From: thya 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
Sent: Thursday, January 18, 2007 10:53 AM
Subject: [parentsguide] Radang usus

Dear Moms and Dads,

Mau sharing pengalamanku dan sekaligus minta input dari Moms and Dads.

Hari Rabu kmrn (Tgl 10) anak saya Farrel panas 38,5. Langsung saya bawa ke dr. 
Waldy. Stlh diperiksa, Farrel dinyatakan sakit influenza, commoncold. Diberi 
Tempra 6 jam sekali, banyak minum air putih. Jangan kaget kalo ada muntah 
sedikit dan diare sedikit, dan disarankan untuk kembali 5 hari lagi.

Ternyata sampai hari ke 3 (Sabtu) Farrel masih panas naik turun, batuk ,pilek, 
muntah 2 x, BAB mencret tetapi tidak sering dan sering buang gas (kentut) . 
Farrel juga sangat lemas, walau panasnya turun dia tidak mau bermain. Saat saya 
daftar ke dr Waldy ternyata sudah penuh. Akhirnya saya terpaksa ke dsa di RSI 
Bintaro dr. A. Saya sampaikan keluhan Farrel di atas sama dr A. Saat saya 
bilang kenapa ada muntah dan Farrel sering seperti mual (kaya mau muntah tapi 
ga bisa) berkali-kali dalam sehari. Dr A bilang"Wah bu, pasien saya dari pagi 
juga muntaaaah semua." Hah...jawaban apa itu? Trus dia membuat resep antibiotik 
(saya lupa namanya), Vometa dan Rantin, serta obat batuk pilek (lupa juga 
namanya) total 5 obat. Selain itu Dr A juga menyuruh Farrel cek darah takut 
DB.Saya tanya lagi ke dr A, jadi Farrel sakit apa Dok.dia menjawab " Ya kita 
lihat saja dari hasil tesnya" Masya Allah , dalam hati aku membatin, kok bisa 
dokter ini memberi 5 macam obat tanpa tahu pasti apa penyakitnya.

Akhirnya saya segera telpon kakak ipar saya yang juga seorang dr anak di 
Bandung. kaka ipar saya kaget ketika mendengar Farrel diberi Vometa (anti mual) 
tapi juga Rantin krn menrt dia Rantin adl obat untuk sakit lambung parah. Kakak 
ipar saya menyarankan saya ke dokter lain. Selain itu saya ga tebus obat2 dr A 
karena saya takut salah dan bersikeras akan ke dr Waldy hari Senin

Alhamdulilah hasil lab Farrel menyatakan tidak DB. Hari senin saya kontak dr 
Waldy lagi, ternyata beliau lagi ke luar kota sampai senin depan. Akhirnya saya 
ke Dr Mulyono , Prof Dr di RSIB sambil berdoa semoga kali ini dokternya tidak 
seperti dr A. 

Di dokter Mulyono, dia mendengarkan dengan baik keluhan saya, tahap-tahapan 
sakitnya Farrel. Akhirnya berdasarkan pemeriksaan Dr Mulyono, beliau bilang 
Farrel Radang usus. Mnrtnya kuman dan bakteri biasanya muncul pertama kali di 
tenggorokan. Kalau bakteri atau kuman itu tidak mati dia bisa turun ke 
paru-paru atau ke lambung. Nah kemungkinan awalnya  Farrel radang tenggorokan, 
krn bakterinya tidak mati, ia  turun ke lambung menyebabkan radang usus. Kalau 
4 hari kedepan ada panas lagi Farrel harus cek typhus.

Saya sediiih banget, karena keteledoran saya bakteri Farrel jadi kemana-mana. 
Dan sampai Jumat bsk masih deg-degan takut dia panas lagi, takut Typhus.
Alhamdulillah sejak senin sampai skrg Farrel tidak panas lagi, (Doain ga panas 
lagi ya...?????) masih batuk pilek, BAB sudah tidak mencret. Obat yang 
diberikan dr Mulyono banyak juga yakni Bactrim (antibiotik), flagyl, 
celestamine, codipront dan obat diare (Kae apa...gitu). Sedih banget Farrel 
terpaksa minum aneka obat pdhal saya anti bgt kasih antibiotik dan obat 
paten.....

Dari kejadian kmrn saya pun belajar :
1. Harus punya dokter anak cadangan yang oke. Kalau dokter anak kita pergi 
keluar kota kita ga akan panik dan ga ada kemungkinan jatuh ke tangan dokter 
yang salah. (yang mau tanya nama asli dr A bisa Japri saya)
2. Beberapa penyakit  (yg disebabkan bakteri kalo ga salah) memang membutuhkan 
antibiotik. Mungkin lebih baik (dengan sangat terpaksa) kita segera menggunakan 
antibiotik drpd penyakit si anak jadi kemana-mana (kalau telat spt saya 
kemarin, bakteri bisa jalan-jalan)
 
Apakah ada Moms and Dads yang pernah punya pengalaman sama? Apakah obatnya 
sebanyak obat Farrel juga? 

Thanks for reading dan dengerin sharing saya dan ditunggu inputnya

Thya

From: Siti Sufiati
Mama Farrel,

Sekedar sharing pengalaman aja.....
Kalo anak saya panas, saya kasih penurun panas dulu. Kalo pilek, saya kasih 
obat pilek dulu. Kalo 1 hari gak sembuh, saya kasih antibiotik yang ringan 
dulu. Kalo udah 3 hari belum sembuh, saya baru k DSA. Abis, kalo langsung ke 
DSA, biasanya langsung di bom.....

Kadang-kadang saking takutnya, kalo ngasih obat di bawah dosis yang diharuskan. 
Pantesan anaknya gak sembuh-sembuh karena memang dosisnya kurang......

Kalo saya lebih memilih obat paten, seperti amoksan bukan amoxilin generik 
karena kalo pake obat paten lebih cepet sembuh dari pada pake yg generik.....

Ok deh, semoga membantu
Salam, 
Fifi

From: Yenny Mariawati
Mom Farrel,
Anakku juga baru sembuh batuk-pilek dan panas.
Ceritanya sabtu 13 Jan Jovann mulai panas. Info dari dsa sebelumnya, panas bisa 
minum tempra tiap 4 jam dan boleh sampai 6 kali sehari (walau di kemasan 
tertulis 4 kali sehari). Selama panas bisa lebih dari 38 tapi di bawah 39. 
Habis minum tempra panas mendingan tapi begitu efek obat hilang, panas naik 
lagi. Selain tempra juga kompres air hangat. Lewat dari 3 hari, aku bawa ke dr 
Hanifah di klinik anakku kelapa gading. Udah khawatir krn denger2 takut DB. Di 
klinik, dgr aku bilang panas di hr ke 4 plus batuk pilek, dr minta ambil darah 
dan langsung di cek. Hasilnya infeksi bakteri. Jadi dikasi obat 4 macam (semua 
racikan) buat pilek, batuk, demam plus antibiotik. Sori aku lupa kompisisinya 
(resep ada di rumah). Obat racikan boleh diminum jadi satu dan distop satu2 
bila sudah sembuh (misal stop obat batuk kalo udah ga batuk, dst) tapi 
antibiotik dihabiskan.
Setelah minum obat sih langsung mendingan. Panasnya juga berangsur turun. Sampe 
hari ini batuknya masih sesekali kedengeran walau udah jauh berkurang.
Dari dr Hanifah aku juga baru ngeh kalo bakteri memang pakai antibiotik. 
Sebelumnya aku jg anti sih. 
Setuju banget kalo harus punya dsa cadangan

mommy Luna & Jovann


From: [EMAIL PROTECTED]
Dear Mom's n Dad's,


Saya pikir saya sendirian mo cerita jadi gimana gitu.


Kemarin anak saya baru ke luar dari RS


Urutan kejadian sama mba batuk pilek dulu udah gitu sakit perut akhirnya panas 
di range 38,9 - 39,8 ngeri khan tuh itu di ukur di ketiak dan kuping kebayang 
aja di dalam badan dia pasti diatas itu.


Panas turun karena saya balurin parutan bawang merah dikasih minyak telon n 
minum teh bayak. Tapi hal itu tidak membuat anakku baik.


2 kali masuk UGD disuruh pulang akhirnya ke dokter ananknya disuruh pulang juga 
dengan seabrek obat.


Ya karena saya kerja saya tidak tega lihat anak seperti itu saya inisiatif 
untuk minta dirawat dan apa hasilnya.....persis seperti mba kuman2 itu sudah 
masuk ke perut sehingga membuat kuman2 itu berkembang dan paru2nya penuh dengan 
lendir sumber bakteri itu juga yang membuat dia tidak mau makan dan sesak napas.


Hampir saja dicurigai flu burung soalnya bener2 sesak napas panas tidak turun 
dan tidak mau makan.


Jadi di RS 3 hari diinfus cairan, antibiotik dan makanan cair ngeri khan 
sedangkan obatnya ada 5 macam.


Sedih banget lihat anak seperti itu apalagi umurnya baru 4 thn.


Sampai sekarang saya bingung juga apa sebetulnya nama penyakitnya, satu2nya 
yang saya jaga adalah jangan ampe salah makan dan kebersihan kudu dijaga.

Lho jadi panjang nih.

Nah mohon pencerahan juga dari mom's n dad's nih setelah anak2 kita minum obat2 
seperti itu ada tidak ya cara ngebersihin residu obat2 tersebut. Serem 
ngebanyanginya.

Mohon banget penecerahannya mungkin sama dengan mba thya minta.

Best regards,

Leila/Bunda Naisha

From: Siti Sufiati

Mbak Laila dan Mbak Tia, 


Setahu saya, kalo anak pilek or batuk dan berdahak bisa disertai dengan diare 
karena anak belum bisa mengeluarkan dahak seperti kita. Jadi bakteri yang ada 
di dahak anak akan tertelan dan terus masuk ke saluran cerna. Bakteri itu yang 
kemudian menyebabkan diare. Jika anak udah bisa mengeluarkan dahak, mungkin 
keadaannya akan lebih baik.


Mudah-mudahan bisa menbantu


Fifi

From: Wavie

Dear Mamanya Farrel and Moms lainnya,

Syukur alhamdulillah Farrel sudah sembuh ya. Semoga Farrel sehat2 
selalu.
Saya hanya ingin sharing tentang masalah bakteri & antibiotik.
Bakteri itu ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan 
tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Yang saya baca di Mayo Clinic, 
hanya kurang dari 1% saja bakteri jahat yang ada di dunia ini. 
Selebihnya adl bakteri yg 'baik' & berguna.

Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan 
menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus 
seperti untuk mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi, mengolah 
makanan menjadi vitamin B & K, melindungi kita agar tidak terinfeksi 
oleh kuman yang jahat, membantu pencernaan agar kita tidak sembelit, 
dll.
Tapi kenapa kita bisa sakit krn bakteri?
Bakteri baik 'tidak pernah punya niat' untuk mencelakakan manusia. 
Dia berubah menjadi jahat jika : dia berada di tempat yang bukan 
tempatnya (misal bakteri yg biasa ada di saluran cerna pindah ke 
saluran kemih, jadilah anak sakit ISK, dsb...). Kenapa dia bisa 
pindah? Karena perbuatan kita juga. Misalnya penggunaan AB yang tdk 
pada tempatnya. Kena batuk pilek dikasih AB, diare dikasih AB, dll 
penyakit krn virus tapi dikasihnya AB.

Adanya bakteri harus dibuktikan dengan tes lab. Misal, tes urin 
rutin, di situ ketahuan kalau ada bakterinya.
Tes kultur swab/dahak untuk mengetahui radang tenggorokan yg 
disebabkan oleh bakteri. Jadi bukan hanya dokter melihat 
tenggorokan, trus dia bilang 'wah merah nih tenggorokannya, berarti 
krn bakteri, dikasih AB ya..'. Selama kita masih hidup ya 
tenggorokan kita merah, krn di situ bnyk pembuluh2 darah.
Tambahan lagi yg sering terlupa, salah satu ciri radang tenggorokan 
krn bakteri adl tdk ada batuk.

Kalau melalui tes darah, di situ tdk bisa ketahuan terkena bakteri 
atau tdk. Tapi melalui tes darah bisa diketahui nilai hematokrit, 
trombosit, dll. Dengan adanya data2 tsb, akan mendukung diagnosa.

Jika melalui tes feces, bisa juga terlihat di fesesnya mengandung 
apa. Misal, jamur.

Intinya, lihat & pantau kondisi si anak. 
Efek Negatif AB 
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila 
mengkonsumsi AB : 
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan 
efek samping yang paling sering terjadi. 
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai 
dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan 
nafas, dll. 
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, 
septrim, sefalsporoin & eritromisin. 
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah 
satunya kloramfenikol. 
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah 
obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid). 
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek 
ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), 
Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita 
penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB. 

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga 
dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu 
terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya: 
1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan 
berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula 
ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau 
oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai "superinfection". 

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak 
terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap 
AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat 
diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan 
dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, 
sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat. 
Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama 
kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, 
maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB 
yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini. Hal 
ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana 
infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati 
sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik. 

Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit.

Semoga anak2 kita sehat selalu ya. Maaf kalau sharingnya kepanjangan 
atau tdk berkenan

Salam, 

From: mamfa_270806

aku jg mo sharing nih...anakku baruu aja sembuh dari diare n pilek
setelah menderita selama seminggu.awalnya anakku flu dulu,lalu aku
kasih triaminic..besoknya ternyata pupnya 8 kali sehari walupun ga
cair, sorenya langsung aku bawa ke dsa,kata dsaku diarenya disebabkan
dari flu ,tp anakku ga demam...jadi ga dikasih ab cuma obat flu
racikan sama lakto b krn kt dsaku flu n diare pd bayi biasanya krn
virus n ga mempan pake antibiotik biasanya akan sembuh sendiri lamanya
tergantung dayan tahan tubuh si bayi.tapi ko sampe 2 hari gak ada
perubahan sama sekali yaa akhirnya aku balik lg ke dsa...krn ga ada
perubahan pd diarenya sedangkan anakku ga panas & ttp aktif jd
disaranin utk ganti susu soya krn kemungkinan alergi susu sapi,
jadinya selama 3 minggu ini ganti susu soya dan setelah sembuh baru
balik ke susu sapi lg kl ternyata diare lg berarti bener alergi susu
sapi..ya udah aku ikutin, 2 hari kemudian ko masih diare n malah
sering kolik dan muntah,kasian bgt mana susah minum krn mungkin susu
soya kurang enak yaa dibanding susu sapi...akhirnya aku ke dsa lg tp
yg khusus masalah alergi pd anak...ktnya kemungkinan itu sudah infeksi
tp tetap tdk diberi antibiotik, cm obat utk kolik, muntah n flu, kl
tidak ada perubahan dan tiba2 demam dlm 2 hari kembali lg ke dr itu,
tp kl sudah sehat obat tdk usah dihabiskan...tp Alhamdulillah setelah
makan obat dr dokter itu koliknya ilang n muntahnya sangat berkurang
dan pileknya berkurang, dua hari kemudian pupnya sdh 2 kali perhari,
muntah tidak ada dan pileknya sudah sembuh, bahkan nyusu pun sdh
lumayan banyak, makan jg banyak...untung anakku blum sempet makan
antibiotik...

mamanya fahmi





Kirim email ke