Menakar Waktu Batita Menonton Televisi 

Sumber: Kompas
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0607/17/034314.htm   


Mempunyai bayi berusia di bawah lima tahun (balita), apalagi di bawah 
tiga tahun (batita), adalah masa paling membahagiakan. Segala hal 
diusahakan untuk si kecil, terutama untuk "santapan" otak anak. 

Rupa-rupa permainan diberikan orangtua untuk merangsang saraf 
sensorik dan motorik sang buah hati. Bahagia rasanya melihat sang 
buah hati tumbuh normal. 

Banyak tawaran permainan bersifat edukatif untuk tumbuh kembang bayi 
dan anak. Permainan yang bersifat audio visual lewat video compact 
disc (VCD), program komputer, atau berbagai tayangan televisi juga 
makin bervariasi. Kadang hal itu justru membuat orangtua bingung 
memilih yang terbaik. 

Televisi saat ini makin tidak terhindarkan untuk ditonton batita 
maupun balita. Di tengah gempuran program sinetron, kuis, variety 
show, infotainment, reality show, juga iklan di televisi, orangtua 
harus pandai-pandai memilihkan tontonan yang sesuai untuk anak. 

"Televisi itu kontroversial jika dikaitkan dengan anak. Televisi 
dipercaya memberi pengaruh buruk bagi anak kecil. Banyak orang 
mengeluh soal televisi. Tetapi, televisi walaupun jelek juga tetap 
ditonton. Ini kenyataan yang tidak terhindarkan," papar guru besar 
psikologi Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, di sela-
sela konferensi pers tentang Vision 3 Baby, saluran baru pada 
televisi berlangganan Indovision. 

Pengaruh buruk televisi itu sebenarnya sudah disadari para orangtua. 
Soal ini pun sudah kerap dibahas dalam berbagai seminar atau diskusi. 
Namun, apa boleh buat, televisi ternyata tetap menjadi salah satu 
alternatif tontonan di rumah. 

"Anak-anak kecil jadi hafal lagu TTM (Teman Tapi Mesra dari grup 
Ratu)," kata Sarlito. 

Pendampingan 

Pendampingan adalah kata yang harus diperhatikan orangtua. Anak 
menonton televisi boleh, tetapi harus didampingi orangtua. Persoalan 
menjadi pelik terutama pada orangtua yang keduanya pekerja. Anak akan 
didampingi pengasuh bayi. Beruntung bagi keluarga yang mempunyai 
pengasuh bayi yang pintar dan dapat dipercaya. Meski demikian, 
orangtua tetap harus memberi pengarahan kepada pengasuh bayi sebelum 
berangkat bekerja. 

"Meskipun begitu, kualitas pendampingan memang menjadi jauh berbeda 
jika dilakukan baby sitter. Maka itu, orangtua yang bekerja sebaiknya 
tetap menyediakan waktu semaksimal mungkin untuk pendampingan anak 
menonton televisi," papar Sarlito. 

Dia mencontohkan film seri kartun Tom and Jerry di televisi yang jika 
ditonton batita bisa memberi pengaruh buruk. 

"Kalau Tom dan Jerry sedang pukul-pukulan dan si anak melihat, dia 
akan langsung menirukan. Ini berbahaya, terutama bagi batita yang 
belum bisa diberi tahu," jelasnya. 

Dokter Rizal Sini dari Rumah Sakit Bunda Jakarta menambahkan, otak 
bayi yang lahir ibarat chip yang masih kosong dan harus diisi. 

"Saat itulah orangtua yang akan menentukan akan diisi apa chip ini," 
tuturnya. 

Channel Vision 3 Baby di Indovision menawarkan tontonan untuk batita 
tanpa iklan yang bisa diakses dengan cara berlangganan. Ini menjadi 
salah satu alternatif selain berbagai film kartun yang ditayangkan 
hampir semua stasiun televisi. 

Program Vision 3 Baby antara lain berupa baby art, animasi dengan 
waktu lima menit per episode. Program menceritakan penciptaan suatu 
gambar dari awal hingga akhir. Lalu ada bouncy balls, wooly, jammers, 
dan who's it what's it. Ini program dwibahasa sehingga orangtua bisa 
memilih bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. 

Waktu dibatasi 

Sarlito menekankan pentingnya dosis menonton televisi bagi batita, 
selain isi dan tentu saja pendampingan orangtua. 

"Sepuluh menit sudah cukup untuk anak menonton televisi. Televisi 
akan memberi pengaruh positif jika dibatasi waktunya, ada waktu 
maksimumnya," tegas Sarlito. 

Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi 
Guntarto justru menyarankan agar bayi usia nol sampai tiga tahun 
tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya 
boleh ditonton selama dua jam sehari. 

"Televisi sering dianggap sebagai hiburan, padahal merusak kalau 
enggak diatur. Alihkan ke bentuk kegiatan lain. Makanya, kami akan 
mencanangkan hari tanpa TV saat Hari Anak tanggal 23 Juli nanti," 
kata Guntarto. 

Dokter spesialis anak Mulya Karyanti berpendapat sama. Dosis menonton 
harus diberikan dengan tepat demi kesehatan bayi. Sebenarnya bayi 
usia nol sampai enam bulan belum bisa membedakan warna dan televisi 
tidak begitu berpengaruh. 

"Anak di bawah satu tahun belum fasenya untuk menonton televisi," 
ujarnya. 

Pada anak usia satu hingga tiga tahunlah waktu menonton harus 
dibatasi. 

"Kalau lebih dari 10 menit, ya pokoknya kurang dari setengah jam. Ini 
harus diusahakan," kata Mulya. 

Jika terlalu lama menonton televisi (ini bisa juga VCD, apalagi 
komputer), lanjut Mulya, mata anak akan cepat lelah dan tidak sehat. 
Mata yang lelah akan berpengaruh pula pada saraf otak. 

"Otot mata akan terus berkontraksi dan letih. Si anak bisa tidak 
menyadari hal itu karena asyik menonton, tetapi akibatnya mata anak 
bisa menjadi minus. Jika ini terjadi pada anak yang keluarganya 
mempunyai kelainan mata silindris, mata anak pun akan minus. Apalagi 
jika jarak menonton televisi yang 10 kali ukuran layar televisi tidak 
diperhatikan," papar Mulya. 

Menurut Sarlito, bahkan program batita seperti di Vision 3 Baby yang 
sudah dirancang dengan konsep matang pun bisa menjadi berpengaruh 
jelek bagi si anak jika dosis tidak ditakar. Dosis ini akan meningkat 
seiring dengan pertambahan usia anak. Sampai menjadi dewasa, orang 
baru akan dapat mengukur sendiri waktu menonton televisi. 

Maka, sebelum anak telanjur "maniak" televisi, mulailah batasi dari 
sekarang.... 

Televisi Sehat untuk Anak 

Kampanye televisi sehat sedang dicoba untuk digalakkan Yayasan 
Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI). Intinya, anak-anak harus dikawal 
ketat oleh orangtua ketika menonton televisi. Tidak hanya televisi 
sehat, YKAI bahkan mencanangkan Hari Tanpa Televisi pada Hari Anak 
tanggal 23 Juli 2006 ini. Dalam sehari itu, oranguta diharapkan dapat 
mengajak anak-anaknya sama sekali tidak menonton televisi. 

Kepala Divisi Informasi YKAI Bobi Guntarto mengatakan, saat ini 
televisi susah dihindari anak-anak, apalagi jika mereka hanya 
ditunggui pengasuh saat orangtua bekerja. Karena itu, yang penting 
bukan melarang anak menonton televisi, tetapi mengatur dengan 
membatasi waktu menonton. 

Beberapa saran mungkin berguna: 

1. Diusahakan tidak meletakkan televisi di kamar, terutama kamar 
anak, karena akan membuat anak terbiasa dengan kehadiran televisi, 
bahkan hingga untuk menemani tidur. Ini harus dihindari. 

2. Jika mau membatasi waktu menonton, usahakan seketat mungkin. Untuk 
anak di bawah tiga tahun, maksimal waktu menonton adalah setengah jam 
sehari dengan sepuluh menit per sesinya. 

3. Orangtua sebaiknya menemani anak menonton dan memilihkan saluran 
yang tepat meski itu sulit ditemui. Pada saat iklan, orangtua juga 
wajib menjelaskan. 

4. Televisi bukan alat pengganti pengasuh bayi. Jadi, jika anak 
sedang rewel dan menangis, sebaiknya jangan dihibur dengan televisi. 
Cari kegiatan lain yang lebih bermanfaat. 

5. Anak agar tidak diberi tontonan yang agresif, yang memicu anak 
mencontoh. Untuk anak di bawah lima tahun, tontonan agresif seperti 
kartun Tom and Jerry, misalnya, tidak dianjurkan. Selain belum 
menangkap humornya dengan tepat, anak akan dengan mudah meniru adegan 
pukul-pukulan di dalamnya. ***


Penulis: SUSI IVVATY 





===================================================================
Telah terbit Agustus 2006, Parents Guide special edition: PRESCHOOLER. Membahas 
problem seputar tumbuh kembang anak usia prasekolah. Dapatkan segera di toko 
buku terkemuka di kota Anda"
===================================================================

Segera bergabung menjadi pelanggan majalah PARENTS GUIDE! Majalah bulanan yang 
menyajikan informasi Parenting Terlengkap dan Panduan Tumbuh Kembang Buah Hati 
Anda. Setiap Pelanggan Baru, PASTI DAPAT HADIAH LANGSUNG! Langganan setahun 
hanya Rp 240.000 (diskon 20%) dan langganan dua tahun Rp 450.000,- (diskon 
25%). Luar Jakarta ongkos kirim Rp 5000/eks (P Jawa) dan Rp 7000/eks (luar P 
Jawa). 

Informasi langganan Hub. Emma (021) 527 7302, 5256792, 70408785
atau email: [EMAIL PROTECTED]

==================================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/parentsguide/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/parentsguide/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke