Dear Mamanya Farrel and Moms lainnya,

Syukur alhamdulillah Farrel sudah sembuh ya. Semoga Farrel sehat2 
selalu.
Saya hanya ingin sharing tentang masalah bakteri & antibiotik.
Bakteri itu ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan 
tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Yang saya baca di Mayo Clinic, 
hanya kurang dari 1% saja bakteri jahat yang ada di dunia ini. 
Selebihnya adl bakteri yg 'baik' & berguna.
  
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan 
menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus 
seperti untuk mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi, mengolah 
makanan menjadi vitamin B & K, melindungi kita agar tidak terinfeksi 
oleh kuman yang jahat, membantu pencernaan agar kita tidak sembelit, 
dll.
Tapi kenapa kita bisa sakit krn bakteri?
Bakteri baik 'tidak pernah punya niat' untuk mencelakakan manusia. 
Dia berubah menjadi jahat jika : dia berada di tempat yang bukan 
tempatnya (misal bakteri yg biasa ada di saluran cerna pindah ke 
saluran kemih, jadilah anak sakit ISK, dsb...). Kenapa dia bisa 
pindah? Karena perbuatan kita juga. Misalnya penggunaan AB yang tdk 
pada tempatnya. Kena batuk pilek dikasih AB, diare dikasih AB, dll 
penyakit krn virus tapi dikasihnya AB.

Adanya bakteri harus dibuktikan dengan tes lab. Misal, tes urin 
rutin, di situ ketahuan kalau ada bakterinya.
Tes kultur swab/dahak untuk mengetahui radang tenggorokan yg 
disebabkan oleh bakteri. Jadi bukan hanya dokter melihat 
tenggorokan, trus dia bilang 'wah merah nih tenggorokannya, berarti 
krn bakteri, dikasih AB ya..'. Selama kita masih hidup ya 
tenggorokan kita merah, krn di situ bnyk pembuluh2 darah.
Tambahan lagi yg sering terlupa, salah satu ciri radang tenggorokan 
krn bakteri adl tdk ada batuk.

Kalau melalui tes darah, di situ tdk bisa ketahuan terkena bakteri 
atau tdk. Tapi melalui tes darah bisa diketahui nilai hematokrit, 
trombosit, dll. Dengan adanya data2 tsb, akan mendukung diagnosa.

Jika melalui tes feces, bisa juga terlihat di fesesnya mengandung 
apa. Misal, jamur.

Intinya, lihat & pantau kondisi si anak. 
Efek Negatif AB 
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila 
mengkonsumsi AB : 
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan 
efek samping yang paling sering terjadi. 
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai 
dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan 
nafas, dll. 
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, 
septrim, sefalsporoin & eritromisin. 
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah 
satunya kloramfenikol. 
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah 
obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid). 
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek 
ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), 
Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita 
penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB. 

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga 
dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu 
terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya: 
1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan 
berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula 
ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau 
oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai "superinfection". 

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak 
terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap 
AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat 
diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan 
dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, 
sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat. 
Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama 
kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, 
maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB 
yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal 
ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana 
infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati 
sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik. 

Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit.

Semoga anak2 kita sehat selalu ya. Maaf kalau sharingnya kepanjangan 
atau tdk berkenan

Salam,  


Kirim email ke