Website: http://www.rantaunet.org
==========================================

Pak Saaf dan dunsanak ysh,
  Beberapa sejarah tentang persebaran puak Melayu telah saya sampaikan tahun 
lalu, dan dapat dilihat di arsip milis RGM. Dari Pak Lim Kampay bulan lalu saya 
mendapatkan cerita juga, bila ada masyarakat Dayak di Kalimantan Timur yang 
menghormati sebuah bendera, dan bila diperhatikan ternyata merupakan bendera 
Melayu Minangkabau.
   
  Secara ringkas saya ulangi lagi, bila persebaran puak Melayu ini khususnya 
berlangsung pasca Sumpah Palapa ke berbagai wilayah di Nusantara ini. Seluruh 
wilayah yang didatangi oleh armada Majapahit justru menumbuhkan pusat-pusat 
permukiman Melayu, dan beberapa di antaranya menjelma menjadi kerajaan. Kita 
dapat melihat di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaysia khususnya 
tumbuh kerajaan-kerajaan Melayu.
   
  Ekspedisi Pamalayu tahap II (era Sumpah Palapa) menghadapi pertempuran yang 
sangat sengit di Bali, Sriwijaya, Aru-Deli, hingga Pasai. Sriwijaya tidak 
pernah disebutkan takluk pada masa itu, hingga kehancurannya akhir abad 14. 
Juga tidak disebutkan adanya pertempuran di Semenanjung Malaysia, karena segala 
kerajaan di situ telah mengibarkan panji-panji Majapahit. Alasan lainnya 
mudah-mudahan dapat dipahami. Di wilayah pesisir timur ini muncul 
kerajaan-kerajaan Melayu yang beberapa di antaranya masih bertahan sistem 
kekerabatannya hingga saat ini, seperti Langkat, Deli, Serdang-Bedagai, dan 
konon disebutkan hingga ke Riau Kepulauan.
   
  Ekspedisi ini juga berlanjut ke Kalimantan, dan saya perkirakan mungkin 
sampai ke Sulawesi Selatan, Sumbawa, dan Flores Barat. Namun pola dan motif 
penyebarannya tentunya berbeda-beda di setiap wilayah.
   
  Hal ini yang diperkirakan menyebabkan lengangnya pusat Melayu di Muara Jambi, 
sehingga mendorong pemindahan istana ke Dharmasraya; terlebih masih kuatnya 
perseteruan Melayu dengan Sriwijaya pada masa itu. Hingga pada akhirnya 
Adityawarman pindah ke Pagaruyung, dan mengubah pola sistem pemerintahan Melayu 
Raya-nya.
   
  Sebagai suatu sistem kekerabatan mudah-mudahan hal ini dapat menjelaskan 
hubungan antara Melayu-Pagaruyung dengan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya, 
seperti Riau (kemungkinan yang dimaksud Siak, akan dijelaskan tersendiri), Deli 
Serdang, Tapanuli Selatan (saya tidak melihat hubungan langsung, berikut 
dijelaskan tersendiri), Malaka, hingga Brunei (belum ada penelitian).
   
  Untuk Siak, saya pernah jelaskan di milis Palanta ini riwayat pengusiran 
kekuasaan Aceh di Riau pada awal abad 17. Bahwa pada masa itu ‘masyarakat 
Minang’ yang terhimpun dari tiga luhak ‘membantu’ Kerajaan Siak dan Johor untuk 
mengusir pengaruh Aceh di Riau dan Semenanjung Malaysia. Sejak saat itu kiranya 
‘orang Minang’ mendapatkan hak privilege untuk tinggal dan mendiami beberapa 
wilayah di Riau, Jambi, hingga Malaysia sampai saat ini; dan wilayah itulah 
yang kita kenal sebagai “rantau”.
   
  Wilayah rantau ini meliputi Kuantan, Kampar, Bangkinang, Rokan, hingga 
kemungkinan sampai ke Negeri Sembilan Malaysia. Di setiap wilayah tersebut 
tersusun sistem pemerintahan adat tersendiri yang dipimpin oleh seorang atau 
beberapa orang Datuk.
   
  Untuk Tapanuli Selatan, disebutkan juga dalam tambo bilamana adanya serangan 
dari suku Batak pada saat itu yang mengakibatkan masyarakat Minangkabau 
mendesak terus hingga ke utara, namun perkiraan saya tidak melebihi Pasaman. 
Perbatasannya hanya sampai Rao dan Lubuk Sikaping. Pada wilayah seperti ini 
barulah Yang Dipertuan Pagaruyung mengangkat ‘kerabat’ untuk memimpin wilayah 
tersebut dengan gelaran Yang Dipertuan Padang Nunang (raja).
   
  Mudah-mudahan hal ini dapat menjelaskan maksud pituah ‘luhak bapanghulu, 
rantau barajo’. Termasuk adanya Rajo Tigo Selo di Dharmasraya, Sungai Pagu, 
Pasaman (Kinali), hingga Asahan.
   
  Untuk Rajo Tigo Selo di Dharmasraya sistem suksesinya sudah mengikuti ‘pola 
Minangkabau’ yaitu jatuhnya jabatan kepada kemenakan, sesuai dengan pituah: 
“puatin nan bertiga, bercaci nan tiga tali, bertumbuh nan tiga betong, 
berpayung nan tiga kaki, bertali ke Saruaso”.
   
  Sebagai catatan saja, sebenarnya orang Minang bukanlah bertipe ekspansif dan 
cenderung sebagai masyarakat terbuka bilamana masing-masing pihak menghargai 
adat dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Posisi ini sangat dihargai 
oleh berbagai suku dan kerajaan besar manapun, seperti dapat dilihat dari 
‘kunjungan muhibah’ kerajaan Sriwijaya ke negeri Minanga Tamwan justru di era 
Sriwijaya dan Melayu sedang jaya-jayanya. Adityawarman sangat mengetahui dan 
menghargai hal tersebut, sehingga berkenan berpindah ke Saruaso dan mengubah 
pola pemerintahannya. Namun orang Minang bukanlah orang Melayu, terutama dapat 
dilihat dari sistem kekerabatannya.
   
  Mudah-mudahan ini dapat menjawab beberapa pertanyaan ‘secara tuntas’. 
Demikian sementara waktu. Wassalam.
   
  -datuk endang


Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Suatu pertanyaan mendasar yang wajar timbul dalam
musibah ini adalah: apakah sesungguhnya peran sejarah
serta peran kultural kerajaan Pagaruyung dalam
keminangkabauan kita ? Mengapa nama 'Pagaruyung' lebih
banyak bersipongang di daerah-daerah dan negara
tetangga -- seperti di Riau, Deli Serdang, Tapanuli
Selatan, Melaka, atau Brunei Darussalam -- dari pada
di Ranah Minangkabau sendiri ? Rasanya pertanyaan
seperti ini belum pernah dijawab secara tuntas.

Sehubungan dengan itu, secara pribadi saya berpendapat
inilah momennya yang tepat untuk sekaligus
menjernihkan posisi kerajaan Pagaruyung ini, bersama
dengan kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, dalam
sejarah, dalam kebudayaan, dan dalam kehidupan suku
bangsa Minangkabau secara menyeluruh. 

===

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke