Assalamualaikum w w  Saudara-saudara se Palanta,

Bukan main sejuk hati ini membaca sekali lagi
apresiasi dari Saudara-saudara kita se Bangsa terhadap
alam Ranah Minangkabau tercinta, "sepotong surga di
muka bumi yang dianugerahkan Allah swt untuk kita
semua."

Namun mengingat bahwa sampai usia 70 tahun ini saya
belum pernah melihat Danau di Atas dan Danau di Bawah,
yang menurut ceritanya demikian indah, saya jadi
tergelitik untuk bertanya, apakah semua Dunsanak kita
di Ranah sudah pernah mengelilingi SELURUH Ranah
Minangkabau tercinta ? Ataukah hanya kenal dengan
nagarinya sendiri, plus Padang, Bukittinggi, dan
Payakumbuh saja ?

Jika banyak yang memang belum, bukankah ini suatu
peluang untuk mengenal dan menikmati keindahan Ranah
ini, sambil mengenal beraneka ragam adat setampat,
yang juga merupakan suatu kekayaan budaya tersendiri ?

Bukankah jika wisata internal Ranah secara terencana
ini bisa digerakkan, hal itu juga akan memperluas
wawasan para Dunsanak kita di Ranah, yang menurut adat
selama ini hanya terbatas pada  'selingkar nagari"
saja ? Bukankah hal itu secara pelahan-akan dapat
menciptakan kondisi yang diperlukan untuk lebih
menyatukan suku bangsa Minangkabau, yang menurut pak
Darul, "bisa sama-sama bekerja, tapi tidak bisa
bekerja sama" ? Bukankah mentalitas terkungkung
demikian merupakan 'hasil' dari tatanan sosial yang
hubungan antar warganya sangat terfragmentasi dan
tidak saling mengenal satu sama lain? 

Wassalam,
Saafroedin Bahar (70 th, Ibu suku Tanjung dari Kampung
Dalam, Pariaman, yang sewaktu kecil saya kunjungi
setiap bulan puasa;  Bapak suku Koto, dari Galuang,
Agam, yang belum pernah saya kunjungi).



--- Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kami mendapat kamar di lantai empat di mana ngarai
> Sianok yang sering 
> juga disebut Grand Canyon of Indonesia itu dengan
> latar Gunung Merapi 
> dan Gunung Singgalang di kiri kanan terlihat
> menghampar seperti sebuah 
> lukisan panorama yang sangat indah. Bukittinggi yang
> dingin (900 m di 
> atas permukaan laut) memang terlhat sangat cantik,
> bahkan dari jendela 
> kamar Superior yang biasa saya gunakan. Kabut
> kadang-kadang terlihat 
> menyaput pucuk-pucuk pohon. Sementara Ngarai Sianok
> di kejauhan dengan 
> desir anak sungai yang mengalir di bawahnya seperti
> menyimpan misteri 
> masa silam dengan bunyi genta pedati menyisir jalan
> di dasar ngarai 
> menyisir malam. Novotel letaknya memang sangat
> strategis.
> 
> Karena anak-anak sudah mengeluh lapar, setelah
> menaruh koper-koper di 
> kamar kami diantar Inof ke warung Nasi Kapau Uni Lis
> di Pasar Wisata, 
> Pasar Atas dekat gerbang tangga yang menghubungkan
> Pasar Atas dengan 
> kawasan Pasar Bawah yang lazim disebut sebagai
> jenjang empat puluh, 
> sesuai dengan jumlah anak tangganya. Kenikmatan Nasi
> Kapau Uni Lis dan 
> nasi kapau warung tenda lainnya di Bukittinggi cukup
> berbeda dengan 
> masakan kapau di warung-tenda di Jalan Kramat Raya
> Jakarta. Selain 
> kualitas bahan, yang lebih baik, masakan kapau di
> warung-warung tenda di 
> Bukittinggi umumnya masih dimasak dengan kayu bakar.
> Saya makan dengan 
> gulai tunjang dan gulai rebung, sedangkan Kur dengan
> dendeng belado. 
> Anak-anak saya lihat makan dengan lahap sekali.
> 
> Dari sana kami langsung ke Padangpanjang menemui
> beberapa keluarga dekat 
> saya yang masih ada. Dan sebelum kembali ke
> Bukittinggi kami mampir ke 
> SMS atawa Sate Mak Syukur di Padangpanjang yang
> tersohor itu. Bagi Anda 
> yang punya bayi dan belum pernah mencicipi Sate
> Padang, mungkin “tidak 
> tega” memakan sate daging sapi yang berkuah kuning
> setengah kental itu. 
> Tetapi sekali mencoba pasti ingin mencoba lagi.
> 
> Malamnya di Bukittinggi kami makan di restoran
> “Cubadak Gaya Baru” di 
> Pasar Bawah. Berbeda dengan rumah-rumah makan di
> Jakarta atau kota-kota 
> besar lainnya yang di setiap piring disajiakan dua
> potong ikan, di 
> restoran ini di setiap piring hanya disajikan satu
> potong. Beda lainnya, 
> ada sejumlah masakan khas serta bumbunya rata-rata
> lebih terasa.
> 
> Hawa dingin dan perasaan letih karena perjalan yang
> cukup panjang hari 
> itu menyebabkan kami cepat tertidur. Walaupun tidak
> jauh dari Novotel 
> ada 2 buah masjid besar, azab subuh hanya terdengar
> hanya lamat-lamat 
> saja, lebih pelan dari pada suara azan yang saya
> dengar di hotel tempat 
> saya menginap di Sanur, Bali sepekan sebelumnya.
> 
> Hari itu kami merencanakan akan ke Harau yang
> terletak di Kab Limapuluh 
> Kota sekitar 25 km sebelah timur Payakumbuh arah ke
> Pekanbaru, atau 
> sekitar 50 km dari Bukittinggi, kemandirian ke
> Pagarruyung di dekat 
> Batusangkar, ibukota Kabupaten Tanahdatar, lalu ke
> pinggir Danau 
> Singkarak, dan dari sini kembali ke Bukittinggi
> lewat Padangpanjang dan 
> akan start dari hotel jam 10 pagi.
> 
> Karena hanya punya 3 kupon breakfast, dan kalau
> sarapan di hotel harus 
> tambah bayar Rp 45 rb, saya memilih sarapan di luar
> saja dan pergi ke 
> sebuah “Bufet” di Pasar Wisata untuk makan Amping
> Dadih [1] dan minum 
> teh telor khas Minang, habis hanya Rp 9 rb. Sehabis
> sarapan Kur dan 
> anak-anak sempat berjalan-jalan ke Pasar Atas.
> 
> Perjalanan ke Harau memamakan waktu kurang dari satu
> jam. Harau adalah 
> adalah sebuah hutan lindung yang asri, berupa sebuah
> ngalau memanjang 
> yang berpagar bukit yang curam berupa patahan dan
> ujung pada sebuah air 
> terjun. Karena hari itu hari Jumat pengunjung tidak
> terlalu ramai. 
> Sesudah berfoto-foto kami segera cabut, kembali ke
> arah semula dan 
> setelah beberapa meliwati Payakumbuh, berbelok ke
> kiri, ke arah selatan 
> menuju ke Batusangkar dan terus ke Istana
> Pagaruyung. Karena waktu salat 
> Jumat sudah tiba, saya dan Nofi salat di sebuah
> masjid yang tidak jauh 
> dari sana, sebuah Masjid berukuran sedang yang cukup
> bagus yang 
> merupakan wakaf dari seorang dermawan bersebelahan
> dengan kantor Bupati 
> Tanahdatar, salah satu dari 4 kabupaten/kota yang
> menurut evaluasi LIPI 
> yang paling berhasil melaksanakan otonomi daerah di
> Indonesia. Kantor 
> Bupati tersebut terlihat sangat sederhana.
> 
> Seusai salat jumat, saya bergabung dengan Kur dan
> anak-anak yang sudah 
> lebih dulu masuk kompleks Istana Pagaruruyung. Kami
> berfoto-foto 
> berpakaian adat Minangkabau di dalam bangunan
> istana---tepatnya replica 
> dari istana asli yang habis terbakar yang terletak
> tidak jauh dari sana. 
> Kemudian kami makan siang di restoran “Ambun Pagi”
> yang terletak di arah 
> jalan ke Sawahlunto. Saya melihat Kur mendelik
> menyaksikan saya 
> menyambar piring gulai gajeboh (daging yang sangat
> berlemak) yang 
> dimasak asam padeh (tanpa santan) yang sangat jarang
> ditemukan di 
> rumah-rumah makan Padang di luar Sumatra Barat
> (kecuali di Resto Simpang 
> Raya Bogor). Kami kemudian juga mencicipi gulai
> jarieng (jengkol) yang 
> agak berbeda dengan jengkol yang ada di Jawa, lebih
> empuk, lebih legit 
> dan tidak terlalu berbau.
> 
> Selesai makan kami meneruskan perjalanan ke arah
> selatan ke Ombilin di 
> pinggir Danau Singkarak, di mana kami bertemu dengan
> jalan raya yang 
> menghubungkan Padangpanjang dengan Solok yang
> menyusur pinggir danau 
> terbesar di Sumatra Barat dengan panjang 20 km dan
> sangat indah itu, 
> lalu berbelok ke arah Solok dan berhenti di sebuah
> restoran dan tempat 
> rekreasi, tempat saya dan rekan-rekan saya dari
> Kantor Regional 
> beristirhat dan makan rujak kalau bertugas ke Solok.
> Puas beristirhat 
> dan makan rujak sembari di belai angin danau, kami
> berbalik arah menuju 
> Padangpanjang dan terus ke Bukittinggi. Kur berhenti
> di sebuah kios 
> penjualan ikan di pinggir danau untuk membeli ikan
> bilis yang sangat 
> disukai Kur untuk oleh-oleh dan untuk kami sendiri.
> Ikan bilis adalah 
> sejenis ikan purba berukuran kecil khas Danau
> Singkarak yang populasinya 
> semakin menyusut mengikuti menurunan permukakan air
> danau Singkarak, 
> khususnya sejak PLTA yang menggunakan air Danau
> tersebut beroperasi.
> 
> 
> (bersambung)
> 
> 
> [1] Amping terbuat dari beras ketan yang diolah dan
> ditumbuk sampai 
> tipis dan kemudian dikeringkan, diguyur dengan air
> panas supaya lembek. 
> lalu dtaburi kelapa parut, dadih (kepala susu kerbau
> yang dibekukan di 
> dalam tabung bambu) dan kemudian diguyur dengan
> tengguli gula merah.
> 
> 
> 
> Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
>
-----------------------------------------------------------------
> Website: http://www.rantaunet.org
>
============================================================
> UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
> - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika
> melakukan reply.
> - Email dengan attachment tidak dianjurkan,
> sebaiknya melalui jalur pribadi.
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/

Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
-----------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >500KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke