Website: http://www.rantaunet.org
==========================================


Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu Ari basadang laruik juo.....
 
Wassalamu'alaikum,
 
Lembang Alam
___________ Cerita ini hanyalah khayalan semata. Nama-nama orang yang 
disebutkan di dalam cerita ini bukan mewakili sipapun. Kesamaan nama bukanlah 
dimaksudkan untuk menyalahgunakan nama pribadi siapapun. Keadaan di 
tempat-tempat wisata yang diceritakan adalah angan-angan dan harapan. 
Mudah-mudahan ke pariwisataan di Sumatera Barat di suatu hari nanti menyerupai 
yang diceritakan disini. Penulis.
 
 
27. Ngalau Kamang
 
Mereka pulang hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Dan segera bersiap-siap 
lagi mau pergi. Pagi ini cuaca agak gelap lagi. Mendung, meski belum hujan. 
Sejak tadi waktu mereka pulang dari Bukit Tinggi, cuaca sudah seperti ini, 
seperti mau hujan.
 
’Apakah nanti malam kalian mau makan di rumah?’ tanya etek sebelum mereka 
berangkat.
 
’Kenapa tek? Etek mau memasak apa?’ Aswin balik bertanya.
 
’Kalau kalian nanti makan di rumah, etek akan buatkan gulai itik Koto Gadang. 
Biarpun kamu sudah mencoba yang di kedai di ngarai, sekarang kamu bisa 
mencicipi yang masakan etek. Bagaimana?’
 
’Pasti menarik, tek. Ya, kita makan di rumah sajalah. Bagaimana Pohan?’ 
 
’Ya terserah kamu,’ jawab Pohan.
 
’Kalau begitu, confirmed. Kita akan makan di rumah nanti malam. Terima kasih, 
tek,’ kata Aswin pula.
 
Setelah berpamitan, merekapun berangkat. Ke Bukit Tinggi melalui  ngarai. Terus 
ke Simpang Tembok. Berbelok ke Jirek dan terus ke Bukit Ambacang. Berbelok ke 
kanan sampai bertemu dengan jalan ke Kamang melalui Simpang Limau. Terus saja, 
melalui Pekan Kamis. Masih terus lagi sampai bertemu simpang tiga di Koto 
Panjang Kamang Hilir lalu berbelok ke kiri menuju Pekan Sinayan. Terakhir 
berbelok ke kanan melaui jalan yang agak lebih kecil. Sampai ke Ngalau Kamang. 
 
Pohan memarkir mobil di tempat parkir. Banyak kendaraan terparkir di situ. Ada 
satu rombongan pelancong baru saja turun dari bus. Mereka berasal dari Negeri 
Belanda. Rombongan itu berjalan menuju ke pintu gua. Aswin dan Pohan bergabung 
dengan mereka. Pohan membeli karcis untuk masuk gua, sementara rombongan 
pelancong Belanda itu rupanya sudah punya karcis, dibelikan oleh petugas 
penyelenggara wisata. Mereka sekarang menuju ke pintu gua. Pintu masuk di mulut 
gua yang sudah dirapikan. Ditembok seperti pintu gerbang besar dengan ornamen 
gonjong rumah adat Minang di atasnya. Dengan plang bertuliskan ’Ngalau Kamang’ 
cukup besar. Disertai dengan informasi tentang ngalau. Tentu saja ada plang 
peringatan seperti di tempat-tempat lain. 
 
Rombongan pengunjung itu antri untuk masuk. Setelah masuk mereka ikuti jalan 
kecil di dalam gua. Jalan sempit yang mula-mula mendatar tapi kemudian turun 
melalui tangga batu kapur yang dipahat. Untung ada tempat berpegangan, karena 
tangga itu cukup terjal. Penerangan listrik di dalam gua ini hanya sekedarnya 
saja, sekedar untuk dapat melihat stalagmit dan stalagtit yang memenuhi 
rongga-rongga goa. Macam-macam bentuk yang dibuat oleh alam, oleh larutan batu 
kapur dengan stalagmit dan stalagtit itu. Ada yang berbentuk makhluk besar 
dengan kepalanya seolah menyundul langit-langit gua. Ada yang seperti orang 
tidur. Ada yang seperti belalai gajah. Ada juga yang sekedar berbentuk pilar 
yang ramping, ketika bagian atas bertemu dengan bagian bawah. Terdengar bunyi 
tetes air yang sangat nyaring. Karena bunyi tetes-tetes itu memantul dan 
bersipongang di dinding gua. Kalau ada yang bersuara agak keraspun kedengaran 
sipongangnya. 
 
