samping tempat-tempat yang telah
disebutkan di atas, niscaya masih banyak lagi lokasi di Minangkabau
yang menyimpan khazanah naskah-naskah keagamaan.

Adalah tugas bersama untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya
bangsa ini; tidak hanya naskah-naskah Minangkabau, tetapi khazanah
naskah Nusantara secara keseluruhan. Sayang, perhatian terhadap soal
yang satu ini masih sangat minim, baik dari perorangan maupun
lembaga....

Sayang pula, salah satu kawan Minang itu, Da Yusriwal, terlalu cepat
meninggalkan kami, padahal dunia keilmuan masih membutuhkan
dedikasinya yang sudah teruji, semoga engkau tenang di alam sana,
kawan, amin...!

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke