Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
 
Di ansua juo saketek-saketek lai.
 
Wassalamu'alaikum
 
Lembang Alam


17. Tiku – Pariaman
 
Mereka tidak berlama-lama duduk di warung kelapa muda itu. Sesudah menghabiskan 
minuman kelapa muda mereka langsung melanjutkan lagi perjalanan, sementara 
pelancong-pelancong bule masih meneruskan obrolan mereka disana. Perjalanan 
diteruskan  menuju ke arah barat sampai bertemu dengan simpang tiga.
 
‘Di pertigaan di depan kita berbelok ke kiri. Ke kanan adalah jalan ke Simpang 
Ampek di Pasaman,’ Pohan menjelaskan, persis sebelum mereka sampai di 
persimpangan.
 
’Kalau kita ke kanan ada jugakah objek wisata yang khas?’ tanya Aswin.
 
’Pemandangan sepanjang jalan kadang-kadang cukup bagus, melalui daerah 
pinggiran pantai. Tapi objek wisata di sepanjang jalan ini tidak ada yang 
istimewa,’ jawab Pohan.
 
Dan mereka berbelok ke kiri. Menuju ke Tiku. Menempuh jalan yang kadang-kadang 
berada tidak jauh dari pantai. Di pinggir jalan banyak tumbuh pohon kelapa. 
Pohon nyiur yang melambai-lambai. Ada kalanya terlihat rawa-rawa kecil di 
sebelah kanan, ditumbuhi keladi dan enceng gondok. Dan ada kalanya pula di 
sebelah kiri jalan terlihat sawah. 
 
’Tiku yang terletak di sepanjang pantai ini termasuk bagian kabupaten Agam. 
Kabupaten Agam itu meliputi daerah di sekitar Bukit Tinggi, daerah pegunungan. 
Secara kekerabatan sebenarnya orang Tiku  lebih dekat dengan orang Pariaman. 
Makanya orang sering menggandengkan nama Tiku dengan Pariaman,’ Pohan mengawali 
cerita.
 
’Kenapa begitu?’ tanya Aswin.
 
’Aku tidak tahu. Yang pernah aku baca, Tiku pernah jadi kota pelabuhan penting 
bagi kerajaan Aceh, yang menguasai pantai barat Sumatera sampai jauh ke 
selatan. Dan ketika itu Padang sudah dikuasai Belanda. Orang-orang yang 
menghindar dari berdagang dengan Belanda yang licik, datang ke Tiku, ke pasar 
perdagangan bebas. Kesini di bawa rempah-rempah dan beras dari dataran tinggi 
Agam.’
 
’OK. Mungkin waktu itu mereka sudah melalui belokan empat puluh empat.’
 
’Sangat mungkin. Karena konon pada waktu itu bahan perdagangan di bawa dengan 
kuda beban. Dan kamu tahu, aku selalu membayangkan di sepanjang jalan yang kita 
lalui ini dulu sering terjadi peperangan perebutan kekuasaan antara tentara 
Aceh melawan tentara penjajah Belanda,’ lanjut Pohan.
 
’Apakah sekarang Tiku masih mempunyai arti penting?’
 
’Pemerintah daerah sedang membangun dermaga di Tiku. Nanti diharapkan Tiku akan 
menjadi pusat perdagangan dan pelelangan ikan dan jadi kota industri 
perikanan,’ jawab Pohan.
 
’Sangat masuk di akal. Lautan Hindia sebegitu luasnya di hadapan. Dan pantai 
Sumatera yang sangat panjang membentang. Harusnya orang asing datang membeli 
ikan ke sini secara terbuka dan secara jujur. Bukan malah mencuri ikan di 
perairan negeri ini,’ Aswin berkomentar.
 
’Memang itu idenya. Tiku akan ditumbuhkembangkan menjadi pusat perikanan daerah 
Sumatera Barat.’
 
Mobil mereka terus melaju di jalan yang mulus. Banyak kendaraan lalu lalang di 
jalan raya ini, termasuk kendaraan pelancong, bus-bus pariwisata. Mereka terus 
juga berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Sampai di satu tempat terlihat 
plang bertuliskan ’Pantai Kata’ dengan gambar sepasang pelancong berdiri di 
tepi pantai. Plang besar dengan gambar yang cukup mencolok itu sudah dapat 
terbaca dari jarak beberapa ratus meter.
 
’Pantai Kata. Kita mampir di sini?’ tanya Aswin ketika melihat plang besar itu
 
’Ya. Kita mampir di pantai ini,’ kata Pohan.
 
’OK. Kelihatannya agak istimewa kalau melihat pemberitahuan  dengan huruf 
besar-besar itu,’ komentar Aswin.
 
’Mari kita lihat,’ ajak Pohan sambil memutar mobil berbelok ke kanan, memasuki 
jalan ke arah pantai.
 
Di kiri jalan ini terlihat beberapa buah baliho Bundo Kanduang seperti yang 
terlihat di bandara, dengan peringatan yang sama, dalam beberapa bahasa. Agar 
para pelancong memperhatikan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. 
 Dan tentu saja peringatan agar berhati-hati berenang dan berekreasi di laut.
 
