Ass ww.
   
  Mak Lembang, Kurnia dan rekan2 Geologi lainnya,
   
  Stlh mangodak-ngodak ka Aie Manih awal tahun lalu (kunjungan pertama ambo 
kasinan), ambo punyo pandapek yg tidak umum ttg Batu Malin Kundang iko dan 
belum pernah ambo danga dari siapapun. Tolong koreksi terminologi geologinya 
jiko kurang tapek, maklum elemu geologinyo alah luntur soalnya dek lah 
manyubarang ka dunia IT sajak lulus...
   
  Melihat kondisi Batu Malin Kundang itu, kalau iya itu masih orisinal walaupun 
sebagian besar sudah di make-up, manuruik ambo itu adalah sebuah kapal dan anak 
kapalnya yang tercebak dan tersedimentasikan secara tiba-tiba. Bisa akibat 
letusan gunung berapi atau bentuk katastrofisma lainnya (umurnya bisa diukur 
kalau mau, lalu bisa dihubungkan dengan sejarah geologi Sumatera). Sehingga 
semua material kapal dan anak kapal tersilikasi sedemikian rupa menjadi batu. 
Dengan terjadinya pengangkatan dan erosi yang berlangsung terus menerus, 
akhirnya kapal dan anak kapal yang telah membatu ini sampai dan muncul kembali 
ke permukaan.
   
  Lalu kenapa jadi legenda dan ada cerita anak durhaka. Manuruik pandapek ambo 
ini adalah akibat urang Minang yang suko pai marantau dan sebelum berhasil dan 
sukses dirantau, pantang pulang. Dulu... Sudah menjadi kebiasaan bagi para 
tetua dan ninik mamak untuk berpesan ke yang muda-muda, dibekali dengan 
berbagai nasehat. Salah satunya adalah agar "ber-guru kepada alam". Supaya 
lebih meyakinkan, maka dipakailah Batu si Malin Kundang sebagai contoh nyata 
dengan skenario sbg contoh anak durhaka yang sudah lupa sama orang tua krn 
sudah kaya dari hasil merantau... Jangan 'ongeh' kalau alah maraso sukses...! 
Kanai kutuak beko...
   
  Sabananyo alah dari tahun lalu akan ambo lewakan pandapek ambo yang baru 
PERTAMA iko ttg Batu Malin Kundang. Tapi agak anggau juo ambo, takuik marusak 
legenda yang sudah mendunia tsb. 
   
  Kalau hipotesa ini bisa didukung, ini akan lebih meningkatkan lagi NILAI JUAL 
Pantai Air Manis untuk SENSASI PARIWISATA sehingga bisa dimasukkan ke buku-buku 
panduan pariwisata untuk MENGGODA calo wisatawan mau mapir kesana (tapi tukang 
kuricih nan sampai tigo kali itu mesti dibarasiahkan dulu, tamasuak aturan 
harga karcis parkir nan agak mamaso). 
   
  Silahkan ditanggapi. Kalau kurang tapek, tolong kasih argumentasinya. 
   
  Semoga berkenan. Thanks.
   
  Salam,
  Nofrins
  

Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      P  {  margin:0px;  padding:0px  }  body  {  FONT-SIZE: 10pt;  
FONT-FAMILY:Tahoma  }    Assalaamua'alaikum wa rahmatullahi wabrakaatuhu
 
Lah tibo mareka di Aia manih.
 
Wassalamu'alaikum,
 
Lembang Alam

   
    
