--- Begin Message ---
Berjuang Menjadi Orangtua Yang Cerdas
Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian orangtua
bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana,mencerdaskan sesama orangtua
agar terhindar dari "kesesatan". Mereka berusaha menjadi orangtua kritis yang
tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk iklan.
Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan dikendalikan
konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat seseorang merasa tak
berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses cukup untuk mendapatkan
informasi mengenai berbagai produk tersebut.
Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang
dipercaya begitu saja.
Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu,yang
dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami bergerilya," tutur
Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang mengampanyekan penggunaan obat secara
rasional (rational use of drug/RUD) kepada konsumen medis.
Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha membina dan
mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang diberi nama Grup Sehat.
Moto komunitas ini "be smarter be healthier". Upayanya, yang telah tahunan
dirintis, didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga
menjadi salah satu konsultan WHO.
Kini, pada mailing list [EMAIL PROTECTED] telah tercatat 3.218 anggota dari
penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. Para orangtua dapat
berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokterlain,sampai dibimbing
mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai situs terpercaya.
Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke dokter anak
karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap kali sakit Bagas selalu
diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. Ketika itu dia belum paham,
antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan batuk pilek pada anak-anak yang
umumnya disebabkan virus.
Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit itu
disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan sering
memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru antibiotik
spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang tergolong baik
pun turut tergilas.
"Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua praktik itu
kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak sangat jarang, dan
anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home treatment saja. Banyak minum air
putih hangat, makan makanan yang disukainya,dan istirahat. Kalau demam, saya
kompres dia dengan air hangat atau minum obat penurun panas saja. Enggak perlu
antibiotik dan suplemen," tutur Pujiati.
Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya.Sang suami
malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran aneh.Orang awam memang
kerap mengira komunitas ini anti-obat,anti-antibiotik, bahkan anti-dokter.
Padahal sama sekali tidak.Koridor konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup
Sehat.
"Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang-sayang).Ketika
kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah penyelamat jiwa," ujar Wati
yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua Peduli.
Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan bermacam bakteri
yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik (superbugs).Sementara penemuan
antibiotik baru tidaklah secepat perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin
sering menggunakan antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak
sering jatuh sakit. Belum lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti
kerap ditemukan Wati, yang juga ahli hepatologi anak ini.
Proses menyenangkan
Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif
menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah makan.
Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh menjejali anak dengan
obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula dengan memberi anak berbagai
suplemen penambah nafsu makan dan susu formula.
"Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan lengkap
juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu proses
belajar,eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian orangtua sering
mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan menu agar disukai anak,"
kata Wati.
Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin sebagian
orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi hingga usia enam
bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI).Usia diatas satu tahun, selain
ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang telah disterilisasi
dengan teknik ultrahigh temperature(UHT) atau pasteurisasi. Aneka susu yang
menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk perkembangan otak hanyalah klaim
yang tidak berlandaskan
prinsip ilmiah evidence based medicine (EBM).
"Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan ditertawakan
tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya.Gizi anak terutama dari
makanan. Orangtua harus paham piramida makanan.Siapa bilang anak harus gemuk,
yang penting anak itu sehat," tutur Wati yang prihatin dengan praktik pemasaran
susu formula yang, menurut dia,semakin tak etis.
Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu formula. Susu
berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah hati. Agen pemasaran
susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar anaknya diberi susu formula
supaya gemuk.
"Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan anak kelak.
Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. Mereka bilang, kok
anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya bekerja," ujar Yosi, ibu
seorang anak yang tinggal di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.
Tanpa tes alergi
Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang anak alergi
susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. Pujiati pernah mengalami
hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk kedelai yang harganya relatif lebih
mahal. Nyatanya, setelah tak lagi minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak
bermasalah.
Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat,lincah,dan mudah
buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak lagi mengonsumsi suplemen
vitamin dan penambah nafsu makan.
Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi.Kesalahpahaman
seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme hingga pemberian
imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO,Centers for Disease Control
and Prevention (CDC), dan Institute of Medicine (IOM) telah menegaskan
vaksinasi measles, mumps, rubella(MMR)tidak berkorelasi dengan autisme. Bayi
dan anak-anak pun dianjurkan
divaksinasi secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke
dokter,mengurangi risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat
terbentengi imunitasnya.
Belum lagi dokter yang "bereksperimen" dengan meresepkan obat yang tidak perlu
untuk mengurangi efek demam dari imunisasi.
Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi
DPT(difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat penenang
saraf.Katanya, biar orangtua enggak repot," tutur Alia Indardi (34), ibu dari
tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi.
Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan menebus obat
itu.
Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala yang normal.Jika anaknya
terganggu dengan demam tersebut,pemberian obat penurun panas saja sudah
mencukupi.
Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak direkomendasikan lagi.
"Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi yang cukup dan berimbang,kan
pasti sudah langsung menurut saja.Jadilah anak itu dikasih obat penenang
saraf," ujar Alia.
sumber:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/19/keluarga/2447692.htm
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End Message ---