Salam kenal mbak Lilian, Setahu aku, anak usia 3 tahun sudah sangat boleh belajar piano. Belajar pianonya belum pakai piano betulan, tapi pakai keyboard dulu. Karena jari anak umur 3 th masih belum terlalu kuat untuk menekan tuts piano. Yang penting anak kenal nada, ketukan & telinganya terbiasa mendengar musik yang dimainkan secara benar. Dengan belajar piano, anak mulai diajarkan untuk bisa 'larut' dalam musik. Ikut bergoyang menikmati musik, bernyanyi pada nada, dst...
Menurut aku, kalau Audrey pengen banget les piano, bisa masuk ke kelas baby, atau kelas kelompok bermain di sekolah musik. Bisa juga, kalau mbak Lilian punya base musik (bisa baca not balok) & di rumah ada keyboard, mbak Lilian bisa ajarin Audrey sendiri. Bukunya bisa beli di toko buku musik/internet. Nanti kalau anaknya sudah lebih besar 7-8 tahun, baru "les beneran" ^_^ Mudah-mudahan bisa membantu Salam, Lala http://www.sumardiono.com (Jurnal Homeschooling Yudhis & Tata) ----- Original Message ----- From: Lilian Kurniawan To: [email protected] Sent: Friday, March 02, 2007 6:17 PM Subject: Re: [parentsguide] Belajar Musik itu Luar Biasa Hallo salam kenal, saya mau tanya anak saya Audrey usianya sekarang udah 3thn,sdh beberapa hari sejak liat Erwin Gutawa main piano dia terus2an minta di les in piano apa anak umur 3 udah bisa di suruh les piano? thanks sebelumnya..... "Lala (gmail)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Dear parents, Anakku Yudhis (5) semangat banget belajar piano. Dia sendiri yang ngejar-ngejar aku tiap pagi untuk belajar piano. Aku sih seneng-seneng aja, yang penting anaknya senang. Tapi pagi ini, bapaknya tiba-tiba nulis di jurnalnya anak-anak tentang luar biasanya belajar musik. Waktu aku baca, eh bener juga nih.... mudah-mudahan share ini bisa berguna. ===== Yudhis sudah cukup lama belajar main piano klasik (walaupun masih di keyboard). Aku sering memperhatikan dan menemaninya. Tapi, baru pagi ini tiba-tiba aku tersadar bahwa dari belajar piano itu banyak hal yang sedang dipelajari anak-anak. Yang pertama, dia harus belajar membaca not balok. Membaca not balok saja sudah luar biasa karena dia harus belajar melihat dengan teliti posisi notnya ada di garis yang mana. Belum lagi ada hitungan yang berbeda untuk setiap not. Jadi, pada saat dia membaca notasi not balok, sudah terjadi pengolahan stimulus kecerdasan visual ke kecerdasan logika. Yang kedua, setelah memahami not yang dituliskan, anak-anak harus mentransformasikan dalam bentuk aksi fisik menekan tuts piano menggunakan jari satu sampai jari lima. Yang menarik, aksi fisik itu harus terjadi seketika karena ada tempo yang juga harus dijaga. Jadi, tidak ada jeda antara mencerna/memahami not balok dan menekan tuts piano sehingga anak terbiasa mentransformasikan pemahaman ke dalam aksi. Dari kegiatan membaca, mencerna, memahami, menekan tuts piano itu terjadi latihan koordinasi yang luar biasa. Apalagi jika digabungkan dengan tempo dan dinamika. Dan proses belajar itu lebih kompeks lagi saat harus mengkoordinasikan permainan tangan kanan dan tangan kiri. Stimulus beragam jenis kecerdasan itu tentu saja masih harus ditambahkan dengan stimulus terhadap kecerdasan musikal yang pasti terjadi dalam proses belajar piano. It's amazing... Beragam stimulus kecerdasan sebenarnya diperoleh anak-anak dari proses belajar pianonya... Belum lagi kebahagiaan anak-anak yang diperolehnya saat belajar piano. Sudah lama aku melihat anak-anak belajar piano, tapi proses kesadaran itu baru datang hari ini. Aku jadi lebih memahami, mengapa ada riset yang menunjukkan bahwa anak-anak yang distimulus dengan pengajaran bermain musik memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan mereka yang distimulus dengan komputer. Yah.. kompleksitas proses belajar musik memang dapat menjadi stimulus yang luar biasa. Aku angkat topi dan berterima kasih kepada ahli musik yang telah menciptakan tangga-tangga dalam proses belajar musik yang menyenangkan sekaligus semakin meningkatkan beragam kecerdasan anak. Lala http://www.sumardiono.com (Jurnal Homeschooling Yudhis & Tata).

