Dear All, Mo tanya bagaimana mengajarkan anak usia 2,5 tahun menggunakan mouse? Putri saya 2,5 tahun masih senang memukul-mukul keyboard notebook. Bagaimana mengurangi pukulan2x tersebut dan dia tertarik untuk pencet satu persatu tuts2x di keyboard.
Thanks a lot. Regards, -dian- ----- Original Message ---- From: Putu Prapti Utami <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, February 9, 2007 3:23:29 PM Subject: Re: [parentsguide] Anak dan Komputer (sharing -- sambungan buat mbak Yulia) Mbak, aku jadi teringat dengan ulah kedua anakku Goku dan Sukma pada saat Sukma Play Group dan Goku TK B, mereka sangat gembira di depan komputer, awalnya ketika aku dan suami kerja di rumah mereka ikutan nyoba2 dan tanya2, daripada ganggu akhirnya aku beliin deh CD Anak Cerdas, AKAL dsb sehingga mrk bisa main sendiri, kami juga beliin komputer jangkrik 3 juta-an supaya kalo rusak nggak nyesek, daripada mereka main Play Station menurutku lebih baik mereka main game komputer yang sekaligus belajar vocabulary.. .mereka tidak nampak tanda2 stress tertekan, bahkan semua itu atas keinginan mereka, kami orangtuanya sama sekali tidak memaksanya. Nggak heran Sukma kemudian dapat Juara I lomba bermain komputer di TKnya (waktu TK A), karena memang ternyata teman-teman sebayanya belum banyak mengenal komputer, sedangkan Sukma sudah lihai memainkan mouse, klik kiri dan kanan, memainkan puzzle, merangkai kata (benda, hewan, tumbuhan, buah)...terus terang aku agak nggak enak krn diduga memaksakan anak belajar komputer, pdhal sama sekali tidak dipaksa lho...mereka benar2 antusias atas kehendaknya sendiri. Dari sana akhirnya mereka juga bisa lancar membaca tanpa harus kami ngajarin susah2 lho...Sukma sejak Play Group sudah bisa baca kata-kata dan ngetik Mama, Papa....sampai gurunya heran mengira aku ambisius ngajarin anak, aku sampaikan bhw aku sama sekali nggak ngajarin , mrk anak2 belajar sendiri di rumah...ibu2 lain jg ngira aku ambisius, pdhal nggak deh..sama sekali nggak ada pemaksaan... Gitu deh sharingku... Rgds' PPU ----- Original Message ----- From: Lala (gmail) To: parentsguide@ yahoogroups. com Sent: Thursday, February 08, 2007 3:38 PM Subject: [parentsguide] Anak dan Komputer (sharing -- sambungan buat mbak Yulia) Mbak Yulia, ini aku kirim artikelnya ke milis. Sekalian buat temen-temen yang mungkin kebijakan di kantornya nggak ngebolehin browsing. Salam, Lala http://www.sumardio no.com Diambil dari kisah Bapak Aar -- Jurnal Homeschooling Yudhis & Tata: Bagaimana anak-anak belajar komputer? Berikut ini sharing pengalaman dari proses interaksi Yudhis -anakku- dengan komputer di rumah. Pada suatu hari aku mengajak anakku Yudhistira ke toko buku. Di sana kami menemui sebuah stan yang menjual perangkat lunak komputer (software) permainan anak-anak. Ketika Yudhis nama panggilan Yudhistira melihat layar monitor yang gambarnya sama dengan yang biasa dilihatnya di rumah, dengan segera dia naik kursi dan mulai ikut-ikutan memainkan keyboard komputer. Dan melihat semangat anak kecil (umur 2 tahun) memencet-mencet keyboard, dengan senang hati penjaga stan itu membantunya sementara aku hanya melihat dari jauh dan membiarkannya saja. Mungkin karena senang mendapati permainan seperti yang biasa dilihatnya di rumah, Yudhis berteriak-teriak dengan riangnya sembari memencet tuts keyboard dan mengeja huruf yang muncul di layar. Dan karena mendapat dukungan dari penjaga stan yang membantunya, Yudhis makin kegirangan dan teriakan-teriakanny a segera mengundang anak-anak lain untuk melihat. Beberapa orang anak dan orang tua terlihat antusias menyimak Yudhis yang pada waktu itu baru berumur dua tahun memainkan tuts keyboard dan mengeja huruf-huruf yang muncul di layar komputer. Tetapi, diantara komentar-komentar yang muncul itu ada komentar seorang ibu tampak tidak suka dengan apa yang dilakukan Yudhis. Setelah tahu bahwa aku adalah bapaknya dan membiarkannya bermain-main komputer, dengan semangat ibu-ibu yang sudah cukup berumur itu menasihatiku: Mendidik anak yang biasa-biasa saja, lah, katanya. Nggak perlu macam-macam. Nanti anaknya jadi stress. Terus terang aku agak surprise mendengar komentar itu. Aku tidak tahu alasan pasti dari komentar yang disampaikan oleh beliau. Mungkin karena anaknya kelihatan tidak tertarik dengan komputer, beliau menganggap bahwa belajar komputer adalah sebuah hal yang berat sehingga tidak perlu diberikan pada anak-anak. Walaupun surprise dengan komentar yang bernada negatif tersebut, tak urung aku berterima kasih karena komentar itu mengingatkan tentang kecenderungan kita sebagai orang tua untuk berharap banyak dan mempunyai ekspektasi-ekspekta si yang tinggi terhadap anak kita. Sebenarnya tak ada yang salah dengan harapan-harapan itu. Tetapi ketika harapan-harapan itu membebani anak kita, di sanalah masalahnya. Aku sendiri percaya dengan teori yang menyatakan bahwa anak-anak belajar dari lingkungannya. Dalam hal ini, anak akan belajar pertama kali melalui apa-apa yang dilakukan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Jika lingkungannya biasa memainkan komputer, anak pasti terbiasa dan rasa ingin tahunya pasti menggerakkannya untuk berjalan ke sana dan ikut serta membantu orang tuanya bermain komputer. Dan sesungguhnya itulah yang terjadi dengan Yudhis, anakku. Karena aku dan Lala istriku sering bekerja dengan komputer di rumah, mau tak mau Yudhis pasti melihatnya. Seiring dengan seringnya dia melihat aktivitas kami di depan komputer, dari waktu ke waktu dia pun semakin tertarik pada komputer. Dan sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya, dia tertarik dengan gambar yang bergerak, bunyi, dan tentu saja tombol-tombol keyboard. Karena Yudhis sering mendatangiku ketika aku sedang bekerja di depan komputer dan menunjukkan keingintahuannya terhadap apa-apa yang kukerjakan, akhirnya sesekali aku memangkunya. Pada waktu itu dia berumur sekitar satu tahun. Dan di depan komputer, aku kemudian menunjukkan gambar screen saver ikan-ikan yang berenang. Wah, ternyata dia senang sekali melihat gambar ikan-ikan yang bergerak di layar monitor. Sejak itu, mulailah dia semakin sering mengganggu. Setiap kali melihat aku sedang di depan komputer, dengan segera dia mendekatiku sembari minta ditunjukkan gambar-gambar ikan di layar monitor. Kalau sudah begitu, Lala-lah yang kemudian berusaha mengalihkan perhatian Yudhis agar aku dapat menyelesaikan pekerjaanku. Pada interaksi pertamanya dengan komputer, aku memanfaatkan momen itu untuk menambah vocabulary-nya. Aku bercerita kepadanya tentang gambar yang dilihatnya di layar monitor, tentang warna, dan apa saja yang bisa diceritakan. Buatku, yang penting dia senang dan menikmati kegiatan itu. Minat dan kesenangan adalah pintu masuk yang baik untuk belajar. Seiring dengan semakin meningkatnya kecerdasan dan ketrampilan tangan Yudhis, aku dan Lala kemudian mulai berfikir untuk memanfaatkan kesenangan Yudhis di depan komputer itu. Selama ini kami selalu berfikir bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan senang (fun) dan kami berusaha meningkatkan kemampuan Yudhis melalui hal-hal yang disukainya. Ketika proses pasif melihat layar komputer sudah berjalan beberapa waktu, kami kemudian berjalan-jalan mencari software untuk anak-anak karena menurutku ada baiknya dia mulai mengenal proses yang interaktif-dua arah antara dia dan komputer. Pada waktu itu aku membayangkan sebuah software yang sederhana; asal keyboard-nya ditekan sembarang akan muncul gambar ci-lu-ba atau bunyi-bunyi tertentu. Ternyata mencari software itu tak semudah yang kubayangkan. Rata-rata software yang ada terlalu rumit bagi anak seusia Yudhis yang hanya membutuhkan fungsi-fungsi yang sederhana, tetapi membutuhkan daya tarik berupa gambar dan bunyi-bunyian. Melalui seorang teman, aku mendapatkan sebuah software yang betul-betul sederhana dan sangat basic seperti yang kami inginkan. Dengan memencet sembarang tombol di keyboard, aneka gambar peek-a-boo (ci-lu-ba) dimunculkan. Melalui software itu pula Yudhis belajar bermacam-macam lagu-lagu yang dimainkan dengan cara menekan tombol keyboard sesukanya. Sedikit demi sedikit dia kemudian tahu bahwa ada kaitan antara tombol-tombol yang ada di hadapannya dengan apa yang muncul di layar dan suara yang didengarnya. Suatu hari Lala membelikan Yudhis sebuah software produksi dalam negeri. Secara visual dan fungsional menurutku software itu tidak terlalu bagus dibandingkan produksi-produksi luar negeri. Tetapi, ternyata apa yang kuanggap tidak bagus itu berbeda dengan respon Yudhis. Ternyata Yudhis jauh lebih antusias dibandingkan software pertama yang buatan luar negeri itu. Dan sejak mendapatkan software itu, hampir setiap waktu Yudhis minta diputarkan di komputer. Bahkan sejak itu dia ikut-ikutan menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan dalam software itu yang merupakan ekspresi kesukaannya. Mungkin, kalimat-kalimat yang diucapkan dalam bahasa Indonesia itu cukup familiar dengan pendengarannya sehingga membuatnya nyaman dan antusias memainkannya. Satu pelajaran yang kuambil dari proses Yudhis belajar komputer adalah: jangan merendahkan (under-estimate) kemampuan belajar anak-anak. Aku mengalami keterkejutan itu ketika Lala (sekali lagi) membelikan Yudhis sebuah software produksi dalam negeri. Setelah aku instal, aku mendapati bahwa software itu jauh lebih bagus secara visual maupun fungsional dibandingkan dengan software sebelumnya. Aku ikut bangga juga dengan produksi anak negeri ini. Walaupun begitu, tak urung aku kecewa setelah mencoba software itu karena untuk menjalankan menu-menunya harus menggunakan mouse. Beberapa hari aku agak kecewa dan berniat menulis saran kepada pembuat software tersebut agar membuat alternatif menu menggunakan keyboard disamping mouse. Di dalam bayanganku, mouse adalah alat yang sulit dimainkan oleh seorang anak kecil, apalagi usia satu setengah tahun seperti Yudhis. Sulit bagiku untuk membayangkan bahwa anak kecil itu dapat menangkap hubungan antara benda yang dipegang dan digerak-gerakkannya (mouse) dengan panah yang ada di layar monitor. Apalagi kalau kemudian anak itu harus menekan tombol pada mouse untuk memilih menu atau melakukan sesuatu di layar monitor. Rasanya sulit membayangkan kemampuan sensorik dan motorik anak-anak seusia itu dapat melakukannya. Tetapi semua yang ada di dalam pikiranku itu ternyata adalah sebuah kesalahan. Setelah mencoba beberapa kali, sedikit demi sedikit Yudhis mulai dapat memainkan mouse dan melihat keterkaitan antara gerakan mouse itu dengan apa yang nampak di layar. Surprisingly, dalam waktu sekitar satu bulan dia telah lancar menggunakan mouse. Kemampuan anak-anak itu ternyata mengejutkan, pikirku. Aku sama sekali tak menduga bahwa secepat itu Yudhis mampu berdaptasi dan belajar. Dan pengalaman ini bukan yang pertama kali. Aku sering menemui kemampuan-kemampuan yang luar biasa pada anak-anak yang tak pernah terpikirkan olehku sebagai seorang dewasa. Selama ini kita para orang tua cenderung meremehkan kemampuan mereka sehingga membatasi mereka dalam batas-batas yang menurut kita dapat mereka lakukan. Dari pengalaman-pengalam an keterkejutan itu, aku dan Lala berusaha untuk selalu membangun suasana yang positif untuk perkembangan Yudhis. Kami berusaha membuat sesedikit mungkin larangan dan sejarang mungkin menggunakan kata tak boleh. Alih-alih melarang, kami mencoba untuk menggunakan kata positif semisal kata hati-hati atau memberikan contoh langsung tentang sesuatu yang kami khawatiri. Daripada melarang Yudhis memainkan remote TV atau memasukkan disket ke komputer, kami mengajarinya fungsi dan cara yang benar untuk melakukannya. Ketika melakukannya, kami berusaha membebaskan diri kami dari membuat target-target prestasi tertentu untuknya. Kami hanya berusaha membangun sikap positif dan keberanian mencoba-coba serta mendorongnya melakukan hal-hal yang disukainya. Sampai sekarang Yudhis masih suka nimbrung ikut bermain di depan komputer. Ketika Lala menjelaskan bahwa bapak sedang bekerja, dia pun menjawab,Udis juga mau kerja. Lalu, dia meneruskan ucapannya itu mengeja huruf-huruf Y, U, D, H, I, S dan menyebutkan Yudhis sambil tertawa lebar. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin aku menolak Yudhis yang ingin ikut bekerja di depan komputer? ____________________________________________________________________________________ Get your own web address. Have a HUGE year through Yahoo! Small Business. http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