Pemandu wisata menerangkan tentang data-data gua. Panjang gua ini, katanya yang 
bisa di jelajahi sekitar 1500m. Mungkin masih ada lanjutannya tapi tidak 
menerus dengan yang 1500 meter itu. Dengan bentuk gua yang tidak beraturan itu, 
ada bagaian yang cukup dalam seperti sumur. Tapi si pemandu wisata tidak tahu 
berapa dalam sumur tersebut. Dulu, katanya, tempat ini adalah tempat pasukan 
Paderi bersembunyi untuk mengatur siasat ketika berperang dengan Belanda.
 
Pengunjung harus hati-hati berjalan di jalan setapak yang sempit. Setelah 
berjalan di bagian yang datar di bawah, mereka bertemu dengan jalan setapak 
bercabang.  Aswin dan Pohan mengikuti jalan ke kanan. Jalan ini berputar untuk 
pergi lebih ke bawah lagi. Melalui tangga batu yang lain lagi. Sampai ke 
dataran yang agak sempit. Terdengar desir air mengalir agak jauh di bawah sana. 
Rupanya ada sungai di situ. Sayang lampu penerangan tidak ada untuk pergi lebih 
jauh ke bawah. Tempat mereka berdiri sangat remang-remang.  Akhirnya mereka 
putuskan untuk kembali ke atas. Sekarang mereka tempuh jalan ke kiri. Ternyata 
jalan ini menerus lebih panjang dan cukup rata. Penerangannyapun lebih memadai. 
Dinding gua terlihat berkerut-kerut akibat pelarutan batu kapur. Di depan ada 
lagi cabang. Pelancong berpisah di sini. Sebagian ke kanan dan sebagian ke 
kiri. Kata pemandu wisata, jalan itu bertemu di dalam.
 
Di tempat jalan melingkar itu bertemu terdapat sebuah lapangan yang lebih 
terang lampunya. Ada sebuah pesawat televisi terdapat di situ, menayangkan 
pemandangan keadaan gua sampai ke bagian-bagian yang paling dalam. Dan tersedia 
pula kursi-kursi tempat duduk. Para pelancong mengambil tempat duduk dan 
menyimak cerita tentang gua sambil menonton tayangan itu yang disampaikan dalam 
dua bahasa, Inggeris dan bahasa Indonesia. Setelah melihat tayangan video itu, 
umumnya pelancong sudah tidak ingin meneruskan penjelajahan lebih jauh ke dalam 
gua. Begitu pula dengan Aswin dan Pohan. Mereka kembali menuju ke pintu keluar.
 
Mereka keluar dari gua ngalau yang gelap itu. Sekarang mereka ikuti penunjuk 
menuju ke arah ngalau lain yang terbuka, terletak sekitar lima ratus meter dari 
tempat yang pertama ini.  Melaui jalan di pinggir sawah. Lobang batu kapur yang 
terbuka disini bertingkat-tingkat dan bersekat-sekat seperti kamar-kamar. 
Meskipun kebersihan lingkungan ini dipelihara tapi ngalau ini berbau pesing. 
Bau yang berasal dari kotoran kelelawar yang ribuan jumlahnya, bersarang di 
langit-langit gua. 
 
Aswin dan Pohan sebentar saja di ngalau terbuka ini. Mereka tidak ikut naik ke 
bagian yang bertingkat-tingkat itu. Aswin tidak tahan dengan bau kotoran 
kelelawar.
 
Mereka tinggalkan Ngalau Kamang, yang bagi Aswin tidaklah  terlalu mengagumkan 
karena dia sudah pernah melihat gua batu kapur yang lebih bagus dari gua ini. 
Sekarang mereka kembali  ke Bukit Tinggi. Hari baru jam sepuluh lebih sedikit. 
Mereka bisa mampir untuk berbelanja sebelum shalat Jum’at.
 
Sampai di Bukit Tinggi mereka langsung menuju mesjid raya dan memarkir 
kendaraan di lapangan parkir mesjid itu. Lalu pergi melihat-lihat ke pasar 
bertingkat. Mereka mampir ke toko yang menjual DVD. Aswin membeli DVD tentang 
objek-objek pariwisata Negeri Minangkabau. Dan DVD lagu-lagu Minangkabau 
termasuk saluang jo rabab sebagai oleh-oleh untuk ayah. Lama juga mereka 
memilih-milih lagu-lagu saluang. Aswin menginginkan lagu yang tidak terlalu 
sedih nadanya. Tapi hampir tidak ada seperti yang diinginkannya itu.Tak lupa 
pula dia membelikan baju gunting cina berterawang buatan Ampek Angkek yang juga 
dipesan ayah. Dan mukenah untuk ibu. Cukuplah itu saja sebagai oleh-oleh. 
Sebenarnya oleh-oleh yang paling bermakna adalah DVD-DVD itu. Yang akan 
dipertontonkannya nanti kepada kawan-kawannya sesampainya kembali di LA.
 
Berbelanja sebegitu saja sudah membawa mereka ke jam sebelas. Masih terlalu 
lama sebelum shalat Jum’at. Pohan mengingatkan, inilah waktu untuk mencoba 
bubur kampiun. Dan Aswin memang tidak lupa.
 
Mereka mampir ke sebuah kedai kopi. Yang di Ranah Bako ini lebih populer 
disebut orang boffet. Mereka mampir ke boffet ACC di dekat jam gadang. Untuk 
mencicipi bubur kampiun.
 
’Rupanya ngalau tidaklah terlalu berkesan bagimu,’ komentar Pohan waktu mereka 
menunggu pesanan bubur kampiun.
 
’Ngalau tadi itu tidak jelek. Tidak terlalu berkesan bagiku karena aku sudah 
pernah melihat yang lebih baik dari yang ini,’ jawab Aswin jujur.
 
’Lebih baik bagaimana yang sudah pernah kamu lihat itu?’
 
’Lebih  besar dan luas. Dan diberi penerangan yang sangat terang benderang 
sehingga kita bisa melihat bentuk larutan batu kapur itu sampai detil sekali. 
Kalau menurut pendapatku, ngalau tadi mungkin akan lebih semarak kalau 
penerangannya juga ditingkatkan,’ jawab Aswin.
 
’Ya, barangkali pendapatmu ada benarnya. Dengan dibuat remang-remang seperti 
tadi kesannya justru jadi agak angker. Menyebabkan orang cepat bosan berada di 
dalam. Para pelancong yang masuk berbarengan dengan kita keluar hampir 
berbarengan lagi dengan kita,’ kata Pohan.
 
Bubur kampiun mereka sudah terhidang. Mereka langsung menikmatinya. Ternyata 
inipun cocok di lidah Aswin.
 
’Beruntung benar aku, sempat mencicipi makanan-makanan khas seperti ini. Sejak 
dari lompong sagu, amping dadih, lemang tapai, bubur kampiun, ketupat sayur, 
bubur samba. Ini semua akan mendorongku agar sering-sering datang kesini.’
 
’Belum kamu sebut sate mak Syukur, gulai itik..he..he..’ Pohan menambahkan. 
 
’Ya, benar. Dan nanti siang? Kita akan makan apa lagi kamu bilang?’
 
‘Nasi Kapau. Sebenarnya masakan Minang biasa tapi yang ini, khusus dimasak oleh 
orang Kapau. Rasa dan penyajiannya sangat khas. Kamu akan melihatnya nanti,’ 
kata Pohan.
 
‘Aku tidak akan pernah melupakannya sesampai di LA nanti. Di sana aku tidak 
akan pernah bisa makan makanan seperti ini.’
 
Mereka berbincang-bincang santai. Sambil menunggu waktu untuk shalat Jumat. 
Sambil mengamati jam gadang yang terletak persis di hadapan mereka.
 
                                                
                                                                        *****
_________________________________________________________________
Get the new Windows Live Messenger!
http://get.live.com/messenger/overview
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke