Waspadalah.....waspadalah....
>>
>>
>> Lengah 30 Menit, Bea Pergi Selamanya
>> AKSESORIS RAMBUT JADI KENANGAN MANIS
>>
>> Penculikan anak terjadi lagi. Kali ini menimpa anak TK Darma Rini di
>> Yogyakarta. Tragisnya, balita cantik bernama Nabila itu ditemukan tewas
>> dalam kondisi mengenaskan. Inilah curahan duka hati sang bunda, Tuti
>> Sukeri (40).
>>
>> Meski di halaman rumah sendiri, jangan biarkan anak kita yang masih
>> balita bermain sendiri tanpa pengawasan kita. Itulah yang kualami.
>> Gara-gara tak mengawasi anakku, aku kehilangan si bungsu, Nabila Khaufi
>> Zahra (4 tahun 4
>> bulan) untuk selamanya. Sungguh sebuah pengalaman buruk yang aku tak
>> ingin ibu-ibu lain mengalaminya.
>>
>> Kisah sedihku ini bermula ketika Selasa (3/4) pagi itu sekitar jam
>> 06.00, aku kehilangan Nabila di samping halaman rumahku sendiri di
>> Kampung Langensari, Yogyakarta. Anakku yang biasa kusapa Bea, pagi itu
>> bermain ayunan sambil menunggui neneknya menyapu halaman. Seperti
>> biasanya, pagi-pagi aku siap-siap mengantar kakak Bea, Husni Nasrullah
>> dan Fatimah Azahra pergi sekolah. Hanya butuh waktu 15 menit
>> pergi-pulang untuk menuju sekolah anak-anak di kawasan Kampung Sapen.
>>
>> Saat motor yang kukendarai bersama dua anak mulai bergerak, aku
>> membunyikan klakson agar Bea mau menoleh ke arah kami. Sebab kalau
>> tidak, biasanya dia protes. Anehnya, meski diklakson berkali-kali, Bea
>> tak mau menengok dan melambaikan tangannya. Kupikir, ia tengah menikmati
>> ayunan sembari melihat neneknya menyapu halaman.
>>
>> Pulang dari mengantar sekolah tepat pukul 06.15, aku tak melihat lagi
>> Bea main ayunan. Kupikir dia sedang menggambar di dalam rumah. Aku
>> langsung ke ruang belakang melanjutkan mencuci. Tepat pukl 06.30,
>> seperti biasanya terdengar bunyi sirene dari Balai Yasa milik PJKA.
>> Biasanya saat-saat itulah, tanpa diperintah Bea akan mandi sendiri. Anak
>> itu memang mandiri sekali.
>>
>> Namun, tak kudengar bunyi kecipak air dari dalam kamar mandi. Aku segera
>> beranjak. "Bea! Bea!," seruku sembari mencari-cari di mana Bea berada.
>> Berulang kali kupanggil, tak ada sahutan dari Bea. Aku segera ke luar
>> rumah sembari masih menyeru nama Bea. Kulihat neneknya baru saja selesai
>> menyapu.
>> "Bea main ayunan!" sahut ibuku, Ny. Marni Jaiman (80) yang masih tetap
>> di halaman samping.
>>
>> Aku terus memanggil-manggil Bea, tapi tetap tak ada sahutan. Aku mulai
>> panik. "Bea hilang," pikirku. Dia tak akan main ke rumah saudara dekat
>> rumah, kalau belum mandi. Ternyata, pikiran burukku benar. Kucari ke
>> mana-mana, Bea tak kutemukan. Tetangga pun mulai ikut mencari. Hilangnya
>> Bea juga diumumkan lewat pengeras suara di masjid.
>>
>> Sungguh aneh. Tak ada satu pun tetangga atau anak kos di rumahku yang
>> melihat Bea pergi. Ibuku juga tidak melihat ada orang lewat. Terakhir
>> Ibu cuma mengelap ayunan Bea yang basah dengan handuk. Yang kuingat, Bea
>> mengenakan kaus merah hati kombinasi krem. Celana pendeknya juga merah
>> motif boneka. Dia mengenakan anting-anting emas seberat 0,5 gram dan
>> gelang manik-manik warna-warni yang dibelinya di sekolah.