    Pantai Air Manis
  ‘Berapa jauh lagi ke Padang dari sini?’ tanya Aswin waktu mereka sudah sampai 
di Kurai Taji.
  ‘Pusat kota Padang lebih kurang 50 kilometer,’ jawab Pohan.
  ‘Mudah-mudahan tidak ada macet di jalan dan kita tidak terlalu sore sampai di 
pantai Air Manis,’ kata Aswin.
  ‘Mudah-mudahan tidak. Dan kita tidak akan masuk ke dalam kota Padang. Kita 
langsung ke Indarung melalui jalan lingkar dan langsung ke Air Manis. 
Mudah-mudahan dalam waktu 40 menit kita sudah sampai di sana,’ Pohan 
menjelaskan.
  ’Bagus sekali kalau begitu. Jam empat lebih sedikit kita akan sampai di sana. 
Masih cukup siang dan kita bisa bermain di laut cukup lama.’
  ’Kamu sangat menyenangi laut kelihatannya.’
  ’Ya. Aku menyenangi laut. Menyenangi pegunungan. Menyenangi kesenian 
tradisional. Menyenangi ikan. He..he..he.. Kamu sendiri? Kamu tidak menyukai 
semua itukah?’
  ’Aku menyenangi pengembaraan. Melihat tempat-tempat yang indah pemandangan 
dan lingkungannya. Dan itu aku dapatkan dengan berlimpah di negeri ini,’ jawab 
Pohan.
  ’Apakah semua pelosok negeri Minangkabau ini sudah kamu kunjungi?’
  ’Hampir semua. Aku sudah pernah mengarungi sungai Ombilin sampai ke Teluk 
Kuantan dengan perahu.’ 
  ’Waaw. Pasti sangat exiting. Sungai Ombilin yang berasal dari danau Singkarak 
itu? Naik perahu besar?’
  ‘Ya. Sungai Ombilin itu. Bukan dengan perahu besar. Sungai itu berjeram-jeram 
di daerah Muara Sijunjung, perahu besar justru berbahaya.’
  ‘Berapa orang rombongan kamu waktu itu?’
  ’Hanya berempat orang. Teman-temanku di SMA dulu. Pencinta arung jeram.’
  ’Ada jugakah orang lain yang melakukannya selain kamu dan teman-temanmu?’
  ’Ada. Berperahu sampai ke Teluk Kuantan itu termasuk paket pelancongan yang 
disukai anak-anak muda.’
  ’Negeri ini benar-benar kaya dengan objek wisata. Dan semua berada dalam area 
yang tidak terlalu luas serta mudah dicapai. Kita bisa naik kuda di Bukit 
Tinggi pagi-pagi, main ski air di danau Maninjau siang-siang dan berselancar di 
pantai Air Manis di Padang sore hari.’
  ’Masih bisa ke Pulau Pandan dan Angsa Dua di Pariaman sesudah siang, sebelum 
pergi berselancar. He..he..he..’ Pohan menambahkan.
  ’Itu kebanyakan. Kalau seperti itu, berselancar bisa batal. He..he..he..’  
  ’Sebenarnya untuk berselancar, pantai Air Manis tidak terlalu istimewa. 
Ombaknya tidak terlalu besar. Untuk menantang ombak yang lebih besar para 
pelancong pergi ke Mentawai. Di sana ombaknya jauh lebih menantang karena 
berada di laut lepas,’ tambah Pohan pula.
  ’Tidak apa-apa. Kan kita peselancar amatiran saja. Dan ini di Ranah Minang. 
Kalau mau berselancar, banyak lagi tempat lain seperti di Hawaii. Bahkan di 
California cukup banyak juga tempat untuk itu meski dengan ancaman ikan hiu,’ 
jawab Aswin pula.
  ‘Kamu sudah pernah berselancar di Hawaii ?’
  ‘Pernah. Waktu berlibur ke sana dua tahun yang lalu.’
  Tak terasa mereka sudah sampai di Lubuk Alung. Lalu berbelok ke kanan ke arah 
Padang sampai di persimpangan ke Bandara. Menjelang persimpangan ke Bandara ini 
jalan agak tersendat sedikit dekat lampu pengatur lalu lintas. Mereka berbelok 
ke kiri, melalui jalan pintas ke Teluk Bayur melalui Indarung. Lalu lintas 
tidak ramai dan kendaraan dapat dipacu dengan santai. Dalam beberapa menit saja 
mereka sudah sampai di Indarung dan terus ke arah pelabuhan Teluk Bayur.  
Mereka lalui pelabuhan itu dan terus menuju arah ke kota Padang. Dan akhirnya 
berbelok ke kiri melalui jalan ke pantai Air Manis. 
  Udara sangat cerah sore ini dan sinar matahari masih terasa panas.  Pantai 
Air Manis dipenuhi oleh banyak sekali pelancong, tua muda dan bahkan anak-anak. 
Ada yang berjalan-jalan di pasir pantai yang lebar, ada yang berenang di laut. 
Agak ke sebelah utara, dimana ombaknya sedikit lebih besar, banyak orang 
berselancar. Pantai itu sangat landai. Ada sebuah tanjung yang kalau air pasang 
terpisah dari daratan, berupa sebuah bukit kecil. Penduduk menyebutnya gunung 
Padang. Agak jauh di belakang tanjung yang jadi pulau terpisah jika sedang air 
pasang, di tengah laut,  ada pula sebuah pulau lain. Entah pulau apa namanya.
  Di satu pojok pantai ini terlihat beberapa onggokan batu berwarna hitam. 
Orang menyebut batu-batu itu bagian dari kapal si Malin Kundang yang dikutuk 
ibunya menjadi batu. Sebuah plang bertuliskan Batu Si Malin Kundang berdiri 
dekat tempat itu. Cerita si Malin Kundang menjadi batu sudah sangat populer 
meski agaknya cerita itu lebih banyak berupa khayalan saja.  Kalaupun ada plang 
menunjukkan lokasi bekas kapal si Malin Kundang,  dinas pariwisata Sumatera 
Barat sengaja menambahkan keterangan ’Menurut Cerita Rakyat’ dengan tulisan 
yang lebih kecil di papan plang yang sama. 
  Sesudah memarkir mobil, Aswin dan Pohan mendatangi tempat menyewa papan 
selancar.  Di tempat itu mereka juga bisa menitipkan pakaian mereka yang di 
tempatkan dalam locker di sebuah ruangan yang dijaga.  Dan keduanya segera 
membawa papan selancar mereka menghadang ombak.  Aswin ternyata sangat piawai 
dengan papan selancar itu. Dia dapat menguasainya, meniti dan mengikuti puncak 
gelombang yang sedang bergulung. Pohan meski kurang begitu mahir tapi juga 
mampu bermain dengan papan itu. Banyak juga pelancong yang mahir berselancar. 
Mereka berpacu-pacu, berkejar-kejaran meniti puncak gelombang. Sebagian 
akhirnya terjungkal dihempaskan gelombang, lalu muncul kembali, untuk 
seterusnya membawa papan selancar mereka ke tengah laut. Dan meniti gelombang 
yang lain pula. 
  Berselancar itu ternyata sangat mengasyikkan. Bagi yang melakukannya maupun 
bagi yang menonton. Yang terakhir ini adalah mereka yang hanya mengamati saja 
para peselancar itu bermain-main dengan ombak. Mereka duduk saja di tepi 
pantai. Yang berselancar tidak bosan-bosannya, dihanyutkan gelombang ke tepi, 
dan kembali lagi berenang ke tengah, begitu berulang-ulang. Makin jauh ke 
tengah mereka mulai, makin jauh pula mereka dapat berselancar, mengikuti 
gelombang yang turun naik, sebelum akhirnya menghempas ke pantai. Kalau capek 
mereka beristirahat sebentar lalu kembali lagi masuk ke laut.
  Akhirnya Pohan yang lebih dulu menyerah. Mungkin karena kurang pandai 
sehingga lebih cepat jenuh. Dan Aswinpun ikut menyusul beberapa menit kemudian. 
Diapun ternyata sudah kecapekan pula. Padahal masih jam setengah enam, masih 
banyak waktu sebelum matahari terbenam. 
  ’Kamu teruskan sendiri kalau masih mau. Biar aku tunggu di pasir ini saja,’ 
ujar Pohan.
  ’Sudahlah, aku juga sudah capek,’ jawab Aswin.
  Keduanya lalu mengembalikan papan selancar dan mengambil pakaian mereka. Lalu 
mandi di kamar mandi yang ada showernya sebelum memakai kembali pakaian mereka.
  ’Kenapa kamu tidak mau meneruskan?’ tanya Pohan, ketika mereka sudah selesai 
berganti pakaian.
  ’Sudah cukup. Aku juga sudah kecapekan. Lebih satu jam juga kita bermain-main 
di air. Dan itu sudah cukup,’ jawab Aswin.
  ’Aku kurang bisa menjaga keseimbangan badan, jadi sering jatuh. Makanya lebih 
cepat capek,’ kata Pohan pula.
  ’Memang perlu juga latihan. Kalau kamu sering-sering mencoba pasti berhasil 
menjaga keseimbangan badan. Yang penting harus santai. Harus relax, jangan 
tegang. Kalau kita santai, tubuh kita lebih mudah dijaga keseimbangannya,’ 
Aswin menerangkan.
  ’Ya, terus terang aku baru kedua kalinya mencoba. Beberapa bulan yang lalu 
aku melakukan yang pertama kali. Mulai dari tidak bisa sama sekali,  sampai 
bisa sedikit-sedikit. Tapi setelah itu, baru kali ini aku coba lagi.’
  Mereka kembali keluar dari tempat berganti pakaian.
  ’Mari kita mampir ke kiosk di sebelah sana itu. Di sana kita bisa makan 
rujak. Langit cerah sekali, kita tunggu sampai matahari terbenam,’ kata Pohan.
  ’OK. Ide yang sangat bagus,’ jawab Aswin.
  Mereka menuju ke warung rujak. Warung yang mendapat sertifikasi dari dinas 
kesehatan kota madya untuk kebersihannya. Dan memang terlihat bersih. Pohan 
memesan dua piring rujak. Mereka mengambil tempat duduk yang banyak disediakan 
di samping warung rujak itu. Sambil memandang ke laut.
  Mereka nikmati rujak yang cukup pedas, sambil berbincang-bincang.
  ’Kamu pasti pernah mendengar cerita si Malin Kundang,’ kata Pohan.
  ’Si Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu? Ya aku 
pernah mendengar cerita itu. Dimana terjadinya kutukan itu menurut cerita 
legenda itu?’ tanya Aswin.
  ’Disini. Di Air Manis ini. Kamu lihat tumpukan batu-batu hitam di sebelah 
sana?’ kata Pohan.
  ’Oh ya? Apa itu batu si Malin Kundang?’ tanya Aswin pula.
  ’Setidak-tidaknya, itu yang diberitahukan oleh plang di sebelah sana itu. 
Itu, konon adalah bagian kapal si Malin Kundang yang sudah menjadi batu,’ jawab 
Pohan.
  ’Boleh juga cerita itu. Dan orang-orang percaya kalau batu itu kapal si Malin 
Kundang?’
  ’Entahlah, kalau orang percaya. Yang jelas di papan itu juga dijelaskan bahwa 
cerita Malin Kundang itu berdasarkan cerita rakyat. Jadi silahkan masing-masing 
orang memahaminya,’ kata Pohan.
  ’Menurutmu kejadian Malin Kundang itu benar-benar terjadi atau hanya dongeng 
saja?’
  ’Entahlah. Tapi bahwa ada anak yang durhaka kepada orang tua, lalu orang tua 
sedih dan kecewa, sehingga mungkin saja keluar ucapan sebagai rasa kesal dari 
mulut orang tua, kan bisa terjadi di mana-mana. Dalam hal cerita Malin Kundang, 
sisi positifnya adalah peringatan agar kita jangan mendurhakai orang tua. Aku 
juga tidak percaya, bahwa akibat kutukan orang berikut kapal bisa berubah 
menjadi batu,’ Pohan menjelaskan panjang lebar.
  ’Aku setuju dengan pendapatmu. Dongeng itu memiliki nilai pendidikan.’
  Matahari masih terlihat utuh dan semakin mendekati ufuk untuk segera 
terbenam. Pamandangan yang sangat indah pula.  Mereka masih mengobrol tentang 
hal-hal lain sampai matahari terbenam sempurna ke dalam laut. Di senja yang 
cerah ini. Barulah mereka beranjak pergi. Sekarang menuju hotel tempat mereka 
akan menginap malam ini. Hotel Pangeran di Purus. Di jalan Ir. H. Juanda.
                                                       
                                                 *****

  
---------------------------------
  Call friends with PC-to-PC calling -- FREE. Try it now! Sukseskan Pulang 
Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

 
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people 
who know.
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke