-------------------------------------------------------------
Do'a Bersama untuk Keselamatan Negeri, di Masjid istiglal diundur menjadi 
Minggu 1 April 2007, karena Jumat 16/3/7 hal sama diadakan Menag. 
-------------------------------------------------------------



Belajar pada Pohon 

 

 

Suatu hari saya mendapat cerita dari seorang sahabat dekat. Dia tinggal di kota 
lain di sebuah negeri empat musim. Jangan pernah tanya siapa, karena dia tidak 
mau disebut-sebut namanya. Ini cerita tentang pergulatan batinnya dalam 
mengenal Tuhan. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.

 

Dia punya seorang guru spiritual yang juga masih muda, namun memiliki ilmu dan 
hikmah yang sangat dalam. Dia bertemu dengan gurunya, kira-kira sekali dalam 
sebulan. Setiap pertemuan berikutnya, sang guru selalu bertanya : bagaimana 
perkembangan dan pengalaman selama sebulan ini? Ada bahan apa yang bisa diambil 
hikmahnya sekarang? Selalu begitu.

 

Nah, terakhir sebelum berpisah lama dengan gurunya, dia juga sempat bertemu dan 
sang guru memberi tugas baru. Tugasnya adalah agar dia belajar menjadi manusia. 
Manusia dalam arti sebenarnya, yaitu manusia sebagai wakil Tuhan, sebagai 
khalifah di muka bumi. Dan untuk menjadi khalifah dia harus mengenal yang 
diwakilinya, mengenal Tuhannya. "Kenali sifat-sifat Tuhan. Jagalah hatimu, 
ucapanmu, dan akhlakmu sehingga mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Tuhan Maha 
Suci, Maha Pengasih, Maha Penyayang... Tidak usah pusing-pusing memikirkan 
caranya, cukup jalani saja hidupmu apa adanya. Tidak usah banyak meminta. Nanti 
kau akan menemukan sendiri."

 

Alkisah, sahabat saya ini harus pergi ke negara lain karena urusan pekerjaan. 
Sebelumnya dia memulai investasi, bisnis. Teman-temannya sudah sukses, dan dia 
lihat sendiri buktinya. Ada sedikit uang, beberapa belas juta, dia 
investasikan. Kemudian dia berniat untuk menambah investasi. Dalam hatinya, 
jika investasi sukses, dia bisa mencapai kebebasan finansial, sehingga bisa 
beramal dan membantu orang lain dengan lebih banyak.

 

Dia memohon petunjuk dulu kepada Allah. Apakah diperbolehkan investasi ini. 
Jika boleh, mohon dimudahkan. Jika tidak, mohon dijauhkan. Ternyata proposalnya 
ke bank disetujui, dengan jaminan mobil hasil usahanya selama ini. Investasi 
pun bertambah. Lalu dia berangkat.

 

Namun tidak lama setelah dia bekerja di kota baru, datang kabar buruk kalau 
bisnis yang diikutinya kolaps. Dia kaget, dan mulai khawatir. Dia ingat hal-hal 
yang diajarkan oleh gurunya. Lalu dia berdzikir dan berdoa. Maklum hanya itu 
yang bisa dia lakukan dari jauh. Tidak mungkin dia pulang dan menyelesaikannya. 
Dia mengadukan semua pada Tuhan, dan berharap semoga kondisi menjadi lebih 
baik. Rajin sekali dia berdoa, sehingga dia rasakan kenikmatan dalam hatinya 
yang jarang dirasakan sebelumnya. Hati yang terasa sejuk, seperti disiram es 
ketika berdzikir. Kekhawatirannya hilang, berubah menjadi syukur. Syukur karena 
diberi cobaan dan diberi kenikmatan iman dalam dzikirnya.

 

Beberapa hari kemudian berita baru datang. Kondisi tidak menjadi lebih baik, 
tetapi lebih buruk. Modal yang diinvestasikannya terancam tidak bisa kembali. 
Boro-boro untung, yang mungkin terjadi adalah kerugian. Dia yang tadinya sudah 
tenang, kembali menjadi khawatir. Kemudian dalam kesempatan dzikir setelah 
sholat, dia pun kembali memasrahkan diri kepada Tuhan. Dia yakin, pertolongan 
Tuhan sangat dekat. Di balik ujian, pasti ada kemudahan. Dia yakin, ujian ini 
tidak akan lama, dan pada akhirnya pasti Tuhan akan menyelamatkan investasinya.

 

Hari berikutnya, berita datang lagi, bahwa kondisi benar-benar semakin tidak 
bisa diharapkan. Hilangnya modal sudah di depan mata. Dia pun tidak bisa 
membohongi diri, kalau hatinya benar-benar khawatir dan putus asa. Belum pernah 
dia rasakan keputusasaan yang sedemikian dalam. Terbayang dalam pikirannya, 
bahwa di bulan-bulan selanjutnya dia harus membayar hutang ke bank puluhan 
juta, atas sesuatu yang dia tidak pernah rasakan manfaat dan keuntungannya. Dia 
tidak tahu dari mana bisa menulasi. Dia mulai berprasangka buruk kepada Tuhan. 
Dia merasa malas mengerjakan shalat dan dzikir, karena ternyata kenyataan yang 
terjadi lain dengan yang diyakininya.

 

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu

dari atas dan dari bawahmu,

dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu)

dan hatimu naik menyesak sampai ke

tenggorokan dan kamu menyangka terhadap

Allah dengan bermacam-macam purbasangka.

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan

digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.

-- Al Ahzab 10-11.

 

Bukankah sebelumnya aku sudah mohon petunjuk kepada-Mu ya Tuhan? Bukankah 
kesejukan dan ketenangan dalam diriku berasal dari-Mu ya Tuhan? Tapi kenapa 
jadi seperti ini? Dia menjadi ragu, apakah Tuhan masih akan menolongnya. 
Benar-benar kacau kondisi hati dan pikirannya saat itu.

 

Namun tidak lama, hanya kurang dari setengah jam dia merasakan seperti itu. Dia 
pun ingat yang diajarkan gurunya, "Segala rasa siksa, itu datangnya dari 
setan." Lalu ia pun sadar, bahwa setan dalam dirinya sedang mengelabuhi dan 
menutup hatinya. Mencoba agar dia berputus asa dan berpaling dari Tuhan. 
Melalui pikiran dan nafsu, setan menampilkan gambaran yang buruk-buruk tentang 
apa yang akan terjadi kemudian. Dan setan itu bukan siapa-siapa, tetapi bagian 
negatif dari keduanya, dari dirinya sendiri.

 

Dia pun berteriak kepada nafsu dan pikirannya, "Wahai nafsu dan pikiranku. Diam 
kau sekarang. Kalian mau diselamatkan atau tidak. Kalau mau, mari bersamaku 
berwudlu dan menghadap Tuhan." Keyakinannya kepada Tuhan tumbuh lagi.

 

Dalam dzikir dia bertanya kepada Tuhan tentang hikmah semua ini. Kesalahan apa 
yang telah dilakukannya. Apa yang dimaui Tuhan atas dirinya. "Jika kau hanya 
mau kenikmatan, dan menolak penderitaan, maka bukan sifat Tuhan yang kau 
pelihara dalam hatimu. Jika kau mau menjadi khalifah, menjadi wakilKu, maka kau 
harus mau menerima kedua-duanya dengan ikhlas." Sahabatku pun menangis di 
hadapan Tuhan. Menyesali kebodohan yang baru saja dia lakukan. Menyesali 
dirinya yang hampir-hampir masuk dalam golongan orang fasik, orang-orang yang 
berputus asa terhadap rahmat Allah. "Belum disebut beriman kamu, jika belum 
pernah diuji dan belum lulus ujian penderitaan." Tangisnya pun semakin dalam. 
Bukan kesedihan, tetapi rasa syukur yang dalam karena telah diuji oleh Tuhan. 
Diberi kesempatan untuk menjadi orang beriman. Ada harapan untuk masuk golongan 
orang beriman.

 

"Ya Tuhanku, dulu aku tiada, sekarang aku tumbuh dengan lengkap sempurna. Dulu 
aku tidak punya harta, lalu Engkau anugerahi aku, dan sekarang Kau ambil lagi 
milik-Mu. Kenapa aku sedih dan khawatir ya Tuhan, atas hilangnya sesuatu yang 
bukan milikku. Betapa bodohnya aku ini. Betapa aku lupa siapa aku ini. Sungguh 
jika Engkau tidak ingatkan aku dengan ujian ini, pasti aku termasuk orang yang 
lupa diri selamanya. Ampuni aku ya Tuhan, atas kebodohanku ini.."

 

Dalam tangis dan dzikirnya, dia membuka surat Alam Nasyrah. "Bukankah Kami 
telah melapangkan untukmu. Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, 
yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena 
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah 
kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu 
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya 
kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap." Tiada terkira syukur nikmat yang 
dia rasakan. Nikmat iman dan kedekatan dengan Tuhan. Serasa seperti dalam 
pelukan kekasihnya. Teringat bagaimana kekhawatiran dalam hatinya dihilangkan, 
dan diganti dengan syukur. Terbayang saat-saat yang penuh beban kemudian 
menjadi seringan kapas.

 

Dan sahabatku pun menjadi tidak lagi peduli dengan kerugian, kehilangan, dan 
kegagalan. Semua dari Allah, dan sekarang kembali kepada-Nya lagi. Dia pun 
segera kembali bekerja, seolah tiada masalah yang terjadi. Dia teringat 
perintah Tuhan agar tidak banyak berangan-angan, khawatir, memikirkan 
kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi, dan besarnya nilai kerugian 
yang dialami. Tidak ada waktu lagi untuk itu, yang ada adalah "mengerjakan 
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain," yaitu pekerjaannya.

 

Beberapa hari kemudian berlalu dengan normal. Apapun berita tentang 
investasinya sudah tidak lagi menarik hatinya. Namun sebenarnya masalah masih 
ada. Utang tetap hutang, dan harus dibayar!

 

Suatu hari, datang berita lagi, setidaknya untuk saat itu modal dia benar-benar 
tidak bisa diharapkan kembali. Bisnis yang diikutinya sudah gulung tikar. 
Mereka yang mengurus bisnis tersebut sedang dalam penyelidikan polisi dan 
hukum. Dia pun teringat kembali, dari mana harus membayar hutangnya. Minggu 
depan sudah harus membayar cicilan. Kalau tidak bisa, akan dimasukkan daftar 
hitam oleh bank dan mobil disita. Dia memang sudah tidak peduli dengan modal 
yang hilang. Tetapi tetap saja jika tidak bisa melunasi hutang bank, akan 
timbul masalah.

 

 

Kamu sungguh-sungguh akan diuji

terhadap hartamu dan dirimu.

-- Ali Imran 186.

 

Seperti biasa, sahabat saya yang menjadi rajin mendekatkan diri kepada Allah 
sejak ujian ini, merenung dengan hatinya dan berdzikir. Dia sudah ikhlas dan 
memasrahkan semua urusan kepada Tuhan. Dia sudah tidak pernah memohon agar 
diringankan atau dikembalikan modalnya. Dia yakin, semua memang sudah diatur 
oleh Allah untuknya. Kenapa kok malah meminta aneh-aneh yang mungkin di luar 
skenario Allah? Oleh karena itu, doanya hanyalah "agar diberi penerang dalam 
ujian ini, dan diberi akhir yang terbaik."

 

Dalam dzikirnya dia mendapat penjelasan. Ada beberapa kesalahan yang dia 
lakukan dalam bisnis itu. Pertama, adanya niatan dalam hati untuk "bebas 
finansial". Berharap memperoleh pendapatan pasif sehingga kecukupan secara 
materi dan tidak perlu lagi khawatir soal finansial. Ternyata, hal ini bisa 
menggelincirkan hatinya pada kemusyrikan yang lembut. Kemusyrikan yang 
ditimbulkan oleh harta. Bagi Tuhan, jika dia merasa tenang karena kecukupan 
materi atau "bebas finansial", maka itu sama saja dengan kemusyrikan. Sebab dia 
merasa tenang bukan karena Allah. Dia tenang karena sesuatu selain Allah. Belum 
saatnya bagi dia untuk mengalami "bebas finansial" ini, karena pasti akan 
terjerumus. Suatu saat jika sudah tiba waktunya, pasti akan dianugerahi oleh 
Allah kebebasan ini. Namun saat itu dia sudah siap, sehingga tidak tertipu oleh 
materi. Ujian ini untuk mempersiapkan dirinya.

 

Kedua, adanya keinginan untuk bisa membantu lebih banyak orang dengan banyaknya 
harta yang dia miliki nanti. Bukankah ini niat yang baik? Benar, tetapi 
ternyata keinginan ini bisa sangat menipu dengan halusnya. Ada kesalahan dalam 
keinginan tersebut, yaitu sesungguhnya bukan dia yang membantu manusia lain, 
tetapi Tuhan. Jika benar terjadi dia bisa membantu banyak orang, pasti dia akan 
tertipu oleh rasa dirinya, oleh pengakuan dirinya. Pengakuan bahwa "aku telah 
beramal sholeh dengan membantu banyak orang." Lalu muncul kepuasan dan 
kebanggaan spiritual yang tidak dia sadari.

 

Tidak seharusnya dia memiliki rasa seperti itu, karena semua harus dikembalikan 
kepada Tuhan. Dirinya dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang lain, tetapi 
bukan dia yang menolong. Kesadaran ini harus tumbuh terlebih dahulu, sebelum 
dia benar-benar menolong orang lain nanti. Dan ujian ini yang mengajarinya. 
Mengajarkan makna "Bismillah", "Atas nama Allah", "dengan nama Allah". Artinya 
ketika dia membantu orang lain, saat itu dalam hatinya harus disadari bahwa 
yang membantu adalah Tuhan, bukan dirinya. Tuhan sedang menggunakan wadahnya 
untuk membantu orang lain. Dan tidak sepatutnya dia mengakui itu sebagai amal 
perbuatannya.

 

"Ya Tuhan, betapa Mulianya Engkau. Aku membeli ujian ini dengan modal yang 
tidak seberapa, dan itupun dari-Mu, harta milik-Mu. Namun manfaat yang 
kudapatkan sungguh tiada ternilai dengan apapun. Betapa bodoh jika aku masih 
menyesali hilangnya harta itu ya Tuhan." Demikian katanya lirih dalam hati.

 

Happy ending? Belum...

 

Hutang tetap hutang, dan harus dibayar. Dia pun harus kembali ke alam nyata. 
Harus tersadar lagi dari perenungan dan zikirnya, dan menghadapi bulan-bulan 
berikutnya dengan tekanan dan mungkin penderitaan. Apa yang telah dia dapatkan, 
sekali lagi, harus dibuktikan dengan kenyataan. "Ya Tuhan, ini adalah 
minggu-minggu yang berat bagiku. Seperti ditiup angin dan badai kencang. Aku 
sudah hampir tumbang, tapi Engkau selamatkan aku. Dan sekarang pun belum usai 
ujian ini ya Tuhan. Aku yakin Kau pasti menolong. Aku tidak minta apapun bahkan 
untuk kau ringankan beban ini. Engkau Maha Tahu akan kemampuanku dan 
keterbatasanku lebih dari pengetahuanku sendiri. Berilah aku petunjuk-Mu, agar 
aku tidak khawatir lagi menghadapi hari-hari di depanku dalan mengarungi 
ujian-Mu ini."

 

Lihatlah pohon di luar jendela itu. Bukankah kau beberapa minggu ini tertarik 
memperhatikannya? Kau sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu datang 
musim gugur. Daunnya menjadi kuning, rapuh, kemudian berjatuhan ditiup angin 
kencang. Musim dingin sudah berlalu, dan sekarang musim semi. Kau lihat daunnya 
bersemi, dari hari ke hari semakin lebat, dan sekarang seluruh cabangnya telah 
hijau kembali.

 

Dari tahun ke tahun seperti itu. Sejak pohon itu kecil, hingga sekarang menjadi 
besar. Kau lihat, meskipun daunnya berjatuhan dan bersemi lagi, bukan berarti 
pohon itu semakin kecil. Tetapi semakin besar, semakin tinggi, semakin rindang.

 

Seperti itulah manusia yang beriman. Mereka tidak akan pernah lepas dari ujian, 
dari tiupan angin badai penderitaan. Karena itulah makanan bagi keimanannya 
agar tumbuh subur. Namun selalu "sesudah kesulitan itu ada kemudahan", selalu 
ada yang bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon yang makin tinggi, 
iman mereka pun semakin meningkat.

 

Kadang-kadang ada pohon yang tumbang karena badai dahsyat. Namun selama akar 
pohon itu masih masuk ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon itu tidak 
akan mati. Daun dan dahannya akan selalu tumbuh. Oleh karena itu, tancapkan 
hatimu, akarmu, kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau akan 
selamat.

 

 

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu

dengan merendahkan diri dan rasa takut,

dan dengan tidak mengeraskan suara,

di waktu pagi dan petang, dan janganlah

kamu termasuk orang-orang yang lalai.

-- Al A'raaf 205.

 

Pohon tidak pernah khawatir akan kehilangan daun untuk selamanya ketika daunnya 
berguguran. Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah darinya.

  -----============================================================
  Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
  ------------------------------------------------------------
  Website: http://www.rantaunet.org
  ============================================================
  UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
  - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
  - Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
  - Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
  1. Email ukuran besar dari >300KB.
  2. Email dikirim untuk banyak penerima.
  --------------------------------------------------------------
  * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
  * Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
  http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
  http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
  dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
  ============================================================
============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================

Kirim email ke