Artikel bagus dari sebelah, semoga berguna
  Kebetulan aku ikut milis sehat ini, asuhan bunda Wati

Note: forwarded message attached.

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
--- Begin Message ---
Berjuang Menjadi Orangtua Yang Cerdas  
Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua 
bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana,mencerdaskan sesama orangtua 
agar terhindar dari "kesesatan". Mereka berusaha menjadi orangtua kritis yang 
tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.

Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan dikendalikan 
konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat seseorang merasa tak 
berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup untuk mendapatkan 
informasi mengenai berbagai produk tersebut.
Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang 
dipercaya begitu saja.

Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu,yang 
dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya," tutur 
Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat secara 
rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis.

Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha membina dan 
mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi nama Grup Sehat. 
Moto komunitas ini "be smarter be healthier". Upayanya, yang telah tahunan 
dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga 
menjadi salah satu konsultan WHO.

Kini, pada mailing list [EMAIL PROTECTED] telah tercatat 3.218 anggota dari 
penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para orangtua dapat 
berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokterlain,sampai dibimbing 
mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs terpercaya.

Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter anak 
karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit Bagas selalu 
diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia belum paham, 
antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada anak-anak yang 
umumnya disebabkan virus.

Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit itu 
disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan sering 
memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru antibiotik 
spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang tergolong baik 
pun turut tergilas.

"Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik itu 
kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang, dan 
anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak minum air 
putih hangat, makan makanan yang disukainya,dan istirahat. Kalau demam, saya 
kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas saja. Enggak perlu 
antibiotik dan suplemen," tutur Pujiati.

Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya.Sang suami 
malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh.Orang awam memang 
kerap mengira komunitas ini anti-obat,anti-antibiotik, bahkan anti-dokter. 
Padahal sama sekali tidak.Koridor konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup 
Sehat.

"Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang).Ketika 
kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat jiwa," ujar Wati 
yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli.

Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam bakteri 
yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs).Sementara penemuan 
antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin 
sering menggunakan antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak 
sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti 
kerap ditemukan Wati, yang juga ahli hepatologi anak ini.

Proses menyenangkan

Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif 
menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah makan. 
Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali anak dengan 
obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi anak berbagai 
suplemen penambah nafsu makan dan susu formula.

"Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan lengkap 
juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu proses 
belajar,eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian orangtua sering 
mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu agar disukai anak," 
kata Wati.

Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian 
orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia enam 
bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI).Usia diatas satu tahun, selain 
ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang telah disterilisasi 
dengan teknik ultrahigh temperature(UHT) atau pasteurisasi. Aneka susu yang 
menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk perkembangan otak hanyalah klaim 
yang tidak berlandaskan
prinsip ilmiah evidence based medicine (EBM).

"Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan ditertawakan 
tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya.Gizi anak terutama dari 
makanan. Orangtua harus paham piramida makanan.Siapa bilang anak harus gemuk, 
yang penting anak itu sehat," tutur Wati yang prihatin dengan praktik pemasaran 
susu formula yang, menurut dia,semakin tak etis.

Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula. Susu 
berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen pemasaran 
susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi susu formula 
supaya gemuk.

"Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak kelak. 
Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka bilang, kok 
anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja," ujar Yosi, ibu 
seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.

Tanpa tes alergi

Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak alergi 
susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati pernah mengalami 
hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang harganya relatif lebih 
mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak 
bermasalah.

Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat,lincah,dan mudah 
buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi mengonsumsi suplemen 
vitamin dan penambah nafsu makan.

Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi.Kesalahpahaman 
seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme hingga pemberian 
imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO,Centers for Disease Control 
and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine (IOM) telah menegaskan 
vaksinasi measles, mumps, rubella(MMR)tidak berkorelasi dengan autisme. Bayi 
dan anak-anak pun dianjurkan
divaksinasi secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke 
dokter,mengurangi risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat 
terbentengi imunitasnya.
Belum lagi dokter yang "bereksperimen" dengan meresepkan obat yang tidak perlu 
untuk mengurangi efek demam dari imunisasi.

Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi 
DPT(difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang 
saraf.Katanya, biar orangtua enggak repot," tutur Alia Indardi (34), ibu dari 
tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi.

Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan menebus obat 
itu.
Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang normal.Jika anaknya 
terganggu dengan demam tersebut,pemberian obat penurun panas saja sudah 
mencukupi.

Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan lagi.
"Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan berimbang,kan 
pasti sudah langsung menurut saja.Jadilah anak itu dikasih obat penenang 
saraf," ujar Alia.

sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/19/keluarga/2447692.htm




 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]


--- End Message ---

Kirim email ke