Mereka meluncur ke tempat parkir yang luas, yang terletak sekitar dua puluh 
meter dari pantai. Banyak kendaraan diparkir di situ, termasuk beberapa buah 
bus pariwisata besar-besar. Kedua anak muda ini langsung menuju ke tepi pantai. 
Pantai yang landai dengan pasir putih, terhampar memanjang dari utara ke 
selatan. Banyak sekali pelancong di sini. Ada yang sedang berenang di laut, 
yang sedang berjemur, yang sedang duduk-duduk santai di bawah pohon yang 
rindang. Di tengah laut ada yang sedang berperahu layar, beriring-iring dalam 
perahu dengan layar berwarna-warni.
 
Ada beberapa pohon berdaun rindang terpelihara dengan baik, dan banyak pohon 
kelapa. Dan agak ke belakang terdapat beberapa buah kios dan kedai kecil yang 
menjual minuman ringan. Ada pula dua buah bangunan cukup besar yang di dalamnya 
ada ruangan  tempat orang berganti pakaian, ada kamar mandi dan peturasan. 
Masing-masing untuk laki-laki dan wanita. Semua terpelihara kebersihan dan 
kerapiannya. Dan tentu saja disini terlihat polisi-polisi wisata. Ada pula 
beberapa orang penyelamat pantai yang mengawasi orang-orang yang sedang 
berenang.
 
’Pantai yang elok dan indah,’ ujar Aswin kagum begitu mereka sampai di pantai 
itu.
 
’Ya, pantai berpasir putih ini sangat disenangi para pelancong,’ jawab Pohan.
 
‘Dan kelihatannya sangat terpelihara. Sangat bersih,’ komentar Aswin pula. 
‘Pantas saja cukup ramai pengunjungnya.’
 
‘Apalagi kalau di saat musim libur.  Jauh lebih banyak lagi yang datang ke 
sini.’
 
‘Tapi di dekat sini tidak terlihat adanya hotel. Dimana orang-orang ini 
menginap ?’
 
’Di dekat sini ada beberapa bungalow yang baru di bangun. Hotel memang belum 
ada. Kebanyakan turis itu menginap di Padang atau di Pariaman.’ 
 
’Laut dan pasir putih ini sangat menggoda. Bagaimana kalau kita ikut berenang?’ 
tanya Aswin.
 
’Terserah kamu. Tapi kalau aku pikir sih lebih baik kita bersilancar di Air 
Manis nanti sore,’ usul Pohan.
 
’Benar juga. Waktunya tanggung untuk berenang. Sudah terlalu panas. Atau mari 
kita berjalan-jalan saja di sepanjang pantai ini,’ ajak Aswin.
 
Tentu saja Pohan setuju.
 
Dan merekapun berjalan-jalan di pantai itu. Menikmati deburan ombak menghempas 
di pasir putih. Menikmati hembusan angin yang bertiup, yang menyebabkan daun 
pohon nyiur melambai-lambai. Sambil berbincang-bincang santai.
 
’Kenapa namanya Pantai Kata?’ tanya Aswin.
 
’Aku tidak tahu. Mungkin untuk menyaingi Pantai Kuta di Bali he..he..he..’ 
jawab Pohan asal-asalan.
 
’Oh ya? Apa betul? Tapi suasananya aku yakin tidak akan sama dengan di Bali.’
 
’Maksudmu?’
 
’Disini mungkin lebih teratur. Lebih banyak peraturan untuk ketertiban.’
 
’Ya.. Bagaimana ya? Kalau tidak diatur, kalau tidak ada filter dikhawatirkan 
para pendatang tidak hanya membawa manfaat kepada masyarakat di sini tapi 
bisa-bisa menjadi pembawa masalah.’
 
’Benar. Memang perlu adanya peraturan yang jelas dan tegas. Peraturan yang 
ditegakkan dengan konsisten,’ tambah Aswin.
 
’Itulah yang dilakukan pemerintah daerah di sini. Dan kelihatannya berjalan 
cukup baik. Para pelancong yang datang semakin ramai dan rasanya tidak ada yang 
mempermasalahkan peraturan-peraturan pemerintah daerah.’
 
’Benar sekali. Cukup mengagumkan melihat para pelancong asing bisa mematuhi 
aturan-aturan itu. Di pantai ini, seperti juga di Maninjau tidak ada wanita 
yang memakai bikini. Dan tempat ini tetap saja ramai,’ komentar Aswin. 
 
Agak jauh mereka berjalan. Sampai ke tempat yang tidak ada lagi pelancongnya. 
Baru mereka berbalik kembali. Dari sini semakin terlihat keindahan pantai 
tempat para pelancong berkumpul karena bahagian itu memang lebih landai. Dan 
lebih banyak pohon-pohonan. Cuaca siang ini agak panas. Pastilah bernaung di 
bawah pohon-pohon itu sambil memandang ke arah laut sangat menyenangkan. 
 
Dan mereka ikut duduk di bawah sebuah pohon yang rindang itu. Di bangku-bangku 
kayu sederhana. Sambil menikmati keindahan suasana pantai. Sejuk dan nyaman 
rasanya berada di sini. 
 
’Apa kita lanjut dulu?’ tanya Pohan, setelah beberapa saat mereka berada di 
sana.
 
’OK. Kita terus ke Pariaman?’
 
’Ya. Kita terus ke Pariaman,’ jawab Pohan.
 
Mereka tinggalkan Pantai Kata yang masih saja ramai. 
 
 
                                                                        *****
 
_________________________________________________________________
Personalize your Live.com homepage with the news, weather, and photos you care 
about.
http://www.live.com/getstarted.aspx?icid=T001MSN30A0701
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke