---------------------------------------------------
Ikutilah Sholat & Do'a Bersama untuk Keselamatan Negeri, Minggu 18 Mar 07 jam
08:00 di Masjid Istiglal Jakarta
---------------------------------------------------
Waalaikumsalam w.w. Ananda Riri dan Ronal,
Saya juga bertanya kepada diri sendiri, so what ? Lantas bagaimana ?
Menyerah, atau menyingsingkan lengan baju ?
Secara pribadi saya koq tidak terlalu pesimis dan tidak boleh pesimis.
Segelap-gelapnya awan, pasti ada suatu 'silver lining' di sekelilingnya,
demikian kata pepatah Inggeris.
Suatu fakta menyolok dari seluruh keadaan sekarang ini adalah berkuasanya
sekelompok elite yang hanya mementingkan diri sendiri, berhadapan dengan tidak
berdayanya rakyat Indonesia, yang selain pendidikan rata-ratanya rendah, juga
tidak mampu mengorganisir diri. karena hanya berstatus sebagai orang perorangan
belaka.
Kalau memang demikian masalahnya, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana
caranya mendorong agar rakyat Indonesia yang merupakan 'silent majority' ini
bisa diberdayakan dan lebih proaktif menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi
dan kepentingannya ?
Kita memerlukan suaru korps elite baru, yang selain sama cakapnya dengan
elite yang sekarang, tetapi jauh lebih demokratis, dan tidak terlalu
mementingkan diri mereka sendiri.
Masih ada waktu dua tahun lagi untuk memikirkan dan mencari jawaban terhadap
kebutuhan akan korps elite baru Indonesia ini. .
Wassalam,
Saafroedin Bahar
Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum wr.wb
Tadinya saya baca tulisan ini di http://japanfocus.org/ dan
http://www.worldpress.org pertengahan Januari yll. Saya "salut" juga mengapa
penulisnya mengirim ke dua media dalam waktu yang sama. Perbedaannya cuma di
alinea pertama, yang satu bilang 24 killed + 10 missing, yang satu lagi 28 +
10, dan yang diposting sanak ini 16 + 16 (artinya, at least, beliau mengirim
tulisan yang sama ke 3 media berbeda).
Mungkin karena penulisnya juga novelis, tulisannya bisa sangat menggugah.
Entah ada hubungannya atau tidak, waktu saya mengetik ini Editorial nya Metro
TV pun menayangkan cerita senada.
Tapi, pertanyaan saya, lalu "what"?
Riri (45)
--- In [EMAIL PROTECTED], Ronal Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ayah Saaf,...................
>
> Jujur sewaktu saya membaca postingan ini dan memforwardnya ke palanta, saat
> itu penuh linangan airmata, gak tau kemana harus melampiaskan amarah
> ini.................Gak tau apa yang harus dikatakan....
>
> Saya cuma melihat nyawa manusia bagaikan sayuran direpublik ini.
>
> Seorang teman yang jauh diseberang benua sana mengatakan kepada saya pagi td
> bahwa kutukan terbesar pada bangsa ini adalah "Korupsi".
>
> Terjemahan ayah dibawah ini, membuat hati ini bertambah sedih....
>
> Kalou ambo nan bodoh ko bertanya sama ayah, dimana salahnya semua ini ?
>
> Regards
> Ronal Chandra
>
> Saafroedin BAHAR [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. Ananda Ronal dan para dunsanak sapalanta,
>
> Kebetulan, karangan Andre Vitchek tersebut sudah saya terjemahkan, seperti di
> bawah ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Bersama dengan tiga karangan lain,
> sedang saya cetak jadi booklet.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar.
>
> INDONESIA: BENCANA ALAM ATAU PEMBUNUHAN MASSAL ?
>
> Oleh: Andre Vitchek:[1]
>
> Lain hari, terjadi lagi kehilangan nyawa yang sesungguhnya tidak perlu: 16
> orang terbunuh dan 16 orang masih hilang pada saat banjir dan longsor di
> Tahuna, sebuah pulau kecil dekat Sulawesi.
> Dengan kecepatan yang mengerikan, Indonesia telah menggantikan Bangla Desh
> dan India sebagai bangsa yang paling rentan bencana di dunia. Jika nama
> Indonesia muncul pada daftar judul utama di berita Yahoo, besar kemungkinan
> telah terjadi lagi suatu tragedi besar yang sesungguhnya tidak perlu terjadi
> di salah satu pulau dari kepulauan yang tersebar luas ini.
>
> Pesawat terbang hilang atau tergelincir di landasan pacu, kapal-kapal ferry
> tenggelam atau rontok di lautan bebas, kereta api bertabrakan atau
> tergelincir satu kali seminggu, penumpang yang tak berkarcis berjatuhan dari
> atap yang berkarat. Tumpukan sampah yang berbau busuk dan tidak diatur telah
> menimbun kelompok pemulung yang tak berdaya, tanah longsor telah
> menghanyutkan rumah-rumah kardus ke anak-anak sungai, gempa bumi serta
> gelombang pasang telah menghancurkan kota-kota serta desa-desa pantai.
> Kebakaran hutan di Sumatra telah menyesakkan nafas penduduk di daerah yang
> luas di Asia Tenggara.
> Ruang lingkup bencana sebesar ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan sungguh
> aneh jika mengabaikannnya sekedar sebagai nasib jelek bangsa atau amarah
> Tuhan ataupun karena amarah alam belaka. Sebagian besar bencana ini harus
> dipersalahkan pada korupsi, inkompetensi atau sekedar ketidakacuhan dari
> kelompok elite yang sedang berkuasa dan para pejabat peemrintah. Adalah
> kemiskinan, minimnya projek untuk kepentingan umum, dan kegemaran [para
> pejabat untuk ] mencuri yang membunuh ratusan ribu prya, wanita serta
> anak-anak Indonesia yang tidak berdaya.
> Sejak kudeta militer dalam tahun 1965 yang disponsori Amerika Serikat yang
> menjatuhkan Sukarno, dan menaikkan rezim militer yang sangat anti komunis,
> korup, dan pro pasar dari diktator Suharto, Indonesia terhindar dari
> pengawasan yang sungguh-sungguh dari media dan pemerintahan negara-negara
> Barat. Setelah jatuhnya Suharto dalam tahun 1998, Indonesia dipuji oleh media
> massa sebagai suatu demokrasi yang sedang tumbuh dan semakin toleran.
> Sebagian dari bencana ini adalah buatan manusia; [dan] hampir semuanya malah
> bisa dicegah. Dalam penelusuran yang lebih cermat semakin jelas terlihat
> bahwa orang-orang mati karena hampir tidak ada upaya pencegahan, kurangnya
> pendidikan (Indonesia merupakan negara yang ketiga paling rendah prosentase
> GDP anggaran pendidikannya sesudah Equatorial Guinea dan Ecuador) dan suatu
> sistem ekonomi pro pasar yang buas yang membiarkan sekelompok kecil orang
> kaya untuk memperkeya dirinya sendiri di atas penderitaan orang banyak yang
> hidup dengan biaya kurang dari dua dollar sehari. Kesimpulan yang dapat
> ditarik terhadap bagaimana berfungsinya masyarakat Indonesia bisa sangat
> mengerikan. Namun, menghindari pengungkapan hal ini tidak diragukan lagi akan
> menyebabkan jatuhnya korban nyawa yang berharga dari ratusan ribu manusia.
> Indonesia didorong oleh semangat mencari untung dalam bentuknya yang paling
> ekstrim. Ia juga merupakan salah satu dari bangsa yang paling korup di muka
> bumi. Dan kelihatannya tidak ada keuntungan cepat yang dapat diperoleh dari
> mengambil langkah-langkah preventif. Dimanapun dunia, bendungan dan dinding
> anti-tsunami dipandang sebagai pekerjaan umum dan justru perkataan umumyang
> telah hampir lenyap dari kamus mereka yang membuat keputusan di Indonesia.
> Keuntungan berjangka pendek bagi sekelompok khusus orang diberikan prioritas
> yang lebih tinggi dari kemanfaatan berjangka panjang bagi seluruh bangsa.
> Keruntuhan moral dari bangsa ini terbayang dalam skala nilai: orang korup
> tapi kaya memperoleh penghormatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
> mereka yang jujur tapi miskin.
> Tenggelamnya kapal-kapal ferry bukanlah "karena angin kencang dan ombak";
> kapal-kapal itu tengelam karena penih sesak oleh penumpang dan karena
> perawatan yang buruk. Semuanya bisa dijadikan uang, bahkan keselamatan ribuan
> penumpang. Perusahaan-perusahaan hanya ingat terhadap keuntungannya sendiri,
> sedangkan para pengawas dari pemerintah hanya memperhatikan uang suap belaka.
> Tenggelamnya kapal Senopati Nusantara dengan ratusan kurban dan disiarkan
> secara luas itu hanyalah salah satu dari ratusan kecelakaan laut yang terjadi
> setiap tahun di Indonesia. Walaupun tidak bisa diperoleh angka statistik yang
> pasti (dengan alasan yang dapat diduga, yaitu karena pemerintah Indonesia
> berusaha sekeras-kerasnya untuk mencegah dipublikasikannya statistik
> komparatif secara lengkap), beberapa rute pelayaran kehilangan lebih dari
> tiga kapal setiap tahun.
> Catatan keamanan dari industri penerbangan Indonesia merupakan salah satu
> yang paling buruk di dunia. Sejak tahun 1997, sekurang-kurangnya 666 orang
> telah meninggal dalam delapan kecelakaan pesawat di Indonesia. Latihan
> terhadap beberapa orang pilot sedemikian buruknya sehingga pesawat sering
> tergelincir di landasan pacu atau sama sekali tidak bisa menemukan landasan,
> atau [malah] mendarat di bagian tengah landasan. Pemeliharaan pesawat adalah
> masalah lainnya: flaps sering tidak berfungsi sama sekali; roda tidak dapat
> dimasukkan setelah take-off, ban yang jarang diganti cenderung meletus pada
> saat mendarat. Sungguh merupakan suatu keajaiban bagaimana beberapa pesawat
> khususnya pesawat tua Boeing 737 yang diterbangkan oleh hampir semua
> peruhasaan penerbangan Indonesia bisa lolos dari inspeksi.
> Setelah mewawancarai pejabat penerbangan sipil lokal (yang jelas namanya
> tidak mau disebutkan) wartawan Anda mengetahui bahwa sistem navigasi dari
> beberapa bandar udara Indonesia berada dalam keadaan yang amburadul, terutama
> bandar udara Makasar di Sulawesi dan Medan di Sumatra.
> Rata-rata, telah terjadi satu kecelakaan kereta api setiap enam hari di
> Indonesia, umumnya disebabkan karena kurangnya penjagaan pada 8000 lintasan
> kereta api. Sebagai perbandingan, kereta api Malaysia tidak pernah mengalami
> kecelakaan fatal selama 13 tahun sampai tahun 2005 ( kecelakaan terjadi tahun
> 2006, yang statistiknya bisa diperoleh).
> Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa Indonesia secara relatif mempunyai
> jumlah mobil per kapita yang kecil, namun jalan-jalannya merupakan jaringan
> jalan yang "paling banyak digunakan" di dunia (hanya nomor dua setelah
> Hongkong yang bukan merupakan negara): 5.7 juta kenderaan-km per tahun dari
> jaringan jalan. (2003, The Economist World in Figures, 2007 Edition). Menurut
> The Financial Times, walaupun kepadatan yang luar biasa serta lalu lintas
> yang bagaikan merangkak ini, lebih dari 80 orang tewas setiap hari di
> jalan-jalan Indonesia, umumnya disebabkan oleh karena amat buruknya
> infrastruktur dan amat lemahnya penegakan hukum.
> Gempa bumi belaka tidaklah membunuh manusia. Faktor penyebab banyaknya jatuh
> korban adalah buruknya konstruksi rumah serta bangunan, bersamaan dengan
> kurangnya upaya preventif dan pendidikan preventif. Sudah menjadi pengetahuan
> umum bahwa Indonesia rentan terhadap bencana; bahwa ia berada di kawasan yang
> disebu sebagai `lingkaran api' (ring of fire). Namun kaum miskin tidak bisa
> mengharapkan adanya proyek perumahan umum yang mampu menahan gempa (seperti
> yang dibangun di negara tenggara Malaysia). Hampir setiap keluarga harus
> engurus nasibnya sendiri: mereka harus meracnang dan mendirikan tempat
> tinggalnya sendiri. Gempa besar membunuh ratusan orang, kadang-kadang ribuan
> orang, dan menyebabkan ratusan ribu orang kehilangan rumah mereka.
> Sekurang-kurangnya 5.800 orang meninggal dan 36.000 luka-luka pada tanggal 27
> Mei 2006 sewaktu gempa berkekuatan 6.2 skala Richter menghantam daerah Jawa
> Tengah dekat kota bersejarah Yogyakarta. Infrastruktur yang primitif,
> fasilitas media
> yang tidak memadai, dan korupsi yang terjadi pada saat pendistribusian
> bantuan merupakan faktor yang menyebabkan tingginya jumlah korban pada saat
> terjadinya goncangan.
> Pembabatan hutan secara tidak sah (illegal logging) dan penggundulan hutan
> merupakan alasan utama terjadinya tanah longsor. Semua orang tahu siapa yang
> bertanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran hutan di Sumatera dan di
> tempat-tempat lain, tetapi para pejabat pemerintah enggan sekali melakukan
> penangkapan, oleh karena mereka yang bertanggung jawab terhadap penggundulan
> hutan tersebut biasanya kaya raya dan mempunyai koneksi dengan negara dimana
> bahkan keadilan bisa dijual. Demikian banyak bentuk penyelesaian terhadap
> masalah-masalah ini, termasuk penegakan hukum, inspeksi dan upaya untuk
> mencari nafkah alternatif bagi masyarakat yang sedemikian putus asanya,
> sehingga mereka secara harfiah terpaksa ikut serta menggali lubang kuburnya
> sendiri dengan menghancurkan lingkungan, yang selanjutnya menghancurkan
> seluruh masyarakat itu sendiri. Namun hampir tidak ada yang dilakukan sama
> sekali, oleh karena pembabatan hutan secara tidak sah merupakan bisnis
> raksana dan sangat
> menguntungkan, yang dapat mengisi demikian banyak telapak tangan yang
> menunggunya dengan sukacita.
> Bulan lalu, beberapa puluh orang terbunuh kaena tanah longsor dan banjir
> bandang di bagian utara pulau Sumatra, yang memaksa 400.000 oang terpaksa
> mengungsi dari rumah mereka. Pada bulan Juni 2006, banjir dan tanah longsor
> yang disebabkan oleh hutan lebat telah menewaskan lebih dari 200 orang di
> provinsi Sulawesi Selatan.
> Gelombang raksasa, yang terkenal sebagai tsunami, telah menewaskan lebih dari
> 126.000 orang di provinsi Aceh pada bulan Desember 2004. Bukan saja reaksi
> dari pemerintah Indonesia dan militernya amat lamban, sebagian besar dari
> bantuan luar negeri yang amat banyak itu lenyap karena korupsi. Jangankan
> membantu korban, banyak anggota tentara Indonesia memeras sogokan dari
> lembaga-lembaga bantuan dan merusak perbekalan atau air minum yang berharga
> jika sogokan tidak dibayar. Dalam suatu kasus menyolok tentang perampasan
> tanah oleh pemerintah, banyak korban dihambat pulang ke tanahnya sendiri,
> sedangkan anak-anak dipisahkan secara paksa dari orang tuanya (karena
> kehilangan sertifikat kelahiran) dan `diadopsi' oleh organisasi-organisasi
> keagamaan; beberapa di antaranya menjadi korban perdagangan manusia (human
> traficking). Lebih dari dua tahun setelah terjadinya tragedi yang
> menghancur-luluhkan Aceh ini, ratusan ribu orang masih tinggal di rumah-rumah
> darurat.
> Masih banyak korban tsunami lainnya, yang menghantam pantai Jawa selatan pada
> tanggal 17 Juli 2006 yang masih menunggu bantuan yang berarti. Menurut
> angka-angka resmi, sebanyak 600 orang tewas, namun angka yang sebenarnya
> hampir pasti jauh lebih tinggi. Pejabat-pejabat Indonesia tela menerima
> peringatan dini dari Jepang namun tidak anu bertindak, kemudian mengatakan
> bahwa tidak banyak yang dapat diperbuat karena daerah tersebut tidak
> dilengkapi dengan sirene atau pengeras suara.
> Indonesia sering menderita berbagai jenis bencana buatan manusia yang sungguh
> sukar untuk dimengerti dan diperbandingkan dengan apapun juga. "Banjir
> limpur" baru-baru ini telah menenggelamkan demikian banyak desa di luar
> Surabaya. Bencana itu terjadi karena tidak dipatuhinya prosedur secara wajar
> oleh suatu perusahaan eksplorasi gas (yang sebagian sahamnya dimiliki oleh
> salah seorang menteri kabinet). "Kecelakaan" ini telah menyebabkan lebih dari
> 10.000 orang menjadi pengungsi, dan merendam lebih dari 1.000 are tanah
> dengan lumpur panas, menghancurkan satu-satunya jalan raya dari Surabaya
> serta jalan kereta api utama. Sampah telah menguburkan suatu desa pemulung
> miskin pada sebuah penimbunan sampah tanpa izin di luar kota Bandung. Banyak
> lagi kejadian seperti itu, tapi daftar lengkap akan memenerlukan banyak
> sekali halaman surat kabar, bahkan mungkin suatu buku yang khusus ditulis
> tentang hal itu.
> Masalahnya adalah: kapankah rakyat Indonesia akan berkata bahwa sudah cukup
> apa yang terjadi itu dan kapankah mereka akan menuntut pertanggungjawaban dan
> keadilan, angka-angka statistik yang benar, dan `cetak biru' yang konkrit
> untuk menyelesaikannya?
> Hampir di semua negara, dua bencana yang terjadi baru-baru ini peristiwa
> tenggelam yang mengerikan dari kapan `Satria Nusantara" dan `hilang'-nya
> pesawat Boeing 737 Adam Air dengan 102 penumpang sudah lebih dari cukup
> untuk memaksa menteri kabinet untuk mengundurkan diri. Di Indonesia, kedua
> tragedi ini dipandang (atau ditampilkan) hanya sebagai suatu nasib buruk
> lainnya belaka tanpa meminta pertanggungjawaban atau akuntabiltas siapa pun
> juga.
> Pers dan media massa Indonesia telah melaporkan secara detail masing-masing
> dan setiap bencana itu. Tetapi mereka gagal untuk menegaskan bahwa apa yang
> terjadi itu adalah suatu keadaan luar biasa dan tidak dapat ditoleransi,
> bahwa mungkin tidak ada negara besar lainnya di dunia yang mengalami demikian
> banyak korban manusia yang tidak semestinya terjadi karena bencana buatan
> manusia atau bencana yang sesungguhnya bisa dicegah. Upaya mengaitkan
> demikian banyak bencana dengan korupsi da sistem sosial ekonomi telah ditolak
> sama sekali. Surat kabar Indonesiaterkemuka Jakarta Post, baru-baru ini
> memberangus komentar ini, dan menolak menerbitkannya di halaman-halamannya.
> Sejak Desember 2004, Indonesia telah kehilangan sekitar 200 ribu orang
> rakyatnya dalam berbagai bencana, tidak termasuk kecelakaan mobil di jalan
> raya dan konflik bersenjata yang terjadi di seluruh kepulauan Indonesia.
> Jumlah itu lebih besar dari jumlah korban di Irak pada saat yang sama, juga
> lebih besar dari korban yang jatuh di Sri Langka atau di Peru selama perang
> saudara yang demikian lama. Sungguh, banyak orang Indonesia yang hidup dalam
> keadaan berbahaya dan penuh risiko seperti mereka yang hidup di daerah yang
> tercabik-cabik oleh perang. Sebagian besar mereka tidak menyadarinya, oleh
> karena statistik komparatif atau tidak tersedia atau telah ditekan.
> Indonesia adalah miskin, tetapi masih berada dalam posisi untuk melindungi
> sebagian dari warganya yang rentan. Masalah utama adalah tidak adanya
> kehendak politik (political will). Cukup banyak semen dan batu bata untuk
> membuat bendungan dan dinding untuk menghambat tsunami, untuk memperkuat
> bukit-bukit di sekitar kota-kota, yang terancam akan dikuburkan oleh tanah
> longsor. Suatu penglihatan sekilas di sekitar Jakarta berlusin-lusin shopping
> malls baru dibangun di beberapa tempat, dimana istana-istana mewah dari
> pejabat-pejabat yang korup telah memakan berhektar-hektar tanah.
> Keengganan untuk menyelesaikan masalah mempunyai akarnya pada korupsi.
> Badan-badan usaha serta pejabat-pejabat lokal telah mengembangkan kemampuan
> khusus untuk mengeruk keuntungan dari apa pun juga, bahkan dari bencana dan
> dari pederitaan berjuta-juta rakyatnya sendiri. Dalam kalimat sederhana,
> korupsi adalah pencurian dari publik. Tetapi jika korban yang harus dibayar
> harus dihitung dengan hilangnya ratusan ribu nyara, ia menjadi pembunuhan
> massal.
>
>
> ---------------------------------
>
> [1] Novelis, jurnalis, produser film, salah seorang pendiri dari Mainstay
> Press (www.mainstaypress.org), Senior Fellow pada Oakland Institute
> (www.oaklandinstitute.org). Saat ini ia tinggal dan bekerja di Asia Tenggara
> dan bisa dihubungi pada alamat email [EMAIL PROTECTED] Naskah aslinya
> berjudul "Indonesia: Natural Disasters or Mass Murder?", dimuat dalam
> International Herald Tribune dan The Financial Times, 12 Februari 2007,
> dikirimkan via e-mail oleh Duta Besar RI di Ceko, Prof Dr Salim Said,
> MA,MAIA, dan diterjemahkan oleh Dr. Saafroedin Bahar, Komnas HAM.
>
>
>
>
> Ronal Chandra [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
>
>
>
> INDONESIA: NATURAL DISASTERS OR MASS MURDER?
>
> By Andre Vltchek
>
--- dipotong di bagian ini --
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. ============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================