>>
>> ADA BEKAS PUKULAN
>> Begitu ada kepastian Bea hilang, aku langsung menelepon suami, Sugeng
>> Dwi Heriyanto (40) yang tengah dinas ke Pekalongan. Suamiku adalah
>> auditor BPK Yogyakarta. Dia baru tiba di Yogyakarta sore hari. Berbagai
>> cara kami tempuh untuk menemukan Bea.
>>
>> Kami mencari ke segala penjuru tempat, juga langsung lapor ke Poltabes.
>> Bahkan ada kerabat yang meminta bantuan sampai 30 paranormal agar
>> membantu meneropong kondisi Bea. Kami juga pasang pengumuman hilangnya
>> Bea di surat kabar yang terbit di Yogya.
>>
>> Hilangnya Bea membuatku sangat terpukul. Aku sampai enggak doyan makan,
>> tidak bisa memejamkan mata. Ingatan selalu ke Bea. Bagaimana nasibnya?
>> Aku berdoa terus pada Allah supaya anak kami selamat dan bisa segera
>> ketemu.
>> Akhirnya, Bea memang kami temukan. Tapi, kondisinya sangat mengenaskan!
>>
>> Ceritanya Jumat (6/4) usai magrib, ada seseorang menelepon ke rumah,
>> mengabarkan telah menemukan mayat bocah perempuan yang ciri-cirinya
>> seperti Bea. Keluarga kami langsung meluncur ke Desa Watuadeg,
>> Jogotirto, Berbah, Sleman , tempat ditemukannya mayat bocah itu. Suamiku
>> menunggu di kamar mayat RSU Dr. Sardjito, Yogyakarta. Namun, suamiku tak
>> tega melihat mayat yang diperkirakan Bea. Dia mendengar omongan orang,
>> kondisi mayat itu amat menyedihkan.
>>
>> Ya, mayat itu memang Bea. Semula tiga saudaraku yang berangkat ke TKP
>> mengatakan, mayat anak itu bukan Bea. Aku mulai tak sabar. Aku bilang,
>> apa pun kondisinya, aku ikhlas. Yang penting anakku ditemukan daripada
>> menanti dalam ketidakpastian. Aku terus mendesak. Kutanyakan sekali
>> lagi, apa warna bajunya? Ternyata ciri-ciri baju dan gelang, sama dengan
>> yang dikenakan Bea terakhir kali.
>>
>> Aku minta mayat itu langsung dimandikan agar segera bisa dimakamkan.
>> Tetapi polisi berpikiran lain. Mereka menanyakan perlu otopsi atau
>> tidak? Ya, kupikir sebagai orang tua, kami punya hak dan wajib
>> mengetahui penyebab kematian anaknya. Juga demi proses hukum kelak, aku
>> rela jasad Bea diotopsi sebelum dimakamkan di pemakaman umum Terban
>> Jati.
>>
>> Dari hasil otopsi diketahui, ada bekas pemukulan di bagian dada dan mata
>> serta kepala dengan benda tumpul. Mungkin kepala bea dibentur-benturkan
>> oleh penculiknya. Ah, aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya Bea.
>> Kasihan engkau, Nak...
>>
>> TEMUKAN ANTING
>> Yang aku heran,tidak ada satu orang pun yang melihat Bea dibawa orang.
>> Juga tidak ada yang mendengar teriakan Bea. Memang pagi itu suasana
>> kampungku masih sepi. Atau mungkin Bea dibius sebelum dibawa. Setelah
>> sadar, Bea berontak dan si penculik kewalahan. Akhirnya tega menganiaya
>> anak sekecil itu. Begitulah dugaanku.
>>
>> Melihat banyaknya peristiwa penculikan, aku menduga Bea akan dijual.
>> Kurasa bukan karena si penculik menginginkan anting-anting Bea. Sebab,
>> anting-anting yang sebelah masih melekat di telinganya, sementara anting
>> satunya lagi kudapatkan di tempat jasad Bea ditemukan. Si penculik juga
>> tidak menghubungi kami untuk minta uang tebusan.
>>
>> Soal ditemukannya anting Bea, membuatku sangat terharu. Selasa pagi
>> (10/4), tepat seminggu hilangnya Bea, aku dan suami ke lokasi
>> ditemukannya Bea, usai dimintai keterangan polisi. Sampai di sana, masih
>> kulihat rambut Bea.
>> Kubungkus rambutnya dengan kain mori. Baru beberapa saat, dedaunan
>> kering di semak-semak tertiup angin. Lantas, sebuah anting-anting Bea
>> kulihat. Aku terkesiap. Anting dan rambut itu langsung kubungkus dan
>> kubawa pulang.
>> Biarlah kusimpan di rumah saja.
>>
>> Melihat rambut Bea, aku merasakan betapa pedih nasibnya. Aku
>> membayangkan, rambutnya sudah lepas dari kepala. Ya Allah, betapa
>> teganya si penculik pada Bea. Ya, si penculik itu memang keji. Dari
>> cerita orang-orang yang melihat saat Bea dievakuasi, katanya tubuh Bea
>> terikat tali. Kaki hingga pahanya juga terbungkus plastik.
>>
>> Meski duka amat dalam, kami sudah ikhlas Bea kembali kepada Allah yang
>> mencintai Bea. Anakku kembali ke Sang Khalik dalam kondisi tanpa dosa.
>> Belum tentu bila tumbuh dewasa bersama kami, dia berpulang dalam kondisi
>> masih bersih seperti saat ini. Yang kuinginkan, kasus ini segera
>> terungkap.
>>
>> Kini, aku hanya bisa mengenang Bea. Anak itu cerdas dan beda dengan
>> anak-anak lainnya. Dia paling disiplin. Ketika sedang belajar, dia tidak
>> mau diusik. Bahkan, saat ayahnya telepon dari luar kota, dia tetap tidak
>> mau terima.
>>
>> Bea juga pandai menggambar dan mewarnai. Terakhir Maret kemarin, ia
>> meraih juara Road Show Mewarnai yang diselenggarakan Frisian Flag dan
>> majalah anak-anak Mombi. Kini tiada lagi rengekan Bea minta didandani
>> tiap pagi.
>> Aneka aksesoris rambut miliknya masih tersimpan rapi di kotaknya. Aku
>> hanya bisa memandangi sembari mengenang masa-masa indah kebersamaan
>> kami.
>>
>> Sekali lagi kuingatkan pada ibu-ibu semua, meski di halaman rumah
>> sendiri, jangan biarkan anak kita yang masih balita bermain sendiri
>> tanpa pengawasan. Jangan sampai pengalaman burukku terulang pada orang
>> tua lain.
>> Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun.
>>
>> BAU BANGKAI DI BAWAH POHON
>> Situasi Desa Watuadeg, Kelurahan Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman,
>> tempat ditemukannya jasad Bea, relatif sepi di siang hari. Bila malam
>> tiba, pastilah bertambah sunyi. Di dekat TKP mengalir sungai Jimblung
>> yang di sekitarnya ditumbuhi semak-semak dan pohon jati yang tinggi.
>> Menurut cerita Girjono (40), lelaki yang pertama kali menemukan jasad
>> Bea, sejak Senin hingga Kamis, desanya diguyur hujan lebat.
>>
>> Dikisahkan Girjono, menjelang magrib ia hendak pergi ke sungai.
>> Tiba-tiba hidungnya mencium bau bangkai. Tujuan ke sungai ia tangguhkan.
>> Lelaki pemecah batu gunung ini kemudian menghampiri arah bau bangkai di
>> bawah pohon weru."Mencium aromanya saja perut saya sudah mual. Karena
>> ingin tahu, saya tetap mendekat. Waktu saya tengok, ternyata ada anak
>> dibuang. Saya terkejut. Kondisi anak itu menyedihkan. Kaki terikat
>> terbungkus plastik, tangannya juga terikat. Saya lalu balik arah,
>> buru-buru lapor Pak Royo, Ketua RW."
>>
>> Dari sinilah kabar ditemukannya Bea dilaporkan Polsek Berbah. Polisi
>> segera mengevakuasi jasad Bea dan membawanya ke RSU Dr. Sardjito. Soal
>> siapa penculik dan pembunuh Bea masih gelap. Kabagreskrim Polres Sleman
>> AKP.
>> Agung Pitoyo pada NOVA Jumat (13/4) menegaskan, pihaknya masih intensif
>> menyelidiki kasus Bea.
>>
>> "Kami bekerjasama dengan Poltabes Yogyakarta untuk mengungkap kasus itu.
>> Belum ada dugaan apa pun soal motif kasus ini. Tersangkanya saja belum
>> ada.
>> Kalau sudah ada, akan kami kabarkan," tuturnya. Kita tunggu hasilnya
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.